Argantara, 27 tahun, supir setia keluarga Harsono yang hidupnya sederhana dibawa Pak Harsono dari panti asuhan tempat dia dibesarkan.
Dua belas tahun lalu, dia menyelamatkan nyawa Pak Harsono dari kecelakaan, dan sejak itu Pak Harsono menganggapnya seperti anak sendiri.
Kini Pak Harsono divonis kanker paru stadium tiga dan hanya punya waktu satu tahun.
Dia punya satu permintaan terakhir: "menikahkan Argantara dengan putri semata wayangnya, Kirana Prameswari"
Tujuannya bukan cinta, tapi agar Kirana yang keras kepala tidak merasa sendirian saat dia pergi...
Kirana Prameswari, pewaris perusahaan HARSONO yang dingin dan perfeksionis, awalnya menolak keras. Bagi dia, Argantara hanya supir dekil yang bau garasi.
Tapi demi sang ayah, dia terpaksa menerima pernikahan itu.
Tapi dibalik setujunya Kirana Ada kontrak yg hanya Kirana dan Arga yang tau.
Pernikahan yang dimulai dari kebohongan dan paksaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mars JuPiter🪐, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4 : KONTRAK YANG TIDAK MASUK AKAL
Kirana berjalan pelan menghampiri Arga yang tengah duduk di bangku tunggu.
Wajahnya pucat. Matanya sembab. Ingatan tentang keterangan dokter tadi masih menyayat hati Arga.
Hatinya bergolak antara bingung, takut, dan khawatir, semuanya menyatu jadi satu.
"Di mana Papa...?"
Dua kata yang keluar dari bibir Kirana terdengar bergetar.
Arga mendongak. Tatapan mereka beradu.
Mata Kirana yang sembab itu seperti pisau yang melukai hati Arga.
"Kenapa kamu tidak memberitahu aku, Ga...??
Apa karena Papa lebih sayang sama kamu...??"ucap Karina pelan tapi menusuk.
Setiap kata yang terucap dari mulut Kirana seperti jarum yang menusuk ulu hati Arga.
Dadanya sesak. Tenggorokannya kering.
"Maaf, Non..."
Dua kata. Ya, hanya dua kata yang mampu Arga ucapkan.
Dia nggak bisa jelaskan apa-apa. Dia sudah berjanji pada Pak Harsono untuk diam. setiap detik hati dan pikiran nya berperang antara memihak Tuan Harsono seorang ayah yg ingin Anak Gadisnya tetap bahagia tanpa harus terbebani karenanya. Atau kepada Karina seorang anak yg sangat mengkhawatirkan ayahnya.
DI DALAM RUANGAN RUMAH SAKIT VIP YANG DINGIN
Pak Harsono berbaring di atas ranjang.
Tubuhnya lemah. Kulit wajahnya tampak pucat, memperlihatkan kerutan-kerutan yang menandakan usia yang tak lagi muda.
Infus menggantung di sebelahnya. Suara detak jantung dari monitor terdengar pelan tapi konsisten.
Kirana masuk dengan perlahan.
Langkahnya gemetar. Napasnya tercekat.
Matanya langsung mencari ke sudut ruangan, ke arah ranjang Pak Harsono.
"Papa..." lirih nya
Kirana berjalan mendekati Pak Harsono. Lutut nya tak lagi mampu menopang badan nya, dia ambruk di tepi ranjang.
Tangisnya kembali pecah.
"Pah... maaf... maafin Kirana, Pahh... hiks... hiks..."
Tangannya menggenggam erat tangan Pak Harsono begitu terasa dingin di telapak tangan Kirana.
Dingin seperti malam ketika ibunya pergi tujuh tahun lalu.
Pak Harsono membuka mata pelan-pelan.
Wajahnya yang pucat langsung tersenyum tipis saat melihat Kirana.
"Kirana... anak Papa..." suaranya serak dan pelan.
"Maafin Papa ya... Papa nggak bisa jadi ayah yang baik untuk kamu..."
Kirana menggeleng kuat-kuat sambil menangis.
"Nggak Pah... Kirana yang minta maaf... Kirana yang kemarin marah-marah sama Papa... Kirana yang nggak ngerti keadaan Papa..."
Pak Harsono menepuk tangan Kirana pelan.
"Nggak apa-apa, Nak... yang penting kamu ada di sini sekarang..."
DI LUAR RUANGAN.
Arga masih berdiri di lorong dengan kepala tertunduk.
Tangannya mengepal erat.
Dia mendengar suara tangisan Kirana dari dalam ruangan dan dadanya terasa seperti diremas.
"Aku harus kuat. Aku harus kuat demi Tuan. Demi Nona Kirana juga..." batinnya.
Tiba-tiba dari arah lorong rumah sakit berjalan Seorang pria paruh baya menggunakan setelan jas hitam dan sepatu fantofel yg mengkilap.
berjalan menghampiri Arga dengan ekspresi serius.
"Pak Arga, bisa kita bicara sebentar?"
Arga langsung menoleh.
"Iya tuan...??Maaf anda siapa tuan..?"ucap Arga sedikit terkejut.
"Saya Bram, pengacara Tuan Harsono..."
Hening sesaat.
Tuan Bram menatap Arga dengan tatapan berat.
"Pak Harsono minta saya memberikan dokumen ini kepada Anda."
Pria itu menyerahkan sebuah amplop cokelat tebal.
