Anindya Maheswari, menikah dengan Raditya Wicaksono tanpa restu dari orang tua Radit karena Anindya hanya seorang yatim piatu dan besar di panti asuhan.
Cinta tulus dari Radit membuat Anindya bertahan, berjuang bersama, banting tulang, memeras otak dan keringat. Memulai segalanya dari nol hingga akhirnya sukses.
Namun, siapa sangka setelah sukses Radit malah berkhianat? Menjalin hubungan dengan gadis yang lebih muda, memiliki seorang anak, dan bahkan selingkuhan itu sedang hamil lagi.
Membawa amarahnya yang membara, Anindya bertekad mengembalikan Radit dan keluarga nya ke keadaan semula.
“Kamu lupa satu hal. Jika aku bisa membuatmu sukses, aku juga bisa membuatnu hancur!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29
.
Waktu terus berjalan, satu per satu perwakilan perusahaan maju ke depan memaparkan gagasan mereka. Ada yang menawarkan teknologi canggih, ada yang menjamin keamanan kerja, hingga yang menawarkan kerjasama jangka panjang.
Semua tampak serius, profesional, dan berusaha memberikan kesan terbaik.
Hanya Raditya yang sejak tadi duduk dengan santai, sesekali menguap seolah semua presentasi yang didengar hanyalah angin lalu. Baginya, semua itu hanyalah pelengkap. Karena pemenangnya sudah ditentukan sejak awal.
"Terima kasih kepada seluruh peserta yang telah menyampaikan penawaran terbaiknya," suara MC kembali terdengar, memecah lamunan Raditya.
"Dan sekarang, saat yang kita tunggu-tunggu telah tiba. Kami akan mengumumkan perusahaan mana yang terpilih untuk mengerjakan proyek megah ini atas kepercayaan yang diberikan oleh Tuan Purnama."
Suasana kembali hening. Semua orang menahan nafas, bahkan seperti bisa mendengar detak jantung sendiri.
"Setelah melalui proses seleksi dan pertimbangan yang sangat matang..." MC menahan napas sejenak, memperlambat kalimatnya untuk menambah ketegangan.
"...Maka perusahaan yang berhak mendapatkan tender dan dipercaya untuk menjalankan proyek ini adalah..."
Belum selesai MC berbicara, Raditya sudah berdiri dari tempat duduknya dengan wajah sumringah. Merapikan jasnya, dan siap untuk berjalan gagah menuju panggung menerima piala kemenangan.
Kakinya maju selangkah, senyum kemenangan terukir lebar di wajahnya. Matanya melirik tajam ke arah Anindya, seolah ingin berteriak 'Lihat kan Anin?! Aku bilang apa?! Tetap aku yang terbaik!'
"...Perusahaan Rahman Sanjaya Grup!"
Tap!
Langkah Raditya terhenti. Kakinya seakan terpaku di lantai. Wajahnya yang tadi berseri-seri penuh kemenangan, kini berubah menjadi pucat dalam sekejap. Matanya terbelalak lebar, mulutnya menganga tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Apa?!" bisiknya pelan namun penuh amarah. "Rahman Sanjaya Grup? Perusahaan saingan?! Kenapa dia? Itu tidak mungkin!"
Matanya menatap nanar ke arah panggung, otaknya berteriak menolak kenyataan. Seluruh tubuhnya terasa kaku, darah seakan berhenti mengalir. Mimpi indah tentang keselamatan perusahaan dan kembalinya kejayaannya hancur dalam hitungan detik.
Di belakangnya, Anindya duduk tenang. Bersedekap, menyilangkan kedua kakinya dengan wajah datar tanpa ekspresi. Namun di dalam hatinya, ia tersenyum puas. “Apa kabar dengan jantungmu, Radit? Apa baik-baik saja?”
Di atas panggung, Tuan Purnama yang sedari tadi duduk tenang kini berdiri dan mengambil alih mikrofon.
"Silakan, Tuan Sanjaya. Mohon maju ke depan," ucap Tuan Purnama dengan suara berwibawa.
Dari barisan tengah, seorang pria paruh baya yang tak lain adalah Tuan Sanjaya, suami Bu Dewi berdiri dengan wajah berseri-seri, lalu melangkah menuju panggung. Beberapa pengusaha yang ia lewati mengulurkan tangan dan mengucapkan selamat. Tuan Sanjaya menerimanya dengan senyum. Lebar.
Tepuk tangan bergemuruh memecah keheningan saat Tuan Rahman Sanjaya melangkah gagah menuju panggung, lalu terlihat menyalami Tuan Purnama dengan penuh hormat, lalu mengambil alih mikrofon.
"Terima kasih banyak, Tuan Purnama. Terima kasih atas kepercayaan yang begitu besar ini," ucap Tuan Sanjaya tegas. "Saya dan seluruh tim Sanjaya Grup berjanji akan menjaga kepercayaan ini sebaik mungkin. Kami akan bekerja dengan profesional, transparan, dan memastikan proyek ini selesai dengan hasil yang memuaskan semua pihak. Sekali lagi, terima kasih."
Tepuk tangan kembali terdengar makin riuh, bercampur rasa kagum karena selama ini Tuan Sanjaya memang terkenal sebagai pebisnis yang bersih dan low profile.
