"Aku sudah menaklukkan ribuan dunia, menghancurkan dewa-dewa kuno, dan memimpin pasukan bintang. Sekarang? Aku hanya ingin memastikan sawiku tidak dimakan ulat."
Zhou Ji Ran adalah legenda yang terlupakan—secara harfiah. Setelah menyelesaikan misi terakhir dari "Sistem Penguasa Multisemesta" yang mahakuasa, sistem tersebut hancur dan menghapus setiap jejak keberadaan Zhou Ji Ran dari memori seluruh makhluk di multisemesta. Dia bebas. Tanpa beban, tanpa misi, dan tanpa musuh yang mengejarnya.
Kini, ia hanya seorang pemuda 25 tahun yang hidup santai sebagai petani di pinggiran Desa Jinan yang terpencil. Baginya, kebahagiaan adalah melihat matahari terbit dan menyeruput teh pahit di teras rumah kayu sederhananya.
Namun, kedamaian "pensiunnya" hancur saat seorang murid jenius dari sekte besar, yang bersimbah darah dan ketakutan, mendobrak pintunya dan memohon perlindungan.
apakah sang penguasa akan kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kairon04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Belas
Suara kokok ayam jantan di Desa Jinan pagi ini terdengar lebih nyaring dan berwibawa, seolah-olah unggas-unggas itu tahu bahwa mereka kini memiliki pengawas baru dengan kualifikasi yang sangat berlebihan. Sinar matahari baru saja mulai membelah kabut tebal yang dihasilkan oleh napas sembilan naga perak, memberikan rona keemasan pada atap gubuk kayu Zhou Ji Ran. Di sudut halaman, tepat di depan kandang ayam yang terbuat dari jalinan bambu tua, Zhang Tian—Sang Penegak Hukum dari Aliansi Dua Belas Sekte Ilahi—berdiri dengan memegang sebuah sekop kayu kecil dan seember air.
Jubah abu-abunya yang biasanya memancarkan aura tak tersentuh kini digulung hingga ke siku, memperlihatkan lengan yang kuat namun berlumuran debu jerami dan kotoran ayam. Zhang Tian menatap seekor ayam jantan besar yang sedang mematuk ujung kakinya dengan pandangan yang kosong. Ia, yang biasanya memutuskan nasib ribuan nyawa dengan satu kata "Bersalah", kini harus bergulat dengan logika bahwa ayam-ayam di tempat ini tidak takut pada aura Soul Transformation miliknya.
"Tuan Penegak Hukum, kau melewatkan sudut sebelah kiri. Jika kotoran di sana tidak dibersihkan, aroma amonianya akan merusak kualitas telur yang akan kita panen sore nanti. Ayam-ayam ini sangat sensitif terhadap kebersihan lingkungan mereka," ucap Zhou Ji Ran yang muncul dari balik pintu dapur sambil membawa secangkir teh panas.
Zhang Tian menarik napas dalam-dalam, mencoba menstabilkan emosinya yang goyah. "Tuan Zhou... saya sudah meratakan parit sepanjang tiga kilometer kemarin. Apakah membersihkan kandang ayam ini benar-benar bagian dari rehabilitasi yang Anda maksud?"
"Tentu saja. Hukum yang kau bangga-banggakan itu seringkali lupa pada hal-hal kecil di bawah. Jika kau tidak bisa menjaga keteraturan di dalam kandang sekecil ini, bagaimana kau bisa mengklaim dirimu sebagai penjaga hukum di benua yang luas? Keteraturan dimulai dari hal yang paling rendah, Zhang Tian," jawab Zhou Ji Ran dengan nada santai namun mengandung kebenaran yang membuat Zhang Tian terdiam.
