NovelToon NovelToon
KURUNGAN SANG MAFIA DINGIN

KURUNGAN SANG MAFIA DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Elsa Sefia

Lucifer Azrael — Raja Dunia Bawah berkedok pengusaha. Sadis, dingin, mustahil disentuh. Tuhan pun seolah dia tantang.
Florence Beatrix — gadis panti yang seharusnya mati setelah jadi saksi transaksi gelapnya. Tapi Lucifer melanggar aturan: dia mengurung Florence di pulau pribadinya.
"Selamat datang di kurunganmu, Florence Beatrix. Di sini, aku adalah Tuhan."
Di pulau tanpa jalan keluar, Florence benci sekaligus takut. Tapi perlahan dia lihat retaknya: Lucifer selalu menatap salib di lehernya terlalu lama. Raja Dunia Bawah yang kejam, ternyata hafal ayat Mazmur karena masa lalu yang dia kubur dalam darah.
Ini bukan kisah cinta manis. Ini tentang gadis panti yang berdoa di kurungan mewah, dan mafia yang mulai bertanya apakah neraka miliknya bisa ditukar dengan surga di mata Florence

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elsa Sefia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1 Saksi Mata

Di mata dunia, Lucifer Azrael adalah pengusaha paling berpengaruh di Amerika. Muda, tampan, tinggi 190cm dengan tubuh kekar berotot, mata biru sedingin es Arktik. Idaman semua wanita, tapi mustahil disentuh.

Di balik jas mahalnya, dia adalah Raja Dunia Bawah. Sadis. Kejam. Membunuh tanpa berkedip. Tidak suka dibantah. Hyper, dingin, cuek — red flag berjalan. Asetnya tak masuk akal: pulau pribadi di Karibia, jet Gulfstream, gedung pencakar langit atas namanya. Tuhan pun seolah dia tantang.

Florence Beatrix kebalikannya. Tumbuh di panti asuhan Kristen di pinggiran Chicago. Cantiknya tidak bisa digambarkan — kulit putih, rambut coklat panjang bergelombang, mata coklat hangat yang menyimpan luka. Hidupnya sederhana, doanya hanya satu: menemukan orang tuanya yang hilang sejak dia 5 tahun.

Takdir mempertemukan mereka saat Florence tak sengaja jadi saksi transaksi gelap Lucifer. Seharusnya gadis itu mati malam itu juga. Tapi Lucifer melanggar aturannya sendiri.

Alih-alih membunuh, dia mengurung Florence di salah satu pulau pribadinya.

Alasannya? "Aku belum memutuskan di mana kuburanmu."

Di pulau tanpa jalan keluar, Florence jadi tahanan sang iblis bermata biru. Dia benci Lucifer. Takut. Tapi perlahan dia lihat retaknya: Lucifer selalu menatap salib di leher Florence terlalu lama. Lucifer yang kejam, ternyata hafal ayat Mazmur karena... masa lalu yang dia kubur dalam darah.

Ini bukan kisah cinta manis. Ini tentang gadis panti yang berdoa di kurungan mewah, dan mafia yang mulai bertanya apakah neraka miliknya bisa ditukar dengan surga di mata Florence.

Tagline: Di kurungan sang iblis, doa adalah satu-satunya senjata. Dan dia adalah tahanan yang tak boleh jatuh cinta.

__________________

"Saksi mata"

Suara tembakan memecah kesunyian gudang pelabuhan Boston. Florence menutup mulutnya, bersembunyi di balik peti kayu. Dia hanya mau mengembalikan dompet yang terjatuh. Bukan melihat Lucifer Azrael — pria dari sampul Forbes — menarik pelatuk tanpa ekspresi.

Mata biru itu menoleh. Dingin. Mematikan.

"Lacak dia," perintahnya ke anak buah. "Malam ini juga, aku mau namanya di mejaku."

Florence lari. Tapi sejauh apa pun gadis panti bisa lari dari pria yang punya setengah dunia?

24 jam kemudian, dia bangun di kamar serba putih. Jendela setinggi dinding menghadap laut lepas. Pintu terkunci dari luar.

Dan suara itu menyambutnya dari balik bayangan, "Selamat datang di kurunganmu, Florence Beatrix. Di sini, aku adalah Tuhan."

 

Florence terbangun untuk kedua kalinya karena suara debur ombak dan isi kepala nya. Bukan sirine panti. Bukan suara Suster Maria membangunkan anak-anak untuk doa pagi.tapi kata kata-kata pria itu."Disini aku adalah Tuhan" .

Kamarnya terlalu mewah untuk sebuah penjara. Ranjang king size, selimut sutra, lukisan abstrak yang harganya mungkin bisa menghidupi pantinya setahun. Tapi semua percuma. Jendelanya tidak bisa dibuka. Pintunya tidak punya gagang dari dalam.

Pintu itu terbuka.

Lucifer Azrael masuk tanpa mengetuk. Jas hitam, kemeja hitam, tanpa dasi. Mata biru itu menyapu Florence dari ujung rambut sampai kaki telanjangnya. Dingin. Menilai.

"Bangun. Ikut aku," suaranya datar, bukan permintaan.

Florence menggenggam salib kayu kecil di lehernya. "Ke mana?"

"Di pulauku, aku yang bertanya." Dia melangkah mendekat. Tinggi, kekar, bayangannya menelan Florence utuh. "Dan kamu yang jawab. Aturan pertama."

