NovelToon NovelToon
Nusantara Pysco

Nusantara Pysco

Status: tamat
Genre:Trauma masa lalu / Sci-Fi / Time Travel / Tamat
Popularitas:97
Nilai: 5
Nama Author: Mr. Rei

Reiki Shield Eistein hanyalah anak SMA biasa yang pindah ke desa terpencil bersama pamannya. Hidupnya membosankan—sekolah, teman, rutinitas—sampai badai datang dan listrik di seluruh desa padam dalam sekejap. Bukan karena petir. Tapi karena Reiki. Tanpa sadar, ia menyerap energi listrik seluruh desa, dan matanya bersinar biru untuk pertama kalinya.

Di tengah kekacauan itu, ia bertemu Hime Hafitis—gadis misterius dengan perangkat canggih yang tiba-tiba muncul di desa dan menyewanya sebagai pemandu lokal. Hime membayar mahal, tapi tidak pernah menjelaskan apa yang sebenarnya ia cari. Semakin lama mereka bersama, semakin jelas bahwa pertemuan mereka bukanlah kebetulan. Dan semakin kuat kekuatan Reiki bangkit, semakin banyak perhatian yang tertarik—termasuk organisasi psikis yang dipimpin oleh Hubble Telesta, seorang pemimpin yang masih dihantui trauma masa lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Rei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 - Kembali ke Desa

# Bab 13 — Kembali ke Desa

**POV: Bergantian**

---

## BAGIAN 1: HIME

Pesawat kecil itu mendarat di lapangan dekat gudang saat matahari mulai naik. Aku mematikan mesin dan diam sejenak, menikmati keheningan sebelum kembali ke kekacauan.

"Kita sudah sampai," kataku.

KSAN menggeliat di kursi belakang. "Syukurlah. Aku hampir mabuk laut—mabuk udara."

Aku tersenyum tipis. Tapi senyum itu segera memudar ketika aku melihat siapa yang menunggu di luar.

Hubble. Berdiri dengan tangan bersedekap, wajahnya tidak terbaca. Di belakangnya, Karmas dan Tigap 1 berdiri dengan ekspresi waspada.

"Sepertinya kita kedatangan tamu," gumam KSAN.

Aku turun dari pesawat. "Hubble."

"Kau pergi lagi," katanya. Bukan pertanyaan.

"Ya."

"Ke pulau itu?"

"Ya."

Ia menghela napas panjang. "Kita perlu bicara. Sekarang."

Aku mengikuti Hubble ke dalam pesawatnya. Ruang tengah kosong—ia sudah menyuruh anak buahnya pergi. Kami duduk berhadapan.

"Ceritakan semuanya," katanya. "Dari awal."

Aku menarik napas dalam-dalam. Dan aku menceritakannya. Tentang mesin waktu. Tentang 38 tahun pencarian. Tentang Dewa Psikis. Tentang Reiki.

Hubble mendengarkan tanpa memotong. Wajahnya tidak berubah sepanjang ceritaku.

Ketika aku selesai, ia diam lama. Lalu ia berkata, "Kau yakin?"

"70%."

"Itu belum cukup."

"Aku tahu. Tapi cukup untuk membuatku percaya."

Hubble menatapku. Untuk pertama kalinya, aku melihat sesuatu di matanya—bukan kemarahan, tapi kelelahan. Kelelahan yang dalam.

"Aku juga punya firasat yang sama," katanya. "Sejak pertama kali melihatnya. Ada sesuatu di matanya—sesuatu yang mengingatkanku pada malam itu."

"Malam 36 tahun lalu?"

Ia mengangguk. "Malam ketika keluarganya dibantai. Malam ketika Dewa Psikis menghancurkan segalanya."

Aku diam. Aku tahu cerita itu. Hubble adalah korban selamat dari pembantaian yang dilakukan oleh Dewa Psikis—oleh Reiki, di kehidupan sebelumnya.

"Jika kau benar," lanjut Hubble, "maka anak yang kau lindungi adalah reinkarnasi dari iblis yang menghancurkan hidupku."

"Dia bukan iblis."

"Aku tahu. Tapi sulit untuk memisahkan keduanya."

Aku meraih tangannya. "Hubble, aku tahu ini sulit. Tapi Reiki bukanlah Dewa yang dulu. Ia adalah anak SMA yang tidak tahu apa-apa tentang masa lalunya. Ia berhak mendapatkan kesempatan."

