NovelToon NovelToon
Pendekar Naga

Pendekar Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Idwan Virca84

Di tengah puing-puing yang membara, takdir mempertemukan Rangga dengan sosok misterius, Pertapa Gila Tanpa Tanding. Sang pertapa bukanlah orang sembarangan; di balik pakaian compang-camping dan tawa yang nyeleneh, ia adalah pemegang rahasia Pedang Naga Emas Seribu Langit, pusaka sakti yang konon mampu membelah awan dan menggetarkan bumi. Rangga kemudian dibawa ke lereng Gunung Kerinci yang berselimut kabut, sebuah tempat terpencil di mana waktu seolah berhenti berputar.
Selama lima belas tahun, Rangga dididik dengan keras di bawah gemblengan sang Pertapa Gila. Ia tidak hanya belajar olah kanuragan dan ilmu meringankan tubuh yang membuat gerakannya seringan kapas, tetapi juga ditempa secara spiritual untuk mengendalikan api dendam yang membara di dadanya. Sang pertapa mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada tajamnya bilah pedang, melainkan pada kemampuan hati untuk tetap tegak di jalan kebenaran. Rangga tumbuh menjadi pemuda yang gagah perkasa..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idwan Virca84, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31: TONGKAT BAMBU KUNING DAN NAMA YANG DIPERTANYAKAN**

Sore itu, cakrawala membara. Warna merah saga menyapu jalanan tanah kering yang membelah hutan bambu. Di tengah jalan tersebut, suasana mendadak membeku. Seekor burung prenjak yang tadi berkicau, tiba-tiba terbang menjauh, seolah tahu maut sedang menahan napas.

“Apa kau salah satu dari perampok yang meneror desa-desa sekitar sini, Anak Muda?”

Suara itu berat, keluar dari rongga dada yang dalam. Berwibawa, namun mengandung tekanan tenaga dalam yang halus—sebuah getaran yang mampu membuat nyali pendekar kelas teri rontok seketika.

Rangga Nata yang berdiri di tengah jalan tanah merah itu tidak bergerak sedikit pun. Caping bambunya miring, menutupi sebagian wajahnya yang tenang.

“Maaf, Ki…” jawabnya pelan, suaranya tetap datar meski ia merasakan hawa menekan yang luar biasa. “Aku hanya lewat… dan aku tidak kenal siapa para perampok itu.”

Angin sore berhembus, menerbangkan jubah lusuh Rangga dan ujung kain ikat kepala sang orang tua. Di hadapan Rangga, berdirilah seorang lelaki tua dengan jenggot putih yang terawat rapi. Tubuhnya tidak terlalu besar, namun setiap otot yang terlihat di lengannya nampak sekeras kawat baja.

Di tangannya, ia menggenggam sebuah tongkat bambu kuning yang berkilau seolah terbuat dari emas murni. Sederhana, namun memancarkan aura kehijauan yang dingin dan berbahaya.

**Ki Ranca.** Sesepuh agung dari Perguruan Bambu Kuning.

Matanya menyipit, menatap tajam ke arah Rangga, seolah ingin membedah setiap rahasia yang tersimpan di balik pakaian sederhana pemuda itu.

“Aku melihat gerakanmu saat menghalau anak buah Harimau Hitam tadi…” Ki Ranca melangkah satu langkah. Setiap pijakannya tidak menimbulkan suara, pertanda ilmu meringankan tubuh yang sudah mencapai tahap sempurna. “…ringan, cepat, dan sangat tidak biasa.”

*Tok!*

Tongkatnya dihentakkan pelan ke tanah. Getarannya merambat, membuat kerikil di sekitar kaki Rangga meloncat kecil.

“Jika boleh tahu… siapa kau sebenarnya? Dan murid siapa?”

Sunyi menyergap. Hanya suara gesekan daun bambu yang terdengar. Rangga menghela napas ringan, tangannya perlahan mengangkat sedikit pinggiran capingnya.

“Aku… namaku Rangga Nata, Ki. Dan aku murid dari Pertapa Tanpa Tanding.”

Sejenak, dunia seolah berhenti berputar.

Lalu—

“Huh!” Ki Ranca mendengus keras, tawanya terdengar seperti guntur yang tertahan. “Murid Pertapa Tanpa Tanding?!”

Matanya menyala, berkilat penuh emosi yang sulit dibaca.

“Jangan kau membual di hadapanku, Anak Muda!” Tongkat bambu kuning itu bergetar halus di genggamannya. “Setahuku, pertapa tua itu tidak pernah mengangkat murid seumur hidupnya. Ia adalah manusia yang paling pemilih di bawah kolong langit ini!”

Suasana langsung menegang hebat. Di kejauhan, para murid Padepokan Bambu Kuning menyaksikan dengan napas tertahan.

“Itu orang yang tadi menyelamatkan desa kita…” bisik Rindu, wajahnya cemas. “Tapi kenapa Ki Ranca tampak begitu marah?”

