Setelah hidup selama 500 tahun penuh pengkhianatan, kesengsaraan, dan perjuangan, Tian Hao akhirnya kembali ke masa lalu.
Dengan ingatan dari kehidupan sebelumnya, ia memperoleh Warisan Mutiara Surgawi yang mempercepat jalur kultivasinya.
"Kali ini... aku akan mencapai keabadian."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Rencana yang bagus
Di bawah naungan pohon-pohon raksasa Hutan Terlarang, suasana mendadak membeku. Xiao Liu Xuan berdiri dengan kaki kokoh, matanya berkilat penuh gairah yang haus darah. Di balik senyum ramahnya yang biasa, ia sedang berteriak dalam hati, memohon agar pemuda di depannya ini kehilangan kendali.
“Ayo, Tian Hao. Cabut belatimu. Tunjukkan pada dunia bahwa kau adalah monster yang bersembunyi di balik kulit domba,” batin Liu Xuan. Ia sengaja membiarkan aura Qi-nya terbuka sedikit, memberikan celah palsu agar Tian Hao merasa punya kesempatan untuk menyerang.
Tian Hao perlahan mengangkat tangannya. Jari-jarinya bergerak pelan, seolah sedang bersiap menghunuskan senjata atau melepaskan segel kekuatan.
Xiao Liu Xuan sudah bersiap; otot kakinya menegang, siap untuk melakukan serangan balik yang akan menghancurkan tulang rusuk Tian Hao dalam satu gerakan.
Namun, kenyataan justru menampar ekspektasi sang pangeran.
TAP.
Tangan Tian Hao mendarat dengan ringan di pundak Xiao Liu Xuan. Tidak ada tekanan energi. Tidak ada niat membunuh. Hanya sebuah tepukan santai, seolah-olah mereka adalah kawan lama yang sedang berpamitan di kedai teh.
"Sampai jumpa lagi," ucap Tian Hao datar.
Ia melangkah melewati Xiao Liu Xuan dengan tenang. Namun, saat tubuh mereka sejajar dan wajah Tian Hao berada tepat di samping telinga sang pangeran, suaranya berubah menjadi bisikan yang sangat halus, namun tajam seperti sembilu.
"Jebakan yang bagus, Pangeran. Lain kali, pastikan umpanmu tidak terlalu mencolok."
Tian Hao terus berjalan pergi tanpa sekali pun menoleh ke belakang. Xiao Liu Xuan tetap mematung di tempatnya.
Matanya membelalak, pupilnya mengecil karena terkejut. Dingin yang menjalar di punggungnya bukan berasal dari hawa hutan, melainkan dari kesadaran bahwa seluruh rencananya telah dibaca sejak awal.
Ia memang sengaja membiarkan Tian Hao ke tempat ini. Ia juga sudah mengatur agar beberapa penjaga atau bahkan orang tua Tian Hao "kebetulan" lewat untuk memergoki serangan Tian Hao.
Jika Tian Hao menyerang seorang pangeran, itu adalah alasan sempurna untuk mengeksekusinya secara legal.
"Bagaimana mungkin..." gumam Liu Xuan, suaranya hampir tidak terdengar. "Bagaimana mungkin bocah lima belas tahun bisa tahu bahwa aku sedang memasang umpan?"
Ketenangan Tian Hao bukan berasal dari keberanian anak muda, melainkan dari jenis intuisi yang hanya dimiliki oleh mereka yang sudah berkali-kali mencicipi pengkhianatan dan ambang kematian.
Xiao Liu Xuan merasa seolah-olah ia baru saja mencoba menjebak seekor naga tua dengan menggunakan jaring ikan yang rapuh.
Beberapa menit setelah punggung Tian Hao menghilang di balik kabut, suara langkah kaki yang terburu-buru memecah kesunyian. Tian Fei dan Li Xian muncul dari balik semak-semak, diikuti oleh beberapa penjaga inti. Wajah mereka penuh kecemasan.
"Pangeran! Anda tidak apa-apa?" seru Tian Fei, napasnya sedikit terengah. Matanya segera menyapu sekeliling, mencari tanda-tanda pertarungan.
Li Xian, menoleh ke arah jalan setapak yang baru saja dilalui Tian Hao. "Tadi kami berpapasan dengan Tian Hao. Kenapa anak pembawa sial itu ada di sini? Apakah dia melakukan sesuatu yang tidak sopan kepada Anda, Pangeran?"
Ada nada jijik yang kental dalam suara Li Xian saat menyebut nama putranya sendiri. Baginya, Tian Hao adalah noda yang harus segera dibersihkan agar tidak mengotori nama baik keluarga di depan tamu agung.