NovelToon NovelToon
NIKAH KONTRAK 9 BULAN

NIKAH KONTRAK 9 BULAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ningsih Hada

Dunia Sarah Wijaya jungkir balik setelah mendapat pelecehan dari seorang pria yang begitu ia segani dan hormati.Sebanyak asa yang mebumbung angan seakan sirna menjadi sebuah kemalangn. “Pergi! Menjauhlah dari hidupku selamanya”.Sarah wijaya “Jangan membenci takdir,maaf,kalau aku hanya singgah bukan untuk menetap”.Lingga Pratama. Tiada tebusan yang paling berharga atas rasa sakit tidak dianggap oleh seorang yang begitu diharapakn kehadirannya.Waktu telah merubah segalanya,membawa Lingga dalam penyesalan tam berujung.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ningsih Hada, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Sarah kembali menangis sembari menutup mulutnya saat ibunya menutup pintu. Ia memukuli bantal yang tak berdosa. Marah sekali dan hancur ata kejadian semalam. Merasa jijik dengan tubunya sendiri yang telah terjamah oleh orang lain.

Gadis itu menatap dirinya dalam pantulan cermin,sangat kacau dan berantakan. Semakin risih kala melihat banyaknya tanda merah di sepanjang lehernya yang jenjang.

“ Kamu harus membayar mahal atas perbuatan kamu, Lingga, harus!” batin Sarah penuh amarah kebencian. Kedua tangannya mengepal erat penuh dendam.

Gadis itu sengaja ingin pergi kerumah sakit, ia akan melakukan sejumlah pemeriksaan lalu melaporkan anak majikannya itu pada pihak yang berwajib.Namun, belum sempat terealisasi hanya dalam angan. Sarah menghentikan langkahnya, ia lebih takut dan malu kalau peristiwa itu diketahui banyak orang.

“Arh…… brengsek!” geram Sarah kacau.

Bagaimana dengan kuliahnya, bagaimana pandangn orang-orang terhada dirinya,teman-temannya. Semua akan mengetahui keadaannya saat ini yang begitu menjijikan.

Pada akhirnya gadis itu kembali menangis merasakan kehancuran dirinya yang paling dalam.

“ Mas Lingga mau kemana?” tanya Bu Maryam bersilang jalan dengannya.

“Pergi Mbok,ada urusan, tolong ganti sprei di kamarku Mbok,” titah pri itu berlalu.

“Baru di ganti kemarin Mas,” ujar Bu Maryam benar adanya.

“Kotor, ketumpahan kopi, tolong ya Mbok,” ujar pria itu berdusta.

“Siap Mas,” jawab Bu Maryam mengangguk setuju.

“Lingga, mau kemana sayang?” Kali ini mama Alice yang berseru terang.

“Mbok, Sarah mana?” tanya perempuan menanyakan sekalian juga.

“Lingga ada urusan Ma, cabut dulu ya.”

“Ga, tunggu sayang, mama mau pergi sama Sarah, tolong anterin sekalian kamu jalan ya, mobil mama lagi di bengkel.”

“Tapi ma,” sela Lingga tentu saja bukan solusi.Apalgi mamanya mengajak gadis itu.

“Maaf Bu,Sarah-nya lagi sakit,” timpal Bu Maryam memberitahu keadaan putrinya.

“Eh, Sarah sakit? Sejak kapan? Sudah kedokter? tanya Bu Alice terdengar khawatir.

“Iya Bu, sedang tidak enak badan,” jelas Bu Maryam sesuai kondisi putrinya.

“Kasihan sekali, kalau begitu bawa ke dokter sekalian, tolong antar Ga,” pinta Bu Alice membuat Lingga terdiam sesaat.

“Nggak bisa Ma, Lingga sudah di tungguin teman-teman, atau gini aja, Mama bawa mobil Lingga dulu Nggak pa-pa,” tolak pria itu cepat.

“Kami ini kenapa sih,mama minta tolong apa susahnya,” omel Bu Alice pada putranya yang tumben-tumbenan menyebalkan.

Duh…… mama apaan sih! Sial banget!