Hubble menatapku lama. Lalu ia menghela napas.

"Aku tidak akan menyakitinya. Tapi aku juga tidak bisa memaafkannya. Setidaknya, belum."

"Itu sudah lebih dari cukup."

---

## BAGIAN 2: KSAN

Sementara Hime berbicara dengan Hubble, aku berjalan menuju balai desa. Ada sesuatu yang perlu aku lakukan.

Ayahku sedang duduk di meja kerjanya ketika aku masuk. Ia menatapku dengan tatapan yang sudah kukenal—campuran antara khawatir dan kecewa.

"Kau pergi lagi semalam," katanya.

"Ya."

"Ke pulau itu?"

Aku berhenti. "Kau tahu tentang pulau itu?"

Ayahku meletakkan pulpennya. "Aku tahu lebih banyak dari yang kau kira, Nak."

Aku duduk di kursi seberangnya. "Lalu kenapa kau tidak pernah memberitahuku?"

"Karena aku ingin melindungimu."

"Dari apa?"

"Dari dunia yang tidak siap kau hadapi."

Aku mengeluarkan medali dari sakuku. Medali Penjaga Gerbang yang ia berikan kemarin. "Tapi sekarang aku sudah terlanjur masuk. Tidak ada jalan mundur."

Ayahku menatap medali itu lama. Lalu ia berkata, "Apa yang kau temukan di pulau itu?"

"Sebuah kristal raksasa. Penjaga Gerbang. Dan catatan tentang Dewa Psikis."

Ayahku diam. Wajahnya pucat.

"Kau tahu tentang Dewa Psikis?" tanyaku.

"Ia adalah legenda. Tapi juga kutukan."

"Apa maksudmu?"

"Dewa Psikis adalah makhluk terkuat yang pernah hidup. Tapi kekuatannya juga yang menghancurkannya. Ia kehilangan kemanusiaannya. Menjadi monster."

"Tapi Reiki bukan monster."

"Reiki mungkin bukan. Tapi jika ia terus menggunakan kekuatannya, ia bisa menjadi seperti Dewa yang dulu."

Aku diam. Kata-kata ayahku sama persis dengan apa yang dikatakan Penjaga Gerbang pada Hime.

"Lalu apa yang harus kami lakukan?" tanyaku.

Ayahku menatapku. "Lindungi dia. Tapi juga lindungi dirimu sendiri. Dan jangan biarkan kekuatan itu menguasainya."

---

## BAGIAN 3: HUBBLE

Aku duduk sendirian di kabin pribadiku setelah Hime pergi. Di tanganku, ada foto lama—satu-satunya foto yang tersisa dari keluarganya.

Aku menatap wajah-wajah di foto itu. Ayah. Ibu. Adik perempuanku. Semua tersenyum, tidak tahu bahwa malam itu akan menjadi malam terakhir mereka.

Dan di balik semua itu, ada dia. Dewa Psikis. Makhluk yang membantai mereka semua.

Tapi sekarang, Hime bilang bahwa Reiki adalah reinkarnasinya. Bahwa anak SMA yang tidak bersalah itu adalah jelmaan dari iblis yang menghancurkan hidupku.

Aku ingin marah. Aku ingin membenci. Tapi ketika aku mengingat wajah Reiki—wajah anak muda yang bingung dan takut—aku tidak bisa.

Ia bukan Dewa itu. Ia hanya anak kecil yang kebetulan punya kekuatan besar.

Tapi bagaimana jika suatu hari nanti ia berubah? Bagaimana jika kekuatannya menguasainya dan ia menjadi monster yang sama?

Aku menggenggam foto itu erat-erat.

*Aku tidak akan membiarkan itu terjadi.*

---

## BAGIAN 4: REIKI

Aku duduk di gudang, menatap tanganku sendiri. Hime baru saja menceritakan semuanya—tentang masa laluku, tentang Dewa Psikis, tentang 38 tahun pencariannya.

Dan aku tidak tahu harus merasakan apa.

Aku adalah reinkarnasi dewa. Dewa yang membantai keluarga Hubble. Dewa yang dicintai Hime.

