Lin Xiaoxi tewas kelaparan, namun jiwanya digantikan oleh Chu Yue, Putri Tabib jenius dari masa kuno. Terbangun di tubuh gadis desa miskin, ia dibekali Ruang Dimensi berisi herbal ajaib untuk mengubah nasibnya.
Di kota, sang penguasa Mo Yan sedang sekarat karena penyakit aneh yang tak tersembuhkan. Takdir mempertemukan mereka di jalanan, di mana satu tusukan jarum Xiaoxi menyelamatkan nyawa sang CEO.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27 二十七
Suasana di aula utama hotel bintang lima itu semakin memanas, namun bukan karena suhu udara, melainkan karena ketegangan yang memancar dari meja utama. Rian Bramantyo kini sudah tidak bisa lagi menjaga martabatnya. Wajahnya yang tampan berubah menjadi kemerahan, dan tangannya terus bergerak gelisah meremas lengan jasnya. Rasa gatal yang ia rasakan bukan lagi sekadar gangguan, tapi seperti ribuan jarum panas yang menari di bawah kulitnya.
"Rian, ada apa denganmu? Jaga sikapmu!" bisik Surya Bramantyo dengan nada tajam, meskipun ia sendiri mulai merasa tidak nyaman dengan perhatian tamu-tamu lain yang mulai tertuju pada anaknya.
Xi'er yang berdiri dengan anggun di samping kursi roda Mo Yan, menyesap jus buahnya dengan tenang. Matanya yang tajam melirik Rian dengan tatapan meremehkan. "Tuan Muda, jika kau terus menggaruk seperti itu, kau akan merusak jas sutramu yang harganya mungkin cukup untuk memberi makan satu desa itu. Sayang sekali, kain mahal tapi pemakainya memiliki darah yang penuh racun emosi."
"Kau... apa yang kau lakukan padaku?!" desis Rian, suaranya parau menahan rasa gatal.
"Aku? Aku hanya seorang asisten medis yang peduli." sahut Xi'er dengan senyum yang tidak sampai ke mata. "Mungkin itu adalah reaksi alami tubuhmu karena terlalu banyak menyimpan niat buruk. Di duniaku, kami menyebutnya Alergi Hati Busuk. Sangat sulit disembuhkan, kecuali kau mau berendam di kotoran kuda selama tujuh hari tujuh malam."
Mo Yan hampir saja menyemburkan minumannya mendengar ucapan Xi'er. Ia tahu gadis itu sedang bersenang-senang, namun ia juga tahu Surya Bramantyo tidak akan tinggal diam.
Benar saja, Surya memberikan isyarat kepada seorang pelayan. Tak lama kemudian, pelayan itu datang membawa sebuah nampan perak berisi dua gelas kristal yang berisi cairan berwarna merah tua pekat, jauh lebih gelap dari anggur merah biasa.
"Mo Yan, lupakan kekacauan kecil ini. Mari kita bersulang untuk kelangsungan bisnis kita. Ini adalah Vintage Syrah langka, dikirim langsung dari perkebunan pribadiku di Prancis. Hanya ada sepuluh botol di dunia." ucap Surya dengan nada yang tiba-tiba melunak, namun matanya berkilat penuh tipu daya.
Mo Yan baru saja akan meraih gelas tersebut ketika ia merasakan tangan Xi'er mendarat di bahunya dengan tekanan yang halus namun tegas.
"Tunggu dulu." ucap Xi'er, suaranya terdengar jernih di tengah kerumunan yang mulai sunyi. "Sebagai asisten medis pribadi Tuan Mo, aku harus memastikan setiap asupan yang masuk ke tubuhnya tidak mengganggu proses pengobatannya. Kau tidak keberatan jika aku memeriksanya sebentar, kan Tuan Surya?"
Surya Bramantyo tertawa hambar. "Nona Lin, ini hanya anggur kelas atas, bukan racun tikus. Apakah kau meragukan keramah-tamahanku?"
"Seorang tabib tidak pernah meragukan atau memercayai. Seorang tabib hanya membuktikan fakta." balas Xi'er tenang. Ia mengambil gelas yang ditujukan untuk Mo Yan.
Xi'er mendekatkan gelas itu ke hidungnya. Ia tidak mencium aroma buah anggur yang segar, melainkan ada aroma samar seperti akar tanaman Jelatang Hitam yang sudah dikeringkan, sebuah tanaman yang di zamannya digunakan untuk melumpuhkan syaraf motorik secara sementara. Jika Mo Yan meminumnya, kakinya yang sedang dalam proses penyembuhan akan mengalami kram hebat atau bahkan kelumpuhan permanen, dan ia akan terlihat sangat menyedihkan di depan para investor.
Tanpa peringatan, Xi'er mencabut sebatang jarum perak panjang yang ia sembunyikan di balik lipatan gaunnya. Para tamu tersentak melihat senjata tajam itu berkilau di bawah lampu kristal. Dengan gerakan cepat dan presisi, Xi'er mencelupkan ujung jarum itu ke dalam cairan merah di gelas.
