Dikhianati oleh tunangannya sendiri demi merampas akar spiritual bawaannya, Lin Tian—sang jenius nomor satu dari Kota Daun Gugur—jatuh menjadi "sampah" yang dilumpuhkan dan dihina oleh klannya sendiri. Selama tiga tahun, ia menelan segala penderitaan dan penindasan dalam diam, bertahan hidup hanya demi mencari kebenaran tentang orang tuanya yang hilang dan membalas dendam pada mereka yang merampas masa depannya.
Namun, roda takdir berputar ketika darahnya tanpa sengaja membangkitkan jiwa Kaisar Alkemis Surgawi yang tertidur di dalam liontin peninggalan ibunya, Mutiara Kekacauan Primordial.
Mendapatkan warisan kuno dan merombak fisiknya menjadi Tubuh Pedang Kekacauan, Lin Tian kembali menapak jalan kultivasi yang kejam. Di dunia di mana hukum rimba berlaku mutlak dan kekuatan adalah satu-satunya kebenaran, Lin Tian harus menggunakan akal, taktik, dan kekuatan barunya untuk membelah segala rintangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Kapal Perang Giok Biru dan Strategi Pembumihangusan
Akar Spiritual Pedang yang melayang di atas telapak tangan Lin Tian memancarkan cahaya putih yang murni dan tajam. Tiga tahun lalu, akar ini adalah fondasi yang membuatnya dijuluki jenius nomor satu di Kota Daun Gugur. Kini, setelah dirawat dan diberi makan oleh sumber daya Sekte Pedang Surgawi melalui tubuh Su Yue, akar itu telah berkembang menjadi lebih padat dan matang.
Lin Tian tidak merasakan nostalgia sentimentil. Di matanya, ini hanyalah sekumpulan energi dengan atribut elemen logam yang sangat tinggi.
Ia memutar Qi abu-abu dari Dantiannya, menelan akar spiritual itu langsung ke dalam pusaran Tubuh Pedang Kekacauan. Proses asimilasi terjadi tanpa perlawanan. Energi Kekacauan meluruhkan identitas asli akar tersebut, mengubahnya menjadi esensi pedang murni yang langsung memperkuat jaringan meridian Lin Tian.
Di dalam Dantiannya, danau Qi cair yang baru saja terbentuk bergejolak hebat. Energi pedang itu memadat di tengah danau, membentuk sebuah siluet kecil—sebuah embrio pedang berukuran satu inci yang memancarkan pendaran abu-abu.
BUM!
Gelombang energi meluap dari tubuh Lin Tian. Kultivasinya melonjak dengan stabil, menembus dinding pembatas.
Tahap Pendirian Yayasan Tingkat 2!
Lin Tian menghela napas panjang, menyingkirkan uap keruh dari paru-parunya. Kekuatan fisiknya kini mampu menghancurkan sebuah bukit kecil hanya dengan satu pukulan mentah. Ia mengalihkan pandangannya ke arah Su Yue yang terkapar tak berdaya di genangan darahnya sendiri, napasnya tersengal di ambang batas kesadaran.
"Bawa dia ke penjara bawah tanah," perintah Lin Tian tanpa menoleh, suaranya menggema ke arah para penjaga klan yang masih bersembunyi di balik pilar. "Beri dia obat penyambung nyawa tingkat rendah. Jangan biarkan dia mati. Aku ingin dia tetap hidup dengan mata terbuka untuk menyaksikan bagaimana sekte yang diagungkannya rata dengan tanah."
Beberapa penjaga elit segera berlari keluar dengan gemetar, menyeret tubuh Su Yue menjauh seperti menyeret bangkai hewan. Tidak ada sedikit pun rasa kasihan di hati mereka; di dunia kultivasi, pemenang adalah raja, dan Lin Tian telah membuktikan dominasinya secara mutlak.
Lin Zhen, sang ayah, berjalan perlahan keluar dari Aula Utama didampingi oleh Tetua Pertama. Wajah pria paruh baya itu masih pucat akibat keterkejutan, namun matanya memancarkan kebanggaan sekaligus kekhawatiran yang mendalam.