Tapi aku tidak ingat apa pun. Yang aku ingat hanyalah kehidupan biasa sebagai anak SMA di desa terpencil. Tidak ada dewa. Tidak ada kekuatan besar. Tidak ada Hime.

Atau mungkin ada? Mungkin ingatan itu terkunci di suatu tempat di dalam diriku, menunggu untuk ditemukan.

Aku menutup mata. Dan untuk sesaat, aku mencoba mengingat. Mengingat apa pun dari masa lalu.

Tapi yang kudapat hanyalah kegelapan.

"Hei."

Aku membuka mata. Hime berdiri di pintu gudang, tersenyum tipis.

"Kau baik-baik saja?" tanyanya.

"Tidak. Tapi aku akan baik-baik saja."

Ia duduk di sampingku. "Kau tahu, aku juga merasa seperti itu dulu. Ketika pertama kali aku kehilangannya."

"Kehilangan Dewa itu?"

Ia mengangguk. "Aku merasa dunia hancur. Seperti tidak ada lagi yang berarti."

"Tapi kau bertahan."

"Karena aku punya tujuan. Mencarinya."

"Dan sekarang kau menemukannya."

Ia menatapku. "Ya. Sekarang aku menemukannya."

Kami diam. Tapi keheningan itu tidak canggung. Rasanya alami.

"Hime."

"Hm?"

"Terima kasih. Karena tidak menyerah."

Ia tersenyum. "Aku tidak akan pernah menyerah padamu."

---

## BAGIAN 5: KONFLIK

Sore harinya, desa mulai gelisah.

Kabar tentang pulau itu mulai menyebar. Beberapa warga melihat kami pergi dan kembali. Mereka mulai bertanya-tanya. Dan ketika Hime dan Hubble mencoba menjelaskan bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan, beberapa dari mereka tidak percaya.

"Kau menyembunyikan sesuatu!" teriak seorang warga di depan balai desa. "Kami berhak tahu!"

"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan," kata Hime, mencoba menenangkan. "Ini hanya masalah teknis."

"Teknis? Listrik padam, orang-orang pingsan, dan kau bilang ini teknis?"

Aku berdiri di samping Hime, merasakan ketegangan yang meningkat. Aku bisa merasakan energi mereka—ketakutan, kemarahan, kebingungan. Semuanya bercampur menjadi satu.

"Kami akan menjelaskan semuanya," kata Hubble, melangkah maju. "Tapi tidak sekarang. Kami butuh waktu."

"Waktu untuk apa? Untuk kabur?"

Aku merasakan sesuatu di dalam diriku—desakan untuk maju, untuk melindungi Hime dan Hubble. Tapi aku menahannya.

"Kami tidak akan kabur," kataku. "Kami di sini untuk melindungi desa ini."

Warga itu menatapku. "Kau? Anak SMA? Melindungi kami?"

"Ya. Aku."

Untuk sesaat, tidak ada yang bicara. Lalu warga itu mendengus dan berbalik pergi.

"Awas kau," katanya sebelum pergi. "Jika ada sesuatu yang terjadi pada desa ini, kami akan mencari kalian."

Aku menghela napas lega. Tapi aku tahu ini belum berakhir. Ini baru awal dari konflik yang lebih besar.

---

Malam itu, kami berkumpul di gudang—aku, Hime, KSAN, dan Hubble. Karmas dan Tigap 1 berjaga di luar.

"Kita punya masalah," kata Hubble. "Warga mulai curiga. Jika terus begini, mereka bisa memberontak."

"Apa yang kau sarankan?" tanya Hime.

"Kita harus transparan. Setidaknya, memberi tahu mereka bahwa ada ancaman energi yang perlu ditangani."

"Tapi jika mereka tahu tentang Reiki—"

"Mereka tidak perlu tahu tentang Reiki. Cukup tentang fragmen energi."

Aku mengangkat tangan. "Maaf, tapi bukankah seharusnya aku punya suara dalam keputusan ini?"

Semua menatapku.

"Ini tentang diriku. Tentang kekuatanku. Aku pikir aku berhak tahu apa yang akan dilakukan."

Hubble menatapku lama. Lalu ia mengangguk. "Kau benar. Maaf."

Aku terkejut. Hubble—yang selama ini keras dan otoriter—baru saja meminta maaf padaku.