Kemboja menelan ludah, tangannya meremas ujung bajunya. “Ini bisa jadi bencana… jika Ki Ranca benar-benar mengeluarkan ajiannya.”

Rangga tetap berdiri tegak, tak gentar sedikit pun. “Kalau Ki tidak percaya, aku tidak bisa memaksa. Kebenaran tidak butuh pengakuan untuk tetap menjadi benar.”

“Kurang ajar! Kau berani bermain filsafat di hadapanku?!” Ki Ranca menggeram. Tongkat bambu kuning itu berputar dalam tarian yang sangat cepat.

*Wuttt!*

Udara di sekeliling Ki Ranca berputar, menciptakan pusaran angin kecil yang menerbangkan dedaunan kering.

“Aku sudah puluhan tahun melanglang buana di dunia persilatan! Tidak mungkin aku salah mengenali aliran tenaga dalam!” Ia menunjuk Rangga dengan ujung tongkatnya. “Dan tenaga dalam yang kau pancarkan… tidak mirip sedikit pun dengan hawa murni milik Pertapa Tanpa Tanding!”

Rangga tersenyum tipis, sebuah senyuman yang mengandung pengertian mendalam.

“Wajar saja, Ki… karena hawa murniku masih terbungkus oleh debu dunia. Aku belum sepenuhnya mampu mewarisi kesucian ilmu Guru.”

“Bohong!” Ki Ranca tidak tahan lagi. Ia melesat secepat kilat!

**WUSSS!!!**

Tongkat bambu kuning itu menyambar dengan kecepatan yang mustahil ditangkap mata awam, mengarah lurus ke arah pelipis Rangga. Serangan yang mampu menghancurkan batu karang dalam sekali hantam!

“Kalau kau benar muridnya… buktikan dengan nyawamu!”

**Trang!!!**

Benturan suara logam yang sangat nyaring bergema. Namun, tongkat itu terhenti secara mendadak tepat satu jengkal dari wajah Rangga!

Tongkat itu seolah menghantam dinding kaca yang tak terlihat namun luar biasa kokoh. Ki Ranca terkejut, ia merasakan tangannya bergetar karena pantulan tenaganya sendiri.

“Hah?!”

Rangga tidak bergerak seujung rambut pun. Ia hanya berdiri diam dengan mata yang terpejam pelan.

“Ki terlalu terburu-buru oleh prasangka…” gumam Rangga pelan. “Ini… adalah perisai pelindung Guru.”

Aura keemasan samar mulai berdenyut dari tubuh Rangga, membentuk pola naga yang melilit di udara.

“Perisai Lonceng Naga… tingkat delapan belas.”

Para murid di kejauhan tertegun, mulut mereka ternganga.

“Ilmu apa itu…? Tongkat Ki Ranca… tertahan oleh udara kosong!”

Ki Ranca menyipitkan mata, keringat dingin mulai muncul di dahinya. “Ilmu kebal tingkat puncak… Tapi, jangan kira itu cukup untuk menahan jurus perguruanku!”

*Wuttt!!!*

Tongkat itu berputar kembali, kali ini dengan pengerahan tenaga yang jauh lebih besar.

“JURUS BAMBU MENEMBUS ANGIN!!!”

Ki Ranca menyerang bertubi-tubi. Tongkatnya berubah menjadi bayangan yang tak terhitung jumlahnya, menghantam perisai keemasan Rangga dari segala arah.

*Trang! Trang! Trang!*

Setiap benturan menciptakan percikan cahaya emas. Namun Rangga tetap diam, tenang bagai gunung yang tak tergoyahkan oleh badai.

“Sudah selesai, Ki?”

“Belum!” Ki Ranca meloncat mundur, mengambil jarak. Ia menyadari bahwa kekasaran tenaga tidak akan menembus pertahanan ini.

WUSSS!!!

Ia melesat lagi, namun kali ini serangannya lebih luwes dan licin. Rangga akhirnya bergerak. Ia melangkah ringan, sebuah langkah yang terlihat lambat namun sulit dikejar.

“Langkah Naga Sembilan Langit…” gumam Rangga.

Tubuhnya berkelebat bagaikan hantu, menghindar dari sabetan tongkat Ki Ranca dengan gerakan-gerakan yang mematikan logika. Ia seolah menari di antara celah-celah serangan lawan.

“Hm!” Ki Ranca makin penasaran. “Menarik… gerak tipu yang sangat halus!”

Tongkatnya kembali menyambar dalam serangan melingkar yang mematikan. Namun, sebelum tongkat itu mendarat, Rangga sudah berdiri tepat di samping bahu Ki Ranca.

“Di sini, Ki.”

“Hah?!”

**Plak!**

Sebuah sentuhan ringan, hampir seperti belaian, mendarat di pergelangan tangan Ki Ranca. Namun, sentuhan itu mengandung getaran tenaga dalam yang sangat padat.

Tongkat bambu kuning itu hampir saja terlepas dari genggaman Ki Ranca. Sang sesepuh mundur dengan salto cepat ke belakang, matanya membesar karena syok.

