Aku Jadi Villainess? Oh Tidaaaak!
Terseret masuk ke dalam novel dan menjadi Freya Valencia Vane? Bukan jadi pemeran utama wanita yang baik hati, tapi malah jadi Villainess kejam yang nasibnya pasti mati tragis di akhir cerita?
Demi menyelamatkan nyawaku, aku harus berubah total.
Di depan orang, aku jadi wanita paling suci, lembut, dan sopan sedunia.
"Tolong maafkan aku... aku tidak bermaksud begitu."
Tapi di dalam hati?
"Dasar tolol. Kalau bukan karena takut mati, udah gue hancurin muka lo dari tadi. Sabar Freya, sabar... demi nyawa gue."
Rencananya simpel: Jauhi Pangeran Zevian si algojo, lindungi Aria si Female Lead, dan hidup tenang.
Tapi kenapa semuanya berjalan salah?
Kenapa Zevian yang dulu benci aku malah natap aku begitu?
Kenapa Ares si sepupu tampan malah makin mendekat?
Oh Tidaaaak. Aku cuma mau hidup tenang kok.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Calista F., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9
Pagi itu, Aula Tempur Akademi Starfell kembali dipenuhi suara benturan senjata, ledakan mana, dan teriakan para instruktur.
Berbeda dari ujian artefak kemarin yang terasa megah dan menegangkan, hari ini suasananya jauh lebih brutal.
Karena hari ini adalah latihan sinkronisasi artefak pertama.
Dan sekarang, Freya Valencia Vane sedang berdiri membeku di tengah arena latihan sambil memegang Crimson Valkyrie dengan kedua tangan gemetar kecil.
"…Aku pulang aja boleh gak sih?"
"Tidak."
Freya langsung refleks menoleh ke arah pedangnya sendiri.
Ya. Pedangnya bicara lagi.
Crimson Valkyrie bersinar redup di tangannya. Api merah tipis menari di sepanjang bilahnya yang indah.
Dan suara wanita dewasa itu kembali terdengar langsung di kepala Freya.
"Peganganmu salah."
Freya langsung panik dalam hati. 'ASTAGA. DIA MULAI NGOMEL.'
"Kau menggenggamku seperti memegang sapu."
'AKU MEMANG LEBIH SERING PEGANG SAPU PEL DARIPADA PEDANG.'
Tentu saja Freya tidak berani mengatakannya keras-keras.
Di sekeliling arena, para murid lain sedang sibuk berlatih menggunakan artefak masing-masing.
Ada yang mengayunkan tombak petir. Ada yang mencoba sihir es. Ada juga yang gagal mengendalikan mana lalu meledakkan boneka latihan.
Namun entah kenapa… Freya tetap merasa dirinya yang paling menyedihkan di sini.
Karena semua orang minimal terlihat tahu apa yang mereka lakukan.
Sedangkan dirinya? Ia bahkan nyaris menusuk kaki sendiri lima menit lalu.
"Freya?" Suara lembut Aria membuat Freya menoleh cepat.
Gadis berambut cokelat itu berjalan mendekat sambil memeluk busur sucinya, Aurora Hymn. Cahaya keemasan lembut mengelilingi artefaknya seperti sinar matahari hangat.
Dan seperti biasa… Freya langsung kena emotional damage. 'Ya ampun. Kenapa female lead secantik ini pagi-pagi?'
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Aria khawatir.
Freya buru-buru mengangguk. "A-Aman."
Crimson Valkyrie langsung menyela dingin.
"Pembohong."
Freya hampir tersedak napas sendiri.
Aria memiringkan kepala bingung. "Hah?"
"Tidak penting."
Freya buru-buru tersenyum kaku.
Aria menatap Freya beberapa detik sebelum akhirnya tertawa kecil. "Kamu aneh hari ini."
"Baru hari ini?"
"…Sekarang lebih aneh."
Freya langsung memegang dadanya dramatis. "Aria… ternyata kepercayaan di antara kita masih rapuh…"
"A-Aku bukan menghina."
"Tapi kamu bilang aku aneh."
"Karena memang sedikit aneh…"
Freya langsung pura-pura menangis. Dan tentu saja Aria langsung panik.
Sedangkan Crimson Valkyrie malah berkomentar datar. "Kalian berisik."
Freya langsung refleks menurunkan suara. 'DIAM DULU BISA GAK SIH?'
Namun sebelum percakapan mereka lanjut…
DUAAAR.
Ledakan besar terdengar dari sisi arena lain.
Semua orang langsung menoleh. Dan tentu saja… Ares Caelum Blackwood baru saja menembakkan salah satu pistol artefaknya ke target latihan.
Peluru mana hitam keemasan meledak di udara menjadi puluhan kupu-kupu cahaya sebelum menghilang perlahan.
Seluruh murid langsung heboh.
"Gila…"
"Artefak Blackwood memang monster…"
"Kontrol mananya sempurna…"
Ares memutar pistolnya santai sebelum menyadari Freya sedang melihat ke arahnya.
