NovelToon NovelToon
Tahta Darah Sembilan Cakrawala 2

Tahta Darah Sembilan Cakrawala 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kebangkitan pecundang / Fantasi Timur / Balas Dendam
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Baldy

(SEASON 2)

Dengan Inti Emas Iblis di Dantian-nya, Shen Yuan kini meninggalkan benua kelahirannya. Ia melangkah menembus Gerbang Lintas Benua menuju jantung peradaban Sembilan Cakrawala, siap membawa badai darah mematikan bagi para dewa palsu yang pernah merenggut segalanya darinya. Perburuan yang sesungguhnya baru saja dimulai!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aturan Sekte Raksasa

Udara malam yang dingin menggigit kulit saat Shen Yuan membuka matanya perlahan.

Ia tidak lagi berada di anak tangga batu giok putih. Bersama dengan sekitar tiga ribu peserta lain yang berhasil melewati batas anak tangga ketujuh ribu, ia telah dipindahkan ke sebuah pelataran luas yang terbuat dari batu pualam kelabu.

Di sekeliling mereka, puluhan paviliun kayu yang sangat sederhana berjejer rapat. Ini bukanlah istana megah di puncak Gunung Pilar Langit yang ia lihat dari bawah; ini adalah Pelataran Murid Luar, wilayah terendah dari Kuil Dewa Perak yang terletak di lereng bawah gunung.

"Bangun, sampah-sampah fana!"

Sebuah bentakan keras diiringi lecutan cambuk hawa murni yang menghantam udara membangunkan ribuan peserta yang terkapar kelelahan. Beberapa Penatua Pelaksana, yang semuanya berada di awal Ranah Pembukaan Nadi, berjalan menyusuri barisan.

"Mulai malam ini, kalian secara resmi adalah Murid Luar dari Kuil Dewa Perak!" seru seorang Penatua berkumis tipis. "Jangan berbesar hati! Di sekte ini, Murid Luar tidak lebih dari sekadar pelayan yang diizinkan untuk bernapas di gunung yang sama dengan para dewa! Kalian akan bekerja, menambang, dan melayani. Jika kalian ingin naik ke Sekte Dalam dan mempelajari ilmu keabadian sejati, kalian harus membuktikannya dalam Ujian Tahunan!"

Satu per satu, para peserta yang kelelahan dibariskan. Mereka diberikan sebuah plakat kayu murahan yang mengukir nama mereka, sepasang seragam abu-abu kasar, dan sebuah kantong kain kecil yang berisi tiga butir Batu Roh Tingkat Rendah serta satu butir Pil Pengumpul Qi.

Tiga butir Batu Roh Tingkat Rendah sebulan. Di mata Shen Yuan yang cincin ruangnya berisi puluhan ribu Batu Roh Tingkat Menengah, jatah ini benar-benar tidak lebih dari remah roti. Namun bagi para pendekar fana dari latar belakang miskin, itu adalah harta karun yang membuat mata mereka berbinar.

Shen Yuan menerima jatahnya dengan nama samaran "Mo Yuan". Ia mempertahankan auranya di Lapisan Ketujuh Penempaan Raga, terlihat sedikit pucat dan lemah.

"Bocah, pergilah ke Asrama Nomor Empat Belas di kawasan barat," perintah seorang penjaga, menendang pelan kaki Shen Yuan. "Besok pagi sebelum fajar, kau harus melaporkan dirimu ke Tambang Batu Hitam. Gagal hadir, kakimu akan dipatahkan."

Shen Yuan menundukkan kepalanya, tidak mengucapkan sepatah kata pun, dan berjalan dengan langkah terseret menuju asrama yang ditunjuk.

Asrama Nomor Empat Belas adalah sebuah bangunan kayu panjang yang suram dan berbau keringat asam. Di dalamnya, terdapat puluhan ranjang kayu keras yang saling berdempetan. Saat Shen Yuan melangkah masuk, belasan pemuda yang sudah lebih dulu berada di sana sedang duduk berkelompok.

Beberapa dari mereka adalah Murid Luar senior yang telah berada di sekte ini selama bertahun-tahun tanpa bisa menembus Ranah Pembukaan Nadi. Mereka terjebak di Puncak Lapisan Kesembilan, menjadi penguasa kecil yang menindas murid-murid baru.

Begitu Shen Yuan masuk, suara percakapan mendadak berhenti. Sepasang mata setajam elang milik seorang pemuda berbadan besar dan berkepala plontos langsung mengunci sosoknya.

"Daging segar," gumam pria plontos itu, yang dikenal sebagai Ma Teng. Ia memancarkan hawa murni Puncak Lapisan Kesembilan yang menggelegak.

Ma Teng bangkit dari ranjangnya, diikuti oleh tiga antek setianya. Ia berjalan menghalangi jalan Shen Yuan menuju satu-satunya ranjang kosong di sudut ruangan.

