Arkan sama Salsa itu kayak kucing sama anjing di SMA Garuda. Tiap kali ketemu di koridor, pasti ada aja yang diributin, mulai dari nilai ulangan sampe jatah parkir. Salsa yang ambis banget pengen dapet rangking satu ngerasa keganggu sama Arkan yang keliatannya santai tapi pinter banget. Kenapa sih nih cowok kudu ada di sekolah ini? batin Salsa kesel tiap liat muka tengil Arkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyler Austin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KENCAN PERTAMA TANPA RUMUS
Sabtu sore biasanya menjadi waktu yang paling sakral bagi Salsa Kirana untuk bergelut dengan tumpukan buku latihan soal olimpiade. Biasanya, meja belajarnya akan dipenuhi oleh kertas cakar-cakaran yang berantakan, beberapa stabilo warna-warni yang tutupnya entah ke mana, serta kacamata anti-radiasi yang selalu bertengger di hidung bangirnya. Namun, hari ini pemandangannya sangat berbeda. Meja belajar itu tampak bersih dan rapi. Di atas tempat tidur, justru berserakan tiga set pakaian yang sudah ia coba berkali-kali sejak satu jam yang lalu.
Salsa berdiri di depan cermin besar, menatap pantulan dirinya dengan perasaan bimbang yang luar biasa. Ia mengenakan blus putih tanpa lengan yang dipadukan dengan celana denim favoritnya. Terlihat simpel, namun ia merasa ada yang kurang. Ia kemudian menggantinya dengan dress selutut berwarna biru pastel, namun segera melepasnya kembali karena teringat pesan Arkan bahwa mereka akan pergi ke tempat yang memerlukan kenyamanan ekstra.
Kenapa juga gue harus bingung begini sih? batin Salsa sambil mengacak rambutnya yang sebenarnya sudah tertata rapi. Biasanya juga gue ketemu dia pakai seragam yang udah lecek kena keringat pas jam olahraga. Atau pas muka gue kucel gara-gara begadang ngerjain tugas proyek. Kenapa sekarang malah jadi ribet banget?
Salsa menghela napas panjang. Ia menyadari bahwa perasaannya sudah jauh berubah. Dulu, ia tidak peduli apakah Arkan melihatnya dengan mata mengantuk atau rambut yang acak-acakan. Dulu, Arkan adalah target yang harus ia kalahkan, bukan cowok yang harus ia buat terkesan. Namun sekarang, status pacar benar-benar mengubah segalanya. Ada keinginan kecil di sudut hatinya untuk terlihat cantik di mata cowok tengil itu.
Akhirnya, Salsa memutuskan untuk memakai kaus garis-garis hitam-putih yang dilapisi dengan jaket denim oversize, serta celana panjang hitam yang elastis. Ia menguncir rambutnya dengan gaya ponytail yang menyisakan sedikit helai di samping telinga. Setelah memoleskan lip tint tipis-tipis agar wajahnya tidak terlihat pucat, Salsa merasa sudah cukup siap. Ia menyemprotkan sedikit parfum beraroma vanila yang lembut, aroma yang menurut Dira adalah aroma paling mematikan untuk menarik perhatian cowok.
Tepat pukul tujuh malam, suara deru mesin motor sport yang sudah sangat ia kenal terdengar berhenti di depan gerbang rumahnya. Jantung Salsa mendadak melakukan maraton kecil di dalam dadanya. Ia segera menyambar tas selempang kecilnya dan berlari turun ke bawah. Di ruang tamu, ibunya sedang duduk santai sambil menonton televisi.
Salsa pergi dulu ya, Ma, pamit Salsa sambil mencium punggung tangan ibunya dengan terburu-buru.
Ibunya tersenyum penuh arti, senyum yang selalu membuat Salsa merasa sedikit malu. Hati-hati di jalan, Sa. Bilang sama Arkan, jangan pulang kemalaman. Dan satu lagi, jangan berantem terus kalau lagi jalan. Nanti malah jadi makin sayang.
Ih, Mama apa sih! Salsa merengut kecil, meskipun dalam hati ia mengamini perkataan ibunya tersebut.
Salsa membuka pintu pagar dan menemukan Arkan sudah berdiri di samping motornya. Cowok itu mengenakan jaket kulit hitam yang dipadukan dengan kaos polos berwarna abu-abu dan celana kargo. Penampilannya sangat santai, namun entah mengapa di mata Salsa, Arkan terlihat berkali-kali lipat lebih tampan malam ini. Lampu jalan yang remang-remang memberikan efek bayangan yang mempertegas garis rahang Arkan yang kokoh.
