Sinopsis / Deskripsi
Adella hanyalah seorang perempuan sederhana yang menjalani hidup dengan ritme yang tenang—mungkin terlalu tenang hingga terasa hampa. Kesehariannya berubah ketika ia bertemu dengan sosok pendidik yang karismatik, seseorang yang menawarkan "kehangatan" dan perhatian yang belum pernah Adella rasakan sebelumnya.
Bagi Adella, guru ini adalah pelindung, tempatnya bersandar dari kerasnya dunia. Namun, di balik tutur kata yang lembut dan tatapan yang menenangkan, tersimpan rahasia gelap yang tersusun rapi di balik dinding rumahnya yang sunyi.
Satu per satu kejanggalan mulai muncul. Perhatian yang semula terasa manis perlahan berubah menjadi obsesi yang menyesakkan. Adella segera menyadari bahwa kehangatan yang ia dambakan bukanlah sebuah pelukan, melainkan sebuah jerat. Di dunia yang penuh intrik ini, Adella harus memilih: tetap terbuai dalam kenyamanan yang semu, atau melarikan diri sebelum ia menjadi bagian dari koleksi rahasia sang guru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon who i am?, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34
Jet tempur itu membelah awan stratosfer dengan kecepatan supersonik, meninggalkan Pulau Mati yang kini tenggelam dalam kabut asap dan api. Di dalam kokpit yang sempit dan dipenuhi instrumen digital berwarna biru elektrik, Adella duduk terpaku. Di sampingnya, Lukas tertidur karena kelelahan ekstrem, sementara Viona sibuk dengan tabletnya di kursi belakang, mencoba menembus enkripsi jaringan jet yang mereka tumpangi.
Julian Mahendra, sang pilot sekaligus pria yang baru saja menyelamatkan mereka, duduk di kursi kendali dengan ketenangan yang menjengkelkan. Ia tidak lagi tampak seperti dosen muda yang rapi; jaket penerbangnya penuh noda oli, dan ada luka gores baru di pelipisnya.
"Jangan menatapku seolah aku adalah hantu, Adella," ujar Julian tanpa menoleh. "Aku adalah satu-satunya alasan kenapa paru-parumu masih menghirup oksigen saat ini."
"Kamu seharusnya berada di sel tahanan interpol, Julian," desis Adella. "Bagaimana kamu bisa memiliki jet tempur dengan teknologi stealth tingkat tinggi ini?"
Julian terkekeh, suara yang terdengar hambar di tengah deru mesin. "Baron Adwan memang kaya, tapi dia tidak pernah tahu bahwa aku telah mengalihkan dana 'penelitian' yayasan selama lima tahun terakhir untuk membangun faksi perlawanan ini. Aku menyebutnya 'The Exiles'. Kami adalah orang-orang yang dibuang oleh Arkana setelah mereka mendapatkan apa yang mereka butuhkan."
"Viona, laporkan posisi kita," perintah Adella, mengabaikan retorika Julian.
"Kita sedang melintasi perbatasan udara Myanmar, menuju utara," sahut Viona dengan nada tegang. "Julian benar tentang satu hal: jet ini tidak terdeteksi oleh radar konvensional. Tapi Adella, ada sesuatu yang aneh. Julian tidak mengarahkan kita ke pangkalan militer mana pun. Kita menuju koordinat yang... mustahil. Ketinggiannya lebih dari enam ribu meter di atas permukaan laut."
"Puncak Annapurna, Himalaya," potong Julian. "Itulah lokasi Menara Babel. Arkana tidak membangun markas mereka di kota-kota besar. Mereka membangunnya di tempat di mana hukum fisika bisa mereka manipulasi menggunakan teknologi cuaca buatan."
Adella menatap Lukas yang masih terlelap. "Dan apa peran Lukas dalam semua ini, Julian? Jangan bilang kamu menyelamatkannya hanya karena belas kasihan."
