NovelToon NovelToon
Idola Kampus Itu Pacarku

Idola Kampus Itu Pacarku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​"Woy, lihat! Itu Kak Baskara!"

​Bisikan-bisikan itu menyebar cepat seperti api yang menyambar rumput kering. Lara yang awalnya sibuk merapikan buku catatannya, refleks mendongak ketika suasana mendadak hening selama satu detik, lalu pecah oleh riuh tepuk tangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

pertemuan singkat kesan mendalam

Baskara menunjukkan sisi sopan dan kedewasaannya di hadapan orang tua Lara. Meski memiliki kesempatan emas untuk masuk ke rumah gadis yang menarik perhatiannya, ia tetap bertanggung jawab pada komitmennya yang lain.

​Papa Lara tersenyum lebar, tampak sangat terkesan dengan sikap tenang Baskara. "Wah, kebetulan sekali kita bertemu di sini. Ayo masuk dulu, Nak Baskara. Sekalian kita makan malam, Papa kamu pasti belum cerita kalau kita akan sering bertemu mulai minggu depan."

​Lara menahan napas, menanti jawaban Baskara. Di satu sisi ia merasa gugup jika harus duduk semeja dengan seniornya itu, namun di sisi lain, ada rasa penasaran yang menggelitik hatinya.

​Baskara tersenyum tipis, sebuah senyuman formal namun terlihat tulus. "Terima kasih banyak atas ajakannya, Om. Saya sangat menghargai itu. Tapi mohon maaf, malam ini saya ada janji tanding futsal antar angkatan di kampus. Teman-teman sudah menunggu."

​Papa Lara mengangguk maklum. "Oh, anak muda memang harus aktif. Tidak apa-apa, lain kali saja ya. Sampaikan salam saya untuk Pak Adiguna."

​"Pasti saya sampaikan, Om," jawab Baskara.

​Ia kemudian mendekat ke arah Papa Lara dan menjabat tangannya dengan takzim, menunjukkan etika seorang anak dari keluarga terpandang. Sebelum kembali memakai helmnya, mata Baskara beralih menatap Lara yang masih berdiri mematung di samping gerbang.

​"Saya pamit dulu, Lara. Jangan lupa cek WhatsApp, barangkali ada 'revisi' yang saya kirimkan nanti malam," ucapnya dengan nada yang hanya bisa dimengerti oleh mereka berdua.

​Lara hanya bisa mengangguk kaku, wajahnya kembali merona. Baskara memakai helm full-face-nya, menghidupkan mesin motor yang menderu gagah, lalu melesat pergi menuju rumahnya yang hanya berjarak dua blok.

​Lara masih menatap punggung motor itu hingga menghilang di tikungan jalan.

​"Ganteng, sopan, dan pintar. Papa tidak salah pilih rekan bisnis kalau anaknya seperti itu," celetuk Papa Lara sambil merangkul bahu putrinya masuk ke dalam rumah.

​Lara hanya terdiam, namun dalam hati ia membatin, "Sepertinya hidupku di kampus nggak akan pernah bisa tenang lagi setelah ini."

Malam itu, suasana di rumah mewah keluarga Wijaya terasa jauh lebih sunyi daripada biasanya bagi Lara. Setelah mandi dan makan malam, ia merebahkan diri di tempat tidur, menatap langit-langit kamar sambil memutar kembali kejadian hari ini.

​Tepat pukul sembilan malam, ponsel di samping bantalnya bergetar. Sebuah notifikasi WhatsApp masuk dari nomor yang belum ia simpan, namun ia tahu siapa pemiliknya.

​[+62 812-xxxx-xxxx]:

Sudah tidur, Ketua Kelompok 3?

​Jantung Lara mencelos. Ia segera duduk tegak dan mengetik balasan dengan jempol yang sedikit gemetar.

​Lara Wijaya:

Belum, Kak. Ini baru mau istirahat. Gimana tanding futsalnya?

​Tak butuh waktu lama, sebuah foto terkirim. Foto itu memperlihatkan botol air mineral di atas lantai pinggir lapangan yang sedikit buram, dengan latar belakang kaki-kaki pria yang sedang duduk beristirahat. Di sudut foto, tampak sebagian wajah Baskara yang berkeringat, rambutnya basah dan berantakan, namun justru terlihat berkali-kali lipat lebih maskulin daripada saat di kampus.

​[+62 812-xxxx-xxxx]:

Menang tipis. Tapi kaki saya sedikit terkilir karena jatuh tadi.

​Lara refleks menutup mulutnya dengan tangan. Rasa khawatir muncul begitu saja.

​Lara Wijaya:

Lho, kok bisa? Sudah diobati, Kak? Harus dipijat atau dikasih es batu supaya nggak bengkak.

​Di sisi lain, di pinggir lapangan futsal yang bising, Baskara menyandarkan punggungnya ke tembok sambil tersenyum menatap layar ponsel. Randy yang baru saja menenggak air putih melihat pemandangan langka itu.

​"Woi, Bas! Senyum-senyum sendiri kayak baru menang lotre. Chat sama siapa sih?" tanya Randy sambil mencoba mengintip.

​Baskara dengan cepat mematikan layar ponselnya dan menjauhkannya dari jangkauan Randy. "Bukan urusanmu, Ran. Urus saja kakimu yang lecet itu."

​Baskara kembali mengetik pesan untuk Lara.

​Baskara Langit:

Nggak perlu dipijat. Besok pagi temani saya ke klinik kampus saja sebelum mulai kegiatan PKKMB. Anggap saja itu tugas tambahan untuk ketua kelompok yang laporannya 'meragukan'.

​Lara membaca pesan itu dengan wajah yang kembali cemberut, namun kali ini ada sedikit lengkungan senyum di sudut bibirnya. Ia tahu, alasan "klinik" itu mungkin hanya alibi lain dari sang idola kampus agar bisa menghabiskan waktu lebih lama dengannya esok hari.

1
ASTRI LIANTI
kok di paragraf atas ga berjilbab kok di sini berjilbab sih
Zet3: mksh kak koreksi nya,aku perbaiki yaa🙏🏻
total 1 replies
Ryuu
semangat terus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!