NovelToon NovelToon
Belunggu Pernikahan

Belunggu Pernikahan

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Maya sabir

"Dia hanya memiliki aku, Maya. Sedangkan kau? Kau punya segalanya. Berhentilah bersikap menjijikkan dengan menuduhnya yang bukan-bukan!"

Kata-kata itu menjadi cambuk harian bagi Maya. Di rumah itu, dia adalah orang asing di tengah keluarga yang "sempurna". Arlan, suaminya, telah memindahkan seluruh pusat dunianya kepada Sarah dan anak almarhum adiknya.

Setiap kali Maya mencoba membela diri dari fitnah halus yang disebarkan Sarah, Arlan akan menatapnya dengan kebencian murni. Bagi Arlan, Maya adalah beban, sedangkan Sarah adalah amanah suci. Ketidakadilan itu semakin kelam ketika Arlan mulai memperlakukan Sarah layaknya seorang istri, dan membuang Maya ke sudut tergelap dalam hidupnya.

Ini bukan lagi tentang cinta, melainkan tentang pengabdian yang salah arah dan kehancuran seorang istri yang dipaksa menyaksikan suaminya mencintai bayangan orang lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya sabir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Beberapa hari di rawat di rumah sakit kondisi Maya sudah membaik dan hari ini ia di perbolehkan untuk pulang kerumah.

" Sayang..." Panggil Arlan saat ia baru saja masuk kedalam kamar perawatan Maya dan mendapati wanita itu sedang berkemas.

Maya menoleh dengan senyum yang selalu terbit di bibir tipisnya itu. Maya menghentikan pekerjaannya dan duduk di pinggir tempat tidur. " Mas... bagaimana kondisi Raka,dia baik-baik saja kan? Seingat ku kami mengalami kecelakaan bersama kan..saat itu mobil Raka tidak stabil jadi aku mengikutinya dari belakang tapi tiba-tiba.....aku tidak ingat lagi."

Arlan membeku , ingatan Maya tercapai habis di kecelakaan itu , kecelakaan yang merenggut adiknya dan kecelakaan yang menjadikan hubungan mereka renggang karena kesalahan pahaman.

Suasana kamar yang tadinya hangat mendadak berubah menjadi mencekam bagi Arlan. Jantungnya berdegup kencang, seolah ada godam yang menghantam dadanya. Ia tidak menyangka bahwa memori Maya akan melompat tepat ke detik-detik sebelum tragedi itu terjadi saat Raka, adik kesayangan Arlan, mengembuskan napas terakhirnya.

Arlan masih berdiri mematung di ambang pintu, tangannya yang memegang buket bunga mawar putih perlahan bergetar.

"Mas Arlan? Kok malah bengong?" Maya memiringkan kepalanya, menatap Arlan dengan mata bulatnya yang polos. "Raka di ruang sebelah ya? Pasti dia lagi ngomel-ngomel karena mobil kesayangannya lecet. Aduh, Mas, nanti aku yang ganti deh ya lecetnya... tapi pake uang Mas Arlan, hehe."

Arlan memaksakan sebuah senyuman yang lebih mirip ringisan. Ia melangkah mendekat, mencoba menetralkan suaranya yang mendadak serak. "Raka... Raka sudah tenang, Maya. Dia... dia sudah di tempat yang lebih baik."

Maya mengernyitkan dahi, tertawa kecil seolah Arlan sedang melucu. "Maksudnya? Dia dipindah ke rumah sakit di Singapura? Wah, Mas pilih kasih ya! Aku di sini cuma pake infus biasa, dia malah ke luar negeri. Eh, tapi Mas... "

Melihat raut bingung di wajah Maya, Arlan segera duduk di sampingnya dan menggenggam tangan wanita itu erat. Ia teringat pesan Dr. Sanjaya.Jangan memberikan informasi yang mengejutkan secara tiba-tiba.

"Sayang,kecelakaan itu... sudah lama sekali ...." bohong Arlan demi menjaga kestabilan mental Maya. "Raka sudah lama pergi. Kamu baru saja bangun dari tidur yang panjang, jadi mungkin ingatanmu sedikit tercampur. Sekarang, yang penting adalah kamu pulang dan istirahat."

"Lama sekali?" Maya tampak berusaha keras mengingat, namun kepalanya mendadak berdenyut nyeri. "Aduh... sakit, Mas."

