NovelToon NovelToon
TUMBAL PESUGIHAN LANANG SEWU

TUMBAL PESUGIHAN LANANG SEWU

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Iblis / Tumbal / Misteri
Popularitas:825
Nilai: 5
Nama Author: Towang Risawang

Dihimpit hutang dan keputusasaan, Agus, seorang pria penuh ambisi yang gagal, meyakinkan istrinya, Endang, untuk melakukan pesugihan Lanang Sewu, meskipun ritualnya menuntut pengorbanan keintiman yang sakral. Untuk mempertahankan kehormatan istrinya, Agus merencanakan penipuan tingkat tinggi: menyewa Sari, seorang wanita yang memiliki kemiripan fisik dengan Endang, dan menyamarkannya secara spiritual menggunakan sihir. Penipuan ini berhasil. Mereka hidup dalam kemewahan sementara waktu, menikmati hadiah dari Raden Titi Kusumo, entitas pesugihan yang karismatik tapi terluka secara emosional. Namun, kecerdasan spiritual Titi Kusumo perlahan mencium kepalsuan itu. Ketika penyamaran terbongkar, semua kekayaan lenyap, dan Titi Kusumo memulai pembalasan keji, menargetkan tidak hanya nyawa Agus dan Endang, tetapi juga orang-orang tak bersalah di sekitar mereka, memaksa pasangan itu menghadapi kebenaran pahit bahwa penebusan sejati tidak dapat dibeli.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kunjungan Malam

Ia mendekati Endang, mengangkat tangannya, bersiap untuk menusuk. Tetapi, tangannya berhenti di udara, hanya beberapa inci dari kulit Endang yang lembut. Napas Endang tenang di bawah pengaruh obat bius, dan wajahnya tampak polos, rentan.

Rasa jijik yang dingin, lebih tajam dari pisau di tangannya, tiba-tiba melanda Agus, mengalahkan ambisinya sejenak. Ia bukan seorang pembunuh. Ia adalah seorang penipu, seorang manipulator, tetapi bukan seorang yang tega menorehkan luka fisik pada istrinya sendiri—terutama untuk sebuah ritual yang, jika dilakukan tanpa keikhlasan sejati seperti yang dituntut Mbah Jari, pasti akan gagal.

Mbah Jari menuntut keikhlasan. Mengambil darah saat Endang tak sadarkan diri adalah pengkhianatan spiritual yang paling buruk, dan Titi Kusumo, entitas yang haus akan koneksi tulus, pasti akan mencium bau kepalsuan itu.

Agus menarik napas dalam-dalam, gemetar. Ia menjatuhkan pisau itu ke lantai, membuat suara denting kecil yang keras dalam keheningan yang mencekik. Ia harus mencari jalan keluar yang lain. Ia harus menemukan cara untuk memenuhi tuntutan Mbah Jari—atau bahkan lebih baik, menemukan seseorang yang lebih mahir yang bisa mengelabui Titi Kusumo tanpa memerlukan pengorbanan suci Endang.

Ia buru-buru menyembunyikan pisau itu di balik lemari, membersihkan air mawar yang sudah ia siramkan ke cermin, dan memadamkan lilin. Ia harus bergerak cepat sebelum Endang terbangun.

Pukul 01.00 dini hari. Agus mengambil kunci mobilnya dan tas ransel yang kosong. Uuangnya sudah diberikan kepada Mbah Jari, hanya ada sisa uang receh di sakunya. Ia harus menemukan Kuskandar. Kuskandar adalah gerbangnya, satu-satunya orang yang ia kenal yang mampu memahami kerumitan dunia gaib tingkat tinggi ini.

Jalanan kota terasa dingin dan sunyi. Agus mengemudi dengan kecepatan gila menuju markas Kuskandar yang biasa ia gunakan untuk pertemuan rahasia: sebuah warung kopi 24 jam di pinggiran kota yang selalu sepi di jam-jam genting seperti ini.

Kuskandar sudah menunggu. Ia duduk di meja kayu lusuh, menyeruput kopi hitam panas, wajahnya terlihat lelah tetapi matanya memancarkan kewaspadaan.

Agus langsung duduk di depannya, napasnya tersengal.

"Kau terlihat seperti habis dikejar anjing gila," ujar Kuskandar, nadanya datar.

"Aku dikejar iblis, Kuskandar," balas Agus, mencoba mengatur napasnya. "Mbah Jari gila. Dia minta darah Endang. Darah Cakra Suci. Jika aku mengambilnya paksa, dia bilang ritualnya akan gagal. Ilusi akan retak."