Satu detik... dua detik...
Terdengar helaan napas kaget dari kerumunan. Ujung jarum perak yang tadinya putih berkilau, seketika berubah warna menjadi hitam pekat, seolah-olah baru saja dicelupkan ke dalam tinta cumi-cumi.
Xi'er mengangkat jarum itu tinggi-tinggi, menunjukkannya tepat di depan wajah Surya Bramantyo yang kini berubah menjadi sepucat kain kafan.
"Anggur yang luar biasa Tuan Surya." ucap Xi'er dengan nada yang sangat dingin hingga membuat orang di sekitarnya merinding. "Aku tidak tahu bahwa di Prancis, mereka mencampurkan ekstrak Akar Pelumpuh Syaraf ke dalam anggur mahal mereka. Apakah ini resep rahasia keluarga Bramantyo untuk menjamu tamu-tamu istimewa?"
Aula itu seketika menjadi hening total. Para investor dan kolega bisnis yang tadi mengelilingi Surya mulai mundur selangkah demi selangkah, menatap Surya dengan pandangan curiga dan jijik.
Mo Yan menatap gelas itu, lalu menatap Surya dengan kemarahan yang tertahan. "Surya, kau benar-benar tidak pernah berubah. Kau masih menggunakan cara-cara pengecut yang sama seperti lima tahun lalu."
Surya tergagap, keringat dingin mulai membasahi dahinya. "I-ini pasti kesalahan! Pelayan itu... pelayan itu pasti salah mengambil botol!"
Xi'er meletakkan kembali gelas itu ke meja dengan bunyi denting yang keras. "Jangan salahkan pelayan Tuan Surya. Sebaiknya kau khawatirkan dirimu sendiri. Dari warna matamu yang menguning dan denyut nadi di pelipismu yang tidak beraturan, aku bisa melihat bahwa hatimu sudah rusak parah. Bukan karena anggur, tapi karena racun yang kau buat sendiri selama bertahun-tahun. Jika kau tidak segera mencari pengobatan yang benar, aku ragu kau akan bisa merayakan ulang tahun perusahaanmu yang ke-51."
Surya terbelalak. Rahasia tentang penyakit liver kronis yang ia sembunyikan rapat-rapat dari dewan direksi kini terbongkar begitu saja oleh seorang gadis muda di tengah pesta. Ia merasa seluruh dunianya runtuh dalam satu malam.
Di saat suasana sedang tegang-tegangnya, musik dansa yang lembut mulai mengalun. Mo Yan, yang tidak ingin merusak malamnya lebih jauh karena orang seperti Surya, menoleh ke arah Xi'er.
"Xi'er, abaikan serangga ini. Maukah kau menemaniku berdansa?" tanya Mo Yan sambil mengulurkan tangannya.
Xi'er terpaku. "Dansa? Tuan kaku, kau sedang duduk di kursi roda, dan aku memakai sepatu kayu yang menyiksa ini. Bagaimana kita bisa melakukan gerakan berputar-putar seperti gasing itu?"
"Ikuti saja aku" bisik Mo Yan.
Mo Yan menarik Xi'er ke tengah lantai dansa. Orang-orang memberikan jalan dengan penuh rasa hormat. Mo Yan mulai memutar kursi rodanya dengan gerakan yang sangat halus dan terampil, sementara Xi'er mengikuti di sampingnya, tangannya bertumpu pada bahu Mo Yan. Gerakan mereka tidak seperti dansa biasa, itu lebih seperti sebuah pertunjukan seni yang penuh harmoni.
Gaun biru safir Xi'er berayun indah saat ia berputar mengelilingi kursi roda Mo Yan. Meskipun kakinya pegal, ia tidak bisa menahan senyum saat melihat mata Mo Yan yang hanya tertuju padanya. Di tengah lantai dansa itu, mereka bukan lagi seorang CEO lumpuh dan seorang tabib transmigrasi, mereka adalah dua jiwa yang sedang merayakan kemenangan mereka.
"Kau benar-benar rubah kecil yang berbahaya Xi'er," bisik Mo Yan di tengah alunan musik. "Kau menghancurkan reputasi Surya tanpa mengeluarkan satu kata kasar pun."
"Aku hanya menunjukkan kebenaran Tuan kaku." balas Xi'er, kepalanya bersandar sejenak di bahu Mo Yan. "Dan ingat, ini baru permulaan. Aku masih punya botol Cairan Amis di sakuku jika ada yang berani mendekat lagi."
Mo Yan tertawa, sebuah tawa kemenangan yang tulus. Di bawah kilauan lampu kristal dan tatapan iri para tamu, Mo Yan menyadari bahwa keputusan membawa Xi'er ke pesta ini adalah hal terbaik yang pernah ia lakukan. Malam itu, bukan keluarga Bramantyo yang menjadi pusat perhatian, melainkan sang Tabib Agung yang berhasil menaklukkan sarang naga dengan sebatang jarum perak.
Makasih double up nya othor tayaaaangg/Kiss/