Bu Alice berjalan pelan menuju rumah kecil di belakang istananya. Diikuti Lingga yang ragu-ragu dan juga Bu Maryam yang berjalan tak jauh dari mereka berdua.

Perempuan dengan penampilan bersahaja nan modis itu langsung masuk ke rumah. Mengetuk pintu kamar Sarah sekaligus menekan handle pintunya.

“Sarah, kamu sakit?” tanya Bu Alice mendekati ranjang.

“Eh, Buk Alice, i-iya Bu,” jawab gadis itu tergagap mendapati majikan ibunya menjenguk ke kamarnya. Sarah berusaha bangkit setengah berbaring. Tersenyum tipis menyambut kedatangan yang selalu ramah.

“Sampai pucet gini,sudah minum obat? Ke dokter saja ya,” ujar Bu Alice penuh perhatian. Mengamati penuh seksama.

“ Tidak usah Bu ,sudah minum obat,sebentar lagi insya Allah sembuh,” sahut Sarah sungkan. Sebenarnya ini adalah saat yang tepat untuk mengiyakan, tetapi kenapa lidahnya kelu hanya untu sekadar menyanggupi. Sarah terlalu takut orang-orang akan mengetahui keadaannya saat ini yang begitu menyedihkan.

“Sebenarnya hari ini saya mau mengajaka kamu ke klinik, tapi ya sudahlah besok-besok saja. Nunggu kamu sembuh dulu,” ujar perempuan itu teduh. Mengusap puncak kepalanya dengan sayang.

Bu Alice memang seperhatin ini,entahlah, mungkin karna tidak mempunyai anak perempuan jadi lebih dekat dengan Sarah daripada kedua anaknya yang sekarang telah tumbuh dewasa.

Sementara Lingga yang mendengar percakapan ibunya dari luar kamar merasa lega mendengar Sarah menolak dibawa kerumah sakit. Ia tidak harus menjelaskan apa pun selagi tidak ada yang harus di jelaskn. Toh itu semua di lakukan tidak benar-benar sengaja,jadi, Sarah pasti paham kalau ia bukan type dirinya.

“Sudah Ma? Kok nggak jadi?” tanya Lingga mendrama. Memastikan dengan benar tanpa curiga.

“Dia tidak mau kerumah sakit, sudah minum obat katanya,kasihan, biar dia istirahat ,” ujar perempuan itu sembari melangkah keluar.

Lingga mengekor sambil memainkan kunci ditanganya. Sebenarnya ia sedikit kepo dengan keadaan Sarah bila bertemu dengannya,tetapi mengintip sama sekali bukan solusi yang tepat.

“ Ya sudahlah, baguslah….. buang-buang waktuku saja,” guman pria itu melenggang damai.

“ Mama jadi mau bareng nggak?” tanya Lingga merasa lega. Tentu saja lega karna tidak perlu repot -repot mengantar gadi itu.

“ Iya, antar mama sampai klinik,” ujar Bu Alice berlalu.

Sementara Sarah dikamarnya, masih terlihat sangat terpukul. Gadis itu mencengkeram selimutnya kuat-kuat untuk menahan amarah yang hampir tumpah. Rasanya ingin sekali memekik dan menumpahkan rasa sakitnya.Namun, lagi-lagi tak ada keberanian untuk itu. Ia hanya mampu terpejam dan berdoa agar waktu yang terasa sulit ini segera berlalu.

Ini ulah anakmu,Bu Alice,ulah anakmu!

Andai saja ia mampu menghidupi dirinya sendri, ia akan pergi dari rumah itu dan mungkin tidak bergantung lagi pada keluarga Pak Regan. Kedua orang tuanya sangat berjasa telah menyekolahkannya hingga tamat, bahkan sekarang kuliah pun menjadi tanggungannya.

“Aku harus gimana,bu,” batin Sarah menangis dalam diam. Hingga menjelang petang, Sarah belum juga keluar kamar. Bahkan ia menolak untuk makan malam walau berkali-kali ibunya membujukanya.

1
Sabil illah
bagus kak ceritanya.... semangat update kak
Ningsih Hada: Terima kasih ya😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!