"Tian'er..." panggil Lin Zhen. "Kau berhasil membunuh utusan mereka. Tapi secara logis, Sekte Pedang Surgawi memiliki lentera jiwa untuk setiap tetua mereka. Kematian Tetua Lu pasti sudah memicu alarm di aula leluhur sekte saat ini juga. Tetua Besar mereka yang berada di Tahap Jiwa Baru Lahir (Nascent Soul) bisa tiba di sini dalam waktu kurang dari satu hari menggunakan susunan teleportasi kota terdekat."
"Aku tahu, Ayah," jawab Lin Tian rasional. Ia menengadah menatap kapal perang giok raksasa yang melayang statis di udara. Baling-baling spiritual kapal itu masih berputar pelan, menahan posisinya melawan gravitasi. "Jika monster setingkat Jiwa Baru Lahir turun tangan, Formasi Penyembelih Bintang di klan ini hanya akan bertahan maksimal setengah jam sebelum energinya terkuras habis. Benturan kekuatan antara aku dan ahli Jiwa Baru Lahir akan meratakan seluruh Kota Daun Gugur. Ribuan orang mati secara sia-sia, dan klan ini tidak akan tersisa."
"Lalu, apa rencanamu? Melarikan diri?" tanya Tetua Pertama dengan panik.
"Melarikan diri berarti memberikan punggung kita pada pedang musuh. Itu adalah taktik yang bodoh," Lin Tian mendengus pelan. Ia menatap ayahnya dan para tetua dengan pandangan yang mengunci. "Ayah, bawa seluruh anggota inti klan, perbendaharaan rahasia, dan sumber daya penting masuk ke dalam gunung belakang. Tutup pintu batu leluhur dan aktifkan Formasi Penekan di dalam sana. Jangan keluar sampai aku kembali."
"Kau akan menghadapi mereka sendirian?" Lin Zhen mencengkeram lengan putranya.
"Aku tidak akan menghadapi mereka di sini," Lin Tian tersenyum tipis, sebuah lengkungan bibir yang memancarkan aura pembunuh bayaran yang paling kalkulatif. "Logika perang mengatakan, jika kau tidak bisa mempertahankan markasmu, maka jadikan markas musuh sebagai medan pertempuran."
Tanpa membuang waktu lagi untuk menjelaskan, Lin Tian menekuk lututnya, mengompres energi di kakinya, dan melompat ke udara.
Ledakan sonik tercipta saat tubuh Lin Tian melesat ke atas layaknya anak panah yang ditembakkan dari busur raksasa. Ia mendarat dengan suara debuman keras di geladak kapal perang giok biru tersebut.
Begitu kakinya menyentuh geladak kayu giok, formasi pertahanan kapal secara otomatis aktif. Tiga golem logam setinggi tiga meter yang bertindak sebagai penjaga kapal melangkah maju, memancarkan aura puncak Pengumpulan Qi. Di saat yang sama, belasan panah energi terkunci ke arahnya dari menara pengawas kapal.
Lin Tian tidak repot-repot menarik senjatanya. Ia hanya melepaskan aura Pendirian Yayasan Tingkat 2 yang telah diperkuat oleh Embrio Pedang Kekacauan.
Tekanan spiritual aboslut yang memancar dari tubuhnya menghantam ketiga golem itu seperti palu godam tak kasat mata. Inti energi di dada golem-golem tersebut retak karena tidak mampu menahan kepadatan Qi Primordial Lin Tian, membuat mereka ambruk menjadi tumpukan besi rongsokan sebelum sempat mengayunkan pedang besar mereka.
Lin Tian berjalan lurus menembus geladak menuju ruang kendali utama. Pintu baja yang diukir dengan segel darah sekte berdiri menghalanginya.
"Segel identitas," gumam Lin Tian. Secara logika, kapal ini hanya bisa dikemudikan oleh seseorang dengan darah atau token otorisasi dari Tetua Inti Emas Sekte Pedang Surgawi.
