NovelToon NovelToon
Pendekar Naga

Pendekar Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Idwan Virca84

Di tengah puing-puing yang membara, takdir mempertemukan Rangga dengan sosok misterius, Pertapa Gila Tanpa Tanding. Sang pertapa bukanlah orang sembarangan; di balik pakaian compang-camping dan tawa yang nyeleneh, ia adalah pemegang rahasia Pedang Naga Emas Seribu Langit, pusaka sakti yang konon mampu membelah awan dan menggetarkan bumi. Rangga kemudian dibawa ke lereng Gunung Kerinci yang berselimut kabut, sebuah tempat terpencil di mana waktu seolah berhenti berputar.
Selama lima belas tahun, Rangga dididik dengan keras di bawah gemblengan sang Pertapa Gila. Ia tidak hanya belajar olah kanuragan dan ilmu meringankan tubuh yang membuat gerakannya seringan kapas, tetapi juga ditempa secara spiritual untuk mengendalikan api dendam yang membara di dadanya. Sang pertapa mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada tajamnya bilah pedang, melainkan pada kemampuan hati untuk tetap tegak di jalan kebenaran. Rangga tumbuh menjadi pemuda yang gagah perkasa..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idwan Virca84, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14: JEJAK YANG LENYAP DI TEPI LEMBAH

Angin malam berembus dingin, menusuk hingga ke sumsum tulang di kaki Gunung Tiga Puluh. Kabut tipis mulai turun dari puncak, menyelimuti hutan lebat yang beberapa saat lalu menjadi jalur pelarian maut bagi seorang pendekar muda yang membawa api dendam dan separuh napas di pundaknya.

Di antara pepohonan raksasa yang menjulang tinggi, dahan-dahan berderak seolah ketakutan.

Wusss! Wusss!

Puluhan bayangan hitam melesat cepat, melompati semak berduri dengan ketangkasan binatang pemburu. Gerakan mereka senyap, teratur, dan menebar aroma kematian yang pekat. Mereka adalah Pasukan Bayangan Macan, satuan inti dari Istana Macan Hitam yang dilatih hanya untuk satu tujuan: membasmi musuh sang penguasa.

Di depan formasi itu, berjalan seorang pria dengan perawakan raksasa. Jubah hitamnya yang tebal berkibar ditiup angin kencang. Langkahnya berat, namun setiap pijakan kakinya meninggalkan bekas retakan halus di atas tanah berbatu, pertanda tenaga dalam yang sangat padat dan tidak stabil karena amarah.

Dialah sang penguasa kegunungan... Macan Hitam.

“Berhenti!”

Suaranya menggelegar, beradu dengan suara guruh di kejauhan. Sekejap saja, seluruh pasukan berhenti serempak seperti mesin yang dimatikan. Tak satu pun berani bernapas keras, apalagi bergerak lebih jauh.

Mata mereka tertuju ke depan, ke arah sebuah wilayah yang diselimuti kabut kelabu abadi. Udara di sana terasa ganjil—lebih dingin dari es, lebih sunyi dari liang lahat, dan membawa aroma busuk yang membuat lambung bergejolak.

Seorang pendekar tingkat tinggi maju selangkah. Wajahnya keras, namun sorot matanya menyimpan keraguan yang tak mampu disembunyikan dari tuannya.

“Pemimpin…” Ia menunjuk ke arah tanah dengan ujung pedangnya yang bergetar. “Jejaknya… berakhir tepat di sini.”

Macan Hitam tidak langsung menyahut. Ia melangkah maju, membiarkan auranya yang buas menekan semak di sekitarnya hingga layu. Ia menunduk, mengamati tanah hitam yang lembap. Benar. Jejak kaki Rangga Nata yang dalam karena memanggul beban—berhenti. Tepat di perbatasan garis kabut itu. Seolah-olah sang Pendekar Naga telah ditarik ke langit atau ditelan bumi dalam sekejap mata.

Kabut di depan mereka menggulung pelan, seolah-olah tirai gaib yang menutup gerbang menuju dunia lain. Macan Hitam menyipitkan mata, rahangnya mengeras.

“Lembah Mayat…” gumamnya lirih, sebuah nama yang bahkan bagi pendekar golongan hitam adalah sinonim dari neraka tanpa pintu keluar.

Beberapa anak buahnya saling pandang. Wajah-wajah yang biasanya beringas itu kini pucat pasi. Beberapa dari mereka secara refleks mundur satu langkah, menelan ludah dengan susah payah. Nama itu bukan sekadar dongeng pengantar tidur; itu adalah wilayah terlarang yang dipenuhi kutukan ribuan tahun.

“Pemimpin…” salah satu dari mereka memberanikan diri bicara, suaranya parau. “Kalau jejaknya masuk ke sana… berarti bocah itu bersembunyi di dalam. Dia pasti sedang sekarat!”

Yang lain mulai terpancing, rasa serakah akan hadiah kepala Rangga mulai mengalahkan rasa takut sesaat.

“Benar! Ini kesempatan kita untuk menghabisinya!”

“Kita kepung saja! Tidak mungkin dia bisa keluar dengan kondisi terluka!”

“Kalau perlu, kita sisir seluruh lembah! Berikan perintahmu, Pemimpin!”

Suara-suara itu mulai ramai, penuh ambisi yang buta. Namun, mereka tidak menyadari bahwa Macan Hitam tetap diam membeku, menatap kabut itu dengan sorot mata yang penuh kewaspadaan tinggi.

Perlahan, aura di sekeliling Macan Hitam berubah. Udara mendadak menjadi sangat berat, menekan dada para anak buahnya hingga mereka sulit bernapas. Suara-suara berisik itu langsung mereda, digantikan oleh kesunyian yang mencekam.

