NovelToon NovelToon
Di Balik Niqab Maryam: Rahasia Pewaris Yang Terbuang

Di Balik Niqab Maryam: Rahasia Pewaris Yang Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Anak Genius / CEO
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Diusir dan dihinakan akibat video fitnah keji, Aaliyah Humaira, putri seorang kyai besar, terpaksa menanggalkan identitasnya dan bersembunyi di balik niqab dan kode peretas legendaris 'H_Zero'. Namun, takdir pelariannya justru membawanya ke dalam pelukan Zayn Al-Fatih, CEO berdarah dingin penerus klan aristokrat mafia Eropa yang hidupnya dipenuhi ancaman pembunuhan. Saat rahasia triliunan dolar dan masa lalu leluhur mereka saling bertabrakan, Aaliyah dan Zayn harus menyatukan kejeniusan siber dan kekuatan militer untuk melawan sindikat pembunuh bayaran, dewan bangsawan yang rasis, dan konspirasi global. Ini bukan sekadar kisah cinta antara gadis pesantren dan sang Raja Es; ini adalah perang epik di mana iman, kecerdasan, dan peluru menjadi penentu kedaulatan sebuah negara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1: RUNTUHNYA MAHKOTA CAHAYA

​Malam itu, langit Jakarta seolah sedang mengamuk, memuntahkan seluruh kemarahannya ke atas bumi. Guntur menggelegar, membelah angkasa dengan kilatan cahaya perak yang menyakitkan mata, diikuti oleh guyuran hujan yang jatuh dengan beringas layaknya ribuan anak panah yang menghujam aspal. Di tengah amukan badai yang sanggup melumpuhkan kota itu, seorang wanita berdiri mematung di depan gerbang besi raksasa yang menjulang angkuh, seolah menantang siapa pun yang berani mendekat tanpa izin pemiliknya.

​Aaliyah Humaira—atau yang kini harus membiasakan diri dengan identitas barunya sebagai Maryam—merasakan dinginnya air hujan menembus serat-serat kain gamis hitamnya yang kini terasa berat. Selembar niqab yang menutupi wajahnya sudah basah kuyup, menempel erat pada kulit pipinya yang pucat dan dingin. Namun, rasa dingin yang menusuk tulang itu sama sekali tidak sebanding dengan kekosongan yang merambat di dalam dadanya. Di balik kain gelap itu, bibirnya tak henti bergerak, melantunkan istighfar dengan suara yang nyaris hilang ditelan gemuruh angin, mencari sisa-sisa kekuatan yang nyaris habis.

​Baru empat puluh delapan jam yang lalu, Aaliyah adalah segalanya yang dicita-citakan oleh banyak wanita. Ia adalah putri tunggal Kyai kharismatik pemilik Yayasan Al-Azhar, seorang Hafizah yang telah mengkhatamkan Al-Qur'an sejak usia remaja, dan sosok yang dihormati di lingkungan pesantrennya sebagai "Mutiara dari Timur". Kehidupannya dikelilingi oleh doa, kasih sayang, dan rasa hormat. Namun, dalam satu tarikan napas pengkhianatan yang dingin, mahkota cahaya itu direnggut paksa, menyisakan luka yang menganga lebar.

​Ia masih ingat betul detik-detik kehancurannya yang memilukan. Aula pesantren yang biasanya dipenuhi lantunan ayat suci yang menyejukkan jiwa, mendadak berubah menjadi panggung penghakiman yang liar. Sebuah layar proyektor besar menampilkan foto-foto dan potongan video yang telah dimanipulasi secara digital dengan sangat rapi—menampilkan sosok yang sangat mirip dengannya sedang memasuki sebuah kamar hotel dengan seorang pria asing yang tampak mesra. Fitnah itu menyebar lebih cepat dari api di atas padang rumput kering, melahap habis reputasi yang ia bangun seumur hidup.

​“Pelacur berjubah agama!” “Penghianat hafalan!” “Memalukan nama Kyai dan leluhur!”

