NovelToon NovelToon
Takdir Tiga Darah Volume 1: Deru Di Balik Kabut

Takdir Tiga Darah Volume 1: Deru Di Balik Kabut

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Kutukan / Misteri
Popularitas:427
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Dara Kirana terpaksa meninggalkan gemerlap kota untuk menetap di kaki Gunung Marapi yang selalu diselimuti kabut misterius, namun kepindahannya justru menyeretnya ke tengah pusaran rahasia kuno yang mematikan. Saat nyawanya terancam oleh insiden tak wajar di tengah hutan hujan yang lebat, sesosok pemuda dingin dan tertutup bernama Indra Bagaskara muncul menyelamatkannya dengan kekuatan yang melampaui logika manusia. Di tengah aroma tanah basah dan desas-desus tentang legenda manusia harimau yang mulai menjadi nyata, Dara menyadari bahwa ketertarikannya pada Indra bukan sekadar romansa biasa, melainkan awal dari kebangkitan darah "Pawang" dalam dirinya yang ditakdirkan untuk menjinakkan sang penguasa rimba sebelum sisi binatangnya mengambil alih kesadaran manusianya selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Aksara Usang dan Hawa Bulan Mati

​Ruang kerja Kakek Danu berbau seperti pusara yang menyimpan ribuan rahasia. Aroma kapur barus, kertas lapuk, dan sisa kemenyan yang terbakar mengendap di udara, membuat napas terasa berat.

​Hanya diterangi oleh cahaya keemasan dari senter kecil yang dibawanya, Dara Kirana berdiri di depan rak buku berbahan kayu ulin di sudut ruangan. Jari-jarinya yang gemetar menyusuri punggung-punggung buku tebal bersampul kulit yang mulai mengelupas. Beberapa buku bahkan tidak memiliki judul dalam aksara Latin, melainkan menggunakan huruf Jawa Kuno atau aksara Pallawa yang meliuk-liuk tajam.

​Tangan Dara akhirnya berhenti pada sebuah jurnal bersampul kulit rusa berwarna cokelat gelap. Di bagian depan sampulnya, terdapat embos lambang yang sangat familiar: sulur pohon yang melilit cakar harimau, dengan sebuah tetesan darah di tengahnya.

​Ia menarik jurnal itu dengan hati-hati, meniup debu yang menutupi permukaannya, lalu duduk bersila di atas karpet tenun yang menutupi lantai kayu.

​Jantung Dara berdebar kencang saat ia membalik halaman pertama. Kertasnya berwarna kekuningan dan rapuh, ditulisi dengan tinta hitam yang mulai memudar. Tulisannya menggunakan ejaan bahasa Indonesia lama, namun masih bisa dibaca dengan jelas.

​“Catatan Penengah: Tentang Mereka yang Berjalan di Dua Dunia.”

​Dara menelan ludah dan mulai membaca. Halaman demi halaman berisi catatan detail tentang anatomi gaib, sejarah klan, dan siklus kutukan di Lembah Marapi. Catatan itu sepertinya ditulis oleh beberapa generasi Pawang Rimba sebelum Kakek Danu.

​Saat ia mencapai bab yang membahas tentang Nafsu Rimba kaum Cindaku, mata Dara terpaku pada sebuah paragraf yang diberi garis bawah tebal dengan tinta merah.

​“Kutukan darah yang mengalir di nadi Cindaku adalah api abadi. Api ini memberikan mereka kekuatan fisik yang tak tertandingi dan regenerasi yang melampaui nalar manusia. Namun, api tidak memiliki empati; ia hanya tahu cara membakar. Saat langit kehilangan pelita bulan (Bulan Baru), energi spiritual alam semesta berada di titik paling redup. Di saat inilah, api Nafsu Rimba meronta keluar, berusaha menelan kesadaran manusianya. Pewaris klan yang memiliki kekuatan fisik terbesar akan menderita api yang paling panas.”

​Dara teringat kembali pada uap panas yang mengepul dari tubuh Indra, dan logam bullbar truk yang melepuh di bawah telapak tangannya. Indra adalah wadah dari api terbesar itu.

​Gadis itu membalik halaman berikutnya dengan tergesa-gesa, mencari cara untuk memadamkan api tersebut. Ia menemukan sebuah ilustrasi gambar tangan yang menunjukkan anatomi dada manusia, dengan titik-titik cakra yang ditandai.

