Dunia malam mengenal Faris Arjuna sebagai Panglima Terminal, namun semesta mengenalnya sebagai pewaris tahta yang hilang.
Di bawah bimbingan sang kakak, Arjuna Hidayat—Sang Paku Bumi Sidoarjo yang sakti mandraguna—Faris harus menanggalkan jaket kulitnya untuk mengenakan beskap kehormatan. Namun, kejutan terbesar muncul dari sosok Simbok (Nyai Gayatri Sekar Arum). Di balik kesederhanaannya, beliau adalah pemegang restu darah Raja Majapahit yang menguasai istana gaib dan sepuluh dayang piningit.
Kini, paseduluran dua Arjuna ini bukan lagi sekadar soal urusan pesantren, melainkan menjaga amanah leluhur Nusantara. Saat kegelapan masa lalu mulai mengusik kedaton mereka, Faris harus membuktikan bahwa seorang berandal pun bisa memiliki wibawa seorang Raja.
Doa Simbok adalah jimatnya, bimbingan Kangmas adalah kompasnya, dan Keris Kyai Jalak Suro adalah takdirnya. Siapkan diri, karena kasekten Majapahit telah bangkit di tanah Sidoarjo!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Goro-Goro Nusantara Sabda Pamungkas Eyang Semar
Malam di Alun-alun Sidoarjo mendadak berubah menjadi sunyi yang mencekam. Angin yang tadinya berhembus kencang, tiba-tiba berhenti total, seolah alam sedang menahan napas. Di atas panggung sederhana yang didirikan kilat, Faris Arjuna duduk bersila di depan kelir. Namun, ada yang aneh. Tubuh Faris mendadak terlihat membengkak secara batiniah, auranya menyelimuti seluruh panggung dengan cahaya kuning keemasan yang redup namun sangat kuat.
Arjuna Hidayat yang duduk di sampingnya langsung merasakan getaran hebat. Ia tahu, raga adiknya sudah bukan lagi digerakkan oleh pikiran manusia biasa. Sebuah kekuatan purba, pamong agung tanah Jawa, telah manjing (merasuk) ke dalam raga Satrio Piningit itu.
Faris Arjuna mendongak. Matanya tertutup, namun dari sudut matanya mengalir air mata bening. Ia mulai melantunkan Tembang Suluk Macapat dengan suara yang berat, berwibawa, sekaligus menyimpan kesedihan ribuan tahun—suara khas Eyang Semar:
"Duh Gusti Kang Moho Suci...
Nyuwun ngapuro dumateng sedoyo duso...
Nusantara wis rusak tatanane...
Anak putu lali marang darmane..."
(Duh Tuhan Yang Maha Suci... Mohon ampun atas segala dosa... Nusantara sudah rusak tatanannya... Anak cucu lupa pada kewajibannya...)
Taks! Taks! Taks!
Faris memukul kotak wayang dengan irama yang membuat jantung ribuan penonton yang hadir berdegup kencang. Ia mulai tertawa, tawa khas Eyang Semar yang membuat bulu kuduk berdiri, sebuah tawa yang berakhir dengan isak tangis yang memilukan.
"Heuheuheu... Rungokno, Le! Rungokno suarane bumimu sing lagi nangis!" teriak Faris (Eyang Semar) dengan suara yang menggelegar menembus langit malam Nusantara.
"Wis limang atus tahun aku nunggu momen iki. Aku nyawang kowe kabeh mung rebutan kursi, rebutan dunya sing ora digowo mati! Kowe pinter nanging minteri, kowe sugih nanging medhit marang sedulur dhewe. Nusantara iki dudu duwekmu, Nusantara iki titipan! Nanging opo sing kok lakoni? Kowe malah dadi babu ing tanahmu dhewe amarga srakah!"
Penonton mulai meledak dalam tangis tobat. Mereka teringat akan Ramalan Jayabaya yang selama ini hanya dianggap dongeng. Faris Arjuna menggerakkan wayang Gunungan dengan saktinya, seolah-olah sedang menyapu kotoran batin dari seluruh penjuru negeri. Ia menjelaskan bahwa dahulu, Kanjeng Sunan Kalijaga menggunakan wayang ini untuk menyebarkan agama yang sejuk, merangkul bukan memukul.
"Wayang iki dudu syirik! Wayang iki dadi pangiloning urip. Kanjeng Sunan mbiyen dakwah nganggo tuntunan, dudu nganggo cacian! Saiki deloken... kowe malah tukaran mergo bedo panemu, kafir-mengkafirke sedulurmu dhewe amarga rumangsa paling bener!"
Suasana semakin magis saat wangi bunga kenanga dan kayu cendana yang sangat harum menyebar luas. Cahaya putih terang benderang keluar dari ubun-ubun Faris, melesat ke langit dan meledak menjadi ribuan partikel cahaya yang jatuh seperti hujan di seluruh Nusantara. Kabut hitam kiriman Ki Ageng Blorong yang mencoba mengacaukan acara langsung sirna tak bersisa.