Zhou Ji Ran kemudian beralih ke arah gudang emas yang kini sudah berdiri megah di samping rumahnya. Gudang itu tidak hanya berkilau karena lapisan emas murni dari Asosiasi Wan Jin, tetapi juga mengeluarkan dengungan halus yang berirama. Di dalam setiap sudut gudang tersebut, sosok-sosok logam dari "Program Kegagalan" berdiri diam dengan kabel-kabel energi transparan yang terhubung ke lantai. Inti energi mereka memancarkan kehangatan konstan, menjaga suhu di dalam gudang agar tetap stabil untuk penyimpanan hasil panen di masa depan.
"Feng Mian! Bagaimana pembacaan suhu di dalam gudang?" seru Zhou Ji Ran.
Feng Mian berlari keluar dari gudang dengan wajah yang penuh keringat namun tampak bersemangat. Ia memegang sebuah lempengan batu giok yang kini ia gunakan sebagai papan pencatat inventaris. "Tuan! Berkat mesin-mesin pemanas itu, suhu di dalam gudang tetap berada pada titik ideal. Padi Surgawi yang kita simpan di sana—maksud saya, cadangan benihnya—mulai menunjukkan tanda-tanda kristalisasi yang sempurna. Dan naga-naga perak itu... mereka sangat membantu dalam proses pendinginan dinding luar."
"Bagus. Pastikan Long Wei tidak membiarkan naga-naga itu terlalu banyak tidur. Jika sirkulasi air di kincir melambat, tekanan panas dari mesin-mesin itu bisa merusak fondasi gudang," perintah Zhou Ji Ran.
Di lereng bukit, Padi Surgawi yang ditanam kemarin kini sudah mencapai tinggi lutut orang dewasa. Pendaran cahayanya begitu kuat hingga kabut di sekitarnya tampak berwarna pelangi sepanjang waktu. Su Ruo sedang duduk di tengah pematang, memainkan kecapinya dengan melodi yang lebih kompleks. Musiknya kini tidak hanya mengalun, tetapi seolah-olah memiliki wujud fisik berupa partikel cahaya yang turun dan diserap oleh helai-helai daun padi.
Ye Hua berdiri di puncak bukit, matanya yang tajam mengawasi batas-batas desa. Ia merasakan bahwa meskipun Zhang Tian telah ditaklukkan, riak di kolam kekuasaan Dunia Atas belum benar-benar mereda. Justru sebaliknya, hilangnya sinyal dari seorang Penegak Hukum adalah alarm yang lebih besar daripada jatuhnya sebuah sekte.
"Tuan Zhou," Ye Hua melompat turun dari puncak bukit dan mendarat dengan ringan di samping Zhou Ji Ran. "Ada sesuatu yang aneh dengan udara di utara. Dinginnya bukan lagi dingin musim dingin, melainkan dingin yang hampa. Seolah-olah ada lubang besar di langit yang sedang menghisap seluruh esensi kehidupan."
Zhou Ji Ran menghentikan seruputan tehnya. Ia memejamkan mata sejenak, menempelkan telapak kaki telanjangnya ke tanah. Getaran itu terasa lagi. Lebih dalam, lebih sunyi, dan lebih mematikan daripada sebelumnya.
"Penjaga Batas," bisik Zhou Ji Ran. "Mereka akhirnya memutuskan untuk membuka 'Gerbang Pemusnahan'. Aliansi itu benar-benar tidak suka jika ada sesuatu yang berada di luar jangkauan mereka."
"Apa itu Gerbang Pemusnahan, Tuan?" tanya Lin Xiaoqi yang baru saja selesai menjemur sisa jagung di halaman.
"Itu adalah senjata dimensi yang digunakan untuk menghapus satu wilayah dari realitas. Biasanya hanya digunakan untuk menghancurkan planet-planet yang sudah tidak stabil atau sarang monster kuno. Jika mereka menggunakannya di sini, itu artinya mereka siap untuk memusnahkan seluruh Desa Jinan hanya untuk menghilangkan 'anomali' yang mereka anggap berbahaya," jelas Zhou Ji Ran dengan nada yang tetap tenang, seolah-olah ia sedang membicarakan prakiraan cuaca yang sedikit buruk.
