NovelToon NovelToon
KURUNGAN SANG MAFIA DINGIN

KURUNGAN SANG MAFIA DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Elsa Sefia

Lucifer Azrael — Raja Dunia Bawah berkedok pengusaha. Sadis, dingin, mustahil disentuh. Tuhan pun seolah dia tantang.
Florence Beatrix — gadis panti yang seharusnya mati setelah jadi saksi transaksi gelapnya. Tapi Lucifer melanggar aturan: dia mengurung Florence di pulau pribadinya.
"Selamat datang di kurunganmu, Florence Beatrix. Di sini, aku adalah Tuhan."
Di pulau tanpa jalan keluar, Florence benci sekaligus takut. Tapi perlahan dia lihat retaknya: Lucifer selalu menatap salib di lehernya terlalu lama. Raja Dunia Bawah yang kejam, ternyata hafal ayat Mazmur karena masa lalu yang dia kubur dalam darah.
Ini bukan kisah cinta manis. Ini tentang gadis panti yang berdoa di kurungan mewah, dan mafia yang mulai bertanya apakah neraka miliknya bisa ditukar dengan surga di mata Florence

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elsa Sefia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Demam di Sangkar Emas

Hari ke-16 sejak malam terkutuk itu.

Florence demam. Membara.

Reginald yang pertama menangkap firasat buruk. Saat membawa sarapan yang kembali tak tersentuh, ia mendapati piring kemarin masih utuh, dan sosok di peraduan menggigil hebat meski selimut tebal membungkus hingga dagu. Paras Florence bersemu merah, napasnya tersengal, bibirnya pecah-pecah bagai tanah retak.

“Tuan,” lapor Reginald lewat gagang telepon, suaranya tercekat. “Nona Florence… keadaannya gawat. Sangat gawat. Kita harus memanggil Dokter sekarang.”

Di seberang, hening tiga detik. Lalu suara Lucifer, rendah dan tegang. “Lima menit. Yang paling mahir. Jangan sampai ada wartawan. Jangan sampai ada aparat. Jika dia padam, kalian semua ikut padam.”

Gertak. Selalu gertak. Namun kali ini, di baliknya ada yang retak. Gentar.

---

Lucifer tiba di ambang kamar lima menit kemudian, bersama Dokter pribadinya, seorang perempuan paruh baya bernama Dr. Anya. Ia terpaku di pintu. Tak melangkah masuk. Jemari mengepal di sisi tubuh. Sejak malam itu, ia bersumpah takkan menginjak ruangan ini lagi kecuali Florence yang meminta.

“Dingin,” gumam Dr. Anya usai memeriksa Florence. “Dehidrasi parah. Letih yang akut. Dan…” Tabib itu melirik Lucifer, lalu menunduk. “…dan trauma berat. Raganya menyerah, Tuan Azrael. Dia enggan berjuang.”

Kalimat terakhir itu menghantam Lucifer lebih telak dari bogem mentah. Enggan berjuang. Artinya Florence memilih padam. Memilih padam ketimbang hidup di dalam buinya.

“Selamatkan dia,” titah Lucifer. Tanpa tawar. “Berapa pun taruhannya. Apa pun caranya.”

“Saya perlu selang infus. Penurun panas. Dan… dia perlu dijaga. Dipaksa meneguk. Dipaksa menelan, meski secuil. Jika tidak…”

“Jika tidak apa?” desis Lucifer.

Dr. Anya menelan ludah. “Tiga hari, Tuan. Batasnya.”

Lucifer memejamkan mata. Tiga hari. Semesta memberinya tenggat. Dua purnama ia memburu Florence. Kini ia bisa kehilangannya dalam tiga fajar. Karena tangannya sendiri.

“Lakukan,” ucapnya. “Kau. Bukan aku. Aku menunggu di luar.”

---

Dr. Anya memasang selang. Menyuntikkan penawar demam. Florence merintih lirih, namun kelopaknya tak terbuka. Di antara racau, ia memanggil, “Suster… maria… panas…”

Nama itu. Bukan nama Lucifer. Hati Lucifer, yang ia kira telah jadi abu, terasa ditusuk lagi.

Sehari berlalu. Panasnya surut sedikit, namun Florence masih terombang-ambing antara sadar dan lena. Di malam hari, ia meracau lagi. Kali ini lebih terang.

“Jangan… jangan Sentuh… perih…”

Tubuhnya meringkuk, lengan menutupi kepala, seolah menangkis pukulan yang tak ada.

Lucifer, yang mengintai dari celah pintu yang sengaja dibiarkan terbuka, membatu. Ia tahu racau itu tentang siapa. Tentang apa. Tentang malam itu.

Jemarinya mencengkeram kusen hingga kayunya merintih. Ia ingin masuk. Ingin mengganti kain di kening Florence. Ingin membisikkan bahwa ia takkan menjamah lagi. Sumpah.

Namun ia takut. Takut sentuhannya, walau sehalus sutra, akan membuat Florence menjerit. Takut kehadirannya akan membuat panas itu naik lagi. Takut dirinya adalah bisa.

Maka dia hanya berdiri di sana. Semalaman. Menjaga. Dari jauh. Seperti serigala neraka yang tak diizinkan mendekat ke tuannya sendiri.

---

Hari ketiga. Pagi.

Demamnya anjlok drastis. Florence membuka mata. Rapuh. Hampa. Namun terjaga.

Hal pertama yang ia lihat adalah Lucifer. Lelaki itu tertidur di kursi, di ujung ruangan. Jauh dari peraduan. Kepalanya terkulai, dagunya ditumbuhi janggut tipis. Jasnya kusut. Di jemarinya ada kain kecil, lembap. Kompres.

