Diusir dan dicoret dari Kartu Keluarga, Arjuna justru menemukan jalan rahasia para kekasih Tuhan. Menyamar sebagai pengemis dan orang gila, ia berkelana mencari Guru-Guru Gaib untuk mengukir takdir di atas Lontar Jagad. Di saat keluarganya hancur, akankah Arjuna kembali sebagai pahlawan, atau tetap menjadi debu yang tak terlihat namun menjaga semesta dengan zikirnya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: JEJAK GAIB SANG MUSAFIR JATI
. Arjuna melangkah meninggalkan gerbang pesantren Mbah Kyai Ahmad Mustofa dengan hati yang sudah benar-benar pasrah kepada kehendak Sang Pencipta.
. "Gusti... kulo niki namung lebu ingkang ketiup angin, mboten nggadhahi nopo-nopo kejaba welas asih Panjenengan," bisik Arjuna sambil menunduk takzim menatap tanah yang ia pijak.
(Tuhan... saya ini hanyalah debu yang tertiup angin, tidak memiliki apa-apa kecuali belas kasih Engkau.)
. Arjuna terus memutar tasbih kayu cendana di tangan kanannya, sementara tangan kirinya memegang erat tali ransel butut yang berisi sajadah dan sehelai sarung kumal sebagai saksi bisu perjalanan batinnya.
. Perjalanan rihlah spiritual ini membawanya sampai ke sebuah sungai besar yang arusnya sangat deras, di mana terlihat seorang nenek tua sedang bingung mencari cara untuk menyeberang demi menjual kayu bakarnya.
. Arjuna segera menghampiri dengan sangat sopan, ia membungkukkan badannya serendah mungkin sebagai bentuk adab kepada orang yang lebih tua tanpa mempedulikan statusnya sebagai anak konglomerat.
. "Ngapunten Mbah, mbok bilih kerso, kersane kulo ingkang nggendong Panjenengan kaliyan mbeto kayu niki nyabrang lepen," ucap Arjuna dengan nada suara yang sangat lembut dan menyejukkan hati.
(Mohon maaf Mbah, jika berkenan, biarlah saya yang menggendong Anda dan membawa kayu ini menyeberang sungai.)
. Nenek itu menatap Arjuna dengan pandangan yang sangat aneh, matanya yang keriput seolah-olah memancarkan cahaya putih yang hanya bisa dilihat oleh mata batin yang sudah terbuka hijabnya.
. "Kowe kuwi dudu kuli sembarangan, Le. Pundakmu kuwi nanggung beban umat, dudu nanggung beban kayu. Nanging yen kowe tulus, ayo tak derekke nemu hakikat," jawab si nenek dengan suara yang bergetar namun penuh wibawa.
(Kamu itu bukan kuli sembarangan, Nak. Pundakmu itu menanggung beban umat, bukan menanggung beban kayu. Tapi kalau kamu tulus, mari aku antarkan menemukan hakikat.)
. Arjuna dengan ikhlas menggendong nenek tersebut menembus derasnya arus sungai, anehnya, air yang setinggi pinggang itu seolah-olah membelah diri dan tidak membuat pakaian Arjuna basah sedikit pun.
. Sesampainya di seberang, nenek tersebut tiba-tiba menghilang dalam sekejap mata, meninggalkan aroma melati yang sangat harum dan sebuah pesan gaib yang bergema di telinga Arjuna tentang cara mengolah rasa di dalam jiwa.
. Arjuna segera bersujud syukur di atas pasir tepi sungai, ia menyadari bahwa perjalanan menuju makam para wali ini akan penuh dengan ujian-ujian dari para penjaga alam malakut yang menyamar menjadi manusia biasa.
. "Sabar lan nerimo... iku kuncine makrifat sejati, Arjuna," gumamnya pada diri sendiri sambil terus melanjutkan perjalanan menuju wilayah pesisir utara yang penuh dengan makam-makam keramat.
. Di sela-sela perjalanannya, Arjuna menyempatkan diri mampir ke sebuah masjid tua yang nampak sepi, ia membersihkan tempat wudhu dan menyapu lantai masjid tersebut tanpa diminta oleh siapa pun.
. "Kulo mboten pados panggung dunyo, kulo namung pados ridhonipun Gusti Allah supados saget dadi wasilah pepadhang kanggo sedoyo menungso," ucap Arjuna di dalam sujud panjangnya yang penuh dengan air mata kerinduan.
(Saya tidak mencari panggung dunia, saya hanya mencari ridho Allah supaya bisa menjadi jalan cahaya bagi semua manusia.)