Kuskandar meletakkan cangkir kopinya. Ia menatap Agus dengan tatapan mencela.

"Sudah kubilang, jangan main-main. Kau pikir Raden Titi Kusumo itu makhluk gaibbodoh yang hanya melihat fisik? Dia mencari ikatan. Mbah Jari benar. Jika Endang tidak ikhlas, ilusi itu akan menjadi racun bagimu, bukan penyamaran bagi Sari."

Agus mencondongkan tubuhnya. "Itu sebabnya aku di sini. Aku butuh cara lain. Aku butuh dukun yang lebih hebat, Kuskandar. Dukun yang bisa melakukan transfer aura yang sempurna. Yang tidak memerlukan pengorbanan spiritual dari Endang."

"Kau sudah bertemu Mbah Jari, dukun terbaik untuk ilmu Pelet Punggung dan Penarikan Sukma di Jawa Timur. Siapa lagi yang kau harapkan, Agus? Presiden Dukun Indonesia?" Kuskandar menyeringai sinis.

"Harus ada cara," desak Agus. "Uang! Aku akan memberimu semua yang tersisa. Aku akan menjual mobil ini dan memberimu uangnya sebagai komisi. Aku butuh dukun yang bisa melakukan penyamaran astral total. Penyamaran yang menipu Mata Jati."

Kuskandar terdiam. Ia mengaduk kopi di cangkirnya, matanya menyipit.

"Penyamaran yang menipu Mata Jati... itu bukan Pelet Punggung, Gus. Itu ilmu yang jauh lebih gelap. Itu adalah Topeng Sukma Ganda. Ilmu itu sangat langka dan membutuhkan energi yang luar biasa, baik dari Sari maupun dari dukunnya," jelas Kuskandar, suaranya merendah. "Dan biayanya... tujuh puluh juta yang kau berikan pada Mbah Jari itu hanya untuk pemanasan."

"Berapa?" tanya Agus, suaranya tercekat. Ia sudah tidak punya apa-apa lagi.

"Setidaknya seratus juta lagi. Mbah Jari bisa melakukannya, tetapi dia tidak mau mengambil risiko kecuali kau membayar. Dia takut Titi Kusumo akan membalas dendam padanya jika penipuanmu gagal. Dia butuh asuransi yang sangat besar," kata Kuskandar.

Agus memukul meja, frustrasi. "Sialan! Aku tidak punya seratus juta lagi! Aku sudah menjual semua perhiasan Endang! Aku sudah berutang pada rentenir!"

Kuskandar mengangkat bahu. "Kalau begitu, kau hanya punya dua pilihan. Pilihan pertama: Serahkan Endang pada Mbah Jari dan ambil darah suci itu. Pilihan kedua: Kembalikan Sari, putuskan perjanjian, dan siap-siap dicabik-cabik oleh Lanang Sewu."

Agus menggelengkan kepalanya keras-keras. Ia tidak bisa mundur. Kegagalan finansial sudah menghantuinya, dan sekarang kegagalan spiritual akan membunuhnya.

"Aku harus mencari seratus juta itu," desis Agus, matanya liar. "Tapi aku butuh kepastian, Kuskandar. Aku butuh janji bahwa jika aku mendapatkan uang ini, Mbah Jari akan melakukan Topeng Sukma Ganda tanpa menyentuh Endang."

Kuskandar mengeluarkan ponselnya, mengetik pesan singkat. Ia menunggu beberapa saat, lalu senyum puas muncul di wajahnya.

"Mbah Jari bersedia. Tapi ada syarat lain," kata Kuskandar. "Dia tidak hanya butuh uang. Dia butuh jaminan bahwa Sari akan tetap diam dan tidak melarikan diri, karena ritual Topeng Sukma Ganda sangat melelahkan dan membuat korbannya rentan secara mental."

"Aku sudah mengancamnya dengan masa lalunya. Dia tidak akan lari!" bantah Agus.

"Ancaman tidak cukup. Mbah Jari bilang, jika kau ingin dia melakukan ritual tingkat tinggi ini, kau harus menahannya. Kau harus membawanya ke tempat yang benar-benar terisolasi dan mengikatnya secara fisik, setidaknya sampai ritual pertama selesai," Kuskandar menjelaskan, menatap Agus dengan mata dingin. "Dia harus diisolasi total, tanpa kontak dengan dunia luar. Sebuah tempat yang jauh, yang tidak akan pernah terpikirkan oleh siapa pun."

