NovelToon NovelToon
Menantu Tanpa Restu

Menantu Tanpa Restu

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Romansa Fantasi / Penyesalan Suami
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: biru🩵

"Bismillah… percaya sama Mas.”
Kalimat itu membawa Aira pada pernikahan yang tak pernah ia bayangkan. Hamil enam bulan membuatnya harus menikah dengan Dika, pria yang ia cintai selama tiga tahun. Namun bagi Aira, pernikahan itu terasa seperti tanggung jawab, bukan cinta.
Belum sempat bahagia, Aira harus menghadapi penolakan keluarga Dika, ibu mertua yang syok hingga pingsan, dan rahasia besar yang belum diketahui ayahnya.
Di tengah tekanan keluarga dan hadirnya masa lalu Dika, Aira mulai bertanya… apakah ia benar-benar dicintai, atau hanya diperjuangkan demi anak dalam kandungannya?
Satu rahasia, sejuta luka. Dan menjadi istri Dika mungkin adalah luka terbesar bagi Aira.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon biru🩵, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Mas Dika menuntunku duduk dengan perlahan di kursi meja makan, seolah aku adalah barang pecah belah yang harus dijaga ekstra hati-hati. Ia mengabaikan piring-piring yang tadi digeser Ibunya dengan kasar. Fokusnya hanya padaku.

Ia melangkah menuju rak, jemarinya lincah mencari gelas kaca, lalu meraih kotak susu hamil yang kemarin ia belikan. Dengan telaten, ia menyeduh susu itu, mengaduknya perlahan hingga aromanya memenuhi dapur.

"Minum dulu, Yang. Biar badan kamu anget," ucapnya sembari menyodorkan gelas hangat itu ke depanku. Ia duduk di kursi sebelahku, menopang dagu sambil menatapku dalam. "Jangan dimasukin ke hati omongan Ibu tadi, ya? Ibu cuma kaget saja suasananya berubah cepat."

Aku menyesap susu itu sedikit demi sedikit. Hangatnya menjalar ke kerongkonganku, namun hatiku tetap terasa dingin. "Mas... apa nggak sebaiknya aku nggak usah masak dulu? Aku takut malah bikin Ibu tambah marah."

Mas Dika menggeleng, ia meraih tanganku dan mengusapnya lembut. "Nggak apa-apa. Mas senang kamu mau berusaha. Tapi kalau kamu capek, bilang ya. Mas nggak mau kamu sama dedek bayi kenapa-napa."

Satria yang sudah selesai makan segera berdiri, menyampirkan tas sekolahnya. "Mas, Mbak, aku berangkat ya. Mbak Aira, nasi gorengnya beneran enak, besok-besok buat lagi ya!" serunya sambil nyengir, mencoba mencairkan suasana sebelum berlari keluar rumah.

Kepergian Satria menyisakan keheningan di dapur. Mas Dika mengambil piring nasi goreng yang tadi ditolak Ibunya, lalu mulai makan dengan lahap. "Tuh kan, Satria saja suka. Mas juga suka banget. Mas bangga punya istri kayak kamu."

Di tengah suapan itu, Mas Dika tiba-tiba berhenti. Ia menatapku dengan wajah serius. "Ra, nanti sore Mas mau ajak kamu belanja beberapa keperluan kamar kita. Mas mau kamu merasa kamar itu benar-benar rumah kamu, bukan cuma tempat numpang. Kita beli sprei baru, bantal yang nyaman, atau apa pun yang kamu suka. Mau ya?"

Aku hanya mengangguk pelan. Di balik perhatian Mas Dika yang luar biasa, aku tahu ada badai yang masih mengintai. Menjadi menantu tanpa restu berarti setiap langkahku di rumah ini akan selalu diawasi oleh mata dingin Ibu Mertua.

"Biar Mas saja, Ra. Kamu duduk saja," ucap Mas Dika sambil meraih piring kotor di depanku. Ia tidak membiarkan aku menyentuh wastafel sedikit pun. Dengan santai, ia menyingsingkan lengan kemejanya dan mulai menyabuni piring, seolah itu adalah hal paling wajar yang dilakukan seorang suami.

Baru saja busa sabun menutupi piring itu, suara langkah kaki yang tajam dan cepat mendekat ke arah dapur. Ibu Mertua muncul dengan wajah yang jauh lebih masam daripada tadi pagi.

"Astaga, Dika! Apa-apaan kamu ini?" suara Ibu Mertua meninggi, nadanya penuh ketidaksukaan. Beliau melangkah mendekat, menatap nanar ke arah tangan putranya yang masih berlumuran sabun.

"Baru sehari jadi suami, kamu sudah disuruh mencuci piring, Dik? Di rumah ini ada asisten, ada istri kamu juga. Kenapa harus tangan kamu yang mengerjakan pekerjaan kasar seperti ini?" cecar Ibu Mertua sembari melirikku dengan tatapan tajam yang seolah menuduhku telah memperbudak anak kesayangannya.

Mas Dika tidak berhenti. Ia membilas piring itu dengan tenang di bawah kucuran air. "Nggak ada yang nyuruh, Bu. Dika yang mau sendiri. Kasihan Aira, kakinya sudah mulai bengkak kalau kebanyakan berdiri," jawabnya tanpa menoleh.