Florence ingat samar. Di malam hari, saat dingin menggigit, ada tangan yang mengganti kain di dahinya. Sangat waspada. Sangat cepat. Lalu lenyap sebelum ia sempat membuka kelopak. Tangan itu dingin, tapi tak menyakiti.

Lucifer terjaga sebab merasa ditatap. Ia langsung tegak. Maniknya bertemu manik Florence. Untuk pertama kali dalam dua pekan, Florence menatapnya tanpa langsung membuang pandang.

Keheningan. Kaku. Berat.

“Kau… sudah terjaga,” ujar Lucifer. Bodoh. Kalimat paling bodoh. Namun hanya itu yang sanggup lolos.

Florence tak menjawab. Ia hanya menutup mata lagi. Namun tak meringkuk ketakutan seperti biasa. Hanya… letih.

Lucifer bangkit. “Kupanggil tabib. Dan… sup. Kau harus menelan.”

Ia melangkah ke pintu. Ragu. Lalu berhenti. Tak menoleh. Punggungnya tegak, kaku.

“Aku tak masuk lagi jika kau tak sudi,” katanya. Suaranya pelan. Nyaris tak terdengar. “Reginald yang akan menggantikan. Aku… aku menunggu di luar. Jika… jika kau perlu apa-apa, sampaikan padanya.”

Lalu ia keluar. Menutup pintu. Perlahan. Tak ada derak. Tak ada titah.

Di dalam, Florence membuka mata lagi. Menatap pintu yang rapat. Dua pekan lalu, lelaki itu merenggut segalanya darinya dengan paksa. Hari ini, lelaki itu bahkan memohon restu untuk berada di ruang yang sama.

Dinginya… meluruh. Sedikit. Setipis selaput. Tak cukup untuk menghangatkan. Tak cukup untuk mengampuni. Luka itu terlalu dalam. Terlalu kotor. Takkan pernah bisa diampuni sepenuhnya.

Namun… Florence tak lagi gemetar mendengar suara Lucifer. Dan itu, untuk saat ini, adalah satu-satunya perubahan.

Satu jam kemudian, Reginald masuk membawa baki. Sup ayam. Bening. Mengepul. Tanpa daging, hanya kuah dan sayur yang lunak.

Florence menatap sup itu. Lalu menatap Reginald.

“Dia yang perintahkan?” tanyanya. Suara pertama dalam dua pekan. Serak. Nyaris tak terdengar.

Reginald mengangguk. Matanya berkaca. “Tuan Lucifer sendiri yang ke dapur, Nona. Pukul tiga pagi. Beliau bilang… beliau bilang Nenek Darmi di pulau biasa meracik sup ini bila Nona panas.”

Florence membisu. Nenek Darmi. Lucifer ingat. Lucifer bertanya pada Kakek Samin, atau mencuri dengar, atau entahlah. Namun dia ingat.

Jemari yang gemetar mengambil sendok. Ia mengecap kuahnya. Sedikit. Hangat. Asin. Rasanya tak serupa racikan Nenek Darmi. Namun niat di baliknya… membuat kerongkongannya yang kering jadi lebih perih.

Ia tak menghabiskan. Hanya tiga suapan. Lalu meletakkan sendok. Namun tiga suapan itu adalah tiga suapan lebih banyak dari dua pekan terakhir.

Di luar, Lucifer bersandar di dinding. Mendengar laporan Reginald lewat alat di telinga. “Nona menelan tiga suap, Tuan.”

Tiga suap. Lucifer memejamkan mata. Napas yang ia tahan sejak sepekan lalu akhirnya ia lepas. Tak ada kemenangan. Tak ada senyum. Hanya lega. Lega sebab Florence memilih untuk tidak padam. Hari ini.

Es di dalam dirinya retak sedikit. Hanya sedikit. Sebab Florence melunak sedikit. Hanya sedikit.

Dan di antara dua sedikit itu, ada jurang menganga bernama takkan pernah bisa mengampuni. Namun untuk pertama kali, jurang itu tak terasa seperti tamat. Terasa seperti mula dari sesuatu yang entah apa. Sesuatu yang menyakitkan, lambat, dan mungkin sia-sia.

1
Nia Nara
Lanjut thor
balonku adalima
ya ampunn😭😭 kakk cerita mu buat aku gak sabar buat cepet cepet pulang kerja, trus baca.. aaa sehat sehat orang baik💪
Elsa Sefia: Makasih banyak ya kak 😭🫶 Senang banget ceritaku bisa jadi alasan buat buru-buru pulang dan baca. Oh iya, aku udah update lagi kak! Semoga kamu juga selalu sehat dan lancar kerjaannya ya!
total 1 replies
Nia Nara
Lanjut thor.. Ceritanya bagus, unik. Gak sama dari yg biasa.
Nia Nara: Siap Thor, ditunggu. Jangan lama-lama ya 😅
total 2 replies
Elnata
cepat update lagi, udah tidak sabar dengan kelanjutannya 😭
Elsa Sefia: siap kak, di tunggu ya update selanjutnya 😍
total 1 replies
Elnata
kerenn😍
Elnata
merinding 😭
Elnata
🤭🤭
Elnata
ceritanya bagus, semangat terus kak🥳
Elnata
sadis, Lucifer gilaaa😭
Elnata
nyesek😭
Nia Nara
Lanjut thor, ceritanya bagus banget 👍
Elsa Sefia: oke kak. terimakasih ya udah like. 😍
total 1 replies
Nia Nara
Pahit ya, kasian anak yg dididik terlalu keras jadi kejam begini
Nia Nara
Ceritanya bagus thor. Lain dari yg lain 👍
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
hadir thor
Elsa Sefia: Terimakasih 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!