"Dokumen ini....... " kalimat nya menggantung
"Dulu beliau pernah berpesan kepada saya suatu saat kalau ada pemuda yg ikut menemani saya kerumah sakit ini, beliau ingin saya menyerahkan dokumen ini kepada pemuda itu. Saya yakin pemuda yg beliau maksud adalah anda Tuan. "
"Nama anda tuan Arga bukan...?" Tanya Pak Bram untuk memastikan nya.
" Benar Tuan.."
Arga menerima amplop itu dengan tangan gemetar. Setelah dokter berpamitan Arga membukanya dengan perlahan hatinya berdebar.
Isinya,
Tertera penjelasan singkat.
Di dalamnya ada beberapa lembar kertas, surat wasiat dan surat kuasa, serta sepucuk surat yg masih ada di dalam Amplop coklat tertutup rapih. Di sampul depan surat tertulis Untuk Karina, serta pesan singkat "berikan saat waktu itu tiba" Arga mengernyitkan dahi atara paham dan bingung. Tapi dia segera menangkap maksud dari Pak Harsono.
Isi wasiat :
Pak Harsono menitipkan perusahaan dan Kirana... kepada, Arga. Serta Agar Arga tetap merahasiakan penyakitnya. Pak Harsono
juga berpesan "Jangan pernah tinggalkan Kirana, tetaplah berdiri di sisinya, suka maupun duka , lindungi dia, di dunia ini banyak orang yg ingin membuat nya menderita . Kalau hari itu tiba, papa mau kamu tetap bersamanya, jangan meninggalkan sekalipun Kirana yg memintamu pergi."
Itu adalah wasiat dari pak Harsono. Arga membacanya dengan teliti. Ini sebuah tanggung jawab besar yg harus Arga pikul mulai sekarang.
Sisanya beberapa Dokumen
perusahaan yang harus Arga pelajari lagi.
ARGA MEMBEKU DI TEMPAT.
"TITIPAN PERUSAHAAN DAN KIRANA... KEPADA SAYA?!"
Kata-kata itu berputar-putar di kepalanya seperti tornado.
Dia hanya seorang supir. Anak panti yang nggak punya siapa-siapa.
Kenapa Pak Harsono mempercayakan semuanya padanya?
DI DALAM RUANGAN.
Kirana masih memeluk tangan Pak Harsono dan menangis.
"Pah... Kirana janji... Kirana akan jaga perusahaan Harsono... Kirana akan jaga nama Harsono... Kirana nggak akan kecewain Papa lagi..."
Pak Harsono tersenyum lemah.
"Aku percaya sama kamu, Nak..."
Tapi kemudian wajah Pak Harsono berubah serius.
"Kirana... ada satu hal lagi yang Papa mau kamu tahu..."
Kirana mengangkat kepala.
"Apa itu, Pah?"
Pak Harsono menatap Kirana dalam-dalam.
"Papa... Papa ingin kamu menikah dengan Arga. Minggu depan."
KIRANA MEMBELALAK.
Tangisnya berhenti seketika.
"APA...?!"
Pak Harsono menghela napas panjang.
"Papa tahu kamu marah, Nak. Tapi Papa nggak punya banyak waktu lagi... Papa takut kalau Papa pergi, kamu sendirian. Arga itu anak baik, Kirana. Dia tulus. Dia akan jaga kamu..."
Kirana terdiam.
Hatinya hancur lagi.
"Jadi... pernikahan itu benar-benar akan terjadi?"
"Jadi... Papa benar-benar nggak berubah pikiran?"
DI LUAR RUANGAN.
Arga masih memperhatikan amplop cokelat itu dengan tangan gemetar.
Di dalamnya ada dua dokumen.
Di halaman terakhir surat kontrak itu, ada tanda tangan Pak Harsono yang sudah hampir tidak terbaca karena gemetar.
Dan di bawahnya... ada kolom kosong untuk tanda tangan Arga.
Arga menutup matanya rapat-rapat.
"Tuan... kenapa Tuan percayakan hidup Nona Kirana ke tangan saya?"
"Kenapa Tuan nggak percayakan ke orang yang lebih pantas?"
Tapi kemudian dia teringat wajah Pak Harsono yang pucat karena kanker.
Teringat 20 anak panti yang menunggu beras.
Teringat Kirana yang menangis di kamar semalam.
Arga menarik napas dalam-dalam.
Dia mengambil pulpen dari saku jasnya.
Tangannya gemetar saat mendekatkan ujung pulpen ke kolom tanda tangan.
"Aku... harus kuat. Demi Tuan. Demi Nona Kirana. Demi adik-adikku di panti ."
TTTD.
Tanda tangan Arga jatuh di atas kertas kontrak itu.
Kontrak rahasia yang akan mengubah hidupnya... dan hidup Kirana... selamanya.
DI DALAM RUANGAN.
Kirana masih menatap Pak Harsono dengan mata berkaca-kaca.
"Pah... Kirana... Kirana akan coba... Kirana akan coba terima Arga..." suaranya bergetar.
Tapi di dalam hatinya, Kirana berteriak:
"TAPI KIRANA TAKUT, PAH... KIRANA TAKUT KALAU KIRANA AKAN CINTA SAMA ARGA..."
Pak Harsono tersenyum lega.
"Terima kasih, Nak..."
[BERSAMBUNG...]
jadi orang kaya gak perlu sombong.
rumah tangga macam ini paling gampang di bikin huru" orang ketiga kalian berdua sama" suka diem"