​Teriakan-teriakan itu masih berdenging di telinganya, menyakitkan seperti sayatan sembilu yang diiriskan ke luka basah. Ayahnya, sang Kyai yang menjadi pilar kekuatannya, jatuh pingsan di hadapan ribuan santri saat melihat foto-foto itu, hingga kini terbaring koma di ruang ICU karena serangan jantung mendadak. Ibunya tak sanggup lagi menatap matanya, terisak dalam diam di pojok kamar karena tak tahu harus percaya pada siapa di tengah badai bukti palsu yang begitu meyakinkan. Tanpa sempat menjelaskan, tanpa diberi kesempatan untuk membela diri, Aaliyah diusir oleh kerabatnya sendiri, ditinggalkan sendirian di tengah dunia yang mendadak berubah menjadi musuh yang haus darah.

​Kini, ia berdiri di depan kediaman keluarga Al-Ghifari. Istana modern yang didominasi kaca dan baja hitam ini memancarkan aura dingin yang sama dengan pemiliknya yang legendaris. Aaliyah tahu, ia butuh tempat untuk bersembunyi. Bukan karena ia seorang pengecut yang lari dari masalah, tapi karena ia tahu lawan yang ia hadapi—siapa pun yang merancang fitnah ini—bukanlah orang sembarangan. Ia butuh waktu untuk menyusun kembali puing-puing hidupnya, mencari bukti digital yang disembunyikan, dan cara terbaik untuk melakukannya adalah dengan menjadi "tidak terlihat". Menjadi Maryam, si pelayan rendahan yang tak akan dilirik siapa pun.

​“Non? Astaghfirullah, Maryam? Sudah berapa lama kamu berdiri di sana?”

​Suara berat dan penuh kekhawatiran itu milik Bi Inah, kepala pelayan di rumah megah tersebut. Bi Inah adalah mantan pengasuh Aaliyah sewaktu ia masih kecil, satu-satunya orang di luar lingkungan pesantren yang masih percaya pada kesucian hatinya.

​“Ayo masuk, Nak. Cepat! Jangan sampai ada satpam yang melihatmu menggigil begini,” bisik Bi Inah sambil menarik lengan Aaliyah dengan terburu-buru, membawa wanita itu masuk melalui pintu samping yang biasa digunakan oleh para staf. “Ingat pesan Bibi, Maryam. Lupakan sejenak bahwa kamu adalah putri Kyai yang terhormat. Di sini, kamu hanyalah Maryam. Gadis yatim piatu dari desa terpencil yang tidak punya siapa-siapa. Tuan Muda Zayn adalah orang yang sangat sulit ditebak. Dia benci kebohongan, tapi dia jauh lebih benci pada orang-orang yang merasa dirinya terlalu suci. Jangan pancing kemarahannya.”

​Aaliyah mengangguk lemah, matanya yang sayu tertunduk ke arah lantai marmer yang berkilat sempurna, memantulkan bayangan dirinya yang tampak begitu rapuh. Ia menyeret koper tuanya yang berisi beberapa potong pakaian sederhana dan sebuah laptop tipis model terbaru yang dibungkus plastik kedap air di balik tumpukan mukena dan kitab-kitabnya. Laptop itu adalah jantungnya sekarang—senjata rahasia yang ia pelajari secara rahasia di sela-sela waktu muraja’ah-nya di pesantren. Sebuah keahlian IT tingkat tinggi yang tak pernah ia pamerkan kepada siapa pun, bahkan kepada ayahnya.

​Saat mereka melangkah menuju ruang tengah, kemewahan rumah itu semakin terasa mencekik. Lampu kristal raksasa yang menggantung di langit-langit memancarkan cahaya kekuningan yang megah, namun terasa begitu hampa dan tanpa nyawa. Di tengah ruangan yang luas itu, duduklah sang penguasa rumah, Zayn Al-Fatih.