​“Satu-satunya penawar bagi kutukan ini adalah Darah Penengah. Seorang Pawang Rimba memancarkan resonansi spiritual berfrekuensi rendah yang bersifat mendinginkan (Air Murni). Namun, mengalirkan energi ini bukanlah tanpa risiko. Pawang tidak menundukkan monster dengan cambuk atau senjata; Pawang menundukkan mereka dengan kedamaian mutlak.

​Jika seorang Pawang menyentuh Cindaku yang sedang berada di puncak Nafsu Rimba, sang Pawang harus mengosongkan pikirannya dari segala emosi duniawi. Jika Pawang merasa takut, insting predator Sang Harimau akan mencium kelemahan dan mencabiknya. Jika Pawang merasakan gairah atau keterikatan emosional, api Sang Harimau akan menjalar dan membakar jiwa Pawang itu sendiri. Sang Penengah harus menjadi seperti es di dasar samudra: diam, tenang, dan tak tertembus.”

​Dara tertegun. Jari-jarinya mengusap halaman bertekstur kasar itu.

​Tidak boleh merasa takut. Tidak boleh memiliki keterikatan emosional.

​Syarat itu terdengar sangat sederhana di atas kertas, namun mustahil untuk dipraktikkan. Bagaimana mungkin ia tidak merasa takut saat berhadapan dengan monster harimau setinggi dua meter yang bisa memenggal kepalanya dengan satu ayunan cakar? Dan bagaimana mungkin ia tidak memiliki keterikatan emosional, padahal pemuda yang harus ia selamatkan adalah pemuda yang telah mempertaruhkan nyawanya sendiri di depan truk dua puluh ton?

​Dara menutup jurnal itu dengan dada sesak. Ia memeluk lututnya, menyembunyikan wajahnya di sana.

​Sutan Agung tidak sekadar memberikan ujian padanya. Sang Harimau Hitam tahu betapa berbahayanya proses penyembuhan ini bagi seorang Pawang yang belum terlatih. Tetua itu sengaja melempar Dara ke dalam jurang, berharap gadis ini hangus terbakar oleh api Indra sehingga klan Bagaskara tidak lagi bergantung pada manusia.

​"Ibu..." bisik Dara parau, air matanya menetes meresap ke kain piyamanya. "Apakah ini alasan Ibu lari? Karena beban untuk terus menjadi es yang tak punya perasaan ini terlalu berat?"

​Tidak ada jawaban yang datang dari kegelapan ruang kerja itu. Hanya suara detak jam dinding yang terus melangkah maju, membawa Dara semakin dekat menuju malam penghakiman. Malam tanpa bulan.

​Keesokan paginya, langit Lembah Marapi seolah berduka.

​Tidak ada seberkas pun sinar matahari yang berhasil menembus awan tebal kelabu yang menggantung sangat rendah. Kabut tidak hanya menutupi tebing dan puncak pepohonan, tetapi merayap turun hingga ke aspal jalanan, membatasi jarak pandang hingga kurang dari sepuluh meter. Udara terasa pengap, lembap, dan sarat akan listrik statis yang membuat bulu roma terus berdiri.

​Ini adalah hari puncak Bulan Baru. Alam sendiri sedang memberikan peringatan bahwa malam nanti, bayang-bayang akan mengambil alih bumi.

​Dara berangkat ke sekolah dengan sepeda ontel baru yang dibelikan Kakek Danu dari warga desa pagi tadi. Pikirannya kosong. Ramuan Ruruhi yang kembali ia minum setelah sarapan membuat lidahnya mati rasa dan kepalanya berdenyut konstan.

​Saat ia memarkirkan sepedanya di pelataran SMA Nusantara Lereng Marapi, suara langkah kaki yang mendekat membuatnya menoleh.

​Bumi Arka berjalan menghampirinya menembus kabut. Pemuda itu mengenakan jaket varsity kebanggaannya, namun auranya pagi ini jauh dari kata santai. Wajah Bumi terlihat tegang, rahangnya terkatup rapat, dan matanya terus memindai sekeliling halaman sekolah dengan kewaspadaan seorang penjaga perbatasan yang sedang siaga satu.

​"Pagi, Anak Kota," sapa Bumi, suaranya sedikit lebih berat dari biasanya. Ia berdiri sangat dekat dengan Dara, secara instingtif memosisikan tubuhnya untuk menghalangi arah angin dari arah gedung utama.

​"Pagi, Bumi," balas Dara pelan. "Kau terlihat kurang tidur."