Gu Lao, yang sedang duduk di kursi goyangnya, membuka satu matanya. "Ji Ran, kau tahu bahwa jika mereka membuka gerbang itu, kau tidak bisa hanya menggunakan sapu lidi lagi. Gerbang itu bekerja dengan hukum kehampaan yang murni. Ia tidak menghancurkan dengan kekuatan, ia menghancurkan dengan ketiadaan."
"Ketiadaan, ya?" Zhou Ji Ran terkekeh kecil. "Itu adalah keahlianku yang sebenarnya sebelum aku mendapatkan sistem itu. Mereka lupa bahwa sebelum ada segalanya, yang ada hanyalah ketiadaan. Dan aku adalah penguasa dari rumah kosong itu."
Tiba-tiba, langit di utara Desa Jinan terbelah secara vertikal. Bukan awan yang tersingkap, melainkan kain realitas itu sendiri yang robek. Sebuah garis hitam pekat muncul di langit biru, perlahan melebar membentuk sebuah celah yang memancarkan kegelapan yang begitu absolut hingga sinar matahari seolah tertelan saat mendekatinya. Dari dalam celah itu, sebuah struktur mekanis raksasa berbentuk cakram mulai muncul perlahan. Cakram itu dipenuhi dengan simbol-simbol kuno yang bersinar dengan warna biru pucat yang menakutkan.
Inilah "Gerbang Pemusnahan". Di belakang cakram itu, ribuan sosok berjubah emas melayang, dipimpin oleh tiga individu yang memancarkan aura melampaui Soul Transformation—mereka adalah para "Penjaga Batas" yang sudah mencapai tahap Nirvana awal.
"Zhou Ji Ran! Atas nama Aliansi Dua Belas Sekte Ilahi, keberadaanmu telah dinyatakan sebagai ancaman bagi keseimbangan semesta! Desa Jinan dan segala isinya akan dihapus dari catatan realitas hari ini!" suara itu tidak datang dari mulut siapa pun, melainkan bergema langsung dari dalam cakram raksasa tersebut.
Seluruh penduduk Desa Jinan—yang sebagian besar adalah murid sekte dan jenderal yang sedang bekerja—seketika merasa tubuh mereka menjadi transparan. Tekanan dari ketiadaan mulai memudarkan keberadaan mereka. Master Sekte Sun Bo terjatuh, tangannya yang sedang memegang pinset bambu perlahan mulai pecah menjadi partikel debu.
"Tidak... tidak mungkin! Penjaga Batas benar-benar melakukannya! Mereka tidak peduli dengan nyawa kami!" Sun Bo berteriak penuh ketakutan.
Zhou Ji Ran meletakkan cangkir tehnya di atas meja dengan ketukan yang sangat pelan. Namun, suara ketukan itu merambat melalui tanah, melalui udara, dan seketika menstabilkan kembali tubuh semua orang di desa tersebut. Pudar yang mereka rasakan seketika berhenti.
"Aku paling benci jika ada yang mencoba merusak hasil kerjaku saat musim tanam belum selesai," Zhou Ji Ran berdiri. Ia tidak mengambil cangkulnya, ia hanya berjalan menuju tengah halaman.
Ia menoleh ke arah Zhang Tian yang masih memegang sekop di kandang ayam. "Zhang Tian, kau bilang kau adalah Penegak Hukum. Sekarang, lihatlah ke atas. Apakah menurutmu, menghapus satu desa beserta ribuan nyawa demi satu anomali adalah tindakan yang adil menurut hukummu?"
Zhang Tian menatap ke langit dengan mata gemetar. Ia melihat rekan-rekannya, atasan-atasannya, yang kini sedang bersiap untuk melenyapkan segalanya. "Ini... ini bukan hukum. Ini adalah ketakutan yang menyamar sebagai keadilan."
