NovelToon NovelToon
Penyesalan Seorang Suami

Penyesalan Seorang Suami

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mengubah Takdir / Cintapertama
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria callista

Penyesalan selalu akan datang di akhir. Seperti yang sekarang aku rasakan. Awal nya setelah istri ku meninggal aku belum benar benar kehilangan nya. Bahkan saat dia meninggal dunia aku masih bisa tertawa dan merasa bahagia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9.

Renata memandang puas ke segala sisi dalam rumahnya sekarang ini.

Karena rumahnya sekarang ini benar benar sudah bersih.

Dia melirik ke arah jam yang terpasang di dinding rumahnya.

Sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 8 pagi, Renata pun memilih untuk duduk sebentar diatas kursi kayu usang yang ada di rumahnya.

Walaupun bagian pinggang terasa sakit, karena kursi kayu itu keras. Tapi karena Renata memang terlalu takut akan amarah suaminya, dan merasa dirinya itu kotor. Akhirnya dia memilih tidak akan duduk lagi di kursi sofa itu.

"Istirahat dulu kali ya, tapi malah tiba tiba akunya kok ngantuk!" Gumam Renata sembari sesekali menguap.

Bukan hanya rasa kantuk yang sekarang ini menyerang dirinya, tapi rasa cepek dan juga lelah benar benar menghampiri Renata.

Karena sejak jam 4 pagi Renata beberes rumah, seperti mencuci baju, mencuci piring, menjemur pakaian, menyetrika baju, merapikan rumah, menyapu dan juga mengepel lantai.

Kegiatan yang memang setiap hari harus dia lakukan.

Sejak pagi, Renata sama sekali belum mengobati luka di kakinya itu. Atau pun memperdulikan kondisi perutnya yang memang sedang sakit dan juga tidak boleh terlalu lama menahan lapar itu.

Saat sedang duduk di kursi kayu, tiba tiba Renata terkejut saat tubuhnya itu terasa akan jatuh ke lantai.

Tadinya dia pikir dengan menutup matanya itu, akan mengurangi rasa lelahnya. Nyatanya bukan sebuah rasa lelah yang menghilang, dia malah tertidur.

Renata pun buru buru bangkit dari duduknya, "aku gak boleh tidur. Apa lebih baik aku masak dulu ya, tapi uang belanja ku bulan ini sudah habis, mas Ivan belum memberikannya untuk bulan besok. Ini hanya ada sisa uang penjualan cincin milik almarhumah ibu," gumam Renata dengan wajah sedih.

Jika teringat, beberapa hari lalu dia terpaksa menjual cincin emas milik mendiang ibunya.

Karena uangnya dibuat ongkos untuk bolak balik pergi ke rumah sakit milik pemerintah. Guna memeriksakan perutnya.

Tidak mungkin Renata menggunakan uang belanja bulanannya, untuk penyakitnya. Karena uang belanja yang sebelumnya saja pas pasan. Apa lagi, uang belanja bulan ini memang di kurangi separuh oleh suaminya.

Renata tampak menghembuskan nafasnya dengan kasar. Dia pun memilih berjalan ke arah luar rumah, karena dia ingin berjemur dibawah sinar matahari di pagi hari.

Kulit putih pucat yang memiliki bercak warna biru di sekujur tangan dan kakinya akhirnya berubah warna menjadi merah, setelah cahaya matahari mengenai kulitnya itu.

"Lagi dede ya Bu Rena," sapa tetangga Rena yang lewat bersama suami dan juga anaknya.

"Iya Bu," jawab Renata.

"Saya perhatikan, ibu Renata beberapa bulan ini kok kelihatan pucat terus jadi tambah kurus banget. Apa sakit atau hamil?" Tetangga rumah komplek milik Renata itu terlihat berbasa basi.

Renata yang bingung, harus bicara apa dengan tetangganya. Hanya menjawab ucapan tetangganya yang bernama Bu Mirna dengan seulas senyum.

"Ayo mah, katanya kita mau cari sarapan ke taman kota," panggil suami Bu Mirna kepada istrinya.

"Iya mas," ucap Mirna pada suaminya, lalu Mirna terlihat kembali memandang ke arah Renata,"kalau begitu saya duluan ya Bu! Permisi." Mirna terlihat pamit pergi pada Renata.

"Iya Bu hati hati," ucap Renata dengan sebuah senyuman yang palsu.

Melihat sepasang suami istri yang terlihat bercengkrama dan jalan jalan bersama dengan bahagia.

Ada rasa iri yang saat ini menghampiri dirinya.

"Tuhan, apakah aku boleh mengeluh dan juga merasa iri pada orang lain. Apa aku seorang hamba yang kurang bersyukur. Di beri sebuah keluarga yang utuh, rejeki yang cukup, suami yang tampan dan juga anak yang sehat dan terlahir dengan sempurna." Gumam Renata sembari terus menatap kemesraan yang di tunjukan oleh tetangganya dan juga suaminya.

Bahkan dari kejauhan, mata Renata menangkap. Saat kaki bu Mirna terkilir, suaminya itu membantu Bu Mirna saat bangun. Bahkan memapahnya dengan wajah penuh cinta dan juga kasih sayang.

Air mata lagi lagi luruh membasahi ke dua pipi Renata, dia malah teringat kala hamil 9 bulan dan akan melahirkan Reyhan. Jangankan membantunya untuk berjalan kaki saat akan masuk ke dalam lobi rumah sakit.

Suaminya itu malah mengatainya lelet seperti siput, bahkan meninggalkannya berjalan sendirian. Dengan ketuban yang sudah pecah. Kala itu saat satpam ingin membantunya berjalan, Ivan malah cemburu malah mengatai satpam itu ingin menggoda dirinya.