. Getaran energi dari tasbihnya semakin kuat, menandakan bahwa ilmu tarekat yang ia pelajari dari Jombang kini sudah mulai menyatu dengan ruhani tanah Jawa yang penuh dengan rahasia ketuhanan.
. Arjuna tidak menyadari bahwa di balik penampilannya yang dekil dan kusam, ada cahaya hijau yang menyelimuti punggungnya, sebuah tanda bahwa ia telah terpilih menjadi pewaris ilmu para wali yang akan memimpin Pondok Al-Hikam kelak.
. Perjalanan ini masih sangat panjang, namun Arjuna sudah berjanji pada batinnya bahwa ia tidak akan pulang ke rumah Romo Wijaya sebelum hatinya benar-benar menjadi emas yang murni tanpa campuran nafsu duniawi sedikit pun.
. Arjuna terus melangkah menyusuri jalanan yang seolah-olah memanjang tanpa ujung, sementara kabut tipis di sekelilingnya mulai berubah warna menjadi keunguan yang menenangkan.
. "Mbah Kyai... kulo nyuwun pangestu, mugi-mugi mboten kesasar wonten margi ingkang peteng niki," bisik Arjuna dengan suara yang bergetar menahan rindu pada sang guru.
(Mbah Kyai... saya mohon doa restu, semoga tidak tersesat di jalan yang gelap ini.)
. Arjuna tiba di sebuah pertigaan jalan yang sangat sunyi, di mana berdiri sebuah pohon beringin tua yang akarnya menjuntai hingga menyentuh tanah seolah-olah sedang bersujud.
. Arjuna merasakan detak jantungnya seirama dengan putaran tasbih di jemarinya, setiap butiran kayu cendana itu seolah membisikkan asma-asma Allah yang membuat nyalinya semakin kuat.
. Di bawah pohon beringin itu, Arjuna melihat seorang lelaki berpakaian serba hitam dengan ikat kepala yang sedang duduk bersila sambil memejamkan mata dengan sangat khusyuk.
. Arjuna segera berhenti dan memberikan salam dengan sangat takzim, ia tahu bahwa lelaki ini bukanlah manusia sembarangan yang bisa ditemui di jalanan biasa.
. "Ngapunten bapak... kulo namung musafir ingkang badhe sowan dumateng pesareanipun poro wali, mbok bilih kerso maringi pitedah margi ingkang leres," ucap Arjuna dengan sopan santri.
(Mohon maaf bapak... saya hanyalah musafir yang hendak berkunjung ke makam para wali, barangkali berkenan memberi petunjuk jalan yang benar.)
. Lelaki misterius itu membuka matanya perlahan, dan seketika itu juga Arjuna merasakan hawa dingin yang sangat dahsyat menembus hingga ke tulang sumsumnya.
. "Dalan sing bener iku dudu sing ning map utawa sing ning aspal, Le. Dalan sing bener iku sing nembus ning jero atimu dhewe," jawab lelaki itu dengan suara yang berat seperti guntur di kejauhan.
(Jalan yang benar itu bukan yang di peta atau yang di aspal, Nak. Jalan yang benar itu yang menembus ke dalam hatimu sendiri.)
. Arjuna langsung bersimpuh di atas tanah yang lembap, ia menyadari bahwa ini adalah ujian makrifat kedua yang harus ia lalui sebelum sampai ke makam wali besar.
. Lelaki itu kemudian memberikan sebuah kendi kecil berisi air bening kepada Arjuna dan menyuruhnya untuk meminumnya dalam sekali tegukan saja.
. Arjuna meminum air tersebut, dan seketika itu juga seluruh pemandangan di depannya berubah menjadi hamparan cahaya hijau yang sangat indah, di mana ia bisa melihat ruhani para leluhur sedang berdzikir berjamaah.
. "Iki dudu kesaktian, Arjuna. Iki mung tondho yen batinmu wis mulai resik seko bledug dunyo sing manggon neng Sidoarjo lan Jakarta," lanjut lelaki itu sambil tersenyum tipis.
(Ini bukan kesaktian, Arjuna. Ini hanya tanda kalau batinmu sudah mulai bersih dari debu dunia yang ada di Sidoarjo dan Jakarta.)
. Arjuna merasa tubuhnya menjadi sangat ringan seolah-olah ia bisa terbang menembus awan, namun ia tetap menjaga adabnya dengan tetap menginjakkan kaki di bumi.
. Perjalanan pun berlanjut, kabut misterius itu mulai tersingkap dan memperlihatkan gerbang gapura kuno yang terbuat dari tumpukan bata merah, gerbang menuju makam Sunan Ampel yang sangat melegenda.