Dan pria itu langsung menyeringai.
"Waduh." Freya langsung punya firasat buruk.
Ares berjalan mendekat sambil memasukkan salah satu pistolnya ke sarung pinggang. "Pagi, Freya."
"…Kenapa kamu mendekat dengan aura masalah begitu?"
"Aku tersinggung."
"Kamu memang masalah."
Ares malah tertawa kecil.
Hari ini ia terlihat lebih santai dibanding biasanya. Lengan seragam akademinya digulung sampai siku, memperlihatkan sarung tangan hitam tipis di tangannya.
Dan sialnya… Pria itu memang terlalu tampan untuk kesehatan mental orang lain.
"Aku dengar hari ini latihan sinkronisasi artefak," katanya santai.
Freya menatapnya datar. "Selamat. Kamu bisa membaca pengumuman."
Ares tertawa lagi.
Sedangkan Aria diam-diam mulai memperhatikan interaksi mereka dengan penasaran. "Kalian benar-benar akrab sekarang ya."
"ENGGAK."
"Sedikit."
Jawaban Freya dan Ares keluar bersamaan lagi.
Ares langsung terlihat makin terhibur.
Freya mulai curiga alam semesta sengaja membencinya. Namun sebelum suasana makin absurd… Suara tongkat menghantam lantai terdengar keras.
TUK.
Profesor Rowan berdiri di tengah arena utama sambil menatap seluruh murid. "Semua berkumpul."
Suasana langsung tenang.
"Karena kemarin kalian sudah membangkitkan artefak masing-masing…" suara profesor tua itu menggema tegas. "Hari ini kita akan memulai sinkronisasi dasar."
Lingkaran sihir besar mulai muncul di lantai arena.
"Artefak bukan alat biasa." Tatapannya tajam. "Mereka hidup bersama jiwa kalian."
Freya langsung berkeringat dingin.
"Beberapa artefak bahkan memiliki kesadaran sendiri."
DOR.
Freya refleks menatap Crimson Valkyrie. Pedangnya langsung berkomentar dingin. "Jangan menatapku seperti orang bodoh."
'YA TUHAN DIA NYINDIR TERUS.'
Untung tidak ada orang lain yang bisa mendengar suara artefaknya.
"Maka jika kalian gagal mengendalikan emosi…" lanjut Profesor Rowan. "Artefak kalian juga akan ikut lepas kendali."
Hening memenuhi aula. Lalu profesor itu menunjuk boneka-boneka tempur di seluruh arena.
"Mulai latihan dasar."
Semua murid langsung berpencar. Dan lima menit kemudian… Freya mulai mempertanyakan arti kehidupan.
CLANG.
Pedangnya nyaris lepas dari tangan. "Keseimbanganmu buruk."
'AKU TAHU.'
"Kakimu juga salah."
'IYA AKU TAHU.'
"Kau bahkan tidak punya otot lengan yang layak."
'WOI PEDANG KOK BODY SHAMING.'
Crimson Valkyrie hening beberapa detik.
Lalu…
"…Apa itu body shaming?"
Freya membeku.
'ASTAGA. AKU NGOMONG KERAS?'
Untungnya tidak terlalu keras.
Namun Aria yang berdiri di dekatnya masih terlihat bingung.
"Freya?"
"A-Aku sedang bicara dengan… diriku sendiri."
Aria terlihat makin bingung.
Sedangkan Ares yang sejak tadi memperhatikan dari jauh mulai tertawa pelan. "Kau benar-benar menarik."
Freya langsung menunjuknya pakai pedang. "Jangan ketawa."
Ares mengangkat kedua tangan santai. "Baik, baik."
Namun sebelum Freya sempat membalas…
CRACK.
Api merah tiba-tiba meledak dari Crimson Valkyrie.
Freya langsung panik.
"EH?"
Ledakan api menyambar salah satu boneka latihan sampai hangus total. Seluruh arena langsung menoleh.
Profesor Rowan menyipitkan mata. "Kontrol mana yang buruk."
Freya langsung meringis malu. Sedangkan Crimson Valkyrie terdengar mendecakkan lidah. "Kau terlalu gugup."
'YA IYALAH. AKU TAKUT MATI.'
"Kalau begitu berhenti takut."
'MANA BISA GITU.'
Namun anehnya… Api di sekitar pedang perlahan mengecil lagi. Seolah artefak itu benar-benar mencoba menenangkan dirinya. Dan itu membuat Freya sedikit terdiam.
'…Kenapa kamu bantu aku?' tanyanya pelan dalam hati.
Hening beberapa detik. Lalu Crimson Valkyrie menjawab pelan. "Karena sekarang kau pemilikku."
DOR.
Freya langsung blank beberapa detik. Dan sebelum ia sempat memikirkan jawabannya…
"Freya Valencia." Suara Profesor Rowan terdengar keras.
Freya langsung menegang.
"Majulah."
"...Hah?"
"Latihan sparing."