"Maafkan aku Tuhan, jika aku memang bukan seorang hamba yang pandai bersyukur, karena mempunyai rasa iri pada kehidupan orang lain." Gumam Renata lagi sembari terus menatap ke arah cahaya matahari.

Renata pun terbatuk, dia menutup mulutnya itu dengan tangannya.

Tapi bukan dahak yang keluar dari dalam bibirnya, melainkan darah.

"Renata kau tidak apa apa," ucap seorang laki laki yang tiba tiba masuk ke dalam pekarangan milik nya.

Laki laki itu dengan lancang memegang ke dua bahu Renata.

Mambuat Renata terkejut dan ke dua bola matanya itu membulat sempurna.

"Marcell, jangan begini. Tolong singkirkan tanganmu itu dari bahuku," ucap Renata dengan wajah yang terlihat takut.

"Tapi nanti kamu jatuh Renata, kenapa bisa mengeluarkan darah seperti ini. Apa kamu tidak makan, ini pasti lambung kamu terluka. Apa kamu tidak meminum obat yang sudah aku berikan?" Wajah Marcell benar benar terlihat khawatir kepada Renata.

Bahkan dengan penuh perhatian, Marcell terlihat membantu mengelap darah yang keluar dari dalam bibir Renata. Dengan sapu tangan miliknya.

"RENATA!" Teriak Ivan dengan nada meninggi. Membuat Renata dan juga Marcell pun menolehkan wajahnya ke arah suara sumber suara yang memanggil nama Renata.

Marcell bingung, dia hanya diam mematung, tapi posisi tangannya masih berada di kedua bahu Renata.

Renata sendiri memilih untuk segera membersihkan bekas darah keluar dari mulut dan terlihat belepotan di sekitaran bibirnya.

Dengan wajah merah padam, Ivan pun berjalan mendekat ke arah istrinya dan juga Marcell yang sedang berdiri mematung di depan rumahnya.

"Ada suami di rumah, pagi pagi bukanya mandi urus anak, malah enak enakan berduaan dengan pria lain. AYO MASUK, anakmu itu di dalam lapar, dia butuh asimu. Dasar istri tidak berguna," bentak Ivan ke arah istrinya itu.

Ivan dengan kasar juga menarik tubuh kurus istrinya itu.

Air mata pun tampak luruh dari kedua pelupuk mata Marcell.

Melihat wanita yang masih di cintainya itu, di perlakukan dengan sangat kasar.

"Maaf mas," ucap Renata dengan nada bergetar sembari mengigit bibir bawahnya.

Guna menahan sakit yang dia rasakan sekarang ini, Renata merasakan kesakitan yang amat dalam, bukan hanya rasa sakit dari kaki maupun perutnya. Tapi juga rasa sakit dari ulu hatinya.

Melihat air mata yang luruh dari ke dua pelupuk matanya. Marcell pun mendekat ke arah Renata dan juga suaminya. Yang sudah berjalan beberapa langkah lebih dulu.

"Dasar wanita gak tau diri, udah jadi istri gak becus. Gak guna, hanya bisa nyusahin saja!" Beberapa kata kata Ivan yang terdengar di telinga Marcell.

Karena Ivan terus mengumpati istrinya itu dengan beberapa kata kata yang terdengar begitu kasar.

"Heh, cukup. Kenapa kau itu kasar sekali pada istri mu itu. Dia itu wanita, apalagi dia itu sedang sakit!" Marcell terlihat menarik bahu Ivan.

"Sialan! Beraninya kau!" Ivan nampak tidak terima, dia malah langsung memukul Marcell.

Membuat pipi Marcell menjadi warna merah biru ungu, tapi Marcell yang memang jago bela diri cepat membalikkan keadaan.

Saat Marcell berhasil meringkus Ivan.

"Kau pergi, atau aku akan meneriaki mu maling. Pergi sekarang! awas kau berani  mengganggu istriku lagi," bentak Ivan.

1
Uthie
Dosa yg akan terus tak berujung itu 🤨😏

Kapan sihh moment pintarnya si Renata sbg wanita 👍😂
Uthie
Dasar suami durjana 😡
Uthie
Biar kena karma yg lebih menyakitkan tuhhhh buat wanita super jahat dan berhati keji macam si Esther itu Thor👍👍👍😡😡😡
Uthie
Gak sabar terus mantau kelanjutan cerita yg penuh nguras emosi ini 👍👍😆
Uthie
dasar laki Lucknut 😡
gimana kalau nanti karma nya dia juga merasakan sakit yg sama kaya istrinya, kanker prostat 😏😆
Uthie
Nahhh lohhhhh.... 🤨
Uthie
Ada udang di balik batu kah itu 😏😏
Uthie
Ini masih POV ke belakang kan ya???
bukan nya menjalani hidup kali ke 2 Renata seperti harapannya dokter Leon?! 😁😁
Uthie
Yaaa ampun.... miris banget dan ikut sakit bacanya Thor 👍😭
Uthie
dasarnya wanita jahat 😡😤
Uthie
hmmmm... lucknut banget emangnya si Ivan😡😤
Uthie
makaya jangan jadi wanita bodoh dan malah menyakiti diri sendiri 😤
Uthie
istrinya terlalu pasrah dan lemah!
Uthie
suami lucknut 😡
Uthie
Duhhhh... terlalu lemah sihhhh tokoh utamanya 😤😤
Uthie
suami lucknut 😡😡😡😡
Uthie
Sukkkkaaa 👍👍
Uthie
Ada baiknya hati melihat kebaikan orang lain....
Uthie
Jangan terlalu percaya orang yg tidak pantas di percayai 👍😡
Uthie
Baru baca aja udah nyesek😭
dasar suami lucknut 😡😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!