​Zayn sedang duduk di sofa kulit berwarna abu-abu gelap, dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, memperlihatkan urat-urat tangan yang tegas dan jam tangan kronograf edisi terbatas yang harganya mungkin bisa membangun satu gedung pesantren kecil. Wajahnya adalah definisi dari ketampanan yang berbahaya—rahang yang tegas, hidung mancung yang menyiratkan kesombongan, dan mata sekelam malam yang tampaknya bisa menembus hingga ke dasar jiwa yang paling gelap sekalipun.

​Zayn tidak mendongak sedikit pun saat mereka masuk. Jemarinya yang panjang dan terampil menari di atas layar tablet, memeriksa data-data saham dan laporan audit perusahaan yang bergerak di bidang teknologi finansial. Kesunyian di ruangan itu terasa begitu tebal dan berat, hingga deru napas Aaliyah yang berat karena kedinginan terdengar sangat jelas di telinga siapa pun.

​“Ini pelayan baru yang kamu ceritakan itu, Bi? Kenapa dia basah kuyup seperti baru diangkat dari selokan?” suara Zayn keluar, berat dan penuh dengan nada otoriter yang tak terbantahkan, meski matanya masih terpaku pada layar.

​“Iya, Tuan Muda. Ini Maryam. Dia... dia kerabat saya dari kampung yang baru saja tertimpa musibah kehilangan orang tuanya. Jalannya terhambat banjir tadi, Tuan. Saya jamin dia sangat rajin, pendiam, dan bisa mengurus Nyonya Besar dengan telaten,” jawab Bi Inah dengan suara yang sedikit bergetar, mencoba melindungi Aaliyah.

​Zayn akhirnya mengangkat wajahnya. Gerakannya lambat, namun penuh intimidasi yang sanggup membuat nyali siapa pun menciut. Sepasang mata elangnya menatap tajam ke arah Aaliyah, seolah sedang membedah setiap inci dari keberadaannya. Pandangannya berhenti cukup lama pada niqab hitam yang menutupi wajah wanita itu. Sebuah seringai tipis, hampir tak kentara namun penuh dengan nada hinaan, muncul di sudut bibir Zayn yang pucat.

​“Maryam, ya? Nama yang terlalu suci untuk seseorang yang memutuskan untuk bersembunyi di balik kain hitam pekat ini,” Zayn meletakkan tabletnya ke atas meja kaca dengan dentuman yang cukup keras, membuat Aaliyah tersentak kecil di tempatnya berdiri.

​Zayn bangkit dari duduknya dengan gerakan anggun namun mengancam. Tubuhnya yang tinggi tegap membuat Aaliyah merasa semakin kecil, kerdil, dan tak berdaya di bawah bayang-bayangnya. Zayn melangkah mendekat, mengitari Aaliyah seolah-olah wanita itu adalah barang dagangan baru yang sedang diperiksa kualitasnya sebelum dibeli.

​“Berapa usiamu?” tanya Zayn, suaranya kini tepat berada di samping telinga Aaliyah, mengirimkan sensasi dingin yang berbeda dari air hujan tadi.

​“Dua puluh empat tahun, Tuan,” jawab Aaliyah pelan. Ia berusaha sekuat tenaga menjaga suaranya agar tetap stabil dan datar, namun getaran di pita suaranya tak bisa disembunyikan sepenuhnya dari telinga tajam Zayn.

​Zayn tertawa kecil, tawa yang kering, pendek, dan benar-benar tanpa emosi. “Dua puluh empat tahun dan memutuskan untuk memakai cadar? Mengapa? Apakah wajahmu begitu cantik hingga kau takut semua pria akan berlutut di kakimu hanya dengan sekali pandang? Atau justru... kau sedang menyembunyikan sesuatu yang memalukan di balik kain ini? Luka? Cacat? Atau mungkin rahasia busuk?”

​Aaliyah mengepalkan tangannya di balik kain gamisnya yang basah. Kuku-kukunya menekan telapak tangan hingga terasa perih, mencari rasa sakit fisik untuk meredam gelombang emosi yang ingin meledak di hatinya. “Cadar ini adalah cara saya menjalankan keyakinan saya, Tuan. Bukan untuk menyembunyikan apa pun yang Anda tuduhkan.”