"Menurutku," kataku, "kita harus jujur. Tapi tidak perlu menceritakan semuanya. Cukup bilang bahwa ada energi aneh yang perlu kami selidiki, dan bahwa kami butuh dukungan warga."

Hime tersenyum. "Itu sebenarnya ide yang bagus."

Hubble mengangguk. "Baik. Kita lakukan itu besok."

---

Malam itu, aku tidak bisa tidur. Aku duduk di atap gudang, menatap bintang-bintang. Pikiranku masih kacau—tapi untuk pertama kalinya, ada sedikit harapan di tengah kegelapan.

 "Kau juga tidak bisa tidur? "

Aku menoleh. Hime naik ke atap, duduk di sampingku.

 "Banyak pikiran, " jawabku.

 "Ceritakan. "

Aku diam sejenak.  "Aku takut. Bukan karena kekuatanku, tapi karena apa yang bisa terjadi pada orang-orang di sekitarku. "

 "Seperti apa? "

 "Seperti Hubble. Ia mulai menerimaku. Tapi jika suatu hari nanti aku kehilangan kendali dan menyakitinya... "

 "Kau tidak akan melakukannya. "

 "Kau tidak tahu itu. "

Hime menatapku.  "Aku tahu. Karena kau bukan Dewa yang dulu. Kau adalah Reiki. Dan Reiki tidak akan pernah menyakiti orang yang peduli padanya. "

Aku ingin percaya padanya. Tapi jauh di dalam lubuk hatiku, ada ketakutan yang tidak bisa hilang.

 "Bagaimana jika kau salah? " tanyaku.

 "Maka aku akan ada di sini untuk memperbaikinya. "

Aku tersenyum tipis.  "Kau selalu punya jawaban. "

 "Tidak selalu. Tapi untukmu, aku akan mencari jawabannya. "

Kami duduk di atap, menatap bintang, tanpa perlu bicara. Dan untuk sesaat, aku merasa bahwa semuanya akan baik-baik saja.

---

Keesokan paginya, kami mengadakan pertemuan dengan warga desa di balai desa. Hubble berbicara sebagai perwakilan kami.

 "Kami menemukan anomali energi di sekitar desa, " katanya.  "Tidak berbahaya, tapi perlu diselidiki. Kami mohon dukungan warga untuk tidak mendekati area-area tertentu. "

Beberapa warga mengangguk. Yang lain masih tampak curiga.

 "Area mana saja? " tanya salah satu warga.

Hubble menunjuk peta yang kami siapkan.  "Di sini, di sini, dan di sini. Kami akan memasang tanda peringatan. "

 "Dan apa yang akan kalian lakukan? "

 "Kami akan menyelidiki dan memastikan semuanya aman. "

Warga itu tampak puas dengan jawabannya. Pertemuan berlangsung lancar—tidak ada protes, tidak ada kerusuhan.

 "Bagus, " bisik KSAN di sampingku.  "Mereka percaya. "

 "Untuk sekarang, " jawabku.

---

Sore harinya, kami kembali ke laboratorium. Hime sedang sibuk dengan perangkatnya, menganalisis data dari sensor-sensor yang kami pasang.

 "Ada perkembangan, " katanya.  "Aku menemukan pola fluktuasi energi yang tidak biasa di pinggir desa. "

 "Apa maksudmu? " tanya Hubble.

 "Ini bukan fragmen. Ini adalah jejak psikis lain. Seseorang yang sengaja menyembunyikan auranya. "

Semua diam. Psikis lain di desa ini? Siapa?

 "Mungkin itu Penjaga Gerbang, " kataku.

 "Atau mungkin seseorang yang sudah lama bersembunyi, " kata Hime.  "Dan kita harus mencari tahu siapa itu. "

---

Malam harinya, aku duduk di laboratorium, memikirkan kata-kata Hime. Psikis lain di desa ini. Seseorang yang bersembunyi. Mungkin ia adalah kunci untuk memahami semua ini.

 "Kau tidak tidur? " suara Dila membuatku menoleh.