"Tuan... Kenapa bisa jadi begini? Kenapa bukan kita yang dapat? Apa yang salah, Tuan?" bisik Darius ikut berdiri di samping Raditya. Asisten itu jelas ikut panik. Karena jika RA tumbang, maka dia akan ikut terkena dampaknya.
Raditya tidak menjawab. Ia hanya menatap kosong ke depan dengan tubuh yang linglung dan gemetar. Namun, kesadarannya seketika kembali saat melihat Tuan Sanjaya turun dari panggung. Raditya melangkah maju, tangannya terangkat menahan mereka.
"Tunggu, Tuan Purnama!" serunya dengan suara yang terdengar parau dan putus asa.
Tuan Purnama yang bersiap pergi dalam pengawalan ajudannya menghentikan langkah. Begitu juga Tuan Sanjaya yang tak jadi turun.
Semua mata tertuju pada Raditya.
"Bukankah selama bertahun-tahun semua tender besar dari Purnama Group selalu kami yang tangani? RA Group kan mitra lama! Kenapa tiba-tiba saja diberikan kepada perusahaan lain?!" tanya Raditya dengan nada menuntut, matanya memancarkan ketidak-terimaan.
Suasana kembali hening. Tuan Purnama menatap Raditya dengan tatapan datar namun tajam. Dengan tenang, ia mengambil kembali mikrofon dari tangan pembawa acara.
"Memang benar, Tuan Raditya," jawab Tuan Purnama perlahan namun jelas terdengar ke seluruh ruangan. "Selama ini kami selalu memberikan kepercayaan penuh kepada RA Group, dan kami merasa puas dengan hasilnya."
"Tapi..." Tuan Purnama berhenti sejenak, menatap tajam. "...Itu semua terjadi karena pada waktu itu masih ada Ibu Anindya di dalam perusahaan itu. Beliau selalu mengajukan proposal yang menarik dan sesuai dengan keinginan kami."
"Namun sekarang, saya mendengar bahwa Ibu Anindya sudah tidak lagi terlibat dan memegang kendali di RA Group. Reputasi RA Grup juga sedang tidak bagus. Ada banyak masalah intern yang akan menghambat pengerjaan proyek. Ditambah saat presentasi tadi, Anda sama sekali tidak menunjukkan proposal yang jelas. Karena itu dengan terpaksa saya harus mencari perusahaan yang lebih mampu. Saya tidak mungkin mempercayakan uang triliunan pada sembarang orang."
Duar!
Seperti disambar petir, tubuh Raditya terhuyung mundur ke belakang. Darah seakan berhenti mengalir di tubuhnya.
Bisik-bisik mulai terdengar lagi dari sekeliling ruangan, kali ini lebih keras dan pedas.
"Benar kata Tuan Purnama..."
"Coba sekarang, masih bisa sombong lagi seperti tadi, gak?”
"Apa Tuan-tuan belum mendengar berita? Tuan Radit punya selingkuhan, bahkan sudah punya anak di luar.”
“Iya, saya juga mendengarnya. Orang yang tidak setia pada pasangan seperti itu, perusahaan mana yang mau kerja sama dengannya?”
"Apalagi Tuan Raditya itu sepertinya memang tidak memiliki kemampuan.”
“Dia itu cuma besar omong doang. Tanpa istrinya dia bukan siapa-siapa..."
"Lihat tuh, RA Group bisa berjaya sampai kancah internasional itu semua karena jasa Bu Anindya."
Raditya menggelengkan kepalanya berkali-kali, matanya berkaca-kaca tak percaya.
"Bagaimana bisa jadi seperti ini?" gumamnya pelan.
Perlahan, ia memiringkan badannya menoleh ke belakang. Matanya menatap sosok Anindya yang duduk dengan wajah datar. Wanita itu yang selama beberapa waktu ini sama sekali tak dia pedulikan.
Dulu ia berpikir, jika dia cuek, Anindya akan merengek meminta kembali. Tapi perkiraannya salah besar. Anindya sama sekali tidak kembali, tidak juga terpuruk. Wanita itu justru terlihat makin bersinar. Semua orang mengagumi dan menyebut namanya.
Kini Raditya sadar, ia benar-benar tak bisa berbuat apa-apa tanpa wanita itu.
"Sayang… ?” panggilnya pelan. “Aku tahu aku salah. Tapi meskipun ada masalah besar dalam hubungan kita. Tolong... ini menyangkut nyawa perusahaan kita. Perusahaan yang kita bangun bersama dengan tetesan keringat dan air mata."
Raditya menatap istrinya dengan wajah memelas.
"Sayang…?” panggil Radit lagi. “Tolong berikan aku muka sedikit saja di hadapan semua orang ini. Katakan pada Tuan Purnama bahwa hubungan kita masih baik-baik saja. Bantu aku mendapatkan tender ini! Kalau tidak... entah apa yang akan terjadi dengan perusahaan kita."
Namun yang ditatap hanya membalas tatapannya datar.
“Membantumu? Aku justru ingin menghancurkan mu!”
apa lgi yg lbih mnyedihkn slain nsibnya s pcundang....udh pd tngkat dewa bkln dpt tender,taunya zonk...😛😛😛....
smntra anin,dia udh bngkit plus dpt dkungn dr bnyak orng yg pduli sm dia....ga sbr nunggu s pcundang hncur.....