menceritakan dua orang mantan kekasih Shinta dan Andika. yang memutuskan untuk berpisah karena perbedaan pandangan tentang masa depan Shinta yang ingin hubungan yang serius ke pelaminan dan Andika yang ingin menata karir dan memastikan finansial mencukupi. namun keduanya tidak menemukan titik tengah dari masalah itu. setahun kemudian mereka di pertemukan di perusahaan sebagai karyawan devisi pemasaran. keduanya yang awalnya tidak ingin masa lalu terungkap dan saling menjauh malah tanpa sadar Melaku kebiasaan mereka saat pacaran. dari Andika yang memperlihatkan Shinta saat kesulitan dan Shinta yang memberikan tempat bersandar saat Andika kelelahan namun itu malah membuat mereka kesal dan membuat perjanjian siapa pun yang masih melakukan kebiasaan mereka saat pacaran di anggap orang yang ingin balikan. namun kenyataannya keduanya malah terus melanggar perjanjian mereka tanpa peduli apa yang salah dari kebiasaan lama mereka saat pacaran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 12
Pagi itu divisi marketing masih sibuk dengan persiapan peluncuran produk baru. Meja-meja penuh dengan contoh desain kemasan, catatan revisi, dan beberapa gelas kopi yang mulai dingin karena terlalu lama dibiarkan. Namun sesibuk apa pun mereka, suasana kantor tetap terasa santai. Beberapa pegawai masih sempat bercanda sambil mencari ide kreatif untuk konsep iklan terbaru perusahaan mereka. Dunia marketing memang aneh. Orang-orang bisa terlihat seperti sedang bermain, padahal sebenarnya otaknya dipaksa bekerja tanpa ampun demi membuat orang lain membeli keripik sambil menangis terharu karena iklannya menyentuh hati.
Rara berdiri di depan papan tulis kecil sambil memegang spidol. Wajahnya terlihat serius seperti sutradara film terkenal yang sedang menyiapkan adegan penting.
“Aku sudah dapat konsep iklannya,” ucap Rara penuh percaya diri.
Beberapa pegawai langsung menoleh penasaran. Andika yang duduk santai sambil memutar pulpen di jarinya mengangkat sebelah alis.
“Konsep apa lagi?” tanyanya.
Rara tersenyum lebar.
“Tema mantan yang balikan.”
Ruangan langsung sedikit ramai. Ada yang tertawa kecil, ada juga yang mulai memberikan komentar. Tema seperti itu memang cukup menarik untuk iklan makanan ringan. Dramatis, menyentuh, dan cukup dekat dengan kehidupan banyak orang. Manusia memang suka nostalgia. Kadang bukan karena masih cinta, tapi karena tidak rela sudah buang waktu bertahun-tahun untuk orang yang akhirnya menikah dengan orang lain. Tragis dan efisien sekaligus.
Rara kemudian menunjuk Shinta dan Andika secara bergantian.
“Kalian berdua yang jadi contoh dialognya.”
Shinta yang sedang mengetik langsung berhenti. Ia perlahan menoleh ke arah Rara dengan tatapan tidak percaya.
“Kenapa harus aku?” tanyanya datar.
“Karena kalian berdua paling cocok.”
“Tidak cocok.”
“Cocok.”
“Tidak.”
“Cocok.”
Andika malah tertawa kecil melihat perdebatan itu.
“Aku sih tidak masalah,” katanya santai.
Shinta langsung menatap tajam ke arah Andika.
“Tentu saja kamu tidak masalah.”
“Memangnya kenapa?”
“Aku tidak suka bahas mantan.”
Rara langsung mendekat sambil membawa kursi.
“Shin, ini cuma simulasi dialog.”
“Kamu saja sama mantanmu.”
Rara terdiam beberapa detik lalu berkata dengan santai, “Aku lupa rasanya punya mantan.”
Shinta langsung menyahut cepat.
“Aku juga lupa.”
Rara menatap langit-langit sebentar sebelum berkata pelan, “Mantanku mati.”
Suasana langsung hening selama beberapa detik.
Shinta yang sudah membuka mulut untuk bicara langsung berhenti. Ia sebenarnya ingin mengatakan hal yang sama hanya supaya bisa lolos dari tugas itu. Namun sebelum sempat bicara, Andika tiba-tiba menatapnya tajam.
Tatapan itu membuat Shinta langsung mengurungkan niatnya.
“Aku bantu,” ucap Shinta akhirnya dengan nada menyerah.
