Adelin Azzura tak pernah menyangka hidupnya akan berakhir dalam sebuah pernikahan dengan seorang ustaz bernama Afwan Zaid, setelah masa lalunya ternoda oleh kekerasan seksual dari seorang lelaki asing.
Hidup Adelin yang penuh luka dan drama begitu bertolak belakang dengan cara pandang Afwan yang selalu memegang teguh prinsip Islam, bahwa setiap takdir telah diatur oleh Allah.
Namun Adelin tak pernah benar-benar jujur tentang masa lalunya. Ia memendam trauma itu sendirian.
Sampai akhirnya Afwan mulai dilanda konflik batin ketika Adelin selalu menolak disentuh.
Akankah rumah tangga mereka bertahan?
Ataukah berakhir dengan kalimat cerai yang sering dikaitkan dengan godaan jin dasim?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasatii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lelaki di depan Pintu Rumahku
Air mataku seolah tertahan. Aku sama sekali tak berani menanyakan alasan di balik pemecatan yang dilakukan ustaz Afwan kepadaku. Yang aku tahu, mungkin ini cara Allah dalam menjaga iman kami sebagai dua insan yang belum terikat status pernikahan. Aku menunduk, membiarkan mataku kini berkaca-kaca.
Sejatinya, aku sama sekali tidak takut dengan bagaimana nasibku selepas ini. Aku yakin, masih banyak lowongan pekerjaan di luar sana yang menantiku. Tapi, bagaimana dengan Hamzah? Anak itu, bagaimana hidupnya setelah aku pergi darinya? Setelah ia berada di titik ternyamannya saat bersamaku, mengapa aku harus dipecat?
Aku berjalan cepat menuju kamar. Membiarkan ustaz Afwan mematung di sana. Entah apa yang saat ini ada di pikirannya. Aku hanya bisa melihat satu tatapan aneh di matanya tadi. Yaitu, sendu yang tak kumengerti maknanya.
Di dalam kamar yang sunyi ini, kulepas segala tangis yang kutahan sedari tadi. Dadaku yang sesak tak lagi dapat menampung beban itu. Ingatanku kembali berlabuh pada kedekatanku dengan Hamzah selama satu minggu ini. Kini, semua harus berakhir mulai esok.
Dengan sisa energiku yang terkuras oleh berita yang cukup memberi pilu di hati, aku mengemasi semua barang-barangku malam itu juga. Di saat bersamaan, sebuah langkah kaki menghentikan aksiku. Kemudian, suara lembut dan tenang itu memanggil namaku.
“Adelin? Ada apa, Sayang?” tanya Dokter Deva seraya menatapku heran.
Aku membalas ucapannya dengan senyum getir.
“Dokter, mau berangkat kerja?” tanyaku pada Dokter Deva yang terlihat telah mengenakan pakaian yang rapi, serta jas dokter berwarna putih di tangannya.
“Umi ….” Sebuah suara memanggil Dokter Deva saat kami tengah berbincang.
“Umi, ayo pergi!” ajak Ustaz Afwan yang kini berdiri di ambang pintu kamarku. Mata kami kembali saling tatap sebelum pada akhirnya kami saling mengalihkan pandangan.
“Sebentar. Afwan, ini ada apa? Kenapa Adelin beresin barang-barangnya? Kamu pecat dia?”
Kulihat, Ustaz Afwan seolah tak memedulikan pertanyaan Dokter Deva. Ia memejamkan matanya sesaat. Kemudian satu kata terlontar dari lisannya.
“Maaf, tapi ini keputusanku, Umi.”
“Tapi kenapa ambil keputusan sepihak? Itu nggak baik, Nak. Lagi pula … salah Adelin di mana?” tanya Dokter Deva ia terus saja mendesak ustaz Afwan dengan pertanyaan-pertanyaan.
Ustaz Afwan tak mengeluarkan sepatah kata pun. Tatapannya kini beralih pada sosok Hamzah yang kini berdiri di ambang pintu kamarku dengan mengucek kedua matanya. Ustaz Afwan lantas menggendong Hamzah kemudian beralih menatapku dan Dokter Deva kembali.
“Maaf, apa anti … mencintai anak saya?”
Aku terdiam. Sulit untuk berkata jujur saat ini. Di dalam hatiku, ada sekumpulan jawaban yang sulit untuk kulontarkan. Namun, Dokter Deva tiba-tiba menggenggam tanganku. Satu tatapan serius darinya sekaligus anggukan, membuatku berhenti untuk menyimpan segala kebohongan yang ada di hati.
“I … iya. Saya … mencintai Hamzah. Layaknya anak saya sendiri.” Dokter Deva tersenyum. Ada kebahagiaan yang tak bisa ia samarkan dari wajahnya.
Kulihat Ustaz Afwan kini menoleh kepada Hamzah. Lalu Ustaz Afwan tiba-tiba memanggil nama anaknya.
“Hamzah …” panggilnya lembut pada Hamzah kemudian menurunkan Hamzah dari gendongannya. Ustaz Afwan berjongkok, memposisikan dirinya sejajar dengan Hamzah. Kemudian, ia berbicara kepada Hamzah dengan nada lembut.
“Hamzah. Bagaimana jika Tante Adelin pulang?”