“Cepat sekali… bahkan aku tak sempat merasakan hawa serangannya!”

Rangga merapikan letak capingnya kembali. “Maaf, Ki… aku tidak berniat untuk melukai sesepuh yang aku hormati.”

Ki Ranca terdiam. Selama beberapa detik, ia hanya menatap Rangga dengan napas yang mulai teratur. Amarahnya perlahan menguap, berganti dengan rasa kagum yang amat dalam.

Ia tertawa kecil, suara tawa yang kini terdengar tulus. “Hahaha… Baik… baik…”

Ia menegakkan tubuhnya, menyimpan tongkatnya kembali di samping badan. “Kau memang bukan anak sembarangan, Rangga Nata. Bakatmu… adalah kutukan bagi musuh-musuhmu.”

“Kalau begitu…” Ia menarik napas panjang, auranya kembali meledak untuk terakhir kalinya. “Gunakan satu jurus lagi. Jurus yang benar-benar menunjukkan jati diri sejatimu sebagai pewaris Pertapa Tanpa Tanding. Jika aku bisa menahannya, maka aku akan percaya!”

Rangga terdiam. Ia menatap Ki Ranca, melihat tekad ksatria di mata orang tua itu. Ia mengangguk pelan.

“Baik, Ki… Jika itu keinginan Sesepuh.”

Rangga membuka kuda-kuda rendah. Angin sore yang tadi berhembus pelan, kini mendadak berhenti total. Burung-burung di sekitar hutan bambu mendadak diam membisu.

Aura keemasan di tubuh Rangga kian mengental, hingga ia tampak seperti patung naga yang terbuat dari cahaya.

“Tapi… Ki jangan menyesal jika nanti tanganku terasa terlalu berat.”

Ki Ranca menyeringai lebar. “Lakukanlah!”

Rangga melangkah maju.

Satu langkah—bumi bergetar pelan.

Dua langkah—udara di sekitar mereka seolah tersedot habis.

“Tapak Naga Seribu Langit…”

Tangannya bergerak perlahan, seolah ia sedang mengangkat beban seberat gunung. Sangat ringan dilihat, namun sangat berat dirasakan.

WUSSS!!!

Ia melesat! Ki Ranca mengangkat tongkat bambunya, memasang pertahanan terkuat yang ia miliki selama hidupnya.

“DATANG!!!"

DUARRR!!!

Benturan itu meledakkan energi yang luar biasa! Tanah di bawah kaki mereka retak sedalam setengah depa. Debu dan daun bambu beterbangan menutupi pandangan mata.

Sunyi menyelimuti saat debu perlahan mereda.

Ki Ranca berdiri diam membeku. Tongkat bambu kuningnya masih terangkat menghalangi telapak tangan Rangga yang berhenti hanya satu milimeter dari permukaan tongkat tersebut.

Namun—tangan Ki Ranca bergetar hebat. Matanya membesar, melihat ada retakan rambut halus pada tongkat pusakanya.

“Ini…” Ki Ranca menelan ludah, suaranya parau. “Tidak mungkin…”

Ia menatap Rangga yang kini sudah menarik kembali tangannya.

“Ilmu itu… getaran tenaga dalam yang terasa seperti ribuan naga yang mengaum secara bersamaan… Benar-benar milik si tua bangkotan itu. Pertapa Tanpa Tanding…”

Ki Ranca perlahan menurunkan tongkatnya, bahunya yang tegap kini sedikit meluruh. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang liar.

Kemudian, dengan gerakan yang membuat semua muridnya ternganga, Ki Ranca menangkupkan tangan di depan dada—sebuah penghormatan tertinggi bagi sesama pendekar.

“Hormatku… untukmu, Rangga Nata. Dan untuk gurumu.”

Para murid serempak berteriak kecil. “Ki Ranca… memberi hormat pada seorang anak muda?!”

Rangga dengan cepat membungkuk, membalas hormat dengan takzim. “Jangan, Ki… aku hanyalah seorang murid yang masih mencari jati diri. Jangan perlakukan aku seperti Guru.”

Ki Ranca tersenyum tipis, matanya menatap jauh ke arah cakrawala. “Justru karena kau hanyalah seorang murid, namun sudah mencapai tahap ini… Aku tahu…”

Ia menatap Rangga dalam-dalam.

“Dunia persilatan akan segera berubah… Badai besar akan datang, dan kau adalah pusat dari badai itu.”

Angin kembali berhembus pelan, sejuk menyapu keringat. Dan di tengah jalan tanah merah itu, sebuah pengakuan abadi telah tercipta. Bahwa seorang pemuda sederhana berbaju lusuh… telah resmi melangkah masuk ke dalam lembaran legenda dunia persilatan.

Bersambung...

1
Ilman Xd
cerita apa ini dawk
anggita
ada visualisasi gambar tokohnya👌. like iklan👍☝
Idwan Syahdani: makasih kk udah mampir...
total 1 replies
angin kelana
lanjuuuuuttt mudah2n cerita selanjutnya makin seru...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!