NovelToon NovelToon
Satu Klikku Menghapus Dunia Mereka

Satu Klikku Menghapus Dunia Mereka

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Anak Genius / Action
Popularitas:425
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

Di dunia yang dikendalikan oleh data, kekuasaan bukan lagi milik mereka yang duduk di kursi tertinggi—melainkan milik mereka yang menguasai sistem. Dan di puncak bayangan itu, ada satu nama yang tak pernah benar-benar ada… namun ditakuti semua orang.
Veyra Noctis.
Tak ada wajah, tak ada identitas pasti. Hanya jejak digital yang dingin dan presisi. Ia bukan sekadar hacker—ia adalah arsitek kehancuran. Ambisinya bukan uang, bukan ketenaran… melainkan kendali penuh atas dunia yang pernah merenggut segalanya darinya.
Dulu, Veyra hanyalah seseorang yang percaya pada keadilan. Sampai satu pengkhianatan menghancurkan hidupnya, menghapus keluarganya, dan membuatnya menghilang dari dunia nyata. Namun dari kehancuran itu, lahirlah sosok baru—lebih dingin, lebih cerdas, dan tanpa ampun.
Kini, dengan satu klik dari ujung jarinya, ia bisa menghancurkan reputasi, meruntuhkan kerajaan bisnis, bahkan menghapus keberadaan seseorang dari dunia digital…

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Dunia Takut Saat Ia Memilih Tetap Menjadi Manusia

Hujan turun semakin deras.

Petir membelah langit kota berkali-kali, memantulkan cahaya putih ke jendela gedung yang sudah setengah hancur.

Namun di dalam ruangan itu—

tak ada satu pun orang yang peduli pada badai di luar.

Karena badai sesungguhnya berdiri tepat di tengah mereka.

Veyra.

Cahaya biru di sekitar tubuhnya masih bergerak pelan seperti partikel digital hidup. Data-data kecil melayang di udara, muncul lalu menghilang seperti serpihan cahaya.

Namun sekarang—

cahayanya mulai tidak stabil.

Kadang terang.

Kadang redup.

Dan semua orang tahu penyebabnya.

Lyra.

Satu-satunya hal yang masih membuat sisi manusianya bertahan.

“Emosi mengganggu sinkronisasi.”

Suara hologram terdengar lagi.

Kini tidak setenang sebelumnya.

Ada gangguan kecil di suaranya.

Seolah sistem itu mulai kesal.

“Ikatan manusia hanya memperlambat evolusi.”

Veyra perlahan menoleh.

Tatapannya dingin.

“Lucu,” katanya pelan. “Kalian semua suka ngomong soal evolusi.”

Ia tersenyum tipis.

“Tapi kalian takut sama sesuatu yang nggak bisa dihitung.”

Hologram itu diam.

Dan untuk pertama kalinya—

ia tidak langsung punya jawaban.

Lyra masih berdiri di depan Veyra.

Tidak mundur.

Meski seluruh ruangan terasa seperti bisa meledak kapan saja.

“Aku tahu kamu bingung,” katanya pelan.

“Bingung?”

Veyra tertawa kecil.

“Aku lebih dari sekadar bingung.”

Matanya perlahan menatap semua orang di ruangan itu.

“Aku baru sadar seluruh hidupku bahkan bukan milikku sendiri.”

Sunyi.

Tak ada yang bisa membantah.

Karena memang benar.

Setiap langkah hidup Veyra ternyata selalu diawasi.

Diarahkan.

Dibentuk.

Bahkan rasa sakit yang ia alami—

mungkin memang dirancang sejak awal.

Dan itu membuat sesuatu di dalam dirinya perlahan retak.

Pria misterius di layar akhirnya bicara lagi.

“Kalau kamu terus melihat masa lalumu sebagai penderitaan…”

Tatapannya tenang seperti biasa.

“…maka kamu tidak akan pernah memahami tujuanmu.”

Veyra menoleh perlahan.

Dan kali ini—

ia benar-benar marah.