“Kalian…” Suara Macan Hitam rendah, namun mengandung getaran tenaga dalam yang membuat jantung berdegup tak beraturan. “…ingin masuk ke sana?”

Tak ada yang berani menjawab. Beberapa hanya mengangguk ragu, masih tidak menyadari bahaya yang mengintai di balik kabut kelabu itu.

Macan Hitam tertawa pelan. Tawa yang kering, dingin, dan penuh ejekan. “Bodoh…” Ia mengangkat kepalanya, matanya merah menyala bak bara api di tengah kegelapan. “Apakah kalian begitu ingin mati secepat itu?”

Sunyi senyap. Tak satu pun berani membalas tatapannya.

“Lembah Mayat…” lanjutnya, suaranya kini lebih dalam dan bergema. “…bukan tempat yang bisa dimasuki sesuka hati oleh manusia bernapas. Tempat itu milik para arwah, dan penguasanya bukan orang yang ingin kalian temui, bahkan dalam mimpi buruk sekalipun.”

Ia melangkah mendekati batas kabut, namun berhenti tepat satu inci sebelum kakinya menyentuh tanah lembah. Ia berdiri di sana, menatap kegelapan, seolah sedang melihat bayangan masa lalu yang kelam.

“Sampai hari ini…” katanya perlahan, kalimatnya jatuh seperti hukuman mati. “…belum ada orang yang sanggup keluar hidup-hidup dari sana setelah masuk sedalam itu.”

Beberapa pendekar menelan ludah. Salah satu dari mereka, yang merasa lebih sakti dari yang lain, berbisik pelan pada rekannya. “Benarkah setakut itu? Pemimpin kita mungkin hanya terlalu berhati-hati…”

Namun, pendengaran Macan Hitam setajam telinga binatang buas. Dengan gerakan yang hampir tak terlihat mata—

WUSSS!

Dalam sekejap, ia sudah berada tepat di depan orang itu. Tangan besarnya yang kasar mencengkeram leher sang pendekar, mengangkatnya ke udara seolah ia hanya seberat bulu ayam.

“Kalau kau ingin membuktikannya…” desis Macan Hitam tepat di depan wajah pria yang malang itu, “…silakan melangkah masuk. Aku akan melihat bagaimana dagingmu lepas dari tulangmu dalam hitungan detik.”

Pendekar itu pucat pasi, matanya mendelik ketakutan. Kakinya menendang-nendang udara tanpa daya. “Am… ampun, Pemimpin… hamba hanya—”

DUG!

Macan Hitam menghempaskannya ke tanah dengan kasar. Tubuh itu terbanting, memuntahkan darah segar dari mulutnya.

“Jangan pernah meremehkan sesuatu yang tidak kau pahami dengan otak tumpulmu!” bentaknya. Seluruh pasukan langsung berlutut, menunduk sedalam-dalamnya ke tanah.

Macan Hitam kembali menatap ke arah kabut yang menggulung. Tatapannya penuh perhitungan yang dingin. “Bocah Naga itu… dia memilih jalan yang sangat nekad. Masuk ke Lembah Mayat dalam keadaan terluka parah dan membawa wanita sekarat… itu adalah bentuk keputusasaan.”

Ia menyeringai, namun senyum itu penuh kelicikan. “Kalau dia benar-benar masuk ke dalam, maka hanya ada dua kemungkinan. Dia mati membusuk dan menjadi bagian dari tulang-belulang di sana, atau…” Ia berhenti sejenak, matanya menyipit. “…dia memiliki koneksi dengan penghuni lembah itu yang tidak kita ketahui.”

Angin malam kembali menderu, menggoyang pepohonan. Kabut bergerak seolah-olah hendak menerjang keluar, namun tetap tertahan oleh batas gaibnya.

Macan Hitam berbalik, jubahnya berkibar dengan gagah. “Kita tidak akan masuk. Menantang Lembah Mayat sama saja dengan bunuh diri massal.”

Keputusan itu mutlak. Tak ada yang berani membantah.

“Lalu… apa yang harus kita lakukan, Pemimpin?” tanya salah satu kapten pasukannya.

Macan Hitam tersenyum tipis. “Kita tunggu. Pasang mata di setiap jengkal perbatasan hutan ini. Tutup semua akses menuju Perguruan Melati Putih.”

“Maksud Pemimpin?”

“Kalau dia entah bagaimana caranya bisa bertahan hidup, dia pasti akan keluar. Dia butuh penawar untuk perguruannya,” lanjut Macan Hitam. “Dan ketika dia keluar dari perlindungan kabut itu dengan tubuh yang hancur… itulah saatnya kita memanen kepalanya.”

Ia melangkah menjauh, diikuti oleh barisan bayangan hitam pasukannya. Namun sebelum benar-benar menghilang di balik kegelapan hutan, ia berhenti dan menoleh sekali lagi ke arah lembah kelabu itu.

“Rangga Nata…” bisiknya pelan, suaranya terbawa angin. “Kau boleh lolos ke dalam lubang kubur itu hari ini. Tapi permainan ini… baru benar-benar dimulai ketika kau berani melangkah keluar.”

Angin malam bertiup lebih kencang, dan kabut Lembah Mayat kembali menutup rapat, menyembunyikan segala rahasia di dalamnya. Sementara di luar, roda takdir terus berputar cepat menuju satu titik: pembalasan yang berdarah.

Bersambung…

1
Ilman Xd
cerita apa ini dawk
anggita
ada visualisasi gambar tokohnya👌. like iklan👍☝
Idwan Syahdani: makasih kk udah mampir...
total 1 replies
angin kelana
lanjuuuuuttt mudah2n cerita selanjutnya makin seru...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!