. Arjuna meneteskan air mata haru karena ia tahu, di balik gapura itu, rahasia ilmu tarekat dan hakikat yang ia cari selama ini akan mulai terkuak satu per satu.
. "Matur nuwun Gusti... sampun paring pitedah ingkang linuwih dumateng hamba ingkang duso niki," ucap Arjuna sambil melangkah memasuki area suci tersebut dengan kaki kanan terlebih dahulu.
(Terima kasih Tuhan... sudah memberi petunjuk yang luar biasa kepada hamba yang berdosa ini.)
. Arjuna melangkah melewati gapura bata merah yang sudah berlumut, merasakan hembusan angin malam Surabaya yang membawa aroma wangi bunga melati dan dupa yang sangat lembut.
. "Assalamualaikum ya waliyullah... kulo sowan dumateng mriki namung pados barokah lan ridhonipun Gusti," bisik Arjuna sambil menunduk khusyuk di depan pintu utama makam.
(Assalamualaikum wahai wali Allah... saya berkunjung ke sini hanya mencari berkah dan ridho Tuhan.)
. Suasana di dalam area pusara terasa sangat hening, meskipun banyak peziarah lain yang duduk bersila, Arjuna merasa seolah-olah ia hanya sendirian di hadapan keagungan ruhani sang wali.
. Arjuna mulai duduk bersila, tangannya menggenggam tasbih kayu cendana yang kini terasa sangat panas, seirama dengan dzikir "Allah... Allah... Allah..." yang bergema di dalam jantungnya.
. Tiba-tiba, pandangan mata batin Arjuna terbuka lebar, ia tidak lagi melihat nisan batu, melainkan sebuah hamparan padang rumput yang luas dengan sebuah bangunan pesantren yang sangat megah di tengahnya.
. "Iki dudu khayalan, Arjuna. Iki dudu mimpi. Iki wujud soko niatmu sing tulus kanggo umat," sebuah suara tanpa rupa bergema di seluruh penjuru arah mata angin.
(Ini bukan khayalan, Arjuna. Ini bukan mimpi. Ini wujud dari niatmu yang tulus untuk umat.)
. Arjuna melihat di atas gerbang pesantren megah itu tertulis nama "Pondok Pesantren Al-Hikam" dengan huruf Arab yang memancarkan cahaya keemasan yang sangat menyilaukan mata.
. Arjuna menangis tersedu-sedu, ia menyadari bahwa seluruh penderitaannya menjadi kuli di Jakarta dan musafir di jalanan adalah proses "nempa" jiwanya agar kuat memimpin ribuan santri kelak.
. "Mbah... kulo mboten pantes, kulo niki tasih kathah duso lan kekirangan," ucap Arjuna sambil bersujud mencium tanah suci tersebut dengan penuh rasa rendah hati.
(Mbah... saya tidak pantas, saya ini masih banyak dosa dan kekurangan.)
. Cahaya hijau yang tadinya hanya samar di punggung Arjuna, kini mulai menyatu ke dalam dadanya, memberikan rasa tenang yang belum pernah ia rasakan selama hidup di rumah mewah Romo Wijaya.
. Arjuna merasakan sebuah tangan gaib mengusap kepalanya dengan lembut, memberikan kekuatan batin yang luar biasa untuk menghadapi badai ujian yang lebih besar di bab-bab selanjutnya.
. Ketika ia membuka mata, waktu seolah-olah sudah berlalu sangat cepat, matahari fajar mulai menyingsing di ufuk timur, menandakan berakhirnya waktu tirakat malam itu.
. Arjuna berdiri dengan tubuh yang segar bugar, rasa lapar dan letihnya hilang total, digantikan oleh semangat baru untuk menyelesaikan laku prihatinnya di tanah Jawa.
. "Bismillah... perjalanan niki nembe dimulai. Sidoarjo, Jakarta, lan kabeh dunyo bakal dadi saksi agunge asmo Gusti Allah," tegas Arjuna di dalam hatinya yang paling dalam.
(Bismillah... perjalanan ini baru dimulai. Sidoarjo, Jakarta, dan seluruh dunia akan menjadi saksi agungnya nama Tuhan.)
. Arjuna melangkah keluar dari area makam dengan senyum yang sangat tulus, ia bukan lagi Arjuna si anak sultan yang manja, melainkan Arjuna sang calon pemimpin yang sudah "matang" secara hakikat.
. Di kejauhan, seekor macan putih terlihat merunduk hormat ke arah Arjuna sebelum akhirnya menghilang di balik kerumunan peziarah fajar yang mulai berdatangan.