Florence mundur sampai betisnya mentok pinggiran ranjang. "Aku mau pulang."

Bibir Lucifer melengkung tipis. Bukan senyum. Lebih mirip predator yang geli lihat mangsanya melawan. "Kamu lihat apa yang tidak boleh dilihat, Florence Beatrix. Di duniaku, itu berarti mati."

"Kalau begitu kenapa aku masih hidup?" Florence memberanikan diri menatap mata itu. Biru, tapi kosong. Seperti neraka yang membeku.

Lucifer diam. Jemari panjangnya tiba-tiba mencengkeram dagu Florence, memaksanya mendongak. Kasar, tapi tidak menyakiti. Jempolnya menyentuh salib di leher Florence, seolah benda itu terbakar.

"Karena aku belum memutuskan di mana kuburanmu," bisiknya. "Bisa di bawah mawar di taman. Bisa di dasar laut. Tergantung."

"Tergantung apa?"

"Tergantung seberapa berguna kamu untukku." Dia melepas Florence seperti jijik. "Sekarang jalan. Atau aku seret kamu."

Dia dibawa ke luar. Untuk pertama kalinya Florence lihat 'kurungannya' seutuhnya.

Pulau pribadi. Pasir putih, air sebening kaca, hutan kecil di belakang. Di tengahnya berdiri vila modern megah bergaya Amerika, dengan jendela kaca penuh dan helipad di atap. Surga. Yang jadi neraka karena sipirnya adalah Lucifer.

Di teras, meja makan sudah siap. Sarapan Amerika lengkap. Anak buah Lucifer, semua berbadan besar dan bersenjata, berdiri seperti patung.

"Duduk," perintah Lucifer. Dia duduk di ujung meja, Florence dipaksa di samping kanannya.

"Aku nggak lapar," kata Florence pelan.

"Aturan kedua," Lucifer memotong steaknya tanpa melihat Florence. Pisau itu terlihat terlalu ringan di tangannya. Tangan yang semalam menembak kepala orang tanpa berkedip. "Kamu makan saat aku bilang makan. Kamu tidur saat aku bilang tidur. Kamu bicara saat aku izinkan."

Florence meremas rok selut tipis yang entah siapa yang memakaikan padanya saat pingsan. "Kamu nggak bisa ngatur aku. Tuhan yang ngatur hidupku."

Gerakan Lucifer berhenti. Hening. Bahkan ombak seolah takut bersuara.

Pelan, dia menoleh. Mata biru itu kini ada amarah. Dinginnya berubah jadi badai.

"Di sini," katanya, setiap kata seperti paku, "aku adalah Tuhan."

Dia berdiri, kursi bergeser kasar. Dia menunduk sampai napasnya terasa di wajah Florence. Bau mint dan bahaya.

"Dan Tuhanmu tidak ada di pulau ini, Florence. Hanya ada aku. Jadi kau pilih: patuh, atau aku buang salibmu itu ke laut dan kita lihat Tuhanmu datang menyelamatkanmu atau tidak."

Florence menggigit bibir. Air matanya hampir jatuh, tapi dia tahan. Suster Maria bilang, iblis paling suka lihat orang takut.

"Aku... akan makan," bisiknya akhirnya.

Lucifer tegak lagi. Kepuasannya tipis, nyaris tak terlihat. "Bagus. Anak pintar."

Dia kembali ke kursinya. Tapi Florence tahu, ini baru permulaan. Di meja itu, di samping piring kristal, ada sebuah map coklat.

Di sampulnya tertulis: FLORENCE BEATRIX - PANTI ASUHAN ST. MONICA, CHICAGO

Dia tahu nama panti Florence. Dia tahu segalanya.

Lucifer mengetuk map itu dengan jari telunjuk. "Aturan ketiga: kalau kau berguna, mungkin aku beritahu di mana kuburan orang tuamu. Atau... di mana mereka sekarang."

Darah Florence berdesir. Doa dan benci bertarung di dadanya.

 

1
Nia Nara
Lanjut thor
balonku adalima
ya ampunn😭😭 kakk cerita mu buat aku gak sabar buat cepet cepet pulang kerja, trus baca.. aaa sehat sehat orang baik💪
Elsa Sefia: Makasih banyak ya kak 😭🫶 Senang banget ceritaku bisa jadi alasan buat buru-buru pulang dan baca. Oh iya, aku udah update lagi kak! Semoga kamu juga selalu sehat dan lancar kerjaannya ya!
total 1 replies
Nia Nara
Lanjut thor.. Ceritanya bagus, unik. Gak sama dari yg biasa.
Nia Nara: Siap Thor, ditunggu. Jangan lama-lama ya 😅
total 2 replies
Elnata
cepat update lagi, udah tidak sabar dengan kelanjutannya 😭
Elsa Sefia: siap kak, di tunggu ya update selanjutnya 😍
total 1 replies
Elnata
kerenn😍
Elnata
merinding 😭
Elnata
🤭🤭
Elnata
ceritanya bagus, semangat terus kak🥳
Elnata
sadis, Lucifer gilaaa😭
Elnata
nyesek😭
Nia Nara
Lanjut thor, ceritanya bagus banget 👍
Elsa Sefia: oke kak. terimakasih ya udah like. 😍
total 1 replies
Nia Nara
Pahit ya, kasian anak yg dididik terlalu keras jadi kejam begini
Nia Nara
Ceritanya bagus thor. Lain dari yg lain 👍
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
hadir thor
Elsa Sefia: Terimakasih 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!