NovelToon NovelToon
Hasrat Kumbang Sewaan

Hasrat Kumbang Sewaan

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Selingkuh
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Viaalatte

Di balik nama samaran “Romeo”, ada seseorang yang hidup dari hasrat orang lain.
Semuanya tampak sederhana—transaksi, waktu, dan kesepakatan tanpa perasaan. Dunia yang dingin, terukur, dan seharusnya tidak menyisakan apa-apa. Tapi semakin lama, batas antara peran dan diri sendiri mulai kabur.
Ketika satu pertemuan berubah menjadi sesuatu yang lebih rumit dari sekadar pekerjaan, “Romeo” mulai menyadari bahwa tidak semua hal bisa dikendalikan. Ada perasaan yang tak seharusnya muncul. Ada masa lalu yang perlahan mengejar. Dan ada kenyataan yang memaksa dirinya melihat hidup dari sisi yang belum pernah ia hadapi sebelumnya.
Di saat yang sama, kehidupan di luar peran itu mulai retak—membuka rahasia, luka lama, dan tanggung jawab yang tak bisa lagi dihindari.
Kini, ia harus memilih: tetap menjadi “Romeo” yang dibayar untuk memenuhi hasrat, atau kembali menjadi dirinya sendiri… dengan segala konsekuensi yang menunggu.
Karena tidak semua kumbang sewaan bisa terbang bebas setelah selesai bekerja

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viaalatte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Kantin kampus siang itu cukup ramai.

Gilang duduk di salah satu meja, sedikit menunduk. Di depannya, segelas es kopi sudah tinggal setengah. Esnya mulai mencair, tapi ia masih sesekali menyedotnya pelan.

Pikirannya tidak di situ.

Masih tertinggal di rumah.

Tentang ibunya. Sekar. Wildan.

Dan semua yang belum selesai.

“Dor!”

Gilang langsung tersentak.

Kepalanya terangkat cepat.

Di depannya, Viona berdiri sambil tersenyum lebar.

“Kak Gilang!” katanya ringan.

Gilang menghela napas, sedikit kaget. “Apaan sih…”

Viona tertawa kecil, lalu langsung duduk di depannya.

“lagian daari tadi aku panggil, nggak nyaut,” katanya.

Gilang hanya menyandarkan punggung ke kursi, lalu menyedot es kopinya lagi.

“Lagi nggak fokus.”

Viona memperhatikan wajahnya sebentar.

“Kak Gilang kenapa?” tanyanya langsung.

Gilang menggeleng kecil. “Nggak kenapa-kenapa.”

Viona mengerutkan kening.

“Bohong.”

Gilang tidak menanggapi.

Ia hanya menatap gelas di depannya.

Viona menghela napas kecil, lalu bersandar di kursi.

“Kak Gilang akhir-akhir ini murung terus,” katanya pelan. “Kenapa?”

Gilang tetap diam.

Tatapannya tidak lepas dari gelas di depannya.

Viona melanjutkan, kali ini lebih hati-hati.

“Masalahnya berat banget ya, Kak?”

Tidak ada jawaban.

Beberapa detik berlalu.

Gilang akhirnya menyedot es kopinya lagi, lalu berkata singkat, “Biasa.”

Viona langsung menggeleng.

“Biasa versi Kak Gilang itu bukan ‘biasa’,” katanya.

Gilang tidak menanggapi.

Viona menatapnya lagi, lebih lama.

“Kak…” suaranya sedikit turun, “kalau emang berat, nggak harus dipikul sendiri.”

Gilang berhenti sebentar.

Lalu menghela napas pelan.

“Udah biasa sendiri.”

Viona terdiam.

Jawaban itu tidak panjang, tapi cukup membuatnya tidak langsung bicara lagi.

Ia hanya menatap Gilang, lalu pelan-pelan mengangguk.

“Yaudah,” katanya akhirnya.

Viona meraih gelas di depan Gilang tanpa izin, lalu menariknya mendekat.

“Aku nggak nanya lagi,” lanjutnya santai, sambil menyedot es kopi itu.