"Dika, jangan terlalu memanjakan perempuan! Kamu itu laki-laki, kepala rumah tangga. Dari dulu Ibu nggak pernah biarkan kamu menyentuh pekerjaan dapur, sekarang malah disuruh-suruh begini," Ibu Mertua masih tidak mau kalah, napasnya tersengal karena emosi.

"Ibu... Aira nggak nyuruh Dika. Ini inisiatif Dika sendiri," Mas Dika mematikan keran, lalu mengelap tangannya. Ia menatap Ibunya dengan tenang namun tegas. "Dika mau belajar jadi suami yang siaga. Ibu nggak usah khawatir berlebihan."

Ibu Mertua mendengus sinis, matanya beralih padaku yang hanya bisa terpaku di kursi. "Kamu dengar itu, Aira? Jangan mentang-mentang kamu sedang hamil, kamu bisa seenaknya memerintah anak saya. Di rumah ini ada aturannya. Kalau kamu mau dihargai, belajar jadi istri yang tahu posisi!"

Setelah melemparkan kalimat pedas itu, Ibu Mertua berlalu pergi dengan hentakan kaki yang keras. Suasana dapur mendadak jadi pengap. Mas Dika menghampiriku, mengusap bahuku lembut. "Sudah, jangan dipikirin. Mas nggak keberatan kok."

Meski Mas Dika membela, hatiku tetap mencelos. Aku menyadari bahwa di mata Ibu Mertua, sekecil apa pun kebaikan Mas Dika padaku akan selalu dianggap sebagai kesalahanku.

Apa nggak sebaiknya aku pulang ke rumah Ibu dan Bapak saja, Mas?" bisikku lirih, nyaris tak terdengar di antara sunyinya dapur setelah kepergian Ibu Mertua. Aku menatap punggung tangan Mas Dika yang masih memerah terkena air sabun, merasa sangat bersalah karena keberadaanku seolah hanya membawa perpecahan di antara ia dan ibunya. "Ibu belum bisa menerima aku di sini, Mas. Mas juga nggak bisa setiap saat di dekatku, Mas kan harus kerja. Aku takut kalau nanti di rumah sendirian..."

Kalimatku terhenti oleh isak tangis yang mulai menyeruak. Ketakutan itu nyata; membayangkan harus menghadapi tatapan dingin dan sindiran tajam Ibu Mertua tanpa tameng perlindungan Mas Dika terasa seperti hukuman mati. Aku tidak ingin menjadi penghalang hubungan antara ibu dan anak, apalagi di rumah yang semegah ini aku justru merasa paling kerdil dan tak berharga.

Mas Dika segera menghentikan kegiatannya, ia berbalik dan menarikku ke dalam pelukannya tanpa memedulikan kemejanya yang mungkin akan basah oleh air mataku. Ia mengusap kepalaku dengan sangat lembut, mencoba menyalurkan kekuatan yang sebenarnya ia sendiri pun sedang berjuang untuk mengumpulkannya.

"Dengar, Ra. Kamu istri Mas. Rumah Mas adalah rumah kamu juga," ucap Mas Dika dengan nada yang sangat dalam dan tak terbantah. "Kalau kamu pulang sekarang, itu artinya kita menyerah sebelum berjuang. Mas mau kita buktikan ke Ibu kalau kita bisa jadi keluarga yang baik. Mas akan atur waktu kerja Mas, Mas janji nggak akan biarkan kamu menghadapi Ibu sendirian terlalu lama. Percaya sama Mas, ya?"

Meskipun Mas Dika mencoba meyakinkanku, hatiku tetap dilingkupi kegelisahan. Menghadapi sikap mertua memang manusiawi jika terasa sangat berat, namun kepantasan sikap itu tetaplah relatif menurut perspektif masing-masing. Di tengah ketidakpastian ini, aku hanya bisa bersandar pada janji Mas Dika, pria yang kini menjadi satu-satunya pelindungku di rumah yang masih menganggapku sebagai orang asing.

1
🍓
yang ikhlas al😭
🍓
ikutan sakit ati gue thorrr😭
langit senja: sama banget besssss😭😭
total 1 replies
bening☘️
lu bener-bener ya dik🫵👊
langit senja: bikin emosi kan😭
total 1 replies
bening☘️
😭nyesek banget thorr
langit senja
sama😭😭😭
langit senja
masih kerja di toko 🤭
🍓
kabarnya si Ali gimana thorr?
🍓
besok-besok nggak usah masak Ra🤭
bening☘️
lama-lama aku yang tekanan batin sih ini 😭
bening☘️
dika ini siap banget ya jadi suami 🤭
bening☘️
jangan takut ra, sekali-kali lawan iparmu 🤭
🍓: harus di lawan sih,biar nggak seenaknya kalau bicara😄
total 1 replies
bening☘️
bagus banget alurnya,cerita ini related sama kehidupan,di luar sana yang menikah tanpa restu selagi suami selalu berada di pihakmu duniamu akan baik-baik saja,semangat terus nulisnya thorr🥳
langit senja: thank you bes,🥺
total 1 replies
🏜️
keren
🍓
pengalaman pribadi kah thor?
🍓
cerita ini bagus,alurnya sesuai dan bikin sesek napas setiap baca per babnya,
🍓
orang tua Dika kenapa nggak suka sama Aira thorr?🥺
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!