"Menikahlah denganku dan akan kupastikan semua kebutuhanmu kupenuhi tanpa terkecuali."
Sebuah tawaran yang tentu saja tidak akan bisa ditolak oleh Calista mengingat ia butuh uang untuk pengobatan Ibunya yang sudah lama menderita penyakit jantung.
Rupanya tawaran dari Dennis Satrya memiliki syarat yang cukup sulit. Yaitu, membuat Calista harus dibenci oleh keluarga Dennis.
Bagaimana kisahnya? Mari ikuti dan simak cerita mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
Pagi itu, suasana di penthouse terasa lebih dingin dari biasanya, seolah-olah ketegangan dari pesta pernikahan kemarin masih mengendap di sela-sela dinding marmer yang angkuh. Denis berdiri di depan cermin besar, merapikan dasi sutranya dengan gerakan yang presisi, lambat, dan tak bercela. Calista berdiri tak jauh di belakangnya, mengenakan jubah tidur satin yang sengaja menyingkap sedikit bagian lehernya memperlihatkan sisa-sisa tanda kemerahan yang mulai memudar namun tetap jelas terlihat sebagai stempel kepemilikan yang tak terbantahkan.
"Aku berangkat ke kantor sekarang," ucap Denis tanpa menoleh, suaranya datar namun berwibawa, menggema di ruangan yang luas itu. Ia mengambil tas kerja kulitnya dan berbalik, menatap Calista dengan pandangan yang sulit diartikan campuran antara penilaian dingin dan kepuasan tersembunyi. "Hari ini adalah ujian pertamamu tanpa kehadiranku di sampingmu. Ingat, rumah ini adalah wilayah kekuasaanku, yang berarti sekarang adalah wilayahmu juga. Jangan biarkan para pelayan, apalagi dua wanita itu, menginjak harga dirimu sedikit pun. Jika kau terlihat lemah, mereka akan memakanmu hidup-hidup."
Calista mengangguk, mencoba mempertebal mukanya dan menelan rasa gugup yang bergejolak di perutnya. "Aku mengerti, Mas. Aku tidak akan mempermalukanmu atau membiarkan mereka menang."
Denis mengecup kening Calista singkat sebuah gestur yang terasa lebih seperti penandaan wilayah daripada kasih sayang yang tulus lalu melangkah pergi dengan langkah kaki yang mantap.
Calista melangkah menuju ruang makan dengan kepala tegak, meskipun batinnya berteriak untuk bersembunyi. Ia berniat untuk memulai paginya dengan segelas jus jeruk dan memberikan beberapa instruksi sebagai nyonya rumah yang baru. Namun, pemandangan yang menyambutnya sungguh provokatif dan terencana. Susi dan Puput sudah duduk di sana, menyesap teh mereka dari cangkir porselen terbaik dengan senyum kemenangan yang memuakkan, seolah-olah mereka baru saja merebut kembali takhta yang sempat hilang.
Di sekitar mereka, para pelayan yang biasanya cekatan kini tampak malas-malasan, seakan-akan mereka telah menerima perintah baru dari otoritas yang berbeda. Ada yang hanya berdiri bersandar di dinding sambil asyik bermain kuku, ada yang berpura-pura mengelap meja yang sudah bersih dengan gerakan sangat lambat dan ogah-ogahan, dan ada yang terang-terangan berbisik sambil melirik sinis ke arah Calista, seakan-akan ia adalah penyusup yang tak diinginkan.
"Bi Inah," panggil Calista dengan suara yang diusahakan setenang dan seberwibawa mungkin, mencoba mengabaikan hawa dingin yang menusuk. "Tolong buatkan aku jus jeruk segar sekarang."
Bi Inah, pelayan senior yang sudah mengabdi belasan tahun di keluarga Satrya, hanya menoleh sekilas dengan tatapan malas yang menghina, lalu kembali asyik mengobrol dengan pelayan lainnya seolah-olah Calista hanyalah pajangan dinding yang tak bernyawa dan tidak memiliki hak untuk memerintah.