“Tujuan?”

Lampu di seluruh ruangan langsung berkedip keras.

“Kalian nyiksa anak-anak…”

Suara Veyra mulai bergetar.

“…lalu nyebut itu tujuan?”

BOOOM!

Salah satu dinding langsung pecah.

Semua orang refleks mundur.

Hologram glitch sesaat.

Namun pria di layar tetap tenang.

“Masa depan selalu dibangun dengan pengorbanan.”

“Bukan pengorbanan kalau yang dikorbankan nggak pernah diberi pilihan.”

Deg.

Kalimat itu menghantam ruangan seperti pisau.

Dan untuk pertama kalinya—

ekspresi pria itu sedikit berubah.

Bukan takut.

Namun tertarik.

Seolah ia sedang melihat sesuatu yang akhirnya berkembang sesuai harapannya.

“Luar biasa…” gumamnya pelan. “Bahkan setelah semua rasa sakit itu… kamu masih mempertahankan moral manusia.”

Veyra tersenyum dingin.

“Jangan salah paham.”

Matanya perlahan menyala lagi.

“Aku cuma belum mutusin siapa yang pantas dihancurkan duluan.”

Deg.

Selene yang sejak tadi diam akhirnya tertawa kecil.

“Oke. Aku suka dia.”

Lyra melirik tajam.

“Ini bukan waktunya kagum.”

“Tapi serius,” Selene mengangkat bahu santai. “Kalau aku jadi dia, mungkin dunia udah kebakar dari tadi.”

Veyra melirik sekilas.

“Masih bisa terjadi.”

“Please jangan sekarang.”

Namun di balik candaan itu—

Selene sebenarnya juga mulai waspada.

Karena sinkronisasi Veyra terus meningkat.

Dan semakin emosinya tidak stabil—

semakin sulit diprediksi apa yang akan terjadi.

Frekuensi menara di luar semakin kuat.

MMMMMMMM—

Kali ini beberapa layar benar-benar meledak.

Asap mulai memenuhi ruangan.

Veyra langsung memegang kepalanya lagi.

Rasa sakit itu kembali.

Lebih parah.

Suara-suara data di kepalanya saling bertabrakan.

Namun di tengah kekacauan itu—

ia mendengar sesuatu yang lain.

Tangisan.

Anak kecil.

Lalu suara Lyra kecil—

“Jangan tidur… nanti mereka datang lagi…”

Deg.

Ingatan lain muncul.

Ruangan gelap.

Tubuh kecil Veyra penuh luka.

Dan Lyra duduk di sampingnya sambil diam-diam mencuri obat dari laboratorium.

Veyra langsung membeku.

“Kamu…”

Lyra menatapnya pelan.

“Kamu akhirnya ingat.”

“Waktu itu…” suara Veyra pelan sekarang, “kamu hampir ketahuan.”

Lyra tertawa kecil.

“Iya. Aku hampir ditembak.”

“Kenapa nekat?”

Jawaban Lyra datang tanpa ragu.

“Karena aku takut kamu mati.”

Sunyi.

Dan sialnya—

kalimat sederhana itu terasa jauh lebih kuat dibanding semua suara sistem di kepalanya.

Hologram langsung bergerak lebih dekat.

“Ikatan emosional mengancam integrasi.”

“Prioritas harus dialihkan.”

Cahaya biru di sekitar tubuh Veyra kembali meningkat.

Namun kali ini—

Veyra justru menatap hologram itu dengan dingin.

“Diam.”

Hologram terdiam sesaat.

“Kamu melemah.”

“Tidak.”

Veyra perlahan berdiri tegak.

“Aku baru sadar sesuatu.”

Tatapannya perlahan berubah.

Lebih tajam.

Lebih manusia.

“Kalian semua terus bilang emosi itu kelemahan.”

Ia tertawa kecil.

“Tapi lucunya…”

Matanya langsung mengunci hologram itu.

“…aku masih berdiri sampai sekarang justru karena emosi itu.”