"Hei, tikus kecil. Kulihat kau tertatih-tatih di anak tangga tadi," Ma Teng menyeringai merendahkan, melirik seragam abu-abu di tangan Shen Yuan. "Lapisan Ketujuh? Cih. Entah keberuntungan anjing macam apa yang membuatmu bisa merangkak sampai ke batas Murid Luar."

Shen Yuan tetap diam. Ia hanya ingin mencapai ranjangnya, menutup matanya, dan mulai memetakan tata letak sekte ini dengan kesadaran spiritualnya secara diam-diam.

"Tuli atau bisu?" Ma Teng mengulurkan tangannya yang besar dan kasar. "Di Asrama Empat Belas, ada aturannya. Setiap murid baru harus menyerahkan jatah bulan pertama mereka kepada Kakak Senior sebagai uang perlindungan. Serahkan kantong Batu Roh-mu, dan aku akan mengizinkanmu tidur di lantai. Ranjang itu terlalu bagus untuk Lapisan Ketujuh."

Ketiga antek Ma Teng tertawa mengejek, bersiap untuk melihat anak baru ini menangis atau memohon ampun. Di sekte luar yang kejam ini, pemerasan adalah hal yang didukung secara diam-diam oleh para Penatua untuk memicu persaingan.

Shen Yuan perlahan mendongak. Di balik poni rambutnya yang berantakan, sepasang mata gelapnya menatap Ma Teng. Tatapan itu begitu tenang, namun entah mengapa membuat Ma Teng merasa seolah ia baru saja melangkah ke ujung jurang tanpa dasar.

"Uang perlindungan?" suara Shen Yuan terdengar pelan dan kering. Ia mengangkat kantong kain berisi tiga butir Batu Roh tersebut. "Jika kau menginginkannya... patahkan lenganku dan ambil sendiri."

Ruangan asrama seketika sunyi senyap. Beberapa murid baru yang duduk di ranjang lain menahan napas mereka. Lapisan Ketujuh berani menantang Puncak Lapisan Kesembilan?! Itu adalah tindakan bunuh diri!

Ma Teng merasa dipermalukan di depan anak buahnya. Wajahnya memerah karena murka. "Bocah sombong yang tidak tahu arti kematian! Aku akan meremukkan rahangmu!"

Tanpa peringatan, Ma Teng memusatkan kekuatan fisiknya yang mencapai tiga ribu kati dan melontarkan tinjunya lurus ke wajah Shen Yuan. Angin dari pukulan itu bersiul tajam, cukup untuk membuat tengkorak manusia biasa meledak!

Baaam!

Suara benturan keras bergema di dalam asrama. Namun, apa yang terjadi selanjutnya membuat mata semua orang nyaris melompat keluar dari rongganya.

Tinju Ma Teng tidak menghantam wajah Shen Yuan. Di saat sepersekian kedipan mata terakhir, Shen Yuan mengangkat telapak tangan kirinya dengan santai, menangkap tinju raksasa itu seolah menangkap sebuah bola kapas yang dilemparkan anak kecil.

Ma Teng membeku. Tangannya berhenti total di udara. Tidak peduli seberapa keras ia mencoba menarik atau mendorong, telapak tangan Shen Yuan mencengkeramnya seperti catok besi murni.

"K-Kekuatan apa ini?!" Ma Teng tergagap, rasa sakit mulai menjalar di jari-jarinya.

Shen Yuan sama sekali tidak melepaskan hawa murni iblis atau energi Inti Emasnya. Di dalam sarang Kuil Dewa Perak yang dipenuhi ahli Peleburan Jiwa, membocorkan sedikit saja aura aslinya sama dengan mengundang maut. Namun, ia tidak perlu menggunakan ilmu kesaktian untuk menghancurkan semut. Tubuh Emas Gelap-nya yang telah mencapai Penyempurnaan Tanpa Celah cukup untuk meratakan ahli Lautan Qi dengan murni tenaga fisik!

"Kau bilang ingin meremukkan rahangku?" bisik Shen Yuan sedingin es purbakala.

Dengan satu putaran pergelangan tangan yang halus namun penuh daya hancur...

Krek!

"Aaarrrggghhh!"

Jeritan Ma Teng melengking merobek keheningan malam. Tulang lengan kanannya dipelintir hingga patah menjadi beberapa bagian, kulitnya sobek dan tulang putihnya menembus keluar.

Sebelum Ma Teng bisa jatuh ke lantai, Shen Yuan mengayunkan kaki kanannya, mendaratkan tendangan telak ke lutut kiri Ma Teng.

Kraaak! Lutut itu hancur ke arah yang berlawanan. Ma Teng ambruk ke lantai kayu, berguling-guling memegangi lengan dan kakinya yang hancur, air mata dan ingus bercampur di wajahnya yang sebelumnya sangat angkuh.