Susi tertawa kecil, suara denting sendok tehnya sengaja dibuat nyaring saat beradu dengan porselen mahal. "Aduh, kasihan sekali. Sepertinya di rumah ini, kata-kata seorang 'pengantin pesanan' tidak lebih berharga daripada debu di bawah keset yang diinjak-injak setiap hari, ya?"
Puput menimpali dengan nada mengejek yang sangat kental, matanya berkilat penuh kebencian. "Tentu saja, Ma. Para pelayan di sini tahu siapa majikan yang memberikan mereka perintah dan perlindungan selama ini. Mereka tidak akan mau melayani gadis yang hanya modal 'tanda merah' di leher tapi tidak punya wibawa atau latar belakang sama sekali. Benar kan, Bi Inah?"
"Benar, Non Puput," jawab Bi Inah dengan nada meremehkan yang sangat kentara, seolah ia sedang membela kebenaran universal.
Semangat pemberontakan ini jelas-jelas sudah disulut oleh Susi sejak subuh tadi, menghasut para pelayan bahwa posisi Calista hanyalah sementara, sebuah kesalahan kecil yang akan segera diperbaiki, dan tidak sah secara emosional maupun hierarki di rumah itu.
Calista merasakan darahnya mendidih, rasa panas menjalar dari dada hingga ke wajahnya. Ia teringat pesan Denis yang tajam: Hancurkan harga diri mereka sebelum mereka menyentuh ujung kukumu. Jika ia membiarkan pembangkangan terbuka ini terjadi sekarang, selamanya ia akan menjadi keset, bahan tertawaan, dan budak di rumah yang seharusnya ia kuasai ini.
Calista melangkah mendekati meja makan dengan langkah yang disengaja. Namun bukannya duduk manis menunggu belas kasihan, ia justru berdiri tegak, membusungkan dada di depan Bi Inah dan tiga pelayan lainnya. Matanya berkilat tajam bak mata elang, menatap mereka satu per satu dengan intensitas yang membuat para pelayan itu mulai merasa gelisah dan salah tingkah di bawah pengawasannya.
"Bi Inah, aku bertanya sekali lagi dengan sopan sebelum kesabaranku habis. Di mana jus jerukku?" suara Calista kini lebih rendah, lebih berat, dan sarat akan ancaman yang tertahan, menciptakan atmosfer yang mencekam di ruangan itu.
"Maaf, Non Calista... saya sedang sibuk melayani Nyonya Susi. Di rumah ini, perintah Nyonya Susi adalah prioritas utama saya sejak dulu," jawab Bi Inah dengan nada menantang, merasa aman karena ada perlindungan Susi tepat di belakangnya. Ia sengaja menekankan panggilan 'Non' dengan nada meremehkan yang seakan-akan meragukan status pernikahan Calista.
BRAKK!
Calista menggebrak meja makan marmer itu dengan segenap kekuatannya hingga piring-piring bergetar dan cangkir teh di depan Susi terguling, isinya membasahi taplak meja sutra yang sangat mahal. Susi dan Puput melonjak kaget, wajah mereka pucat seketika karena tidak menyangka gadis polos yang mereka remehkan itu bisa meledak dengan otoritas sehebat itu.
"Dengar baik-baik, kalian semua!" teriak Calista, suaranya menggelegar memenuhi setiap sudut ruangan hingga para pelayan di dapur pun bisa mendengarnya. "Siapa yang menandatangani kontrak kerja kalian dan membayar gaji fantastis kalian setiap bulan? Denis Satrya! Dan siapa aku? Aku adalah istri sahnya! Wanita yang secara hukum memiliki hak mutlak atas setiap jengkal tanah, setiap butir nasi, dan setiap orang yang bekerja di bawah naungan aset Satrya ini!"