Arjuna Hidayat segera memegangi tubuh Faris yang mulai gemetar hebat karena tidak kuat menahan energi Eyang Semar yang begitu raksasa. "Eyang... sampun cekap, Eyang... Kasihani raga cucu-Mu ini," pinta Arjuna Hidayat dengan suara lirih sambil menangis haru.
Perlahan, tawa dan tangis itu mereda. Faris Arjuna terkulai lemas ke pelukan kakaknya. Wajahnya pucat namun memancarkan ketenangan yang luar biasa. Eyang Semar telah kembali ke alam sucinya, namun pesannya telah terpatri abadi di dalam jiwa rakyat yang hadir malam itu.
Eyang Buyut Wijaya berdiri dari tempat duduknya, memberikan penghormatan tertinggi kepada Faris. "Cucuku... kowe wis bener-bener dadi wadah cahyo Nusantara. Saiki, ayo kita rampungake angkara murka iki!"
Malam itu, Alun-alun Sidoarjo menjadi saksi bisu, bahwa kebangkitan bangsa bukan dimulai dari senjata baja, melainkan dari air mata tobat dan kembalinya nurani yang telah lama mati.
Setelah titah Eyang Buyut Wijaya menggema, suasana Alun-alun tidak lantas menjadi bising. Kesunyian yang ada kini bukan lagi mencekam, melainkan sunyi yang suci. Faris Arjuna perlahan mengangkat wajahnya, meski nafasnya masih berat, sorot matanya kini memancarkan kewibawaan yang jauh melampaui usianya. Ia melepaskan pegangannya pada Arjuna Hidayat, lalu berdiri tegak menghadap ribuan rakyat yang masih terpaku.
"Saudara-saudaraku semua... Malam ini bukan tentang kekuatanku, bukan pula tentang kehebatanku."
(Sedulur-sedulurku kabeh... Bengi iki dudu babagan kasektenku, dudu babagan kakuwatanku.)
"Malam ini adalah tentang kalian yang telah berani membuka pintu hati untuk kebenaran."
(Bengi iki babagan kowe kabeh sing wis wani mbukak lawang ati kanggo bebener.)
Faris melangkah ke pinggir panggung, menatap langit Sidoarjo yang kini bersih tanpa kabut hitam. Ia tahu, kemenangan batin malam ini adalah pukulan telak bagi Ki Ageng Blorong. Setiap tetes air mata tobat yang tumpah ke tanah Nusantara malam ini telah menjadi racun yang menghancurkan pondasi istana kegelapan musuh.
"Ingatlah, musuh yang paling nyata bukanlah ular naga atau sihir hitam, melainkan rasa benci dan kesombongan yang kita pelihara sendiri."
(Elingo, mungsuh sing paling nyata iku dudu naga ula utawa sihir ireng, nanging rasa sengit lan kumenthung sing kita umathi dhewe.)
"Nusantara tidak butuh ribuan keris sakti, Nusantara hanya butuh hati yang bersatu dalam kasih sayang."
(Nusantara ora butuh ewonan keris sekti, Nusantara mung butuh ati sing dadi siji ing jero katresnan.)
Arjuna Hidayat mendekat, menyampirkan kembali kain jarik yang sempat melorot dari pundak Faris. Di bawah cahaya bulan yang mendadak muncul dari balik awan, kedua bersaudara itu tampak seperti sosok ksatria kembar yang turun dari kayangan untuk menyelamatkan peradaban yang hampir runtuh.
"Mari kita pulang dengan jiwa yang baru. Simpan cahaya ini di dalam dada kalian masing-masing."
(Ayo kita mulih kanthi jiwa sing anyar. Simpen cahyo iki ing jero dodo kalian dewe-dewe.)
"Mulai besok, biarlah perbuatanmu yang menjadi dakwahmu, biarlah kejujuranmu yang menjadi senjatamu."
(Wiwit sesuk, ben perbuatanmu sing dadi dakwahmu, ben kejujuranmu sing dadi senjatamu.)
Eyang Buyut Wijaya mengamati dari kejauhan dengan senyum tipis yang penuh misteri. Beliau tahu bahwa ini baru permulaan. Perang yang sesungguhnya akan segera tiba, namun malam ini, ia telah melihat bibit kedaulatan Nusantara telah bersemi kembali di tangan Faris Arjuna.
Gamelan pun perlahan berhenti ditabuh. Jono dan Brewok hanya bisa terdiam, mereka merasa malam ini mereka tidak sedang mengiringi pertunjukan wayang, melainkan sedang mengiringi lahirnya kembali sebuah bangsa. Langit timur mulai menampakkan semu merah, menandakan bahwa fajar baru bagi Nusantara segera tiba.
Malam itu, Alun-alun Sidoarjo bukan lagi sekadar tempat berkumpul, melainkan telah menjadi altar suci di mana rakyat Nusantara kembali menemukan jati dirinya yang sejati.