Arkan sempat terdiam selama beberapa detik saat melihat Salsa keluar. Ia memperhatikan Salsa dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan yang sulit dibaca.
Kenapa? Aneh ya baju gue? tanya Salsa dengan nada defensif yang menjadi ciri khasnya jika sedang merasa gugup.
Arkan tersenyum tipis, lalu melangkah mendekat. Enggak. Lo kelihatan pas. Maksud gue, lo selalu kelihatan pas buat gue ajak jalan ke mana saja. Tapi malam ini, ada yang beda.
Beda gimana? Apa yang salah? Salsa mulai panik sendiri.
Enggak ada yang salah, Salsa Kirana. Lo cuma kelihatan lebih cantik kalau lagi nggak mikirin rumus fisika, jawab Arkan sambil menarik pelan hidung Salsa.
Salsa mendengus, berusaha menutupi rona merah di pipinya. Gombalan lo basi. Udah ah, katanya mau ke tempat spesial. Mana?
Arkan menyerahkan helm putih kepada Salsa. Rahasia. Pokoknya lo duduk manis saja di belakang, pegangan yang erat. Karena perjalanan kita kali ini bakal sedikit lebih jauh dari biasanya.
Salsa naik ke atas motor Arkan dengan gerakan yang sudah mulai terbiasa. Ia melingkarkan tangannya di pinggang Arkan, merasakan kehangatan yang menjalar dari punggung cowok itu. Arkan menarik gas perlahan, membawa mereka membelah jalanan kota yang mulai diterangi lampu-lampu neon warna-warni. Angin malam yang sejuk menerpa wajah mereka, membawa aroma kota di malam Minggu yang selalu terasa lebih hidup.
Mereka melewati gedung-gedung tinggi, pusat perbelanjaan yang ramai, hingga akhirnya jalanan mulai menanjak dan suasana menjadi lebih tenang. Salsa mulai bisa menebak ke mana Arkan akan membawanya. Setelah perjalanan sekitar empat puluh lima menit, Arkan menghentikan motornya di sebuah area dataran tinggi yang cukup luas. Di sana, mereka bisa melihat hamparan lampu kota yang berkelap-kelip seperti taburan berlian di atas kain hitam.
Bukit Bintang? Salsa bertanya sambil turun dari motor dan melepas helmnya.
Arkan mengangguk sambil merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Orang-orang biasanya ke sini buat pacaran sambil makan jagung bakar. Tapi gue punya spot yang lebih oke dari sekadar duduk di pinggir jalan ini.
Arkan menarik tangan Salsa, menuntunnya melewati jalan setapak kecil yang agak tersembunyi di balik pepohonan. Salsa sempat merasa ragu, namun genggaman tangan Arkan yang kuat membuatnya merasa aman. Setelah berjalan beberapa menit, mereka tiba di sebuah area terbuka yang sangat sunyi. Tidak ada orang lain di sana. Hanya ada sebuah pohon besar dan sebuah bangku kayu tua yang menghadap langsung ke arah pemandangan kota.
Gue nemu tempat ini pas lagi suntuk-suntuknya belajar buat ujian semester tahun lalu, Arkan memulai pembicaraan sambil duduk di bangku kayu tersebut, lalu menepuk ruang kosong di sampingnya agar Salsa ikut duduk. Gue sering ke sini kalau lagi capek jadi Arkan yang harus selalu kelihatan hebat di depan orang lain.
Salsa duduk di samping Arkan, matanya terpaku pada keindahan di depan mereka. Bagus banget, Kan. Gue nggak tahu ada tempat sepi sekeren ini di sini.
Arkan menoleh ke arah Salsa. Sekarang tempat ini bukan lagi tempat rahasia gue sendiri. Sekarang, ini tempat rahasia kita berdua.
Salsa merasakan desiran aneh di hatinya. Ia menatap Arkan dengan serius. Kenapa lo pilih gue, Kan? Maksud gue, kita itu dulu kayak air sama minyak. Kita nggak pernah bisa akur. Lo selalu bikin gue emosi, dan gue selalu pengen ngalahin lo dalam segala hal.