'OH TIDAK.'
Seluruh murid langsung heboh.
"Siapa lawannya?"
"Jangan bilang…"
Profesor Rowan menunjuk seseorang di sisi arena lain.
"Zevian Aldric Arkwright."
Hening. Lalu seluruh aula meledak.
"ASTAGA."
"Serius?"
"Putri Vane lawan Yang Mulia?"
Freya sendiri merasa dunianya berhenti berputar yang membuatnya hampir kehilangan nyawa.
Sedangkan Zevian berjalan maju dengan tenang sambil membawa soulblade hitamnya.
Aura dinginnya langsung membuat arena terasa lebih berat.
'AKU MAU PULANG.'
Ares yang berdiri tidak jauh malah terlihat sangat menikmati situasi.
"Wah." Senyumnya melebar. "Ini bakal seru."
'TIDAK ADA YANG SERU.'
Namun tentu saja tidak ada yang peduli pada penderitaan Freya.
Ia akhirnya berjalan masuk arena seperti narapidana menuju eksekusi. Dan semakin dekat ia dengan Zevian… Semakin besar tekanan yang ia rasakan.
Pria itu tinggi. Tampan. Menyeramkan. Dan terlalu cocok jadi male lead overpower.
"Mulai."
Profesor Rowan memberi aba-aba.
Freya langsung refleks mengangkat pedangnya dua tangan. Posisi yang sangat jelek. Crimson Valkyrie langsung protes. "Memalukan."
'AKU UDAH BERUSAHA.'
Zevian memperhatikan Freya beberapa detik. Tatapannya sedikit berubah. Karena gerakan Freya benar-benar kacau.
Tidak seperti seseorang yang sudah belajar pedang sejak kecil. Dan itu aneh. Sangat aneh untuk putri keluarga Vane.
CLANG.
Zevian menyerang ringan. Dan Freya langsung hampir jatuh.
"WOAH..."
Seluruh arena langsung heboh.
"Itu basic strike doang kan?"
"Kenapa Putri Freya hampir jatuh?"
Ares menyipitkan mata sedikit sekarang. Sedangkan Zevian mulai memperhatikan Freya lebih serius. Karena reaksinya tadi bukan pura-pura. Freya benar-benar tidak terbiasa bertarung.
'YA TUHAN PEDANG ITU BERAT.'
"Fokus." Crimson Valkyrie terdengar tajam.
Freya buru-buru berdiri tegak lagi. Namun detik Zevian bergerak sekali lagi… Tubuh Freya refleks panik. Dan mana di dalam tubuhnya langsung meledak liar.
BOOOOOOM.
Api merah besar membubung ke udara. Seluruh arena langsung kacau. Beberapa murid refleks mundur. Panasnya luar biasa. Freya sendiri membelalak panik.
"T-Tunggu..."
Api mulai menyebar liar di sekitar arena. Dan untuk sepersekian detik… Freya benar-benar takut. Takut kehilangan kendali. Takut menyakiti orang lain. Takut menjadi seperti Freya asli.
'Aku gak mau…'
Namun tiba-tiba… Cahaya keemasan lembut menyelimuti arena.
Aria. Gadis itu berdiri di luar arena sambil memegang busurnya erat.
Aurora Hymn bersinar terang. Dan perlahan… Cahaya hangat dari artefaknya mulai menenangkan api Crimson Valkyrie.
Api merah yang tadi liar mulai stabil perlahan. Freya membeku.
Aria menatapnya khawatir. "Freya… tarik napas." Suaranya lembut sekali.
Dan entah kenapa… Freya benar-benar bisa tenang mendengarnya.
Api di sekeliling mereka perlahan menghilang. Suasana aula hening total. Semua orang shock. Karena mana Freya tadi benar-benar besar. Dan Aria berhasil menenangkannya.
Profesor Rowan menyipitkan mata serius. "Resonansi antar artefak…"
Langka sekali.
Sedangkan Ares sekarang terlihat jauh lebih tertarik dibanding sebelumnya.
"Wah…" gumamnya pelan. "Menarik sekali."
Namun di tengah semua itu… Zevian terus menatap Freya.
Tatapan tadi. Ketakutan tadi. Itu bukan wajah seseorang yang haus kekuatan.
Itu wajah seseorang yang takut melukai orang lain. Dan semakin Zevian melihat Freya sekarang… Semakin ia merasa tidak mengenal gadis itu sama sekali.
Sementara itu Freya sendiri masih berdiri diam sambil memegang dadanya. Jantungnya berdetak sangat cepat.
Dan pelan… Crimson Valkyrie berbicara lagi. "Kau takut menjadi monster."
Freya menelan ludah. "...Iya."
Hening beberapa detik. Lalu suara artefak itu terdengar lebih lembut dari sebelumnya. "Kalau begitu… jangan jadi monster."
Freya membeku. Dan untuk pertama kalinya sejak datang ke dunia ini… Ia merasa benar-benar diterima oleh sesuatu.