​"Seluruh kawananku kurang tidur," Bumi mendengus pelan, matanya melirik ke arah atap sekolah di mana Tio dan Adi sudah standby mengawasi dari kejauhan. "Cuaca sialan ini... ketiadaan cahaya matahari di siang hari membuat makhluk-makhluk bawah tanah mulai gelisah lebih awal. Udara berbau seperti tanah kuburan basah."

​Dara tahu apa yang dimaksud Bumi. Willem dan pasukan Opsir Darahnya pasti sedang bersiap di dalam bayang-bayang.

​Bumi merogoh saku jaketnya, lalu menarik keluar sebuah gelang yang terbuat dari anyaman akar berwarna cokelat kemerahan. Bentuknya sangat sederhana, namun Dara bisa merasakan hawa hangat yang sangat tipis memancar dari gelang tersebut.

​"Berikan tangan kananmu," perintah Bumi lembut.

​Dara menurut, menyodorkan tangannya yang masih dibalut perban elastis. Bumi melingkarkan gelang akar itu di atas perban Dara, mengikatnya dengan simpul mati yang kuat. Jari-jari Bumi yang kapalan menyentuh kulit pergelangan tangan Dara dengan kehati-hatian yang luar biasa, seolah gadis itu adalah porselen langka yang mudah retak.

​"Itu akar pohon pasak serigala dari Lereng Timur," jelas Bumi, menatap mata Dara dalam-dalam. "Akar itu tidak akan memberimu kekuatan sihir atau semacamnya, tapi ia memiliki aroma dominan dari kawananku. Malam ini, saat kau berjalan menembus hutan menuju sarang Kucing Besar itu... jika ada makhluk liar yang berniat mencegatmu, bau akar ini akan memberitahu mereka bahwa kau berada di bawah perlindungan mutlak Alpha Ajag. Mereka akan berpikir dua kali sebelum mendekat."

​Dara tertegun. Tenggorokannya terasa tercekat oleh rasa haru. Di saat Indra memberikan perlindungan dengan cara yang mengintimidasi dan posesif, Bumi memberikan perlindungan dengan cara yang merangkul dan menenangkan.

​"Terima kasih banyak, Bumi," bisik Dara, menyentuh gelang akar itu. "Kau tidak perlu repot-repot melakukan ini untukku."

​"Kau salah," Bumi tersenyum tipis, sebuah senyum sedih yang jarang ia perlihatkan. Pendar merah kecokelatan berkelebat di matanya. "Aku harus melakukannya. Karena instingku meneriakiku untuk mengurungmu di dalam kamarku dan tidak membiarkanmu keluar sampai bulan baru berlalu. Ini adalah kompromi terbaik yang bisa kubuat dengan kewarasanku sendiri agar membiarkanmu pergi ke wilayah Cindaku malam ini."

​Pernyataan itu begitu jujur, brutal, sekaligus manis. Dara kehilangan kata-kata.

​Sebelum Dara sempat membalas, bel sekolah berbunyi nyaring. Bumi mundur satu langkah, kembali memasang wajah ramahnya. "Masuklah ke kelas. Jangan berjalan sendirian ke toilet hari ini. Santi sudah ku- briefing untuk terus menempel padamu seperti lintah."

​Dara hanya bisa mengangguk dan berjalan menuju kelasnya, sementara Bumi berbalik arah menuju koridor IPS.

​Sesuai perkataan Bumi, suasana sekolah hari ini terasa aneh. Banyak murid yang absen, terutama mereka yang tinggal di dekat pinggiran hutan. Para guru mengajar dengan suara yang lebih pelan dan mata yang terus melirik ke luar jendela. Seluruh desa tampaknya merasakan insting purba bahwa ada bencana yang sedang mengintai di balik kabut tebal ini.

​Pada jam istirahat kedua, Dara meminta izin pada Santi untuk pergi ke perpustakaan sementara (ruang baca kecil yang difungsikan sejak perpustakaan barat disegel). Ia butuh keheningan untuk mempraktikkan teknik pernapasan menenangkan pikiran yang ia baca di jurnal semalam.

​Namun, saat ia melangkah masuk ke lorong sepi yang mengarah ke ruang baca, sesosok tubuh mendadak menghadangnya.

​Dara terkesiap dan memundurkan langkah.

​Raka Bagaskara berdiri bersandar pada dinding koridor. Penampilan pemuda yang biasanya selalu ceria dan rapi itu kini terlihat sangat memprihatinkan. Kulit Raka memucat pasi, matanya dihiasi lingkaran hitam yang dalam, dan rambut ikalnya kusut masai. Uap panas yang tipis menguar dari kerah kemejanya yang sengaja dibuka.