Julian terdiam sejenak. Jemarinya mempermainkan tuas kendali. "Lukas adalah kunci cadangan. Jika Valerius berhasil mengaktifkan 'Kesadaran Kolektif' di Babel, seluruh manusia yang memiliki neural-link akan menjadi satu entitas tanpa kehendak. Hanya Lukas yang memiliki arsitektur saraf yang cukup kuat untuk mengirimkan sinyal interupsi massal. Dia bukan senjata, Adella. Dia adalah saklar darurat kita."
"Aku tidak akan membiarkanmu menggunakan dia sebagai alat lagi!" Adella mengepalkan tangan, pulpen jarum beracunnya sudah siap di saku jaket.
"Lalu apa pilihanmu? Membiarkan Valerius mencuci otak seluruh planet?" Julian menoleh, matanya tajam dan penuh perhitungan. "Kita hampir sampai. Lihat ke luar jendela."
Adella menatap ke luar. Di bawah mereka, pegunungan Himalaya yang megah tampak seperti raksasa putih yang tertidur. Namun, di antara puncak-puncak yang tertutup salju abadi, muncul sebuah struktur yang tidak masuk akal. Sebuah menara hitam ramping yang menjulang menembus awan, dikelilingi oleh badai salju abadi yang bergerak secara melingkar sempurna—sebuah tornado yang dikendalikan oleh mesin.
Inilah Menara Babel. Simbol kesombongan Arkana yang ingin mencapai langit dengan mengorbankan jiwa manusia.
Saat jet mulai memasuki zona turbulensi di sekitar menara, sistem alarm di kokpit mendadak berteriak.
"Peringatan! Penguncian Target Terdeteksi!" suara komputer jet memperingatkan.
"Sial, Valerius mengaktifkan sistem pertahanan cuaca!" Julian menarik tuas kendali dengan keras.
Petir biru menyambar tepat di samping sayap jet. Bukan petir alami, melainkan lucutan energi plasma yang dirancang untuk melumpuhkan sistem kelistrikan pesawat. Jet itu berguncang hebat, melemparkan Viona ke samping dan membuat Lukas terbangun dengan teriakan ketakutan.
"Kak Adella! Bising! Suaranya sangat bising!" Lukas memegangi kepalanya, matanya mulai memancarkan cahaya biru elektrik yang tidak stabil.
"Lukas, fokus padaku!" Adella memeluk anak itu erat. "Jangan dengarkan menara itu!"
"Dia tidak bisa menahannya, Adella!" teriak Viona dari belakang. "Menara itu memancarkan sinyal 'Alpha' yang dipaksa masuk ke otak Lukas. Mereka mencoba meretasnya dari jarak jauh!"
Julian mencoba melakukan manuver barrel roll untuk menghindari sambaran petir berikutnya. "Aku harus mendaratkan pesawat ini secara paksa di lereng bawah! Bersiaplah untuk benturan!"
Jet itu meluncur turun, sayapnya menghantam dinding es pegunungan sebelum akhirnya mendarat darurat di sebuah dataran salju yang tersembunyi di balik tebing tinggi. Suara gesekan logam dengan es menciptakan kebisingan yang memekakkan telinga sebelum akhirnya semuanya menjadi sunyi, hanya menyisakan suara angin kencang yang menderu di luar.
Adella menendang pintu darurat yang macet. Udara dingin yang ekstrem langsung menusuk kulitnya, membuat napasnya seketika berubah menjadi uap. Ia membantu Viona dan Lukas keluar dari bangkai jet yang mulai mengeluarkan asap hitam.
Julian keluar terakhir, membawa sebuah kotak logam berat. "Kita harus bergerak. Sensor panas mereka akan menemukan kita dalam waktu sepuluh menit."
Mereka merayap di antara celah-celah es, menuju sebuah pintu baja raksasa yang tersembunyi di balik dinding gunung. Julian menggunakan kode akses rahasia 'Exiles' miliknya untuk membuka pintu tersebut. Di dalamnya terdapat lorong panjang yang diterangi lampu neon putih yang berkedip-kedip.
"Selamat datang di ruang mesin Babel," ujar Julian.
Namun, saat mereka melangkah lebih jauh ke dalam, Adella berhenti mendadak. Ia melihat ke arah deretan tabung kriogenik yang berjejer di sepanjang dinding lorong. Di dalam salah satu tabung yang paling besar, ia melihat seorang wanita yang sangat familiar.