"Jangan dipaksa! Jangan diingat lagi!" Arlan panik, ia menarik Maya ke dalam pelukannya. "Lupakan Raka, lupakan kecelakaan itu. Mas ada di sini. Dion ada di rumah nungguin kamu. Kamu mau beli apa hari ini? Mas belikan showroom mobilnya sekalian kalau kamu mau, asal jangan bahas itu lagi."

Mendengar kata ' Showroom Mobil', mata Maya yang tadinya menyipit karena sakit, tiba-tiba terbuka lebar dan berbinar. Efek "matre" dari ingatan masa mudanya ternyata jauh lebih kuat daripada rasa sakit kepalanya.

" Showroom mobil? Serius?!" Maya melepaskan pelukan Arlan dan menangkup wajah suaminya. "Mas nggak lagi bohong kan karena aku abis sakit? Aku mau mobil yang pintu atasnya kebuka itu loh, Mas! Yang warnanya merah membara biar kalau aku jemput Dion di sekolah, ibu-ibu arisan di sana langsung minder!"

Arlan menghela napas lega. Manjur, batinnya. "Iya, Sayang. Apa pun buat kamu."

"Ih, Mas Arlan emang sugar daddy paling top!" Maya mencium pipi Arlan dengan bunyi cup yang keras, lalu kembali berkemas dengan gerakan super cepat. "Ayo cepat pulang! Aku mau cek lemari baju aku, pasti udah ketinggalan zaman semua kan karena aku kelamaan tidur? Aku mau buang semua baju lama dan ganti sama koleksi terbaru!"

Arlan tersenyum miris sekaligus bahagia. Ia mengikuti Maya dari belakang, membawa koper-kopernya. Sambil berjalan, Arlan memberikan kode pada asisten pribadinya lewat pesan singkat.

"Kosongkan kamar Raka. Dan Sarah Pindahkan semua barangnya ke gudang bawah tanah. Jangan sampai Maya melihat satu pun foto atau barang milik Raka dan Sarah di rumah. Hapus semua folder berita kecelakaan tahun lalu dari iPad rumah. SEKARANG."

Arlan tahu dia sedang menimbun bom waktu. Namun melihat Maya yang kini sedang asyik bersenandung riang sambil membahas model tas terbaru di dalam lift, Arlan rela menjadi pembohong paling ulung di dunia. Ia lebih baik menghadapi amarah Maya suatu hari nanti, daripada harus kehilangan tawa bahagia istrinya saat ini.

"Mas, nanti di jalan beli martabak ya? Yang kejunya seberat dosa Mas Arlan ke aku!" teriak Maya ceria saat pintu lift terbuka.

"Siap, Permaisuri," jawab Arlan, kembali ke mode sebelum nya demi menjaga surga palsu yang baru saja ia bangun.

Sesampainya di parkiran, sebuah mobil Sport Utility Vehicle (SUV) mewah berwarna hitam sudah menunggu. Arlan membukakan pintu untuk Maya dengan sangat protektif, seolah istrinya itu terbuat dari kaca yang mudah pecah. Namun, Maya justru melompat masuk dengan semangat yang meluap-luap.

"Wangi mobil baru!" Maya menghirup udara di dalam mobil dengan dramatis. "Mas, ini baunya kayak bau-bau uang yang sangat banyak. Aku suka! Ayo cepat jalan, aku sudah tidak sabar ingin mandi kembang di rumah!"

Arlan tertawa kecil sambil menginjak pedal gas. Di sepanjang perjalanan, Maya tidak berhenti berceloteh. Ia mengomentari gedung-gedung yang menurutnya "berubah", padahal hanya beberapa bulan ia tinggalkan. Ia juga sibuk menggulir layar ponsel Arlan karena ponselnya sendiri hancur saat kecelakaan untuk memasukkan puluhan barang ke keranjang belanja online.

"Mas, lipstik yang ini bagus ya? Warnanya 'Merah Mematikan Pelakor'. Aku beli sepuluh ya?" tanya Maya sambil menunjukkan layar ponsel ke arah Arlan yang sedang menyetir.

"Beli saja semua warnanya, Sayang," jawab Arlan tenang.

"Ih, Mas Arlan kalau lagi amnesia soal harga begini bikin aku makin cinta!" Maya mencubit gemas pipi Arlan, membuat mobil sedikit oleng.