Hamzah lantas menoleh ke arahku. Satu tatapan sendu itu terlukis di wajahnya. Tiba-tiba ia menghampiriku lalu memelukku erat. Aku membalas pelukannya. Mencium keningnya berulang kali kemudian melepasnya dengan senyuman getir.
“Tapi … besok ke sini lagi, kan?” Pecah sudah. Pertanyaannya membuat air mataku tak lagi bisa kubendung. Aku membelai lembut rambutnya, menatap wajahnya yang lugu dan kini tampak kebingungan.
“Tante bisa teleponan sama Hamzah lewat Jaddaty, kok. Jadi, kita nggak akan berpisah, Sayang.”
“Enggak boleh pulang! Abaty! Tante jangan pulang!”
“Hamzah … Tante Adelin bukan mahram Abi. Jadi, ada baiknya Tante Adelin pulang, ya.”
“La! Abaty jahat!” Hamzah berlari entah ke mana.
“Hamzah!” Ustaz Afwan kini berjalan cepat mengejar Hamzah.
Aku berdiri dari dudukku. Seraya menoleh keluar pintu kamar. Kulihat, Hamzah enggan berpelukan dengan ustaz Afwan. Ia kini terlihat marah bahkan mulai menampakkan tangis di wajahnya.
“Hamzah …” panggilku kemudian datang menghampirinya. Ustaz Afwan pun kini memilih mundur membiarkan kami berdua saling berbicara.
“Sayang, Tante akan kembali. Tapi … dengan syarat Abaty sedang tidak di rumah, ya.”
“Ya! Abaty jangan di lumah seling-seling! Di masjid aja!” Ucapan Hamzah membuat dokter Deva seketika tertawa. Aku berusaha menahan tawaku di balik cadar ini.
“Hamzah tahu tidak? Tante dan Abinya Hamzah, bukan mahram. Hamzah mengerti, kan? Apa artinya?”
“Ya udah. Hayya tajauj!” Aku kini berhenti tertawa. Tak mengerti dengan apa yang Hamzah sampaikan.
“Hamzah! La! La!” Ustaz Afwan kini menampilkan senyum di bibirnya. Sesekali ia tertawa melihat tingkah laku Hamzah yang lucu.
“Sini, Nak! Sekarang biarkan tantenya istirahat, ya. Besok, ikut ya antar tantenya.” bujuk ustaz Afwan pada Hamzah seraya membelai lembut rambut Hamzah.
Hamzah mengangguk kemudian memeluk ustaz Afwan erat.
“Yaa Abaaty! Afwan jiddan. Ana dulhaka.” Gelak tawa memenuhi rumah ini. Aku … ikut larut dalam tawa itu. Sebuah tawa perpisahan yang esok tak lagi dapat kutemukan di mana pun. Rumah ini, adalah tempat ternyamanku. Karena di sini, aku merasa hidup sebagai manusia.
Pagi kini telah hadir. Saat aku akan menaruh koperku di atas bagasi mobil, tiba-tiba ustaz Afwan berdiri di sampingku.
“Boleh saya bantu?” tawarnya seraya menundukkan pandangan.
Aku mengangguk, kemudian ikut serta menundukkan pandangan.
***
Aku telah sampai di rumah sederhanaku. Kulihat, ustaz Afwan kembali turun dari mobilnya. Kemudian, menaruh koperku hingga ke depan pintu rumahku. Sementara Dokter Deva, kini memelukku erat. Air matanya jatuh membasahi gamisku. Aku … ikut larut dalam suasana pilu itu.
“Maafkan Umi ya, Sayang. Umi tak bisa mempertahankanmu lebih lama lagi. Tapi, Umi janji akan carikan kamu pekerjaan yang baru.”
Aku membalasnya dengan senyuman. Seraya menyeka air mata yang menetes membasahi cadarnya.
"Nggak apa-apa, Dokter. Aku berterima kasih banget. Karena Dokter dan keluarga di rumah, jiwaku merasa hidup kembali." Dokter Deva tersenyum kepadaku. Seraya kembali memelukku.
Tatapanku kini beralih pada Hamzah yang terlihat sedang terlelap dalam dekapan Dokter Deva. Perasaan ingin memeluknya kembali muncul. Namun, segera kutepis karena jika itu kulakukan, maka tidurnya akan terganggu.
“Sudah saya taruh kopernya di depan pintu rumah anti,” ucap ustaz Afwan seraya menganggukan kepala seraya menampilkan sedikit senyuman di bibirnya.
“Syukron,” ucapku berterima kasih. Kemudian berlalu meninggalkan kendaraan mereka.
Saat kakiku hendak melangkah masuk ke dalam rumah. Tiba-tiba aku mendengar langkah kaki seseorang di belakangku.
Kukira, ustaz Afwan kembali menemuiku dan berubah pikiran. Tapi ternyata …
“Assalammualaikum, Ukhti. Apa kabarmu?”
“Dimas?"
jangan mau!
.
Masih banyak cobaan yang belum kamu cobain,
kamu masih belum merasakan betapa bahagianya saat menang GA, kamu belum merasakan betapa bahagianya CO nol rupiah di tanggal kembar. It's amazing Adelin.🤣
Oke, semoga kamu baca komentarku ini, sebelum lantai dasar gedung itu menerima suara gedebugh mu🔥🔥🔥🔥🔥
Akhirnya penasaran dengan kata Bugh di ujung paragraf, apa itu suara tubuh Adelin yang memilih terjun ke bawah sana? atau apa?