​Zayn berhenti tepat di depan Aaliyah, wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari niqab Aaliyah hingga ia bisa merasakan napas wanita itu. “Keyakinan? Aku sudah melihat ribuan orang sepertimu, Maryam. Membawa nama Tuhan dalam setiap napas, berbicara tentang surga seolah sudah memegang kuncinya, tapi di belakang... kalian adalah manipulator paling lihai yang pernah ada. Di rumah ini, aku tidak butuh orang suci. Aku butuh pelayan yang tahu tempatnya dan tidak banyak bicara.”

​Zayn kembali melangkah mundur, menatap Aaliyah dengan pandangan jijik yang sangat terang-terangan, seolah Aaliyah adalah hama yang merusak pemandangan ruang tamunya. “Dengar peraturanku, karena aku tidak akan mengulangnya dua kali. Aku tidak peduli berapa banyak ayat yang kau hafal atau seberapa rajin kau sujud di tengah malam. Di rumah ini, peraturanku adalah hukum tertingginya. Pertama, kau dilarang keras menginjakkan kaki di lantai dua kecuali jika aku atau ibuku yang memanggil secara eksplisit. Kedua, jangan pernah sekali pun menyentuh barang-barang di ruang kerjaku, bahkan untuk sekadar membersihkan debunya.”

​Zayn maju selangkah lagi, menunjuk tepat ke arah mata Aaliyah yang terlihat dari celah niqab. “Dan yang ketiga... ini yang paling penting. Jangan pernah berpikir untuk mencoba merayuku atau menarik perhatianku dengan cara 'wanita saleha' yang terzalimi atau sok misterius. Aku benci air mata perempuan, dan aku jauh lebih benci pada mereka yang menjual agama hanya untuk mendapatkan belas kasihan dan harta. Jika aku menangkapmu sedang mencoba bermain-main denganku, harta keluargaku, atau rahasia rumah ini... aku sendiri yang akan menyeretmu keluar dari gerbang itu tanpa alas kaki di tengah badai sekalipun. Paham?”

​Aaliyah menundukkan kepala sedalam-dalamnya hingga dagunya hampir menyentuh dada. Air mata yang sejak tadi ia tahan dengan sekuat tenaga, kini mendesak hebat ingin keluar, namun ia tak akan membiarkannya tumpah di depan pria sombong ini. “Saya paham, Tuan Muda. Sangat paham.”

​“Bagus. Sekarang bawa dia ke belakang, Bi. Bersihkan dia secepat mungkin. Baunya seperti hujan, lumpur, dan kemiskinan. Aku tidak ingin aromanya memenuhi ruang tamu ini lebih lama lagi,” kata Zayn sambil kembali duduk dengan angkuh dan mengambil tabletnya, mengabaikan keberadaan Aaliyah sepenuhnya seolah-olah wanita itu hanyalah debu yang tidak sengaja terbawa angin masuk ke istananya.

​Bi Inah menuntun Aaliyah menuju bagian belakang rumah, melewati koridor panjang yang dingin dan berakhir di sebuah area servis yang jauh lebih sederhana dan terasing. Kamar Maryam terletak di sudut paling ujung, kecil dan sempit, dengan sebuah ranjang kayu tua yang kasurnya sudah menipis, satu lemari kecil yang catnya sudah mengelupas di sana-sini, dan sebuah jendela kecil dengan teralis besi yang menghadap langsung ke arah dinding beton tinggi pembatas tetangga.

​“Maafkan kata-kata Tuan Zayn, Nak. Hatinya sedang keras, membeku karena pengkhianatan masa lalu yang menyakitkan. Dia tidak selalu sejahat itu, hanya saja dia tidak tahu siapa kamu sebenarnya,” bisik Bi Inah sambil mengusap bahu Aaliyah yang masih menggigil.