Arkan terkekeh, suara tawanya terdengar sangat merdu di tengah keheningan malam. Justru itu alasannya, Sa. Lo itu satu-satunya orang yang berani nantang gue secara terang-terangan. Semua orang di sekolah ngeliat gue sebagai cowok pinter yang santai, yang nggak perlu usaha keras buat dapet nilai bagus. Tapi lo? Lo ngeliat gue sebagai saingan yang nyata. Lo bikin gue tertantang buat jadi lebih baik lagi.
Salsa terdiam, meresapi setiap kata yang keluar dari mulut Arkan.
Dan jujur saja, Arkan melanjutkan, godain lo itu adalah hobi paling menyenangkan yang pernah gue punya. Liat muka lo merah karena kesel itu jauh lebih menarik daripada baca buku teks biologi setebal lima ratus halaman. Tapi lama-lama, rasa pengen godain itu berubah jadi rasa pengen ngelindungi. Gue nggak suka liat lo capek karena terlalu ambis. Gue pengen jadi orang yang bisa bikin lo ketawa pas lo lagi stres-stresnya sama tugas sekolah.
Salsa menunduk, memainkan jari-jarinya yang mendadak terasa dingin. Gue juga sebenarnya benci banget sama lo dulu. Tapi gue sadar, setiap kali lo nggak ada di kelas atau pas kita nggak debat, rasanya ada yang kurang. Kayak ada bagian dari hari gue yang hilang. Ternyata benci sama sayang itu bedanya tipis banget ya?
Arkan merangkul bahu Salsa, menarik gadis itu agar bersandar di bahunya. Tipis banget, sedetik lo bisa pengen cakar gue, sedetik kemudian lo bisa pengen peluk gue kayak gini.
Salsa mencubit pinggang Arkan pelan, membuat cowok itu mengaduh kecil. Kepedean lo emang nggak pernah hilang ya!
Mereka berdua tertawa bersama, suara tawa yang memecah kesunyian malam di atas bukit itu. Untuk sesaat, tidak ada lagi bayang-bayang peringkat kelas, tidak ada lagi persaingan nilai, dan tidak ada lagi beban ekspektasi dari orang-orang di sekitar mereka. Yang ada hanyalah dua remaja yang sedang menemukan jati diri dan perasaan baru di antara mereka.
Tiba-tiba, Arkan merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah kantong plastik kecil. Gue tahu lo belum makan malam karena sibuk milih baju tadi. Nih, gue bawa bekal spesial.
Salsa membuka kantong plastik itu dan matanya langsung berbinar. Roti bakar cokelat keju kesukaan gue? Lo beli di mana? Tadi kan kita nggak mampir ke mana-mana.
Gue beli pas otw ke rumah lo tadi. Sengaja gue bungkus rapi biar nggak dingin-dingin amat. Makan gih, biar otaknya dapet asupan gula buat mikirin gue terus, goda Arkan.
Salsa membagi roti bakar itu menjadi dua bagian dan memberikan setengahnya kepada Arkan. Makan bareng. Gue nggak mau makan sendiri sementara lo cuma ngeliatin.
Mereka pun makan roti bakar itu dalam diam, menikmati setiap gigitan sambil memandangi lampu-lampu kota. Suasana terasa sangat damai. Salsa merasa bahwa kencan pertama ini jauh lebih baik daripada apa yang ia bayangkan di film-film romantis. Tidak butuh restoran mewah atau dekorasi bunga-bunga yang berlebihan. Cukup kesederhanaan, kejujuran, dan kehadiran orang yang tepat.
Kan, Salsa memanggil pelan setelah roti mereka habis.
Hmm? Arkan menyahut sambil menatap langit.
Nanti kalau semester baru dimulai, kita bakal tetap saingan kan? Gue nggak mau lo sengaja ngalah cuma gara-gara kita pacaran. Gue pengen dapet peringkat satu karena gue emang lebih baik dari lo, bukan karena lo kasih cuma-cuma.
Arkan menoleh dan menatap mata Salsa dengan intens. Lo tenang saja, Tuan Putri. Gue nggak akan pernah ngalah dalam hal akademis. Karena gue tahu, Salsa yang gue sayang adalah Salsa yang tangguh dan punya semangat juang tinggi. Tapi, kalau nanti nilai lo di bawah gue lagi, jangan nangis ya. Gue siap sedia kok buat jadi sandaran atau sekadar beliin cokelat penawar sedih.
Salsa tersenyum menantang. Kita liat saja nanti. Jangan sampai lo yang malah nangis pas liat nama gue ada di urutan teratas papan pengumuman.
