Hati Naomi hancur saat suaminya Zayn, tega menceraikannya karena dirinya melahirkan bayi sumbing. Padahal Zayn dan keluarganya adalah keluarga dokter, mereka harusnya lebih mengerti dari orang lain.
Setelah pulih dari pasca persalinan, Naomi diusir dari keluarga Hartanto. Ia mengurus bayinya yang sumbing sendirian. Naomi bekerja banting tulang demi kebutuhan anaknya. Seiring berjalannya waktu, bayi Naomi yang diberi nama Davin itu terus tumbuh, ia bahkan mendapatkan operasi yang membuatnya bisa tumbuh seperti anak normal lain. Bibir Davin tak lagi sumbing, dia bahkan terbilang punya wajah tampan. Selain itu Davin juga menjadi anak yang sangat jenius! Mendapat banyak prestasi dan selalu membuat Naomi bangga. Saat itulah Zayn tiba-tiba kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 9 - Ternyata Dia Dokternya
Begitu pintu toilet tertutup, Naomi langsung bersandar pada dinding dingin di belakangnya. Napasnya naik turun. Tangannya masih sedikit gemetar. Suara bentakannya tadi seolah terulang kembali di kepalanya. Naomi menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“Ya Tuhan...” bisiknya pelan.
Rasa bersalah perlahan merambat. Pria itu tidak melakukan apa-apa. Bahkan dia bersikap tenang, tidak membalas dengan emosi. Justru dirinya yang meledak tanpa alasan yang jelas.
Semua karena pikirannya yang kacau. Semua karena luka yang belum sembuh. Naomi menatap bayangannya di cermin. Mata sembab, wajah lelah, dan rambut sedikit berantakan.
“Ini bukan aku...” gumamnya lirih. Dia menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri.
“Aku nggak boleh jadi seperti ini,” katanya pelan, seperti mengingatkan dirinya sendiri.
Perlahan, Naomi membasuh wajahnya dengan satu tangan. Dingin air itu sedikit membantu meredakan panas di dadanya. Ia menatap dirinya sekali lagi di cermin, kali ini lebih tenang. Sementara Davin terlihat masih gelisah.
Naomi segera mengatasi hal yang membuat Davin gelisah. Setelah memastikan dirinya dan Davin lebih terkendali, Naomi keluar dari toilet dan kembali ke ruang tunggu. Begitu sampai, Jihan langsung menoleh.
“Kamu lama banget,” katanya. “Aku kira kamu pindah domisili ke toilet.”
Naomi tersenyum tipis. “Maaf.” dia lalu duduk sambil menggendong Davin.
Jihan memperhatikannya sejenak. “Kamu habis nangis lagi ya?” tanyanya, lebih pelan.
Naomi menggeleng. “Nggak... cuma cuci muka.”
Jihan tidak sepenuhnya percaya, tapi tidak memaksa. Ia hanya mengangguk kecil.
“By the way,” lanjutnya, “dokternya sudah datang.”
Jantung Naomi sedikit berdebar. “Cepat juga ya,” katanya pelan. Perlahan dia susui Davin.
Waktu berlalu cukup lama. Sampai akhirnya Davin tertidur. Naomi lantas meletakkannya ke dalam kereta bayi. Namun ponsel Jihan tiba-tiba berdering. Ia melirik layar, lalu wajahnya berubah.
“Aduh...” keluh Jihan.
“Kenapa?” tanya Naomi.
Jihan mengangkat telepon. “Halo?... Hah? Sekarang?” Nada suaranya langsung berubah serius.
Naomi bisa melihat dari ekspresinya bahwa itu bukan panggilan biasa.
“Iya, iya... aku ke sana sekarang,” ujar Jihan cepat sebelum menutup telepon. Ia menatap Naomi dengan wajah sedikit bersalah.
“Na... aku harus ke klinik sekarang,” katanya. “Ada masalah mendesak. Nggak bisa ditunda.”
Naomi langsung mengangguk. “Nggak apa-apa.”
“Serius?” tanya Jihan, masih ragu.
“Iya,” jawab Naomi lembut. “Aku bisa sendiri.”
Jihan menggigit bibirnya. “Tapi—”
“Aku nggak sendirian kok,” potong Naomi pelan sambil melirik Davin yang sedang tidur di dalam kereta bayi. “Ada dia.”
Jihan akhirnya menghela napas. “Ya sudah... nanti kalau sudah selesai, kamu kabarin aku. Aku jemput.”
Naomi tersenyum kecil. “Kalau nggak sempat, aku bisa pulang naik ojol mobil.”
Jihan menatapnya beberapa detik, lalu mengangguk. “Hati-hati ya.”
“Iya.”
Jihan menepuk pelan bahunya, lalu bergegas pergi.
Naomi kini benar-benar sendiri di ruang tunggu. Namun anehnya, ia tidak merasa setakut yang ia bayangkan. Beberapa menit kemudian, namanya dipanggil.
“Naomi Rasmita?”
Naomi berdiri, menggenggam tasnya erat, lalu mengikuti perawat menuju ruang konsultasi. Setiap langkah terasa berat sekaligus penuh harap.
Pintu ruangan itu terbuka.
“Silakan masuk,” ujar perawat.
Naomi melangkah masuk sambil mendorong kereta tempat Davin berada. Dalam satu detik, dunia seolah berhenti lagi. Pria yang duduk di balik meja itu adalah pria yang tadi dia tabrak. Junie Andreas.