​Aaliyah hanya tersenyum tipis di balik niqabnya, meskipun senyum itu terasa sangat getir. “Tidak apa-apa, Bi. Saya sudah terbiasa dengan hinaan yang jauh lebih buruk dari ini belakangan ini. Setidaknya di sini saya punya atap untuk berteduh. Terima kasih sudah mengizinkan saya tinggal di sini.”

​Setelah Bi Inah pergi untuk mengambilkan handuk dan baju ganti pelayan, Aaliyah segera mengunci pintu kamarnya yang rapuh. Ia terduduk di pinggir ranjang, merasakan beban di pundaknya seolah bertambah berkali-kali lipat hingga punggungnya terasa sakit. Ia melepas niqabnya yang basah kuyup, memperlihatkan wajah yang luar biasa cantik dengan garis wajah yang lembut, kulit kuning langsat yang halus, dan hidung mancung yang sempurna. Namun, matanya yang indah kini tampak sangat sembab, dikelilingi lingkaran hitam karena kesedihan dan kurang tidur.

​Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang masih memburu. Perlahan, ia meraih kopernya Yang lembap dan mengeluarkan laptop tipisnya yang ia simpan seperti harta karun. Ia menyalakan perangkat itu, dan dalam hitungan detik, layar monitornya yang cerah menampilkan barisan kode-kode rumit berwarna hijau dan biru neon yang terus berjalan di atas latar belakang hitam pekat.

​Aaliyah bukan hanya seorang Hafizah yang taat. Sejak usia dua belas tahun, ia memiliki ketertarikan yang luar biasa pada logika matematika, pola-pola enkripsi, dan dunia kriptografi. Di saat santri lain menghabiskan waktu luang dengan bercengkerama, ia masuk ke forum-forum keamanan siber internasional secara sembunyi-sembunyi dengan nama samaran "H_Zero". Baginya, kode komputer adalah bahasa universal yang jujur—logis, presisi, dan tidak pernah berkhianat jika diperlakukan dengan benar. Berbeda jauh dengan manusia.

​Malam itu, di kamar pembantu yang pengap dan hanya diterangi lampu kuning redup, Aaliyah mulai bekerja. Jemarinya yang halus dan gemetar mulai menari di atas keyboard dengan kecepatan dan ketepatan yang akan membuat para ahli IT tingkat dunia terperangah. Ia masuk ke jaringan nirkabel rumah Al-Ghifari, melewati lapisan keamanan router kelas bisnisnya dengan mudah seolah ia sedang membuka pintu yang sama sekali tidak terkunci.

​Tujuan pertamanya sebenarnya sederhana: mencari tahu siapa sebenarnya Zayn Al-Fatih dan trauma apa yang membuatnya begitu membenci wanita religius. Namun, saat ia mulai merambah ke dalam pangkalan data pusat Al-Ghifari Group, ia menemukan sesuatu yang jauh lebih mendesak dan mengerikan.

​Ada sebuah aktivitas mencurigakan yang sedang berjalan di peladen (server) utama perusahaan. Seseorang—atau sebuah grup peretas—sedang menyuntikkan malware bertipe polymorphic ransomware yang sangat canggih dan merusak. Program itu perlahan-lahan mulai mengenkripsi data-data transaksi penting, laporan pajak, dan rahasia dagang perusahaan secara senyap. Jika dibiarkan dalam empat puluh delapan jam ke depan, seluruh sistem keuangan Zayn akan lumpuh total, bank akan menarik dukungan, dan miliaran rupiah aset akan lenyap begitu saja dalam semalam.

​Aaliyah menatap layar laptopnya dengan dahi berkerut tajam. Ia melirik ke arah pintu kamarnya yang tertutup, lalu teringat kembali kata-kata Zayn yang menghinanya beberapa menit lalu. “Baunya seperti hujan dan kemiskinan...”

​“Kamu tidak tahu sedikit pun, Zayn,” bisik Aaliyah pelan dengan nada yang sangat datar, matanya kini berkilat-kilat di balik cahaya monitor biru. “Bahwa pelayan 'miskin' yang baru saja kamu injak-injak harga dirinya ini adalah satu-satunya orang di dunia ini yang saat ini sedang melihat pisau tajam yang diletakkan tepat di leher bisnismu oleh musuh dalam selimutmu sendiri.”