Saat mobil memasuki gerbang besar rumah mereka, asisten pribadi Arlan, Dafa, sudah berdiri di depan pintu bersama Bi Mina dan Dion. Mereka tampak tegang, terutama Dafa yang baru saja selesai "membersihkan" rumah dari segala jejak Raka dan Sarah dalam waktu kurang dari satu jam.

Maya turun dari mobil dengan gaya diva. Ia mengenakan kacamata hitam yang ia temukan di dashboard Arlan.

"Halo penghuni rumah! Permaisuri sudah kembali!" seru Maya ceria.

Dion langsung berlari dan memeluk kaki Maya. "Mama! Mama sudah sembuh?"

Maya berjongkok, menangkup wajah Dion. "Sembuh dong! Eh, Jagoan Mama, kok kamu gantengan sih? Pasti karena gen Mama yang dominan ya? Mas Arlan cuma nyumbang dikit kan?"

Arlan hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah absurd istrinya. Ia melirik ke arah Dafa, yang memberikan isyarat jempol tersembunyi tanda bahwa misi "pembersihan" rumah telah selesai.

Maya melangkah masuk ke dalam rumah dengan langkah angkuh yang dibuat-buat, namun matanya membelalak saat melihat dekorasi rumah yang terasa lebih "sepi" dari ingatannya.

"Mas, kok foto keluarga kita nggak ada? Terus itu... di atas perapian biasanya kan ada foto kita berempat yang gede banget?" tanya Maya curiga, menunjuk dinding yang kini kosong melompong.

Dafa hampir tersedak ludahnya sendiri. Arlan dengan cepat merangkul pinggang Maya.

"Oh, itu... fotonya lagi Mas bawa ke tukang bingkai, Sayang. Mas mau ganti bingkainya pakai emas murni 24 karat, biar sesuai sama kecantikan kamu," jawab Arlan asal, otaknya bekerja secepat kilat.

"Emas murni? Wah, Mas emang paling ngerti selera aku!" Maya langsung teralih perhatiannya. "Terus, kok kamar tamu di ujung itu dikunci? Bukannya itu biasanya kamarnya Raka dan Sarah kalau dia main ke sini?"

Jantung Arlan seakan berhenti berdetak. Ia menatap pintu kamar yang kini digembok rapat.

"Itu... lagi renovasi, Maya. Ada rayapnya. Banyak banget rayapnya, sampai ke plafon. Mas nggak mau kamu kena gatal-gatal," timpal Arlan lagi, keringat dingin mulai membasahi punggungnya.

Maya menyipitkan mata, menatap Arlan penuh selidik. "Rayap? Di rumah semahal ini ada rayap? Mas Arlan jangan-jangan lagi pelit ya buat bayar jasa pembasmi hama?"

"Nggak, Sayang! Besok Mas panggil satu batalyon pembasmi hama kalau perlu," Arlan segera menarik Maya menuju tangga. "Mending sekarang kamu ke kamar kita. Mas sudah belikan kasur baru yang empuknya kayak awan di surga."

"Oke! Tapi habis itu kita makan martabak ya! Awas kalau Mas lupa, aku bakal mogok belanja seumur hidup!" ancam Maya manja sambil menaiki tangga.

Arlan menghela napas panjang dan menatap Dafa. Dafa menyeka keringat di dahinya dengan sapu tangan.

"Tuan... kebohongan rayap itu sangat tidak masuk akal," bisik Dafa pelan.

"Diam kau, Dafa. Cari penjual rayap sekarang kalau perlu, buat jaga-jaga kalau dia mau cek kamar itu besok," balas Arlan dengan nada frustrasi yang kocak.

1
Rini Yuanita
hadwch...udh bgus...maya mw pergi...ech mlah d bikin amnesia....skip dech thor...ujung² ny ttp balikan sm arlan😄😄😄
Bang Ipul
Cerita gak bermutu
Bang Ipul
jadi laki sok percaya diri sekali lo
Bang Ipul
bikin emosi deh
Nessa
hadeuhh 🤦🏻‍♂️🤦🏻‍♂️🤦🏻‍♂️
Nessa
baru awal bab udah menguras emosi
ㄒ丨乇
misi
partini
🙄🙄🙄🙄🙄
partini
wah Maya very good,,bikin Arlan kering kerontang biar mamposs
partini
enak benar nyalahi orang lain ,ayo Maya be strong be smart jadi wanita tangguh dan sukses bikin dunua mereka jungkir balik
maya: makasih KK sudah mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!