Lin Tian mengangkat tangan kanannya. Qi abu-abu pekat menyelimuti telapak tangannya, mengubah sifat energinya menjadi korosif ekstrem. Ia menempelkan telapak tangannya ke pintu baja itu. Suara mendesis yang memekakkan telinga terdengar saat ukiran segel darah itu dipaksa terurai, dihapus paksa oleh hukum Kekacauan yang melampaui aturan elemen biasa.
Klang!
Pintu seberat sepuluh ton itu jatuh ke dalam. Lin Tian melangkah masuk ke ruang kendali yang luas dan diterangi cahaya biru redup. Di tengah ruangan, terdapat sebuah kristal kemudi raksasa yang melayang, dipenuhi sirkuit energi rumit yang terhubung ke seluruh penjuru kapal.
Lin Tian mendekati kristal tersebut dan mengirimkan seutas indra spiritualnya ke dalam. Seketika, cetak biru struktur kapal tergambar jelas di benaknya. Matanya berkilat puas.
"Kapal Kelas Penghancur Udara. Ditenagai oleh tiga ratus Batu Spiritual tingkat menengah sebagai reaktor utama. Formasi pelindung setara Inti Emas, dan... sebuah Meriam Penghancur Bintang di haluan depan."
Lin Tian langsung menyadari mengapa Tetua Lu membawa kapal sebesar ini hanya untuk menghukum sebuah klan kecil. Ini bukanlah sekadar kendaraan; ini adalah senjata pemusnah massal yang sengaja dibawa untuk mengintimidasi seluruh wilayah perbatasan. Meriam di haluan kapal itu dirancang untuk bisa melukai kultivator Tahap Jiwa Baru Lahir jika diisi daya dengan maksimal.
"Bagus. Mereka memberiku senjata yang paling kubutuhkan."
Lin Tian menggigit jarinya, meneteskan darah aslinya ke atas kristal kemudi, lalu memaksa Qi abu-abunya masuk, secara brutal menghapus jejak jiwa Tetua Lu yang telah mati dan menanamkan otoritasnya secara mutlak. Kristal yang tadinya berwarna biru laut kini perlahan berubah warna menjadi abu-abu keperakan, menandakan bahwa kapal ini telah berpindah tangan sepenuhnya.
Lin Tian berjalan ke jendela kemudi raksasa di bagian depan ruangan. Ia menatap daratan yang terbentang di bawahnya, lalu mengalihkan pandangan jauh ke arah barat—ke arah pegunungan tempat Sekte Pedang Surgawi berada.
Mereka menduga Lin Tian akan gemetar ketakutan menunggu kedatangan Tetua Besar mereka. Secara akal sehat, seorang kultivator Pendirian Yayasan akan mencari lubang terdalam untuk bersembunyi.
Namun Lin Tian adalah anomali dari akal sehat.
"Membangun pertahanan memakan terlalu banyak sumber daya. Menyerang adalah efisiensi logis tertinggi," ucap Lin Tian pelan di ruang kendali yang sunyi.
Ia memutar kristal kemudi. Baling-baling raksasa di sisi kapal mengeluarkan suara dengungan rendah yang menggetarkan udara. Kapal giok biru itu berputar perlahan di angkasa, moncongnya kini secara lurus menunjuk ke arah pusat Sekte Pedang Surgawi.
"Kecepatan maksimal," perintah Lin Tian.
BUM!
Aliran energi dari ratusan Batu Spiritual tingkat menengah ditarik secara bersamaan. Gelombang kejut membelah awan di belakang kapal saat monster kayu giok seberat ribuan ton itu melesat membelah langit. Kapal itu melaju dengan kecepatan sepuluh kali lipat kecepatan suara, menghilang dari pandangan Kota Daun Gugur dalam sekejap mata.
Lin Tian menyilangkan lengannya di dada, menatap lautan awan yang terbelah di depannya. Tidak ada emosi kepahlawanan di matanya, hanya kalkulasi dingin tentang pembantaian logis yang akan segera ia eksekusi.