Yudi seorang pria dari dunia modern terlempar ke Tahun 700 masehi di pulau Buton, saat ayahnya meninggal Ayahnya mengatakan Bahwa ibunya ada di Bumi bagian utara
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RRS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Gema Ceddin Deden di Atas Atap Dunia
22 September 700 Masehi — Markas Besar Suku Rahmad, Himalaya
Udara dingin yang membeku di ketinggian Himalaya seolah mendidih oleh kehadiran teknologi masa depan dan amarah yang terpendam. Di tengah lembah yang kini telah berubah menjadi benteng beton dan baja, Yudi berdiri di atas panggung tinggi yang terbuat dari kontainer militer. Bahu kirinya masih diperban, namun ia berdiri tegak dengan seragam taktis hitam yang membalut tubuhnya. Kacamata hitam menutupi matanya, memberikan kesan dingin dan tak tersentuh.
Di hadapannya, 100 pengawal elit Suku Rahmad berdiri dalam formasi sempurna. Di belakang mereka, unit-unit Armored Car menderu halus, lampu-lampu LED-nya membelah kabut salju yang mulai turun.
Sementara itu, di sebuah bukit yang berjarak beberapa ratus meter dari lembah tersebut, barisan kavaleri Dinasti Zhou terhenti. Maharani Wu Lin dan Yue Qing menarik kekang kuda mereka, bersembunyi di balik barisan batu besar agar tidak terdeteksi. Mereka menatap ke bawah dengan mata terbelalak. Mereka datang dengan niat mencari dan melindungi, namun pemandangan di bawah sana membuat nyali mereka menciut.
Yudi sama sekali tidak menyadari kehadiran mereka. Fokusnya terkunci total pada pasukannya sendiri. Baginya, lembah ini adalah wilayah kedaulatannya yang mutlak.
"Dengar, kalian semua!" suara Yudi meledak melalui sistem pengeras suara raksasa, gema suaranya sampai ke telinga Wu Lin di atas bukit.
Wu Lin menutup mulutnya dengan tangan, air mata mengalir melihat putra sulungnya yang kini tampak seperti penguasa dari dunia lain. "Yudi... itu benar-benar dia," bisiknya dengan suara gemetar. Namun, ia tidak berani mendekat. Aura yang dipancarkan Yudi begitu mengintimidasi, bahkan bagi seorang Maharani sekalipun.
"Dunia ini mengira kita adalah debu yang bisa mereka injak! Kekaisaran Tibet mengira mereka bisa mengirim panah ke jantung kita dan tetap hidup untuk menceritakannya!" Yudi mengepalkan tangannya ke langit. "Mereka salah! Mulai hari ini, kita bukan lagi pelarian! Kita adalah badai yang akan meruntuhkan gunung! Kita adalah api yang akan menelan Lhasa!"
Yue Qing, yang berada di samping Wu Lin, menatap Yudi tanpa berkedip. Jantungnya berdegup kencang. Ia melihat pemuda yang selama ini ia cari kini berdiri sebagai panglima tertinggi dari pasukan yang belum pernah ia lihat jenisnya. Obsesinya meluap; ia memuja setiap kata yang keluar dari mulut Yudi. Keempat adik Yudi—Zhou Long, Zhou Hu, Zhou Cheng, dan Zhou Jian—hanya bisa terpaku dari kejauhan, merasa zirah emas mereka hanyalah mainan belaka dibandingkan apa yang dimiliki kakak mereka.
Tiba-tiba, Yudi mengangkat tangannya. Dari sistem audio raksasa, lagu Ceddin Deden mulai berkumandang, menggetarkan lembah dan bukit tempat Wu Lin bersembunyi.
"Ceddin deden, neslin baban..."
Persiapan Penyerbuan Lhasa
Yudi turun dari panggung dengan langkah pasti, masih buta terhadap ribuan pasang mata pengintai di atas bukit. Ia berjalan menuju area lapang dan mengakses Inventory miliknya yang kini telah menyatu.
[Akses Inventory Berhasil]
[Mengeluarkan Unit Penghancur Utama]
Bzzzttt!
Di depan mata Wu Lin dan pasukannya yang menonton dari jauh, muncul dua unit Main Battle Tank (MBT) dengan meriam raksasa dan satu unit MLRS (Multiple Launch Rocket System).
"Dewa macam apa yang dia panggil?" bisik Zhou Long dengan wajah pucat pasi melihat monster besi muncul dari udara kosong.
Wu Lin gemetar. Ia menyadari bahwa putranya tidak lagi membutuhkan perlindungan dari Dinasti Zhou. Justru sebaliknya, kekuatan yang dimiliki Yudi bisa menghapus kerajaannya dalam satu malam jika ia mau.
"Galuh! Masuk ke tank pertama!" perintah Yudi tegas. "Siapkan seluruh sistem. Kita berangkat menuju Lhasa sekarang!"
Yudi melompat masuk ke dalam kabin tank komando dan menutup hatch bajanya. Ia tidak menoleh ke arah bukit, tidak mencari tanda-tanda kehadiran orang luar. Baginya, hanya ada satu tujuan: Kehancuran musuh.
Perjalanan Menuju Lhasa
Lautan baja itu mulai bergerak, membelah salju tebal dengan suara deru mesin yang memekakkan telinga. Di barisan paling depan, dua tank Yudi menghancurkan batu-batu besar yang menghalangi jalan. MLRS mengikuti di belakang, tabung-tabung roketnya terangkat tinggi seolah menantang langit.
Melihat konvoi itu mulai bergerak meninggalkan lembah, Wu Lin segera memberi perintah kepada pasukannya. "Ikuti mereka dari jauh! Jangan sampai mereka menyadari kehadiran kita, tapi jangan sampai kita kehilangan jejak mereka!"
Pasukan Zhou, termasuk Yue Qing dan keempat pangeran, mulai memacu kuda mereka dengan sangat hati-hati di belakang barisan tank Yudi. Mereka bergerak seperti bayangan, mengikuti jejak rantai besi raksasa yang ditinggalkan oleh kendaraan Yudi di atas salju.
Yudi, di dalam kabin tank yang kedap suara dan dipenuhi layar monitor canggih, terus menatap koordinat Lhasa. Ia tidak memperhatikan radar belakang untuk mendeteksi kavaleri tradisional; baginya, ancaman hanya datang dari depan.
Yue Qing menatap punggung baja tank tempat Yudi berada dengan binar mata yang penuh kegilaan. Ia tidak peduli jika Yudi tidak menyadarinya sekarang. Baginya, melihat Yudi memimpin barisan "Gajah Besi" ini menuju Lhasa sudah cukup untuk membuktikan bahwa pilihannya tidak salah.
"Lhasa akan jatuh," gumam Yudi di dalam sistem komunikasi tank, sementara di belakangnya, sang Maharani dan calon istrinya mengikuti dengan perasaan campur aduk antara bangga, takut, dan obsesi yang mendalam.