Andika langsung tersenyum kecil penuh kemenangan.
Rara bertepuk tangan pelan.
“Nah begitu. Sekarang kalian bayangkan baru bertemu lagi setelah lama putus.”
“Aku sudah menyesal ikut ini,” gumam Shinta pelan.
Rara mulai membuka catatan konsepnya.
“Shinta duluan. Kamu pura-pura baru ketemu Andika.”
Shinta menarik napas panjang. Ia menatap Andika malas-malasan seperti orang yang dipaksa menghadiri reuni sekolah yang isinya cuma mantan dan penjual asuransi.
“Hai,” ucap Shinta datar. “Apa kabar?”
Andika tersenyum santai sambil menyandarkan tubuh di kursinya.
“Ngapain tanya kabar? Masih suka ya?”
Plak!
Sebuah map langsung melayang tepat mengenai wajah Andika.
Suara tawa langsung pecah di ruangan.
Andika memegang wajahnya sambil meringis.
“Wah, refleks.”
“Mulutmu refleks bikin emosi orang,” balas Shinta kesal.
Rara buru-buru memegangi lengan Shinta karena gadis itu terlihat benar-benar siap melempar benda lain.
“Tenang dulu, ini cuma dialog.”
“Dia improvisasi.”
“Karena dialogmu membosankan,” jawab Andika santai.
Shinta makin kesal mendengarnya.
Rara menghela napas panjang. Ia mulai sadar kalau memilih dua orang ini mungkin bukan keputusan terbaik. Namun nasi sudah jadi bubur dan konsep sudah terlanjur diajukan pada Pak Radit. Dunia kerja memang sering begitu. Ide muncul lima menit, tapi akibatnya bisa satu minggu.
“Oke,” kata Rara cepat. “Sekarang Andika dulu yang mulai.”
Andika langsung duduk tegak seperti aktor profesional.
“Hai, Shinta. Apa kabar?”
“Baik.”
“Hanya baik?”
“Iya.”
“Kamu masih marah?”
“Tidak.”
“Kalau tidak marah kenapa dingin sekali?”
“Karena ruangan ini pakai AC.”
Beberapa pegawai kembali tertawa.
Rara langsung memijat pelipisnya.
“Shinta, tolong serius.”
“Aku serius.”
“Kamu terdengar seperti mau menagih utang.”
Shinta mendecakkan lidah pelan.
Andika malah terlihat makin menikmati situasi itu.
Ia kembali melanjutkan dialog dengan santai.
“Aku rindu sama kamu.”
“Aku tidak peduli.”
“Shinta!”
Rara langsung menegur keras.
“Itu bukan dialognya!”
“Lalu harus jawab apa?”
“Jawab yang manis.”
“Aku tidak bisa.”
“Pura-pura saja.”
Shinta menatap Rara tidak percaya.
“Kamu menyuruhku pura-pura bahagia?”
“Namanya juga iklan.”
“Marketing memang menyeramkan.”
Andika tertawa kecil mendengar ucapan itu.
Rara kembali membuka catatannya.
“Kita ulang lagi dari awal. Kali ini ikuti dialog.”
Shinta bersandar pasrah di kursinya.
“Cepat saja.”
Andika kembali menatap Shinta.
“Hai, Shinta.”
“Hai.”
“Aku rindu sama kamu.”
Shinta terdiam beberapa detik sebelum akhirnya menjawab pelan.
“Aku juga rindu.”
Rara langsung tersenyum senang.
“Nah! Bagus! Lanjut!”
Andika mulai membaca bagian berikutnya.
“Ayo kita balikan. Aku tidak bisa hidup tanpa kamu.”
Shinta langsung menyipitkan mata.
“Tapi kamu masih hidup.”
Ruangan kembali pecah oleh tawa.
Andika sampai menunduk sambil tertawa kecil.
Rara memukul meja pelan.
“Shinta!”
“Apa lagi?”
“Jangan dibalas begitu!”
“Dia ngomongnya berlebihan.”
“Itu romantis!”
“Itu manipulatif.”
Andika langsung bersandar sambil melipat tangan.
“Aku jadi penasaran dulu aku putus karena apa.”
“Karena cerewet,” jawab Shinta cepat.
“Kamu masih ingat ternyata.”
“Aku mengingat banyak kesalahan manusia.”
“Menyeramkan sekali.”
Rara menghela napas panjang seperti orang yang mulai kehilangan harapan hidup.
“Aku cuma mau satu adegan romantis.”
