NovelToon NovelToon
Nero Vano

Nero Vano

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Crazy Rich/Konglomerat / Teen
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: BiMO33

Di buang ke Desa Kenangan, tempat Oma-nya menghabiskan sisa umur. Nero Vano Christian malah tidak sengaja bertemu dengan seorang gadis manis bernama Ainun Salsabila Adiakara. Gadis yang awalnya hanya sekedar mengusik hati.. Lalu menjadi alasan untuk Nero mulai mengenal Tuhan.

Ikuti kisahnya~

Happy Reading ><

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 26: DIPLOMASI PADANG PASIR & GELAR "LASKAR NUSANTARA"

Satu tahun telah berlalu sejak Muhammad Nero Vane Akbar pertama kali menginjakkan kaki di Tarim, tanah gersang di Hadramaut yang menyimpan berkah tak terhingga. Nero yang dulu, pemuda yang bahkan bingung membedakan kata sabun (sabun) dengan shobun (kesabaran), kini telah menjelma menjadi sosok yang sama sekali berbeda.

Gamis putihnya tak lagi terlihat kaku dan asing di tubuhnya, melainkan jatuh dengan wajar seolah menjadi kulit keduanya. Sorbannya melilit rapi di kepala dengan gaya khas penuntut ilmu Tarim yang wibawa. Namun, perubahan paling mencolok ada pada lisannya. Bahasa Arabnya kini mengalir deras dan fasih, bak oli mesin balap berkualitas tinggi yang baru saja diganti—halus, cepat, dan penuh tenaga.

Menjelang musim Umroh tahun ini, Habib Ali, guru mereka yang dihormati, memberikan tugas khusus bagi Nero dan lima sahabatnya. Mereka dikirim ke kota suci Mekkah dan Madinah bukan sekadar sebagai jamaah biasa, melainkan sebagai garda terdepan untuk membantu ribuan jamaah asal Indonesia yang sering tersesat, kebingungan, atau mengalami kendala bahasa di tanah suci.

MADINAH, PELATARAN MASJID NABAWI

Suasana di pelataran Masjid Nabawi mendadak memanas. Bukan karena matahari, melainkan karena perdebatan sengit antara seorang supir bus Arab bertubuh raksasa. Badannya selebar kulkas dua pintu, dengan seorang ibu-ibu jamaah asal pengajian di Jawa Barat.

"Ya Akhi! Isma'ni kwayyis! (Dengar saya baik-baik!)," suara Nero lantang, menengahi perdebatan antara seorang supir bus Arab yang badannya segede kulkas dua pintu dengan seorang Ibu-ibu jamaah asal pengajian di Jawa Barat.

Si supir ngomel-ngomel pake bahasa ammiyah (pasaran) yang super cepet, sementara si Ibu cuma bisa bilang, "Aduh, Kasep... bilangin jangan galak-galak. Ibu cuma mau ambil tas di bagasi, nggak mau naik bus!" ratapnya dalam bahasa Sunda yang campur Indonesia, nyaris menangis.

Nero maju dengan tenang, senyumnya terasa sejuk. "Ya Syaikh, bil-huduu' min fadhlik. (Ibu ini hanya ingin mengambil tasnya, bukan mau mencuri busmu). Hiya ummuna, ihtarim-ha (Dia ibu kita, hormatilah dia)."

Kalimat itu keluar begitu lancar, tanpa jeda, dengan intonasi yang tepat. Si supir Arab itu sontak terdiam. Mendengar bahasa Arab seorang pemuda Asia yang begitu fasih, gramatikalnya sempurna, dan nadanya penuh adab, membuat egonya runtuh seketika. Ia langsung "keder". Bahunya yang tegap merosot, ia menunduk malu, lalu menjabat tangan Nero erat-erat.

"Afwan, ya Ustadz. Ana asif. Khudz ma tasya'," (Maafkan saya, wahai Ustadz. Saya minta maaf. Silakan ambil apa saja yang Anda mau).

Si Ibu-ibu tadi melongo, matanya membelalak tak percaya. "Masya Allah... Kasep, pinter amat bahasanya. Mirip orang sana asli! Dari mana belajarnya, Nak?"

Nero menoleh, tersenyum tipis sambil membungkuk hormat. "Sama-sama, Bu. Saya belajar di Yaman. Doakan saya istiqomah terus menuntut ilmu ya."

.

.

.

Malam harinya, di sebuah penginapan sederhana tak jauh dari Masjid Nabawi, Nero berkumpul kembali dengan kelima sahabatnya. Penampilan mereka semua telah berubah drastis. Kulit mereka sedikit lebih gelap terbakar matahari gurun, namun mata mereka bersinar lebih terang dari sebelumnya.

Karena aksi heroik mereka membantu jamaah Indonesia selama seminggu penuh tanpa kenal lelah, para jamaah dan pengurus travel memberikan gelar kehormatan bagi mereka. Bukan lagi sekadar "Geng Nusantara", kini mereka dikenal sebagai "Laskar As-Sittah" (Laskar Berenam).