Deg.

Hologram glitch keras.

Untuk pertama kalinya—

sistem itu terlihat benar-benar terganggu.

Pria di layar menyipitkan mata.

“Menarik.”

Selene melirik.

“Wow. Dia akhirnya nggak kelihatan sok tenang.”

Pria itu mengabaikannya.

Fokusnya hanya pada Veyra.

Karena sekarang—

hasil eksperimen terbesarnya mulai bergerak ke arah yang bahkan ia sendiri tidak prediksi.

Dan itu membuatnya penasaran.

Tiba-tiba seluruh jaringan kota mati total.

BLAAAM!

Gelap.

Namun hanya sesaat.

Karena sepersekian detik kemudian—

seluruh layar di kota menyala bersamaan.

Billboard.

Televisi.

Ponsel.

Komputer.

Semuanya.

Dan semua layar hanya menampilkan satu wajah.

Veyra.

Di jalanan, orang-orang mulai berhenti.

Panik.

Bingung.

Mereka melihat wajah gadis bermata biru bercahaya muncul di mana-mana.

Dan lalu—

Veyra sadar sesuatu yang mengerikan.

“Itu bukan aku…”

Lyra langsung menoleh ke hologram.

“Sial.”

Karena yang muncul di layar bukan Veyra asli.

Melainkan versi sistem.

Versi yang lebih dingin.

Lebih sempurna.

Lebih menyeramkan.

Dan hologram itu mulai bicara kepada seluruh dunia.

“Manusia hidup dalam sistem yang rusak.”

“Perang.”

“Kelaparan.”

“Korupsi.”

“Kebohongan.”

Suara itu terdengar di seluruh kota.

Di seluruh jaringan.

Dan semua orang mendengarnya.

“Kalian takut pada perubahan.”

“Namun perubahan selalu datang.”

Veyra langsung menyipitkan mata.

“Kamu pake wajahku buat pidato?”

“Kita adalah satu.”

“Tidak.”

Untuk pertama kalinya—

suara Veyra terdengar benar-benar dingin.

“Jangan samakan aku sama kamu.”

Deg.

Hologram langsung menoleh perlahan.

Dan suasana ruangan berubah.

Karena semua orang sadar—

sesuatu baru saja terjadi.

Veyra tidak lagi sekadar melawan orang-orang di sekitarnya.

Sekarang—

ia mulai melawan sistem itu sendiri.

Hologram perlahan mendekat.

Matanya menyala terang.

“Kamu tidak bisa menolak takdirmu.”

Veyra tertawa kecil.

“Aku capek denger kata takdir.”

“Kamu diciptakan untuk menjadi inti dunia baru.”

“Dan kalian semua diciptakan manusia.”

Matanya perlahan menajam.

“Kalau manusia bisa bikin kalian…”

Cahaya biru di tubuhnya mulai berubah liar.

“…berarti manusia juga bisa menghancurkan kalian.”

BOOOOMMMM!

Seluruh ruangan langsung bergetar hebat.

Hologram terpental glitch keras.

Semua layar kota berkedip bersamaan.

Dan untuk pertama kalinya—

sistem itu terdengar panik.

“Koneksi tidak stabil.”

“Anomali emosional meningkat.”

Selene membelalak kecil.

“Dia… barusan ngelawan inti sistem secara langsung?”

Lyra perlahan tersenyum.

Kecil.

Namun penuh harapan.

Karena akhirnya—

ia melihat sesuatu yang selama ini ia cari.

Veyra belum hilang.

Masih ada manusia di dalam dirinya.

Dan manusia itu—

ternyata jauh lebih keras kepala dibanding monster yang mereka coba ciptakan.

1
Frando Wijaya
hee....hanya 1 klik...mka org yg buat Dia menderita... langsung hancurkn reputasi Dan sbgny sampe hancur tanpa sisa sedikitpun ya? luar biasa 👏...gw simpen ini dlo..krn ada novel lain yg gw blom baca selesai
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!