 "Belum bisa. "

Ia duduk di sampingku.  "Aku juga. "

Kami diam sejenak. Lalu ia berkata,  "Aku tahu siapa psikis misterius itu. "

Aku menatapnya.  "Kau tahu? "

 "Aku sudah mencium auranya sejak lama. Tapi aku tidak ingin mengungkapkannya karena aku takut. "

 "Takut apa? "

 "Takut bahwa ia adalah ancaman. Tapi sekarang, setelah melihat kalian semua, aku rasa ia bukan ancaman. Ia hanya... seseorang yang juga bersembunyi, seperti aku. "

 "Siapa? "

Dila menatapku.  "Aku. "

Aku terkejut.  "Kau? "

 "Aku adalah psikis yang bersembunyi selama 36 tahun. Aku adalah bangsawan psikis yang selamat dari pembantaian yang sama dengan Hubble. Dan aku tahu siapa Reiki sebenarnya. "

Aku tidak bisa berkata-kata. Dila—gadis pendiam yang selalu duduk di bangku belakang—adalah psikis?

 "Kenapa kau baru bilang sekarang? " tanyaku.

 "Karena aku takut. Tapi sekarang aku lihat, kalian berbeda. Kalian tidak akan menghakimiku. "

Aku meraih tangannya.  "Kau tidak perlu takut. Kami di sini untukmu. "

Ia tersenyum. Untuk pertama kalinya, aku melihat kelegaan di wajahnya.

---

Keesokan paginya, Dila resmi bergabung dengan tim. Hime menyambutnya dengan hangat. Hubble masih curiga, tapi ia tidak keberatan.

 "Dengan kemampuan Dila, kita bisa memetakan aliran energi di seluruh desa, " kata Hime.  "Ini akan sangat membantu. "

Dila mengeluarkan pensil dan kertas, dan mulai menggambar. Dalam hitungan menit, sebuah peta energi desa yang detail terbentuk di atas kertas—setiap aliran, setiap fluktuasi, setiap titik yang mencurigakan.

 "Ini luar biasa, " kata KSAN.  "Kau benar-benar bisa melihat energi? "

 "Aku bisa merasakannya. Menggambarnya hanya cara untuk memvisualisasikannya. "

Hime menatap peta itu.  "Ada sesuatu di sini. " Ia menunjuk ke sebuah titik di bawah balai desa.  "Konsentrasi energi yang sangat besar. Tapi tersembunyi. "

 "Apa itu? " tanyaku.

 "Mungkin gerbang. Atau mungkin sesuatu yang lain. "

 "Kita harus menyelidikinya. "

Hime mengangguk.  "Malam ini. "

---

Malam itu, kami berkumpul di balai desa. Gelap. Sepi. Hanya suara jangkrik yang terdengar dari sawah.

Hime memimpin, diikuti oleh aku, KSAN, Dila, dan Hubble. Karmas dan Tigap 1 berjaga di luar, memastikan tidak ada yang mengganggu.

Kami membuka pintu tua di belakang balai desa. Tangga batu menurun ke dalam kegelapan. Udara di sini dingin—lebih dingin dari luar. Dan ada bau aneh, seperti tanah basah bercampur logam.

 "Di sini, " bisik Dila.  "Aku bisa merasakannya. "

Kami turun. Tangga itu berkelok-kelok, semakin dalam. Dan semakin ke bawah, semakin kuat energi yang kurasakan.

Kami sampai di sebuah ruangan bawah tanah. Di tengahnya, ada sebuah gerbang batu—tingginya sekitar tiga meter, diukir dengan simbol-simbol yang sama seperti di pulau. Tapi gerbang ini tertutup. Terkunci.

 "Ini dia, " kata Hime.  "Gerbang antar-dimensi. "

 "Tapi kenapa ada di sini? " tanya KSAN.

 "Mungkin ini adalah pintu belakang. Atau mungkin ini adalah gerbang utama, dan yang di pulau itu hanya replika. "

Aku mendekati gerbang itu. Aku meletakkan tanganku di permukaan batunya. Dingin. Tapi di dalamnya, ada denyut—seperti jantung yang berdetak.

 "Ia hidup, " bisikku.

Reiki mendekat. Ia juga meletakkan tangannya di gerbang itu. Dan untuk sesaat, gerbang itu bercahaya—biru terang—lalu meredup.

 "Ia mengenalimu, " kataku.

 "Atau ia menungguku. "

Kami berdiri di depan gerbang itu, tidak tahu harus berbuat apa. Tapi satu hal yang pasti: ini baru awal.

---

**— Bersambung —**

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!