Naomi langsung membeku di tempat. Matanya membesar. Wajahnya langsung pucat.
“Ini...” suaranya tercekat. “Dokter...?”
Junie mengangkat pandangannya dari berkas di tangannya. Lalu tersenyum. Senyum yang sama seperti tadi.
“Oh,” katanya santai. “Kita bertemu lagi.”
Naomi benar-benar tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Rasa malu langsung menyerbu. Jantungnya berdegup lebih cepat dari sebelumnya.
“Sa-saya...” katanya gugup. “Saya nggak tahu kalau—”
Junie mengangkat tangan sedikit, menghentikannya dengan lembut.
“Tidak apa-apa,” katanya ringan. “Saya juga tidak pakai papan nama di dahi.”
Naomi menunduk. “Maaf... yang tadi... saya benar-benar minta maaf.”
Junie tersenyum kecil. “Saya sudah memaafkan sejak Anda bilang ‘maaf’ yang kedua tadi.”
Nada suaranya santai. Tidak ada sindiran. Tidak ada sisa kesal. Justru itu yang membuat Naomi semakin merasa bersalah.
“Silakan duduk,” lanjut Junie sambil menunjuk kursi di depannya.
Naomi perlahan duduk. Tangannya masih sedikit gemetar.
Junie melirik ke arah bayi di dalam kereta. “Ini pasien kecil kita?” tanyanya.
Naomi mengangguk pelan. “Iya... namanya Davin.”
Junie mengangguk. “Boleh saya lihat?”
Naomi dengan hati-hati menggeser posisi Davin.
Junie memperhatikan dengan serius. Tatapannya berubah. Tidak lagi santai. Kini lebih fokus dan profesional. Namun tetap lembut.
“Dia kuat,” kata Junie pelan. Kalimat sederhana itu membuat Naomi sedikit tertegun.
Junie kembali menatap Naomi. “Dan ibunya juga.”
Naomi menunduk. Entah kenapa, dadanya terasa hangat sekaligus sesak.
“Saya tadi...” Junie berhenti sejenak, memilih kata. “Bisa melihat Anda sedang tidak baik-baik saja.”
Naomi terdiam.
“Saya tidak tahu apa yang Anda hadapi,” lanjut Junie. “Tapi satu hal yang saya tahu...”
Ia menatap Davin lagi.
“Menjadi ibu itu tidak mudah.”
Naomi menggigit bibirnya.
“Apalagi dengan kondisi anak yang butuh perhatian ekstra seperti ini,” tambah Junie dengan suara tenang.
Kalimat itu, seperti menyentuh sesuatu yang paling dalam dalam diri Naomi. Pertahanan yang dia bangun sejak tadi runtuh. Air matanya jatuh tanpa peringatan. Awalnya hanya satu. Lalu dua. Hingga tak terbendung.
Junie sedikit terkejut, tapi tidak panik. Naomi sendiri seperti tidak bisa menghentikannya.
“Sa-saya...” suara Naomi pecah. “Saya nggak tahu harus mulai dari mana...”
Junie mendorong kotak tisu ke arahnya.
“Mulai dari mana saja,” katanya pelan.
Tidak ada tekanan. Tidak ada penilaian. Hanya ruang, dan itu cukup.
Naomi menarik tisu, mencoba menghapus air matanya, tapi tangisnya justru semakin pecah.
“Saya... ditinggal suami saya...” katanya terbata.
Junie tidak menyela.
“Hanya karena... anak saya...” suaranya semakin kecil. “Karena dia lahir seperti ini...”
Tangannya gemetar saat memeluk Davin lebih erat.
“Mereka bilang dia... rusak...” lanjutnya, suaranya penuh luka.
Junie langsung mengernyit sedikit. Ada sesuatu di matanya. Bukan marah yang meledak. Tapi ketidaksukaan yang dalam. Namun dia tetap diam. Membiarkan Naomi melanjutkan.
“Mereka bahkan menyebarkan fitnah... bilang saya selingkuh...” Naomi tertawa pahit di antara tangis. “Saya bahkan nggak tahu harus membela diri ke siapa...”
Ruangan itu hening. Hanya suara tangis Naomi yang terdengar. Junie bersandar sedikit, menatapnya dengan serius. Bukan kasihan, tapi memahami.
“Dengar saya,” katanya akhirnya, suaranya tenang tapi tegas.
Naomi perlahan menatapnya.
“Anak Anda tidak rusak.”
Kalimat itu sederhana. Tapi terasa seperti cahaya.
Naomi tertegun.
Junie melanjutkan, “Dia hanya lahir dengan kondisi yang membutuhkan bantuan medis. Itu saja.”
Nada suaranya pasti. Tidak ragu.
“Dan itu... bisa kita tangani,” tambahnya.
Air mata Naomi kembali jatuh. Rasanya setelah mendengar Junie berucap begitu, harapannya jadi terasa mudah digapai.
Untuk pertama kalinya, ada orang selain Jihan yang tidak melihat Davin sebagai masalah. Tapi sebagai anak yang bisa dibantu.
"Terima kasih, Dok... Tapi apa Davin bisa hidup normal seperti anak lain?" tanya Naomi.
bahkan aq baca dri awal sampai sekarang sering nangesss,
😭😭 soalnya gak gampang ngurus bayi seperti Davin..
semngatt kak dan sukses selalu novelmu 🥰🥰😘😘