"Bagus. Berarti kau sudah lulus ujian pertama kebersihan mental," ucap Zhou Ji Ran.
Zhou Ji Ran kemudian mengangkat tangannya ke arah cakram raksasa di langit. Ia tidak mengeluarkan energi spiritual yang besar. Sebaliknya, ia justru menarik seluruh energi di sekitarnya ke dalam satu titik di telapak tangannya. Langit di atas Desa Jinan seketika menjadi gelap gulita karena seluruh cahayanya terhisap masuk ke tangan Zhou Ji Ran.
"Kalian ingin bermain dengan ketiadaan? Baiklah. Aku akan menunjukkan kepada kalian apa artinya ketiadaan yang sesungguhnya," ucap Zhou Ji Ran dengan suara yang kini terdengar lebih dalam dan purba.
Ia melakukan gerakan "menutup pintu" dengan tangannya. Secara ajaib, celah hitam di langit yang tadinya melebar secara agresif, tiba-tiba berhenti. Garis hitam itu mulai bergetar hebat, seolah-olah ada kekuatan yang jauh lebih besar sedang memaksa realitas untuk menjahit dirinya kembali.
Cakram raksasa Gerbang Pemusnahan mengeluarkan suara pekikan logam yang memekakkan telinga. Simbol-simbol di atasnya mulai terbakar dan meledak satu per satu. Para Penjaga Batas yang berada di belakangnya terlempar mundur oleh gelombang balik yang tak terlihat.
"Bagaimana mungkin?! Hukum ketiadaan kami dipatahkan oleh seorang manusia?!" salah satu Penjaga Batas berteriak dengan nada yang penuh ketidakpercayaan.
Zhou Ji Ran tidak berhenti. Ia mengayunkan tangannya sekali lagi, kali ini dengan gerakan menyapu ke arah samping. "Dan untuk kalian yang suka melayang-layang dengan jubah emas itu... ladang jagungku masih butuh banyak tenaga untuk pembersihan gulma di bagian tebing yang curam."
Seketika, sebuah tarikan gravitasi yang tak terelakkan muncul dari bawah lereng bukit. Ribuan murid berjubah emas dan tiga Penjaga Batas itu tersedot turun dari langit seolah-olah mereka adalah butiran debu yang dihisap oleh pembersih udara raksasa. Mereka semua jatuh bergedebuk di area tebing bagian utara yang sangat berbatu dan penuh dengan semak berduri.
Dalam waktu kurang dari lima menit, ancaman "Gerbang Pemusnahan" hilang sepenuhnya. Langit kembali biru jernih, dan matahari bersinar kembali dengan hangatnya. Satu-satunya jejak yang tersisa dari invasi tersebut adalah ribuan orang berbaju emas yang kini sedang merintih di dasar tebing.
Zhou Ji Ran kembali ke terasnya, duduk di kursinya, dan mengambil cangkir tehnya yang masih sedikit hangat. "Xiaoqi, sepertinya kita butuh lebih banyak sarung tangan kain. Dan tanyakan pada Feng Mian, apakah emas dari jubah mereka bisa dilelehkan untuk memperkuat pagar rumah. Aku merasa emas mereka kualitasnya lebih bagus daripada koin Wan Jin."
Lin Xiaoqi mengangguk dengan wajah yang kini sudah tenang kembali. "Baik, Tuan. Saya akan segera mengurusnya."
Ye Hua berjalan mendekat, menatap ke arah tebing utara dengan ekspresi wajah yang campur aduk. "Tuan... Anda baru saja menawan tiga ahli tahap Nirvana. Dunia Atas tidak akan pernah sama lagi setelah hari ini. Anda benar-benar telah memutus rantai kekuasaan mereka."
"Aku tidak memutus apa pun, Ye Hua. Aku hanya memberikan mereka pekerjaan yang lebih bermakna daripada melayang-layang di langit dan menghancurkan dunia orang lain. Menanam jagung di tebing itu akan melatih keseimbangan tubuh dan kesabaran jiwa mereka," jawab Zhou Ji Ran sambil menyesap tehnya.