Gilang sedikit menoleh.

Tidak protes.

Viona menaruh kembali gelasnya, lalu bersandar.

“Tapi minuman kamu aku ambil,” katanya ringan.

Gilang menghela napas kecil.

“Ambil aja.”

Viona tersenyum tipis, lalu menyedot lagi.

Viona menyedot es kopi itu sekali lagi, lalu berdiri tanpa banyak bicara.

Ia berjalan ke tempat sampah di sudut ruangan dan membuang gelas itu begitu saja.

Gilang mengangkat sedikit alisnya.

“Eh—”

Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Viona sudah kembali dan langsung menarik tangannya.

“Ayo.”

Gilang menahan sedikit. “Ke mana, sih?”

“Udah, ikut aja.”

Langkah Viona cepat. Hampir setengah berlari. Gilang terpaksa mengikuti, meski sempat menghela napas.

“Vi, pelan-pelan…”

Viona tidak memperlambat langkahnya. Ia terus menarik Gilang keluar dari kantin, melewati halaman kampus, lalu menyeberang jalan.

Beberapa menit kemudian, mereka sampai di deretan ruko kecil di seberang.

Suara ramai anak-anak sudah terdengar dari dalam.

Viona berhenti di depan salah satu ruko, lalu masuk tanpa ragu.

Gilang ikut di belakang.

Di dalam, deretan televisi dan konsol permainan berjajar. Anak-anak duduk berjejer, fokus dengan permainan masing-masing.

Viona langsung menoleh ke Gilang, wajahnya terlihat lebih hidup.

“Temenin aku main PS ya, Kak.”

Gilang menghela napas pelan.

“Ngapain sih…” katanya, “kayak anak kecil.”

Viona langsung mengerutkan kening.

“Ya terus kenapa?” balasnya ringan. “Sekali-sekali santai, Kak.”

Gilang menggeleng kecil. “Malas.”

Viona menatapnya beberapa detik, lalu mendengus.

“Yaudah,” katanya. “Aku main sendiri.”

Ia berbalik dan langsung duduk di salah satu tempat, mengambil stik yang ada di sana.

Gilang tetap berdiri di dekat pintu.

Diam beberapa saat.

Matanya sempat mengikuti Viona yang sudah mulai memilih game, seolah benar-benar tidak peduli lagi.

Gilang menghela napas.

Lalu akhirnya melangkah masuk.

Ia duduk di sebelah Viona tanpa banyak bicara.

Viona melirik sekilas, senyum tipis muncul.

Ia tidak mengatakan apa-apa.

Hanya menyodorkan satu stik ke arah Gilang.

Dan kali ini, Gilang tidak menolak.

Viona langsung memilih game, lalu layar berubah ke dunia permainan.

Karakter mulai berjalan di jalanan kota.

Gilang melirik, lalu mendengus kecil.

“Dih… game jadul.”

Viona tetap fokus ke layar. “Yang penting seru.”

Gilang menatap tangannya, lalu mengerutkan kening.

“Lah, punyaku mana?”

Viona tersenyum tipis tanpa menoleh.

“Tunggu,” katanya. “Aku cari dulu di dalam.”

Karakter di layar langsung bergerak ke sana-sini, berlari menyusuri jalan, masuk gang, lalu keluar lagi.

“Cari apa?” tanya Gilang.

“Cari tempatnya,” jawab Viona santai. “Biar bisa main berdua.”

Gilang sedikit mendekat, ikut memperhatikan layar.

Karakter itu naik motor, lalu melaju cepat.

Beberapa kali hampir menabrak, tapi Viona malah tertawa kecil.

“Nah, bentar lagi,” katanya.

Gilang menghela napas.

“Ribet amat.”

Viona tidak peduli. Ia tetap fokus, mencari sesuatu di dalam game.

Beberapa saat kemudian, Viona menghentikan karakternya di satu tempat.

“Nah, di sini,” katanya.

Gilang mulai ikut main. Awalnya masih kaku, gerakannya sering salah.