​Ia sempat terpikir untuk membiarkannya. Ia bisa saja membiarkan Zayn bangkrut, membiarkannya merasakan bagaimana rasanya kehilangan segalanya dalam semalam sebagai bentuk pembalasan dendam yang manis atas penghinaannya. Namun, hati seorang Hafizah tidak dididik untuk membalas keburukan dengan keburukan yang sama. Ia ingat ayat Al-Qur'an tentang membalas kejahatan dengan kebaikan terbaik, agar musuh yang paling keras pun suatu saat bisa berubah menjadi sahabat yang paling setia.

​Dengan satu tarikan napas panjang, Aaliyah mulai mengetik barisan perintah keamanan tingkat lanjut. Ia tidak akan menghentikan serangan itu secara terang-terangan—ia tidak ingin kehadirannya terdeteksi oleh sistem keamanan internal perusahaan yang mungkin sudah disusupi. Ia akan membangun sebuah "dinding bayangan" (shadow wall) yang akan secara otomatis mengalihkan serangan itu ke sebuah peladen palsu (honeypot) yang ia buat di cloud publik, sementara data asli Zayn tetap aman dan utuh tanpa ada yang tahu. Ia memilih untuk menjadi malaikat pelindung tanpa nama bagi pria yang paling membencinya di dunia ini.

​Malam semakin larut, dan suara hujan di luar sana mulai mereda menjadi rintik yang syahdu. Di sela-sela pertarungan digitalnya yang melelahkan, Aaliyah berhenti sejenak untuk membasuh wajahnya dengan air wudu yang dingin. Ia mengambil mushaf Al-Qur'an kecil yang sampulnya sudah usang dari tasnya, membukanya perlahan, dan mulai melakukan muraja’ah hafalannya dengan suara yang sangat pelan, nyaris hanya berupa bisikan yang bergetar.

​“Wamanzhalama nafsahu tsumma yastaghfirillaha yajidillaha ghafuuran rahiima...”

​Suara indahnya yang merdu namun penuh duka memenuhi kamar sempit itu, bersaing dengan bunyi klik lembut dari mouse dan desisan kipas laptop yang berputar kencang karena beban kerja yang berat. Di rumah mewah yang dingin itu, di bawah satu atap yang sama, dua manusia yang sama-sama terluka sedang berada dalam dunianya masing-masing—yang satu tenggelam dalam kedinginan hartanya dan dendam masa lalunya, dan yang satu lagi berjuang dalam kesunyian dengan kehangatan imannya yang sedang diuji habis-habisan dalam kegelapan.

​Inilah babak awal dari sebuah drama panjang yang akan mengubah takdir mereka selamanya. Sebuah rahasia besar yang tersembunyi dengan rapat di balik selembar niqab hitam, dan sebuah cinta yang perlahan akan tumbuh dari puing-puing kebencian yang membara. Aaliyah menutup laptopnya saat fajar mulai menyingsing, menyembunyikan senjatanya kembali, dan bersiap menghadapi hari pertamanya sebagai pelayan di rumah sang musuh.

1
Rita Rita
sultan memang iblis,,, meski udah dihantam kuat dengan tabung oksigen masih lagi sehat walafiat,,
Rita Rita
orang jahat memang selalu menang duluan,,🤭
Rita Rita
dari part ke part menegangkan,, Aaliyah bener bener wanita kuat,,yg cerdas dan genius. dia berjuang sendiri demi cinta pertama nya sang ayah tercinta,,
Sri Jumiati
ceritanya bagus
Rita Rita
meski tegang masih ada sisi romantis nya. Zayn bisa aja bikin Aaliyah baper kalo ga sedang kritis keadaan,,
Rita Rita
cieee Zayn,,, belum apa apa udah mengklaim permaisuri ku🤭🤣😍😍
moga ditengah badai dusta ketulusan hati menghancurkan fitnah keji
Zulfa
bagus ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!