Ling Fan, pemuda 17 tahun dari Klan Ling, lahir tanpa Dantian—cacat yang membuatnya dihina sebagai sampah. Di balik ejekan, dia menyimpan rahasia: tubuhnya mampu melahap Qi langit dan bumi.
Saat Klan Ling dihancurkan klan saingan, Ling Fan selamat seorang diri. Di reruntuhan, dia juga menemukan Telur Hitam misterius. Teknik terlarang terbangun "Tubuh Penelan Langit" aktif, mengubahnya dari manusia biasa menjadi pemangsa energi. Setiap luka, setiap penghinaan, hanya membuatnya makin kuat karena dia menelan semuanya.
Kini dia berjalan sendirian, dikejar sekte besar, diburu iblis kuno, dan dicap sesat. Dari Arena Batu Hitam hingga Lembah Guntur, Ling Fan menelan petir, menghancurkan jenius, dan membalik takdir. Tapi harga kekuatan itu adalah kemanusiaannya.
Ketika langit sendiri menginginkannya mati, mampukah pemuda tanpa Dantian ini menelan langit sebelum dia dilahap kegelapannya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rendy_Tbr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
*Bisik di Penginapan Awan Senja*
Setelah guncangan di Arena Batu Hitam, Ling Fan memilih untuk memulihkan diri di Penginapan Awan Senja. Di sana, ia tidak hanya mendapatkan perawatan dan perlengkapan baru, tetapi juga menerima pesan misterius melalui Elang Bayangan yang memintanya pergi ke Gunung Seribu Kabut. Dengan harga buronan seribu batu spiritual yang dipasang Klan Huang di kepalanya, Ling Fan harus menggunakan Pil Penutup Aura untuk menyelinap keluar kota, menyadari bahwa perjalanan ini akan mengungkap rahasia besar di balik telur hitam yang terus berdenyut di dadanya.
Senja turun di Kota Tianxuan, menyalakan lampu kristal yang membuat jalanan tampak seperti lautan kunang-kunang. Ling Fan keluar dari gang sempit bersama Zhao Fu, kini tampil berbeda dengan jubah biru gelap baru dan rambut yang terikat rapi, memberikan kesan seorang Tuan Muda dari sekte kecil.
“Nah! Begini baru pantas disebut kultivator muda. Tadi kau seperti pengemis yang kabur dari kuil. Sekarang mirip... Tuan Muda sekte kecil.”
“Kakak Zhao, jangan puji. Nanti aku terbang tanpa Langkah Angin.”
“Adik Ling, jujur saja. Itu telur apa? Sejak di arena, aku merasa dia menatapku.” Tanya Zhao Fu sambil melirik dada Ling Fan, tempat telur hitam itu terus memberikan getaran hangat dan ketukan pelan dari balik jubahnya.
“Batu penghangat. Warisan. Kalau Kakak mau, nanti kutukar dengan bakpao.” Jawab Ling Fan santai sebelum mereka tiba di depan Penginapan Awan Senja, bangunan megah milik Nyonya Yun yang dikenal sebagai zona aman di kota tersebut.
Di dalam penginapan, Nyonya Yun, seorang ahli Pembentukan Inti, menyambut mereka dengan tatapan tajam yang mampu mengukur tingkat kultivasi Ling Fan dalam sekejap.
“Kondensasi Qi Tingkat Menengah. Tujuh belas tahun? Ingin sewa satu malam?”
“Tujuh belas, Nyonya. Ling Fan. Saya ambil kamar yang paling ujung, saya suka sepi.” Ucap Ling Fan sembari menyerahkan empat belas batu spiritual untuk biaya kamar, makan, dan air panas, yang diterima Nyonya Yun dengan peringatan keras agar tidak membuat keributan di tempatnya.
Setelah masuk ke kamar nomor tiga di lantai tiga, Ling Fan segera mengunci pintu dan mengeluarkan telur hitam yang kini retakannya sudah selebar rambut dan memancarkan cahaya perak redup.
“Kau mau keluar? Tunggu dulu. Di sini banyak orang. Kalau kau menetas jadi naga, satu kota akan datang bawa jaring. Sepakat kita cari gunung sepi saja?” Bisik Ling Fan, yang dijawab oleh telur itu dengan satu denyutan panas seolah memahami perkataannya.
Tengah malam tiba, Ling Fan dikejutkan oleh seekor Elang Bayangan yang hinggap di jendela kamarnya membawa tabung bambu berisi pesan berdarah yang memintanya pergi ke Gunung Seribu Kabut jika ingin telur itu tetap aman.
“Anak Klan Ling. Keluar kota. Gunung Seribu Kabut. Ada yang ingin bicara. Datang sendiri. Jangan bawa ekor. Kalau tidak, telur itu akan jadi rebus.”
“Tenang. Kalau dia mau rebus kau, dia harus rebus aku dulu. Dan aku ini... alot.” Gumam Ling Fan menenangkan telur di dadanya setelah membakar pesan tersebut, menyadari bahwa keberadaannya telah terendus oleh banyak pihak, termasuk pengirim pesan misterius ini.
Fajar menyingsing, Nyonya Yun kembali mengetuk pintu untuk menyerahkan gulungan bambu berisi ancaman lain yang memaksanya segera menuju Gerbang Utara sebelum rahasia telur itu terbongkar.
“Nyonya, terima kasih. Saya pergi sekarang.”
“Jangan mati muda. Ambillah Pil Penutup Aura ini untuk menyembunyikan kultivasimu selama sehari. Anggap bayar mulutmu yang lucu semalam.” Ucap Nyonya Yun sambil melempar botol giok kecil ke arah Ling Fan yang langsung membungkuk hormat sebagai tanda terima kasih.
Di luar penginapan, Zhao Fu sudah menunggu dengan wajah pucat membawa kabar bahwa Klan Huang telah memasang sayembara seribu batu spiritual untuk kepala Ling Fan.
“Adik Ling! Kau sudah jadi buronan! Cepat pergi sebelum Klan Huang mengirim pembunuh!”
“Kakak Zhao, kembali ke klanmu. Jangan dekat-dekat aku, ini berbahaya.” Sahut Ling Fan yang telah menelan pil penutup aura hingga kultivasinya terlihat seperti Pemurnian Tubuh Tingkat Lima, lalu melesat dengan Langkah Angin menuju Gerbang Utara.
Sambil menatap langit di mana Elang Bayangan terus mengintai, Ling Fan memantapkan tekadnya untuk menghadapi siapa pun yang menantangnya di utara.
Gunung Seribu Kabut. Siapa pun kau, aku datang. Tapi ingat... Ling Fan tidak suka diancam. Batinnya penuh kedinginan saat telur di dadanya berdenyut kencang seperti genderang perang yang siap ditabuh.