Ketiga anteknya yang berdiri di belakang mundur dengan wajah sepucat kertas, kaki mereka gemetar hebat. Pemuda Lapisan Ketujuh ini... ia baru saja melumpuhkan ahli Puncak Lapisan Kesembilan dengan dua gerakan murni tanpa hawa murni!

"T-Teknik penempaan tubuh... Dia pasti berlatih ilmu jasmani tingkat tinggi!" bisik salah satu murid senior dengan ngeri. Di dunia persilatan, ada segelintir orang aneh yang tidak mengutamakan hawa murni, melainkan menempa daging mereka hingga sekeras pusaka. Pemuda ini pasti salah satunya!

Shen Yuan melempar pandangannya ke sekeliling ruangan, menatap satu per satu murid senior yang sebelumnya berniat ikut menindasnya.

"Ada lagi yang ingin mengambil jatahku?" tanya Shen Yuan datar.

Semua orang di asrama serentak menggelengkan kepala dengan panik. Beberapa bahkan langsung melompat ke ranjang mereka dan pura-pura tidur.

Shen Yuan berjalan melewati Ma Teng yang masih merintih di lantai, merebahkan tubuhnya di atas ranjang kosong di sudut ruangan, dan memejamkan mata. Pertunjukan kecil ini sudah cukup. Ia kini telah menetapkan posisinya di dasar rantai makanan ini: tidak cukup kuat untuk menarik perhatian Penatua tingkat tinggi, namun terlalu berduri untuk diganggu oleh serangga-serangga rendahan.

Penyamarannya telah menemukan keseimbangan yang sempurna.

Keesokan paginya, sebelum fajar sepenuhnya merekah, lonceng asrama berbunyi nyaring.

Ribuan Murid Luar digiring menuju Tambang Batu Hitam yang terletak di sisi barat lereng gunung. Di sini, hawa murni sangat tipis, digantikan oleh debu tambang yang menyesakkan paru-paru. Tugas mereka adalah menggali bijih logam yang digunakan untuk menempa pedang para Murid Dalam.

Pekerjaan ini meremukkan tulang. Banyak murid baru yang tangan dan bahunya berdarah setelah hanya dua jam mengayunkan beliung besi.

Shen Yuan mengayunkan beliungnya dengan irama yang lambat dan terukur, berpura-pura berkeringat seperti yang lainnya. Namun, kesadaran spiritualnya yang tidak kasat mata sedang merayap jauh ke atas, menembus lapisan bebatuan, menuju puncak Gunung Pilar Langit.

"Bocah, jangan menyebarkan jiwamu terlalu jauh," Leluhur Darah memperingatkan. "Di puncak sana, ada lebih dari sepuluh aura yang telah menyatu dengan hukum alam. Pelindung Peleburan Jiwa. Jika mereka merasakan intipanmu, kau akan hangus sebelum bisa berkedip."

"Aku hanya mencari rute tercepat," balas Shen Yuan dalam batinnya. "Menjadi Murid Luar tidak akan memberiku jalan masuk ke perpustakaan inti atau area para Pelindung. Aku butuh cara untuk naik ke Sekte Dalam secepatnya."

Pada siang hari, saat waktu istirahat singkat diberikan, seorang Penatua Pengawas berjalan melintasi area tambang. Di tangannya terdapat sebuah gulungan pengumuman.

"Dengar, kalian sekumpulan keledai malas!" teriak sang Penatua. "Satu bulan dari sekarang, Kuil Dewa Perak akan mengadakan Sayembara Darah Murid Luar! Sepuluh murid yang menempati peringkat teratas akan diberikan pil pusaka terobosan, dan yang paling penting... mereka akan diangkat menjadi Murid Dalam secara langsung dan diperbolehkan memasuki Menara Pusaka!"

Mendengar pengumuman itu, mata para Murid Luar yang tadinya redup karena kelelahan langsung menyala dengan ambisi yang membara. Menjadi Murid Dalam berarti mereka tidak perlu lagi menjadi kuli tambang, mereka akan menjadi tiran yang sesungguhnya!

Di sudut tambang yang gelap, ujung bibir Shen Yuan perlahan melengkung membentuk senyum iblis.

Beliung besi di tangannya tiba-tiba remuk menjadi serbuk besi akibat cengkeramannya yang menguat tanpa sadar.

"Satu bulan," bisik Shen Yuan sedingin es. "Tampaknya langit benar-benar tahu bagaimana menyusun karpet merah untuk pedangku."

Sayembara Darah Murid Luar. Panggung di mana serigala berbulu domba akan mulai menunjukkan taring aslinya kepada Sembilan Cakrawala. Sang Iblis Penelan Surga akan merobek jalan ke atas melalui genangan darah sekte ini sendiri.

1
black swan
...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!