Di usianya yang sudah genap dua puluh tujuh tahun Sandi Atmojo belum sedikitpun memikirkan tentang pernikahan sehingga kedua orang tuanya jadi khawatir putranya tersebut akan memilih hidup Single seumur hidup. Untuk mencegah hal itu sampai terjadi, sang mamah terus memaksanya untuk mencari calon istri, namun jawaban Sandi tetap sama, yaitu belum berniat menikah sebab belum memiliki calon. "Jika kamu tidak sanggup mencari calon istri, biar mama yang akan mencarikan calon istri untuk kamu." Pada akhirnya sandi tak dapat menolak lagi, dan membiarkan mamah mencarikan calon istri untuknya. Akan tetapi, Sandi tak menyangka jika pilihan mamahnya adalah seorang wanita yang berstatus single Mommy.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3.
Setelah hampir satu jam berada di rumah sakit, Sandi pun akhirnya pamit untuk kembali ke hotel. Masih banyak berkas penting yang harus diperiksa olehnya selaku pimpinan baru, termasuk laporan keuangan hotel.
*
Menyadari kedatangan Sandi, Vania gegas menyusul ke ruangan pimpinan untuk mengantarkan laporan keuangan hotel.
"Permisi, tuan. Pak manager sedang ada urusan di luar, dan beliau meminta saya mengantarkan berkas ini ke ruangan anda."
"Letakan saja di meja!."
"Baik, tuan."
Merasa tak berkepentingan lagi di ruangan tersebut, Vania lantas pamit undur diri.
Sepeninggal Vania, Sandi teringat akan perkataan ibunya di rumah sakit tadi tentang sosok yang telah menolong dan mengantarkan ibunya ke rumah sakit. Sebagai anak, Sandi merasa perlu berterima kasih pada orang tersebut. Ia meraih ponselnya dari atas meja kemudian membuka ruang panggilan hingga nampak dilayar ponselnya nomor kontak yang tadi sempat menghubunginya.
"Halo." Begitu panggilan tersambung, terdengar suara wanita dari seberang sana. Belum sempat Sandi bersuara, wanita itu kembali berkata. "Maaf pak, tadi ponsel saya digunakan oleh Ibu Dinda untuk menghubungi nomor kontak bapak. Beliau ingin menyampaikan kondisi beliau yang sedang di rawat di rumah sakit."
"Terima kasih banyak atas pertolongan anda pada mamah saya." Sandi tidak menyangka jika orang baik yang telah menolong dan mengantarkan ibunya ke rumah sakit adalah seorang wanita, hingga Sandi pun tak terlalu banyak bicara. Hanya sekedar ucapan terimakasih atas kebaikan wanita itu terhadap ibunya.
"Sama-sama, pak." Mengingat pekerjaannya masih banyak, Vania pun pamit menyudahi obrolan. Vania memasang foto putrinya sebagai profil di aplikasi hijau miliknya sehingga tak heran jika Sandi tidak dapat mengenalinya.
Setelah panggilan berakhir, Sandi kembali fokus pada pekerjaannya.
Setelah hampir delapan jam berkutat dengan pekerjaannya, akhirnya Vania bersiap untuk pulang. Ia sudah tidak sabar bertemu dengan putrinya, penyemangat hidupnya. Di area parkiran, secara tidak sengaja pandangan Sandi yang saat itu juga tengah berjalan menuju mobilnya, menangkap keberadaan Vania tengah merogoh tasnya, seperti sedang mencari sesuatu. Mungkin kunci mobilnya.
Bukan hanya keberadaan Vania yang terlihat oleh pandangan Sandi, melainkan beberapa pegawai hotel yang sedang menatap kagum pada wanita itu. Ya, sebagai sesama pria tentunya Sandi dapat menebak dari sorot mata para pria itu, tanpa harus mendengarkan ungkapan secara terang-terangan.
Sandi hanya geleng kepala menyaksikan mata para lelaki seperti mau keluar dari rongga nya ketika memandang Vania. Bisa jadi salah satu di antaranya sudah berkeluarga, tapi masih saja jelalatan melihat wanita cantik di luar sana. Sandi jadi muak sendiri melihatnya.
*
"Mamah...." Seorang Bocah perempuan berlari ke arah ibunya yang baru saja pulang usai bekerja hampir seharian.
Vania merentangkan kedua tangannya menyambut kedatangan sang putri.
"Wanginya anak cantiknya mamah." Vania mengendus aroma parfum yang berasal dari tubuh putrinya. Rasa lelah Vania seakan lenyap begitu saja setiap kali putrinya menyambut kepulangannya.
Vania membawa tubuh mungil putrinya ke dalam gendongannya, kemudian berjalan memasuki rumah.
"Apa hari ini Sesil rewel, mbak?." Tanya Vania pada baby sitter Sesil. Ya, demi memenuhi kebutuhan hidup, Vania harus meninggalkan putrinya di bawah pengasuhan baby sitter. Untungnya mbak yang dipekerjakan Vania, merawat dan menjaga putrinya dengan baik hingga Vania tidak perlu terlalu khawatir saat meninggalkan putrinya bersama wanita berusia sekitar tiga puluh lima tahunan tersebut.
"Enggak bu, non Sesil anteng-anteng saja seharian, nggak rewel. Hanya pas mau tidur saja, sedikit drama." Jawab si mbak.