Zhang Tian keluar dari kandang ayam, ia meletakkan sekopnya dan membungkuk dalam-dalam ke arah Zhou Ji Ran. "Terima kasih, Tuan Zhou. Hari ini Anda menyelamatkan saya dari dosa terbesar dalam hidup saya."
"Jangan berterima kasih padaku. Berterima kasihlah pada ayam-ayam itu. Karena kandang mereka sudah bersih, mereka akan bertelur lebih banyak, dan itu artinya sarapanmu besok akan lebih enak," kata Zhou Ji Ran dengan kedipan mata jenaka.
Sore harinya, pemandangan di Desa Jinan semakin surreal. Tiga ahli Nirvana, yang seharusnya menjadi penguasa dimensi, terlihat sedang berbaris di tebing sambil memegang sabit kecil untuk memotong rumput liar. Di bawah mereka, ribuan murid berjubah emas bekerja keras memindahkan batu-batu tajam. Jenderal Han berdiri di atas sebuah batu besar di dekat mereka, memberikan instruksi dengan suara yang menggelegar.
"Ingat! Jangan gunakan energi Nirvana kalian untuk memotong rumput! Gunakan otot kalian! Jika akarnya tidak tercabut sampai habis, kalian tidak akan mendapatkan jatah sup melon pahit malam ini!" teriak Han dengan penuh semangat.
Su Ruo kembali memetik kecapinya, melodi yang ia mainkan kini memiliki nada yang lebih tegas, membantu para pekerja baru itu untuk menjaga ritme kerja mereka. Naga-naga perak di sungai tampak lebih aktif, menyemburkan uap air yang membentuk pelangi kecil di atas kincir air, mendinginkan udara bagi mereka yang sedang bekerja keras di tebing.
Zhou Ji Ran berdiri di pinggir ladang Padi Surgawi, melihat bagaimana padi-padi itu mulai mengeluarkan bulir-bulir kecil yang berkilau. Ia bisa merasakan bahwa panen pertama akan sangat luar biasa.
"Tuan Zhou," sebuah suara lembut memanggil dari belakangnya.
Ia menoleh dan melihat Ye Hua sedang berdiri di sana, tanpa pedangnya. "Ada apa, Ye Hua?"
"Apakah suatu hari nanti... Anda akan meninggalkan tempat ini? Maksud saya, dengan kekuatan sebesar itu, bukankah Anda merindukan bintang-bintang dan petualangan di dunia yang lebih luas?" tanya Ye Hua dengan nada yang sedikit melankolis.
Zhou Ji Ran menatap langit yang mulai berubah warna menjadi jingga dan ungu. Ia teringat akan jutaan dunia yang pernah ia kunjungi, jutaan wajah yang pernah ia temui, dan kesepian yang selalu mengikutinya sebagai seorang pemilik sistem. Ia teringat bagaimana setiap tindakannya dulu selalu dihitung dalam poin dan statistik.
"Dulu, aku berkelana karena aku harus. Setiap langkahku adalah perintah. Tapi di sini, Ye Hua... di Desa Jinan, setiap langkahku adalah pilihanku sendiri. Aku sudah menaklukkan ribuan dunia, tapi aku baru benar-benar memiliki satu dunia di bawah telapak kakiku saat ini. Mengapa aku harus pergi mencari petualangan di tempat lain ketika keajaiban terbesar ada di dalam butir padi yang tumbuh dengan keringatku sendiri?"
Ye Hua tersenyum, matanya sedikit berkaca-kaca. "Saya mengerti, Tuan. Jika demikian, saya ingin tetap tinggal di sini dan melihat panen-panen berikutnya bersama Anda."
"Tentu saja. Lagipula, kau adalah satu-satunya orang yang tahu cara melipat pakaianku dengan benar," canda Zhou Ji Ran, membuat Ye Hua tertawa kecil.