Wajah wanita itu tampak tenang, seolah sedang tidur dalam cairan biru transparan. Rambutnya yang panjang melayang-layang seperti rumput laut.
"Ibu?" bisik Adella.
"Itu bukan Ibumu yang membesarkanmu, Adella," Julian mendekat, suaranya melembut. "Itu adalah Adella Pertama. Ibu kandung biologis yang gennya diambil untuk menciptakanmu. Dia tidak mati tenggelam dua puluh tahun lalu. Arkana menyimpannya di sini sebagai 'Server Organik' utama."
Adella menyentuh kaca tabung yang dingin. Selama ini ia mengira ibunya hanyalah seorang pelayan yang menjadi korban Baron. Ternyata, keberadaannya sendiri adalah hasil dari pengkhianatan terhadap wanita yang ada di depannya ini.
"Dan alasan kenapa mereka menginginkanmu kembali," lanjut Julian, "adalah karena memori genetiknya mulai membusuk. Mereka butuh otak barumu—otak yang sudah 'belajar' di dunia luar—untuk memperbarui sistem mereka."
"Jadi aku hanyalah sebuah hard drive baru bagi mereka?" tanya Adella dengan amarah yang memuncak.
"Tepat. Dan Lukas adalah modem-nya," Julian membuka kotak logam yang dibawanya, menampakkan sebuah perangkat yang mirip dengan Neural-Link. "Jika kita ingin menghancurkan Babel, kita harus menghubungkan Lukas ke tabung ini. Dia harus mengirimkan virus 'Kebebasan' langsung ke dalam sistem organik ibu kandungmu."
"Tapi itu akan membunuh mereka berdua!" teriak Viona.
"Ini adalah pengorbanan yang diperlukan, Viona!" Julian meninggikan suaranya. "Pilihannya adalah kehilangan mereka, atau kehilangan seluruh kemanusiaan!"
Adella berdiri di antara Julian dan tabung ibunya. Ia menatap Lukas yang tampak sangat kecil di tengah konspirasi raksasa ini. Pikirannya melayang kembali ke naskah horor yang dulu ia tulis untuk Pak Adwan—tentang seorang pahlawan yang harus menghancurkan apa yang paling ia cintai untuk menyelamatkan dunia.
"Tidak," ujar Adella dengan nada yang sangat rendah namun penuh kekuatan. "Aku tidak akan menggunakan naskahmu, Julian. Dan aku tidak akan menggunakan naskah Arkana."
Adella mengeluarkan pulpen jarum beracunnya, tapi kali ini ia tidak mengarahkannya pada Julian. Ia mengarahkannya pada kabel utama yang menghubungkan tabung kriogenik itu ke server pusat menara.
"Adella, jangan! Jika koneksi itu terputus tanpa prosedur, seluruh menara akan meledak!" peringat Julian.
"Bagus," sahut Adella. "Biarkan tempat ini menjadi kuburan bagi semua arsitek gila, termasuk kamu jika kamu tidak membantuku mengeluarkan mereka sekarang juga."
Tiba-tiba, suara tepuk tangan bergema dari ujung lorong yang gelap. Valerius Arkana melangkah maju, dikelilingi oleh pasukan elit bertopeng baja.
"Sebuah pertunjukan emosi yang sangat menyentuh, Subjek 042," ujar Valerius sambil memutar koin peraknya. "Tapi sayang sekali, upacaranya sudah dimulai. Lukas, kemarilah pada ayahmu yang sebenarnya."
Mata Lukas mendadak berubah menjadi biru pekat yang menyala. Anak itu mulai berjalan mendekati Valerius seolah-olah ia sedang ditarik oleh tali yang tak terlihat.
Bab 34 berakhir dengan Adella yang terjepit di antara ancaman Valerius, ambisi Julian, dan kenyataan pahit tentang asal-usulnya. Di tengah udara tipis Himalaya, babak baru perjuangan untuk merebut kembali jiwa manusia baru saja dimulai.