Namun, karena jiwa muda mereka yang tetap asik dan tidak kaku, mereka menciptakan julukan versi sendiri yang unik:

Muhammad Nero Vane Akbar (The Linguist): Dijuluki "Syaikh Turbo". Karena jika sudah berdebat atau menjelaskan hukum kepada orang Arab, bicaranya melesat cepat layaknya mesin motor bore-up, namun isinya ilmu dan dalil yang tajam.

Gus Aris (The Sage): Dijuluki "Al-Kamus Al-Berjalan". Sosok paling tenang yang selalu menjaga marwah grup. Jika ada istilah kitab yang rumit, cukup tanya padanya, jawabannya siap saji.

Ucok (The Shield): Dijuluki "Asadullah Medan" (Singa Allah dari Medan). Bekas preman ini kini jadi pelindung utama. Jika ada oknum nakal yang mengganggu jamaah, dialah yang paling depan. "Jangan macam-macam kau sama jamaah kita, ku-i'rab juga kepalamu nanti!" gertaknya suatu kali, membuat calon pencopet lari terbirit-birit.

Fikri (The Orator): Dijuluki "Khotib Jalanan". Jago menenangkan jamaah yang panik, kelelahan, atau kehilangan barang berharga lewat motivasi-motivasi agama yang menyentuh hati.

Zul (The Navigator): Dijuluki "GPS Al-Haramain". Bermodal laptop dan kemampuan IT-nya, tidak ada jamaah yang hilang kalau sudah ditangani Zul. Ia memantau pergerakan rombongan lewat sistem digital buatannya sendiri.

Asep (The Logistician): Dijuluki "Sultan Seblak". Tetap menjadi moodbooster grup. Dialah yang paling tahu di gang sempit mana di Mekkah atau Madinah ada penjual nasi atau masakan yang rasanya paling mirip masakan rumah, mengobati rindu lidah para jamaah.

"Ro, bangga gue liat lo tadi," kata Ucok sambil menyeruput teh hangat, matanya berkaca-kaca haru. "Dulu lo dikejar-kejar polisi karena balapan liar, sekarang lo dikejar-kejar jamaah cuma buat minta didoain. Jauh banget upgrade-nya, Bang."

Nero tertawa renyah, suara tawanya lepas. Ia menatap ke arah jendela, di mana Kubah Hijau Masjid Nabawi terlihat megah disinari lampu malam. "Ini semua bukan karena gue hebat, Sobat. Tapi karena Allah benar-benar menutupi aib masa lalu gue dan memberi kesempatan kedua. Gue ngerasa... inilah sirkuit balap gue yang sebenernya. Sirkuit menuju surga."

Asep menyahut sambil mengunyah kurma Ajwa, "Tapi Kang Nero, inget ya. Gelar 'Laskar As-Sittah' itu berat. Artinya kita harus makin rendah hati. Jangan sampai merasa jadi 'paling Arab', padahal di dalam hati lidah masih pengen seblak pedas level lima," candanya membuat semua tertawa.

Nero tersenyum lebar. Tangannya meraba saku gamisnya, menyentuh selembar foto lama yang hampir ia lupakan. Foto bunga Wijayakusuma yang dulu dia ambil di sungai desa.

Ia menatap foto itu sebentar, lalu dengan lembut menyimpannya kembali ke dalam saku, dekat dengan jantungnya.

"Ainun..." bisiknya dalam hati. "Aku nggak tahu kabarmu sekarang. Apakah kamu masih di Kairo, atau sudah pulang. Tapi terima kasih. Terima kasih sudah menjadi alasan awal aku mencari jalan ini. Dulu tujuanku hanyalah agar pantas bersanding denganmu. Tapi sekarang... tujuanku bukan lagi sekadar tentang kamu. Tujuanku adalah menjadi hamba-Nya yang paling berguna sebelum aku mati."

Batin Nero mantap. Rasa cintanya pada Ainun telah bertransformasi menjadi cinta yang lebih besar: cinta pada Allah dan keinginan untuk bermanfaat bagi umat.

Malam itu, di kota Nabi, Muhammad Nero Vane Akbar merasa dirinya benar-benar telah "pulang". Bukan pulang ke Jakarta yang hiruk-pikuk, bukan pulang ke rumah Oma yang nyaman, melainkan pulang ke pangkuan keimanan yang selama ini ia cari-cari dengan gelisah. Ia telah menemukan rumahnya yang sesungguhnya.

-------

Up agak banyak~

1
한스Hans
semangat ya ☕
Thinker Bell ><: yetts, thanks😄👍
total 1 replies
Jeje Bobo
Nama neneknya keren pasti funky bebs
Thinker Bell ><: kan mantan sosialita kota, yang sengaja tinggal di kampung buat ngabisin sisa umur. biasa orang kaya.... 😄
total 1 replies
Jeje Bobo
Turun kasta 🫠 sedihnya untuk cm di novel yh say
Thinker Bell ><: nanti juga balik lagi kok ke kota/Shhh/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!