Agus memikirkan vila mewah yang selama ini ia impikan. Tempat itu harus segera ia beli setelah kekayaan itu datang. Tetapi untuk saat ini, ia butuh tempat yang gelap dan tersembunyi.

"Aku tahu tempatnya," kata Agus, ingatannya kembali pada sebuah gudang tua milik ayahnya yang sudah lama ditinggalkan, tersembunyi di balik kebun karet. "Aku akan membawa Sari ke sana. Aku akan mengikatnya."

Kuskandar mengangguk, puas. "Bagus. Sekarang, masalah seratus juta. Kau tidak punya waktu, Agus. Titi Kusumo sudah mencium bau kebohonganmu. Dia akan datang malam ini juga untuk menagih janji Endang."

Agus bangkit, tangannya mengepal. Ia harus mendapatkan uang itu. Ia harus menjual apa pun yang tersisa.

"Aku akan kembali ke rumah. Aku akan mencari jalan keluar," kata Agus, berbalik cepat.

"Agus," panggil Kuskandar.

Agus menoleh.

"Kau harus berhati-hati," bisik Kuskandar. "Titi Kusumo tidak hanya membalas dendam pada pengkhianat. Dia juga suka bermain-main dengan pikiran mereka. Dia suka membuatmu menghancurkan dirimu sendiri secara perlahan."

Agus tidak menjawab. Ia bergegas kembali ke mobil, menyalakan mesin. Ia harus mencari seratus juta dalam waktu kurang dari dua belas jam. Ia harus kembali ke rumah dan memastikan Endang tetap tertidur pulas.

Saat Agus mengemudi menjauh dari warung kopi, ia menyadari ia belum memikirkan satu hal pun: bagaimana ia akan mendapatkan uang itu? Ia sudah menjual segalanya, dan rentenir itu akan mematahkan kakinya jika ia berutang lagi.

Ia tiba di rumah saat subuh mulai menyingsing. Ia masuk perlahan ke kamar. Endang masih tertidur di tempat tidur. Agus mendekatinya, membelai rambutnya, merasakan gelombang rasa bersalah yang singkat.

Ia duduk di tepi tempat tidur, mengambil ponselnya, dan mulai mencari kontak. Ia harus mencari pinjaman yang sangat besar, sangat cepat.

Matanya tertuju pada satu nama, nama yang ia benci: Bapak Tirta, bosnya yang memecatnya. Pria yang bertanggung jawab atas kehancuran finansial awalnya.

Ide gila muncul di benaknya.

"Aku tidak bisa meminjam," bisik Agus pada dirinya sendiri. "Aku harus menjual sesuatu. Sesuatu yang sangat berharga."

Ia menatap Endang yang terlelap. Wajahnya yang damai adalah sumber masalah dan inspirasinya.

Agus menyadari, satu-satunya aset yang tersisa yang sangat berharga dan tidak bisa ia jual di pasar adalah... Endang.

Ia mengambil ponselnya, dan mulai mengetik pesan singkat kepada Bapak Tirta.

Pak, aku punya proposal bisnis yang sangat menguntungkan. Aku akan menjual rahasia yang bisa membuat Bapak menjadi yang terkuat di Jawa.

Agus menghapus pesan itu. Terlalu berisiko.

Ia memikirkan lagi kata-kata Kuskandar: Titi Kusumo suka membuatmu menghancurkan dirimu sendiri.

Agus bangkit, rasa takutnya kini berubah menjadi tekad yang dingin dan gila. Ia harus kembali ke jalan yang paling ia kenal: penipuan dan pengkhianatan.

Ia mengambil kunci mobilnya lagi. Ia harus kembali ke kota.

Tepat saat ia hendak membuka pintu, ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal.

Isi pesan itu hanya satu kalimat, tetapi membuat darah Agus membeku di tulang-tulangnya:

Kau mencari uang, Lanang Sewu punya uang. Tapi kau akan mendapatkan uang dari darah istrimu. Aku akan menunggumu di sebuah gang sempit di belakang pasar ikan, tepat pukul 10 pagi ini.

1
Mega Arum
msh lanjut, wlpn agak aneh sih crtanya...
Mega Arum
pesugihan yg krg bs di pahami beda dg novel2 tntg pesugihan lain
Mega Arum
kasihan Endang.. dilema
Mega Arum
pemakaian bahasa yg perlu berimaginasi thor... baguus
Mega Arum
semoga kedepanya menarik....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!