Malam mulai turun, menyelimuti Desa Jinan dengan kedamaian yang mendalam. Di tebing utara, api unggun kecil mulai dinyalakan oleh para pekerja baru. Mereka yang tadinya sombong kini duduk bersama, berbagi cerita dan kelelahan, merasakan kemanusiaan yang telah lama mereka lupakan di puncak kekuasaan.
Di gudang emas, mesin-mesin Program Kegagalan terus berdengung halus, memberikan kehangatan yang merambat hingga ke dalam rumah kayu Zhou Ji Ran. Sang mantan pemilik sistem berbaring di terasnya, menatap bintang-bintang yang kini tampak seperti teman lama baginya.
"Sistem mungkin sudah hancur," gumamnya pelan. "Tapi hidup... hidup baru saja benar-benar dimulai."
Tiba-tiba, ia merasakan sebuah getaran kecil dari arah hutan belakang. Bukan musuh, bukan mesin. Ia bangkit dan berjalan menuju kegelapan hutan bambu. Di sana, di antara batang-batang bambu hijau, ia melihat sebuah cahaya kecil yang berkedip-kedip.
Saat ia mendekat, ia menemukan sebuah kapsul perak kecil yang tertanam di tanah. Kapsul itu memiliki logo yang sangat ia kenal: logo dari pencipta Sistem Penguasa Multisemesta. Di atas kapsul itu tertulis sebuah pesan singkat dalam bahasa yang hanya ia yang bisa membacanya:
*“Untuk Pemain No. 1. Hadiah pensiunmu belum sepenuhnya terkirim. Selamat menikmati fase pasca-eksistensi.”*
Zhou Ji Ran mengangkat alisnya. Ia membuka kapsul itu dan di dalamnya hanya terdapat sebutir benih kecil berwarna putih bening yang memancarkan aroma bunga melati yang sangat lembut. Tidak ada kekuatan destruktif, tidak ada data statistik. Hanya sebuah benih.
"Hadiah pensiun, ya?" Zhou Ji Ran tersenyum tipis. Ia tahu persis apa benih ini. Ini adalah benih 'Pohon Memori', sebuah tanaman yang bisa mengembalikan kebahagiaan yang hilang dan menyembuhkan luka jiwa bagi siapa pun yang duduk di bawah naungannya.
Ia berjalan kembali ke tengah halaman rumahnya, menggali lubang kecil tepat di samping pintu depan, dan menanam benih itu. "Besok pagi, rumah ini akan memiliki naungan yang indah."
Pekerjaan hari ini telah usai. Invasi terhebat Dunia Atas berakhir dengan ribuan buruh tani baru dan sebuah gudang emas yang semakin hangat. Zhou Ji Ran memejamkan matanya, merasakan detak jantung bumi Jinan yang kini selaras dengan detak jantungnya sendiri.
Dunia mungkin masih akan mencoba datang padanya, tantangan mungkin akan terus muncul, namun selama ada tanah untuk digarap dan teh untuk diseduh, sang legenda akan tetap di sini. Di Desa Jinan, di tempat di mana hukum tertinggi adalah pertumbuhan, dan kehormatan tertinggi adalah menjadi seorang petani yang jujur.
"Selamat malam, dunia," bisik Zhou Ji Ran sebelum akhirnya terlelap dalam tidur yang paling nyenyak yang pernah ia alami dalam puluhan ribu tahun.
Dan di kegelapan malam, benih putih bening itu mulai mengeluarkan tunas pertamanya, siap untuk tumbuh menjadi pelindung bagi rumah kecil yang telah menjadi pusat dari seluruh kedamaian di multisemesta. Perjalanan panjang ini baru saja melewati satu lagi babak kecil yang penuh makna, dan esok pagi menjanjikan matahari yang lebih hangat untuk semua orang di Desa Jinan.