NovelToon NovelToon
Jarak Antara Kita

Jarak Antara Kita

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:211
Nilai: 5
Nama Author: ilham Basri

Arga Ardiansyah baru saja dikhianati setelah tiga tahun berdedikasi saat perusahan tersebut mencapai puncaknya, namun yang membuat dia tetap waras adalah Elina yang sedang berada di Praha.
Arga Ardiansyah kemudian bertekad untuk bangkit kembali dan menyusul cintanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilham Basri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 Panggilan Yang Mengubah Segalanya

​Malam itu, Jakarta masih belum mau berhenti menangis. Suara hujan yang menghantam atap seng rumah tua kakeknya terdengar seperti ribuan kerikil yang dilemparkan bersamaan. Arga duduk di lantai semen yang dingin, punggungnya bersandar pada lemari kayu yang sudah keropos dimakan rayap. Di depannya, buku catatan lusuh peninggalan kakeknya terbuka lebar, diterangi cahaya remang-remang dari lampu bohlam yang sesekali berkedip, seolah-olah nyawanya juga hampir habis.

​Arga menatap deretan nama di sana. Ada perasaan ragu yang menggelayuti dadanya. Dia merasa seperti orang gila yang berharap pada keajaiban di tengah tumpukan sampah. Siapa dia sekarang? Cuma seorang duda yang baru saja diusir dari rumah mewah, tidak punya uang, dan bajunya bahkan masih terasa lembap di kulit. Apa mungkin orang-orang besar di buku ini masih ingat pada seorang pria tua dari pinggiran Jakarta bernama Broto?

​Dia menarik napas panjang, mencoba mengisi paru-parunya dengan udara yang berbau debu dan kayu tua. Jarinya berhenti di satu nama yang ditulis kakeknya dengan tinta merah, sedikit berbeda dari yang lain.

​Hendrawan – Direktur Utama Bank Capital Asia.

​Arga menelan ludah. Nama itu tidak asing. Itu adalah salah satu bank swasta terbesar di negeri ini. Keluarga Winata—keluarga mantan istrinya—bahkan butuh waktu berbulan-bulan hanya untuk mendapatkan janji temu dengan asisten pria itu. Dan di sini, di buku catatan butut ini, nomor ponsel pribadinya tertulis jelas.

​Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, Arga menekan digit nomor tersebut di ponselnya yang retak. Dia menempelkan ponsel itu ke telinga, mendengarkan nada sambung yang terasa sangat lambat. Setiap detiknya membuat jantung Arga berdegup kencang.

​"Halo?" suara di seberang sana terdengar tenang, berat, dan sangat berwibawa. Tidak ada nada terburu-buru, tipikal orang yang sudah selesai dengan urusan dunia.

​Arga sempat terdiam sedetik. Tenggorokannya terasa kering. "Halo... selamat malam. Benar ini dengan Bapak Hendrawan?"

​"Iya, benar. Ini siapa ya? Saya tidak menyimpan nomor ini," jawab pria itu, suaranya tetap datar tapi sopan.

​Arga memejamkan mata, mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. "Nama saya Arga, Pak. Saya... saya cucu dari Pak Broto. Kakek saya meninggalkan pesan agar saya menghubungi nomor ini kalau saya sedang berada di titik buntu."

​Hening.

​Seketika, kesunyian di seberang telepon itu terasa mencekam. Arga bisa mendengar suara napas yang sedikit tertahan dari Hendrawan. Detik berikutnya, nada bicara pria itu berubah total. Tidak ada lagi jarak formalitas.

​"Cucunya Pak Broto?" suara Hendrawan mendadak bergetar, ada nada haru sekaligus hormat yang sangat kental di sana. "Nak Arga? Kamu di mana sekarang? Ya Tuhan, saya sudah menunggu kabar dari keluarga Pak Broto selama sepuluh tahun lebih. Tanpa kakek kamu, saya mungkin sudah membusuk di penjara atau mati kelaparan sejak krisis dulu. Beliau adalah malaikat tanpa sayap bagi saya."

​Arga terpaku. Dia tidak menyangka reaksinya akan sekuat ini. "Saya... saya ada di Jakarta, Pak. Di rumah lama kakek."

​"Dengarkan saya, Nak Arga," suara Hendrawan sekarang terdengar sangat serius, seolah-olah dia sedang memberikan perintah paling penting dalam hidupnya. "Jangan pergi ke mana-mana. Tetap di sana. Saya akan mengirimkan tim saya sekarang juga. Kamu butuh apa pun, katakan saja. Uang? Tempat tinggal? Atau ada seseorang yang perlu saya hapus dari peta bisnis Jakarta besok pagi?"

​Arga tersenyum getir, tapi matanya berkaca-kaca. "Saya cuma butuh tempat untuk memulai kembali, Pak. Saya baru saja... kehilangan segalanya."

​"Kamu tidak kehilangan apa-apa, Nak. Kamu baru saja menemukan kembali hakmu," jawab Hendrawan tegas. "Tunggu tiga puluh menit. Mobil saya akan sampai."

​Telepon tertutup. Arga menyandarkan kepalanya ke dinding. Dia merasa seperti baru saja keluar dari lubang jarum. Belum sempat dia mencerna semuanya, ponselnya kembali bergetar. Kali ini panggilan video dari Praha.

​Elina.

​Arga buru-buru mengusap wajahnya, mencoba menghilangkan jejak air mata dan mengatur raut wajahnya agar terlihat sesantai mungkin. Dia menyalakan lampu ruang tamu yang paling terang—meski tetap saja redup—dan mengangkat panggilan itu.