Calista menunjuk ke arah pintu keluar dengan jari yang sangat stabil, tidak gemetar sedikit pun. "Bi Inah, dan kalian berdua yang tadi berbisik di pojok sana. Kalian dipecat! Sekarang juga! Kemasi barang-barang kalian dan keluar dari gedung ini dalam waktu sepuluh menit tanpa membawa apa pun milik rumah ini!"
Suasana seketika sunyi senyap seolah oksigen di ruangan itu habis tersedot habis. Bi Inah gemetar hebat, wajahnya yang tadi sombong kini pucat pasi dan penuh ketakutan. "Tapi Non... saya sudah bekerja untuk Nyonya Susi bertahun-tahun di sini... Anda tidak bisa..."
"Aku tidak peduli berapa abad kau sudah merangkak di lantai ini!" potong Calista tanpa ampun, sorot matanya tidak memberi ruang untuk negosiasi. "Kalian lebih memilih mematuhi hasutan wanita yang bahkan tidak punya akses legal ke rekening Mas Denis daripada mematuhiku? Itu adalah kesalahan bodoh yang baru saja mengakhiri karier kalian selamanya. Pergi, atau aku akan memanggil tim keamanan untuk menyeret kalian keluar seperti sampah yang tak berguna di depan semua orang!"
Susi berdiri dengan wajah merah padam, dadanya naik turun karena amarah yang memuncak. "Calista! Kau tidak punya hak memecat pelayan senior di sini! Aku yang membawa mereka masuk dan melatih mereka!"
Calista berbalik dengan gerakan yang sangat tenang, menatap Susi dengan tatapan yang sangat dingin dan kosong, seolah ia sedang menatap benda mati, hingga membuat wanita itu mundur selangkah tanpa sadar. "Nyonya Susi, jika Anda begitu mencintai pengabdian mereka, silakan ikut keluar bersama mereka sekarang juga. Mas Denis sudah memberikan kewenangan penuh padaku secara tertulis untuk mengatur setiap detail urusan rumah tangga ini. Jika Anda ingin terus mencoba kekuasaanku dan merusak kedamaian rumah ini, silakan teruskan drama murahan Anda, dan lihat siapa yang akan menyusul mereka ke pintu keluar selanjutnya."
Calista beralih menatap pelayan-pelayan lain yang masih mematung ketakutan di posisi mereka masing-masing. "Ada lagi yang mau membangkang? Ada lagi yang mau kehilangan pekerjaan dengan gaji tinggi ini hanya demi membela orang yang secara hukum tidak punya kuasa sepeser pun atas kontrak kerja kalian?"
Para pelayan yang tersisa serentak menunduk dalam, tangan mereka gemetar ketakutan, tidak berani mengangkat kepala sedikit pun. "Maaf, Non Calista... kami mohon maaf sebesar-besarnya... kami akan segera bekerja sekarang juga," ucap mereka serempak dengan nada suara yang bergetar penuh penyesalan.
"Bagus. Bersihkan tumpahan teh itu sekarang juga, dan bawakan jus jerukku ke kamar dalam waktu dua menit. Jika telat satu detik saja, kalian tahu konsekuensinya!" perintah Calista tegas, memberikan otoritas yang tak terbantahkan.
Ia kemudian menatap Puput yang sejak tadi hanya diam membeku melihat keberanian dan ketajaman mulut Calista. Calista mendekat, membisikkan sesuatu di telinga adik iparnya itu dengan nada yang sangat rendah namun tajam bak sembilu. "Mainkan trikmu lagi, Puput, dan aku pastikan orang berikutnya yang kehilangan seluruh fasilitas mewah, uang saku, dan akses kartu kredit di rumah ini adalah dirimu sendiri. Jangan pernah uji batas kesabaranku."
Calista berbalik dan melangkah pergi dengan kepala tegak, meninggalkan ruang makan yang kini penuh dengan atmosfer ketakutan dan rasa hormat yang baru.