“Cari pegawai lain,” jawab Shinta cepat.
“Tidak bisa. Kalian sudah terlanjur cocok.”
“Kami tidak cocok,” ucap Shinta dan Andika bersamaan.
Keduanya langsung saling menatap kesal.
Pegawai lain mulai memperhatikan dengan antusias. Bahkan beberapa orang diam-diam merekam karena merasa situasi itu lebih menarik daripada pekerjaan mereka sendiri. Memang begitulah kantor. Selama ada drama kecil, produktivitas mendadak turun secara kolektif.
Andika kemudian mengangkat tangan.
“Aku punya usul.”
“Apa?” tanya Rara cepat.
“Tukar dialog saja.”
Shinta langsung menggeleng tanpa berpikir.
“Tidak mau.”
“Kenapa?”
“Aku tidak mau jadi pihak yang ngajak balikan.”
Andika menaikkan sebelah alis.
“Kenapa memangnya?”
“Malas.”
“Takut ditolak?”
“Aku tidak takut.”
“Berarti gengsi.”
“Bukan urusanmu.”
Andika tertawa kecil.
“Nah itu ekspresi yang bagus buat iklan.”
Shinta langsung melotot.
“Aku lempar map lagi.”
“Map kantor habis nanti.”
Rara buru-buru berdiri di tengah mereka sebelum situasi berubah jadi perang dunia kecil.
“Oke, stop dulu.”
Namun Andika tampaknya belum selesai menggoda Shinta.
“Padahal kalau dipikir-pikir aneh juga.”
“Aneh apa?”
“Biasanya perempuan suka kode supaya diajak balikan.”
Shinta langsung mendengus.
“Kalau mau balikan ya ngomong sendiri.”
“Berarti perempuan juga harus ngajak?”
“Kenapa harus laki-laki terus?”
“Karena biasanya begitu.”
“Itu aturan siapa?”
“Aturan tidak tertulis.”
“Kalau tidak tertulis berarti tidak resmi.”
Andika langsung tertawa.
“Kamu debatnya serius sekali.”
“Kamu yang mulai.”
“Jadi kalau misalnya mantanmu mau balikan, kamu bakal ngomong duluan?”
“Tidak.”
“Nah.”
“Tapi aku juga tidak akan kasih kode.”
“Jadi mantanmu harus jadi cenayang?”
“Kalau memang peka harusnya tahu.”
“Manusia bukan dukun.”
“Laki-laki juga bukan anak kecil yang harus disuruh terus.”
Perdebatan mereka mulai makin panjang. Nada bicara keduanya naik perlahan. Beberapa pegawai bahkan mulai menikmati tontonan gratis itu sambil makan camilan.
Rara memegangi kepalanya sendiri.
“Aku cuma mau bikin konsep iklan snack…”
Namun Shinta dan Andika sudah terlalu terbawa suasana.
“Pokoknya kalau mau balikan ya ngomong jelas,” kata Shinta.
“Andai semua perempuan ngomong jelas mungkin hidup lebih damai,” balas Andika.
“Kalau semua laki-laki peka mungkin perempuan tidak perlu kasih kode.”
“Itu bukan kode, itu teka-teki.”
“Itu karena kalian tidak mau mikir.”
“Kami bukan pembaca pikiran.”
“Kalian juga sering bikin perempuan bingung.”
“Karena perempuan suka mencari arti dari hal sederhana.”
“Karena laki-laki suka ngomong setengah hati.”
Rara langsung berdiri di tengah mereka sambil mengangkat kedua tangan.
“Berhenti!”
Keduanya akhirnya diam.
Rara menatap mereka bergantian dengan wajah lelah.
“Aku tidak tahu kalian sedang latihan dialog atau sidang hubungan percintaan nasional.”
Beberapa pegawai tertawa kecil.
Rara menarik napas panjang sebelum kembali bicara.
“Yang aku butuhkan cuma adegan mantan ketemu lagi lalu makan snack bersama. Bukan debat gender.”
Andika menahan tawa.
Sedangkan Shinta langsung membuang wajah ke arah lain.
Rara kembali duduk sambil menggeleng pelan.
“Tapi jujur saja…”
“Apa?” tanya Andika.
“Kalian berdua kalau berantem malah kelihatan cocok.”
Shinta langsung reflek mengambil map lagi.
Dan Andika buru-buru mengangkat tangan menyerah.
“Jangan lempar dulu. Itu map terakhir yang masih utuh.”