“Pelan, Kak… itu, belok,” ujar Viona.

“Ini susah,” balas Gilang singkat.

Belum lama, karakternya menabrak.

Viona langsung tertawa.

“Kan.”

Gilang mendengus pelan. “Jalannya sempit.”

“Alasan,” jawab Viona ringan.

Mereka lanjut bermain.

Beberapa kali Gilang masih salah arah, tapi lama-lama mulai terbiasa. Ia mulai mengikuti ritme permainan, bahkan sesekali mencoba mengejar karakter Viona.

“Jangan lari,” katanya.

Viona malah tertawa. “Kejar aja.”

Gilang menekan tombol lebih cepat.

Beberapa detik kemudian, ia berhasil mendekat.

“Nah.”

Viona melirik. “Lumayan.”

Gilang tidak menjawab, tapi sudut bibirnya terangkat sedikit.

Permainan terus berjalan.

Sesekali terdengar tawa kecil, komentar singkat, lalu kembali fokus ke layar.

Dan tanpa terasa, untuk beberapa waktu itu, Gilang sejenak melupakan masalah-masalah yang memenuhi kepalanya selama ini.

Waktu berjalan tanpa terasa.

Satu game selesai, lanjut ke game lain.

Sampai akhirnya mereka memilih permainan balap sepeda—downhill.

Di layar, jalur menurun penuh tikungan tajam dan rintangan.

“Jangan jatuh lagi, Vi,” kata Gilang sambil tersenyum.

“Lihat aja nanti,” balas Viona.

Hitungan dimulai.

Karakter mereka langsung meluncur turun.

Beberapa detik pertama masih aman.

Lalu—

Viona menabrak.

“Yah!” serunya.

Gilang langsung tertawa.

“Baru juga mulai.”

“Diam, Kak!”

Permainan diulang.

Kali ini Viona mencoba lebih hati-hati.

Tapi di tikungan berikutnya—

jatuh lagi.

Gilang tidak bisa menahan.

Ia tertawa lepas.

“Serius, Vi… ini yang ketiga.”

Viona mendengus kesal, tapi ikut tersenyum.

“Ini stiknya yang aneh.”

“Pasti,” balas Gilang cepat.

Mereka terus bermain.

Beberapa kali Viona masih kalah, sementara Gilang mulai lebih stabil.

Setiap kali Viona jatuh, tawa Gilang makin lepas.

Sampai akhirnya—

ia benar-benar tertawa ngakak.

Tidak ditahan.

Tidak setengah-setengah.

“Udah, Kak!” protes Viona sambil menahan tawa juga. “Jangan diketawain terus.”

Gilang menggeleng, masih tersisa tawa di suaranya.

“Ini lucu.”

Waktu sudah berjalan hampir dua jam.

Tapi tidak terasa sama sekali.

Gilang masih tersisa tawa saat tangannya tanpa sadar berhenti.

Matanya naik ke atas.

Ke arah jam di dinding.

Beberapa detik.

Ekspresinya berubah.

“Vi…”

“Hmm?”

Gilang masih menatap jam.

“Kita tadi ada kelas, kan?”

Viona langsung berhenti main.

“Jam berapa sekarang?”

Gilang tidak menjawab. Ia hanya menunjuk ke arah jam.

Viona ikut melihat.

Hening.

“Loh…”

Beberapa detik tidak ada yang bicara.

Lalu Viona menoleh pelan.

“Kita… telat?”

Gilang menghela napas panjang.

“Bukan telat lagi.”

Viona langsung menyandarkan punggungnya.

“Ya ampun…”

Gilang mengusap wajahnya.

Sisa tawanya masih ada, tapi sekarang bercampur rasa tidak enak.

“Ya sudah,” katanya akhirnya.

Viona melirik.

“Ya sudah gimana?”

Gilang menarik napas.

“Sekalian aja.”

1
hrarou
kasian gilang sayang 🥺
Viaalatte: huhu iya kak🥺, makasih sudah mampir🥰♥️
total 1 replies
Viaalatte
yok baca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!