​Di layar, wajah Elina muncul dengan latar belakang jalanan Praha yang indah di malam hari. Dia memakai syal tebal dan hidungnya sedikit memerah karena dingin. Dia tersenyum, tipe senyum yang selalu bisa membuat dunia Arga yang runtuh terasa sedikit lebih baik.

​"Hei, kok gelap banget di situ? Kamu sudah di rumah?" tanya Elina, matanya menyipit mencoba melihat latar belakang Arga.

​Arga memaksakan senyum paling lebar yang dia punya. "Iya, El. Lagi ada masalah sama listrik di apartemen, jadi pakai lampu darurat dulu. Baru mau istirahat nih."

​"Kamu kelihatan capek banget, Ga. Matamu merah gitu. Jangan terlalu diforsir kerjanya. Proyek pelabuhan itu kan sudah selesai, harusnya kamu bisa ambil cuti sebentar," suara Elina terdengar penuh perhatian, dan setiap kata-katanya terasa seperti sembilu yang mengiris hati Arga karena dia harus terus berbohong.

​"Iya, besok-besok aku ambil cuti. Mungkin aku bisa mampir ke sana lebih cepat dari rencana kita," ucap Arga pelan.

​Mata Elina langsung berbinar. "Serius? Kamu nggak lagi bercanda kan? Aku sudah kangen banget, Ga. Di sini dingin banget kalau nggak ada kamu."

​"Serius, Sayang. Aku usahakan secepatnya. Kamu sekolah yang rajin ya di sana, jangan pikirin aku. Aku baik-baik saja di sini."

​Mereka mengobrol sekitar sepuluh menit tentang hal-hal kecil. Elina bercerita soal ujiannya, soal harga kopi yang makin mahal di dekat asramanya, dan betapa dia ingin makan bakso abang-abang di Jakarta. Arga mendengarkan dengan saksama, menyimpan setiap nada suara Elina di dalam kepalanya seolah itu adalah obat bius untuk rasa sakitnya.

​Setelah panggilan berakhir, Arga kembali terdiam di dalam kesunyian rumah tua itu. Dia menatap tangannya yang kotor karena debu.

​"Maafkan aku, El. Aku harus bohong sebentar saja," bisiknya pada kegelapan. "Aku nggak mau kamu melihat aku sebagai pecundang."

​Tepat tiga puluh menit kemudian, suara deru mesin mobil mewah memecah kesunyian gang sempit itu. Cahaya lampu mobil yang sangat terang menyapu dinding-dinding rumah tua yang kusam. Arga berdiri, merapikan kemejanya yang kusut dan basah, lalu berjalan menuju pintu depan.

​Di depan pagarnya yang berkarat, dua mobil SUV hitam besar sudah terparkir rapi. Beberapa pria berbadan tegap dengan setelan jas hitam turun dan berdiri dengan posisi siap. Seorang pria paruh baya dengan pakaian sangat rapi keluar dari mobil kedua. Itu bukan Hendrawan, tapi asisten pribadinya.

​Pria itu berjalan mendekat, lalu membungkuk sangat dalam di depan Arga. Pemandangan yang sangat kontras di tengah gang kumuh dan becek itu.

​"Tuan Muda Arga? Saya diperintahkan oleh Bapak Hendrawan untuk menjemput Anda. Segala kebutuhan Anda sudah kami siapkan di hotel bintang lima terdekat untuk malam ini. Besok pagi, Bapak Hendrawan sendiri yang akan menemui Anda untuk menyerahkan apa yang seharusnya menjadi milik Anda."

​Arga menatap pria itu, lalu menatap rumah kakeknya untuk terakhir kali sebelum pergi. Dia mengambil buku catatan kulit hitam itu dan memasukkannya ke dalam saku jaketnya.

​"Satu hal," ucap Arga dengan suara yang sekarang jauh lebih dingin dan stabil.

​"Silakan, Tuan Muda."

​"Besok pagi, saya ingin laporan lengkap tentang semua utang keluarga Winata ke Bank Capital Asia. Saya ingin tahu seberapa besar lubang yang bisa saya gali untuk mereka jatuh."

​Asisten itu tersenyum tipis, seolah-olah dia sudah menunggu permintaan seperti itu. "Sudah kami siapkan di dalam mobil, Tuan Muda. Bapak Hendrawan bilang, Anda mungkin akan menanyakan hal itu pertama kali."

​Arga melangkah masuk ke dalam mobil mewah itu. Pintunya tertutup dengan suara thud yang mantap, kedap suara, meninggalkan kebisingan Jakarta di luar sana. Di dalam kabin yang wangi kulit mahal itu, Arga menyandarkan punggungnya.

​Roda balas dendam ini bukan cuma mulai berputar. Roda ini baru saja berubah menjadi buldoser yang siap meratakan siapa saja yang pernah menganggapnya sampah. Dan untuk pertama kalinya sejak diusir sore tadi, Arga tidak lagi merasa kedinginan. Ada api yang menyala sangat panas di dalam dadanya, api yang akan membawanya terbang melintasi benua untuk menemui Elina sebagai pemenang.

​Catatan: Bab ini fokus pada transisi Arga dari titik terendah menuju awal kekuasaannya. Bahasanya dibuat lebih intim dengan menunjukkan pergolakan batin Arga saat berbohong pada Elina.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!