Arkan menarik tangan Salsa dan mengecup punggung tangannya dengan lembut, sebuah gerakan yang membuat napas Salsa tertahan sejenak. Gue tunggu momen itu. Gue bakal jadi orang pertama yang tepuk tangan paling keras buat lo.
Malam semakin larut, suhu udara di atas bukit mulai turun drastis. Salsa merapatkan jaket denimnya, namun rasa dingin itu masih terasa menembus pori-porinya. Melihat hal itu, Arkan tanpa ragu melepas jaket kulitnya dan menyampirkannya ke bahu Salsa.
Lho, nanti lo kedinginan gimana? protes Salsa.
Gue kuat, tenang saja. Lagian, ngeliat lo kedinginan itu bikin gue ngerasa gagal jadi pacar yang baik di kencan pertama kita, jawab Arkan dengan nada yang tulus.
Salsa menghirup aroma jaket Arkan yang kini menyelimuti tubuhnya. Aroma maskulin yang bercampur dengan wangi parfum yang khas, aroma yang selalu berhasil membuatnya merasa tenang. Ia menyandarkan kepalanya kembali di bahu Arkan, merasa sangat bersyukur bahwa semesta telah mempertemukannya dengan cowok ini.
Dulu, Salsa menganggap Arkan adalah gangguan terbesar dalam hidupnya. Gangguan yang membuat hari-harinya penuh dengan kekesalan. Namun sekarang, ia menyadari bahwa Arkan adalah gangguan yang paling ia butuhkan untuk mewarnai hidupnya yang selama ini hanya berisi angka-angka dan teori-teori membosankan.
Mereka menghabiskan sisa malam itu dengan bercerita tentang banyak hal. Mulai dari masa kecil Arkan yang ternyata sangat usil, hingga ketakutan-ketakutan Salsa yang selama ini ia simpan rapat-rapat. Mereka saling membuka diri, meruntuhkan tembok-tembok pertahanan yang selama ini mereka bangun atas nama gengsi dan rivalitas.
Saat jarum jam menunjukkan pukul sepuluh malam, Arkan mengajak Salsa untuk pulang. Perjalanan pulang terasa lebih santai. Di atas motor, Salsa memejamkan matanya sejenak, menikmati hembusan angin dan detak jantung Arkan yang terasa di punggungnya. Ia merasa sangat bahagia, sebuah kebahagiaan yang sederhana namun sangat bermakna.
Sesampainya di depan rumah Salsa, Arkan membantu gadis itu melepas helmnya. Makasih ya buat malam ini, Sa. Gue harap lo nggak nyesel jalan sama cowok tengil kayak gue.
Salsa tersenyum lebar, senyuman paling tulus yang pernah ia berikan pada Arkan. Gue nggak nyesel, Kan. Justru gue pengen bilang makasih karena lo udah kasih tau gue kalau dunia itu nggak cuma sebatas buku pelajaran.
Arkan mengusap pipi Salsa dengan ibu jarinya. Tidur yang nyenyak ya. Besok gue jemput buat lari pagi. Nggak ada penolakan.
Dih, maksa banget! Tapi ya sudah deh, mumpung besok Minggu.
Arkan menunggu sampai Salsa masuk ke dalam rumah dan melambaikan tangan dari balik jendela sebelum akhirnya ia menjalankan motornya kembali. Salsa menutup pintu kamarnya dengan perasaan yang sangat ringan. Ia menjatuhkan diri ke atas tempat tidur, masih mengenakan jaket milik Arkan yang lupa ia kembalikan.
Salsa memeluk jaket itu erat-erat, menghirup aromanya sekali lagi. Ia menyadari bahwa mulai besok, koridor SMA Garuda tidak akan lagi menjadi medan perang baginya. Koridor itu akan menjadi saksi bisu bagaimana dua orang yang dulunya saling membenci, kini berjalan beriringan dengan satu frekuensi yang sama.
Ternyata, benci memang benar-benar bisa jadi sayang. Dan bagi Salsa, Arkananta Putra adalah musuh bebuyutan yang paling ia sayang, sekarang dan mungkin untuk selamanya. Di bawah cahaya lampu kamar yang temaram, Salsa memejamkan matanya dengan senyum yang masih tersisa, siap menyambut hari esok dengan semangat yang baru bersama cowok yang telah mencuri hatinya itu. Tidak ada rumus yang bisa menjelaskan perasaan ini, karena cinta memang tidak butuh logika, ia hanya butuh dirasakan dengan sepenuh jiwa.