Di bawah langit London yang selalu mendung, Alex Ferguson berdiri sebagai predator puncak di dunia bawah tanah Inggris. Baginya, kematian Brandon Warming karena sakit jantung adalah sebuah "penghinaan"—ia kehilangan kesempatan untuk membalas nyawa ibunya dengan tangannya sendiri.
Namun, Brandon meninggalkan satu-satunya harta yang tersisa: Tiana Luxemburg Warming. Gadis berusia 18 tahun yang masih memiliki binar polos di matanya, sama sekali tidak tahu bahwa seluruh hidupnya kini telah beralih menjadi milik Alex sebagai pelampiasan dendam yang belum tuntas. Bagi Alex, Tiana bukan sekadar mangsa, melainkan mahakarya yang akan ia hancurkan perlahan di balik dinding kastelnya yang dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Konyol
"Kau marah?" tanya Alex sembari mengusap dahinya yang memerah, matanya menatap Tiana dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Iya! Saya marah, Tuan!" balas Tiana dengan sisa keberaniannya, meski napasnya masih memburu. "Tuan tadi bilang saya tidak 'enak' dibanding tunangan Anda, tapi Tuan terus-menerus mencium saya lagi! Tuan benar-benar tidak konsisten!"
Alex terdiam sejenak, lalu sebuah tawa rendah dan serak keluar dari tenggorokannya. Ia kembali merunduk, memangkas jarak hingga ujung hidung mereka bersentuhan, membuat Tiana kembali terpojok di bawah kukungan tubuhnya.
"Baby... kamu sangat lucu," bisik Alex dengan nada yang kini terdengar lebih menggoda daripada mengancam. "Tapi jangan pernah berpikir aku seperti ini karena menyukaimu. Ini adalah hukumanmu karena sudah berani lari ke pelukan Alen."
Jemari Alex perlahan mengusap bibir Tiana yang sedikit bengkak akibat ulahnya tadi. "Dan soal kenapa aku menciummu lagi... aku berbohong. Kau jauh lebih mantap dan candu, Sayang. Andriana bahkan tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan reaksi tubuhmu yang polos ini."
Wajah Tiana seketika memanas mendengar pengakuan blak-blakan itu. "Tuan... Anda benar-benar gila," lirih Tiana sambil mencoba memalingkan wajahnya yang merah padam.
"Gila karenamu," sahut Alex dingin namun posesif. Ia kemudian menarik selimut dan menutupi tubuh Tiana yang bajunya sudah compang-camping, lalu ia berbaring di samping Tiana, memeluk pinggang gadis itu dengan erat seolah tak membiarkannya lepas lagi. "Tidurlah. Jika kau berani kabur dari ranjang ini sebelum matahari terbit, aku akan memastikan pamanmu menerima rekaman tadi sebelum sarapan."
Tiana hanya bisa terdiam membeku dalam dekapan Alex. Ia membenci pria ini, tapi jantungnya justru berkhianat dengan berdegup sangat kencang.
"Tadi dia memanggilku sayang..." batin Tiana yang masih membeku di dalam dekapan sang iblis. Jantungnya berdebar tidak karuan, tapi rasa benci di hatinya tetap lebih besar. Awas saja iblis gila ini. Besok pagi akan kubuatkan minuman, aku kasih racun tikus kalau perlu, lalu aku kubur dia di halaman belakang! Tiana menyunggingkan senyum licik dalam kegelapan, membayangkan kemenangannya.
HAP!
"Ahhh!" Tiana terperanjat kaget sampai tubuhnya melonjak kecil ketika Alex tiba-tiba menggigit bahu polosnya yang terekspos. Tidak terlalu keras, tapi cukup untuk mengejutkan saraf-sarafnya.
"Cepat tidurlah. Jangan membayangkan yang aneh-aneh di dalam kepalamu itu," bisik Alex dengan suara bariton yang sangat rendah di dekat telinganya. Seolah-olah pria itu bisa membaca pikiran jahat Tiana.
Tiana yang panik langsung memejamkan mata rapat-rapat. Ia mencari akal agar Alex mengira dia sudah terlelap.
"Nghurrr... nghurrr..." Tiana mencoba menyuarakan dengkuran palsu yang terdengar sangat tidak meyakinkan. "Saya tidur kok, Tuan... ini saya sudah tidur..." ucapnya dengan suara yang disengaja agar terdengar seperti orang mengigau.
Alex menghentikan gerakannya, lalu terdengar helaan napas pendek yang terdengar seperti tawa tertahan. Ia mengeratkan pelukannya di pinggang Tiana, membuat punggung Tiana semakin menempel erat pada dada bidangnya.
"Tidur apa yang menjawab, Tiana?" tanya Alex datar namun ada nada geli di sana. "Kau pikir aku bodoh? Tidur yang benar, atau aku akan melakukan hal lain agar kau benar-benar lelah dan tertidur."
Tiana langsung bungkam seribu bahasa. Ia mengunci mulutnya rapat-rapat, takut ancaman Alex menjadi kenyataan. Namun, lama-kelamaan, hangat tubuh Alex dan aroma parfum maskulinnya yang mahal mulai membuat mata Tiana terasa berat.