Vania tersenyum.
"Makasih ya mbak, sudah merawat dan menjaga Sesil dengan baik. Kalau tidak ada mbak Atun, entah bagaimana saya harus bekerja." Mbak Atun sudah ikut bersama Vania sejak usia Sesil dua bulan, maka tak heran jika mbak Atun begitu menyayangi bocah perempuan itu.
"Tidak perlu berterima kasih, Bu. Ibu membutuhkan saya dan saya pun membutuhkan ibu sebagai majikan saya. Seharusnya saya yang berterima kasih karena ibu sudah memperlakukan saya layaknya keluarga sendiri."
Vania mengusap punggung wanita yang nasibnya tidak jauh berbeda dengan dirinya tersebut. Mereka sama-sama tidak memiliki keluarga, hanya story nya saja yang sedikit berbeda. Jika mbak Atun kehilangan kedua orang tuanya dikarenakan menghadap sang pencipta, Vania justru dibuang oleh ibu kandungnya sendiri karena dianggap aib dalam keluarga saat ketahuan mengandung diluar nikah. Takdir mempertemukan keduanya, hingga saat ini baik mbak Atun dan Vania selalu saling menguatkan satu sama lain.
"Ibu mau mbak Atun masakin apa buat makan malam?." Sebenarnya Vania hanya meminta mbak Atun fokus menjaga Sesil, tetapi wanita itu kerap kali memasak di saat Sesil sedang tidur atau setelah Vania kembali dari bekerja.
"Malam ini biar aku yang memasak. Lagian, mbak Atun sudah lelah seharian menjaga Sesil." Layaknya kakak beradik, seperti itulah perhatian yang tercurah diantara keduanya.
"Baik, Bu."
Vania pamit ke kamarnya untuk mengganti pakaian, sebelum nantinya turun ke dapur untuk memasak menu makan malam mereka.
Malam harinya.
Di meja makan sudah tersedia ikan goreng, sayur bening, perkedel jagung serta sambel. Menu sederhana yang akan menjadi santapan mereka malam ini. Walaupun hanya menu sederhana, Vania tetap bersyukur karena masih bisa makan. Lagipula diluar sana masih banyak orang-orang yang lebih susah dari dirinya, hanya saja mereka tidak berisik, tetap mensyukuri nikmat Tuhan.
Vania lantas mengajak mbak Atun serta putrinya untuk makan malam bersama.
Jujur, melihat perjuangan Vania selama ini dalam membesarkan putrinya membuat mbak Atun merasa kagum sekaligus kasihan pada majikannya itu. Bagaimana tidak, Vania harus menjadi ibu sekaligus ayah bagi Sesil, dan pastinya itu tidaklah mudah.
Vania menoleh pada mbak Atun saat wanita itu tiba-tiba menyentuh tangannya yang berada diatas meja.
"Ibu masih muda dan juga cantik, apa ibu tidak kepikiran untuk menikah? Hidup ini terlalu keras untuk selamanya dijalani sebagai single mom, Bu."
Vania menanggapi dengan senyuman.
"Sekeras apapun hidup ini, selagi Sesil dan mbak Atun ada bersamaku, aku pasti bisa melaluinya." Vania membalas genggaman tangan mbak Atun.
Setelah makan malam, mengistirahatkan tubuh lelahnya, saat pagi menjelang kembali bekerja. Kurang lebih seperti itulah kehidupan yang dijalani oleh Vania selama hampir empat tahun terakhir, tepatnya setelah ia melahirkan Sesil. Sebagai seorang ibu sekaligus ayah bagi putrinya, Vania tak pernah mengenal lelah dalam mencari rezeki demi sesuap nasi.
*
Baru saja tiba, salah seorang petugas housekeeping hotel nampak melapor pada Vania bahwa ada salah seorang pengunjung hotel merasa keberatan dengan fasilitas serta pelayanan di hotel mereka. Intinya pengunjung tersebut merasa kamar hotel yang disediakan tidak sesuai dengan kamar yang di booking nya sebelumnya. Untuk memastikan, Vania mengunjungi meja resepsionis.
"Maaf tuan, pegawai kami tidak mungkin salah dalam menyiapkan kamar." Setibanya di kamar yang dimaksud, Vania menunjukkan catatan di buku tamu sebagai bukti. Sekalipun dalam hal ini pihak hotel terbukti tidak salah dalam memberikan pelayanan, tetap saja Vania ingin semuanya terselesaikan sebelum pimpinan hotel tiba.
"Tidak mungkin. Kemarin saya sudah booking suit room hotel, lalu kenapa tiba-tiba kamar yang disediakan hanyalah kamar biasa seperti ini. Pasti pegawai resepsionis hotel yang telah melakukan kesalahan." Pria bertubuh gempal tersebut masih saja ngotot dan melempar kesalahan pada pihak hotel.
"Kalau begini, saya ingin pihak hotel memberikan ganti rugi sepuluh kali lipat!. Kalau tidak_."
"Kalau tidak, kenapa?." Tiba-tiba terdengar suara bariton milik seseorang dari belakang tubuh Vania.
bisa gak dia aja yang di pecat 😏
Sandi pasti akan dukung Vania.
lagian apa urusannya sama Atika kalau pun ada kejadian jebak menjebak antara Vania dan Harto.
Atika melabrak seolah dia istri sah Harto 😆😆😆😆