​Jika Raka yang bukan pewaris utama saja terlihat seburuk ini akibat efek Bulan Baru, Dara tidak bisa membayangkan kondisi Indra.

​"Dara," panggil Raka, suaranya terdengar sangat kering dan serak, seolah ia baru saja menelan kerikil panas. "Aku... aku harus menemuimu sebelum Kak Maya menemukanku."

​Dara menjaga jarak, mengencangkan cengkeramannya pada buku catatannya. "Ada apa, Raka? Di mana Indra?"

​Raka memejamkan mata menahan sakit yang berdenyut di pelipisnya. Ia memegangi kepalanya dengan satu tangan. "Indra tidak masuk. Dia sudah mengunci dirinya di dalam Gua Batu Larangan di balik air terjun Lereng Utara sejak dini hari tadi. Dia... dia merantai dirinya sendiri ke dinding gua menggunakan baja penempa."

​Mata Dara membelalak ngeri. Merantai dirinya sendiri?

​"Dia tidak ingin melukaimu, Dara," Raka menatap gadis itu dengan sorot mata yang memohon. Ketengilan dan sikap santai pemuda itu telah hancur sepenuhnya. "Kabar tentang kesepakatan gilamu dengan Sutan Agung sudah menyebar ke seluruh klan. Kak Indra sangat marah saat mendengarnya, tapi ia tidak bisa keluar dari gua itu. Insting binatangnya sudah mulai mengambil alih sejak tengah malam."

​Raka memaksa tubuhnya berdiri tegak, melangkah sedikit mendekat dengan napas tersengal. "Dengarkan aku. Sutan Agung sengaja merancang ini agar kau terbunuh secara 'kecelakaan'. Kak Indra di puncak Nafsu Rimba bukanlah kakak yang kukenal. Dia hanyalah mesin pembunuh murni yang terbakar oleh api. Jangankan kau yang hanya gadis manusia, Bujang sekalipun tidak akan berani mendekatinya malam ini."

​"Lalu kau memintaku untuk tidak datang dan membiarkan Indra hancur di dalam sana?!" balas Dara, suaranya naik satu oktaf, emosinya terpancing. "Raka, kalau aku tidak memadamkan apinya, dia akan kehilangan akal sehatnya secara permanen! Kakekku memberitahuku bahwa Cindaku yang kalah dari Nafsu Rimba akan menjadi monster seutuhnya!"

​"Lebih baik dia kehilangan akal sehatnya daripada menjadi pembunuhmu!" bentak Raka, lalu langsung terbatuk-batuk keras sambil memegangi dadanya yang memancarkan panas berlebih.

​Pemuda itu menatap Dara dengan putus asa. "Kak Indra lebih memilih membusuk sebagai binatang di dalam gua itu selamanya... daripada hidup waras tapi dengan darahmu di tangannya. Kalau kau mati malam ini oleh cakarnya, saat ia kembali sadar besok pagi... Kak Indra akan bunuh diri karena rasa bersalah, Dara. Tolong, jangan datang ke Lereng Utara malam ini."

​Kata-kata Raka menghunjam jantung Dara bagaikan belati es.

​Gadis itu menatap Raka yang gemetar menahan sakit. Pernyataan itu menyadarkannya pada realitas yang sangat pahit: mengorbankan diri saja tidak cukup. Jika ia gagal menjadi 'air murni' yang tenang malam ini, kematiannya bukan hanya akhir dari hidupnya, melainkan juga akhir dari hidup pemuda yang mencintainya dengan cara yang paling purba dan merusak.

​Dara menegakkan bahunya. Tangannya yang gemetar perlahan menjadi tenang. Keputusannya sudah bulat sejak ia melihat cetakan tangan di baja truk itu kemarin.

​"Sampaikan pada Sutan Agung dan Maya," ucap Dara dingin, memancarkan wibawa gaib yang membuat Raka tersentak mundur, "bahwa sang Penengah tidak pernah lari dari api. Aku akan ada di sana sebelum tengah malam, Raka. Beristirahatlah, suhu tubuhmu mulai membahayakan dirimu sendiri."

​Tanpa menunggu balasan dari pemuda Cindaku itu, Dara melangkah melewatinya, berjalan dengan punggung tegak menyusuri lorong menuju kelas.

​Matahari tidak pernah benar-benar muncul hari itu, dan saat senja tiba, kegelapan yang turun ke Lembah Marapi terasa absolut. Seperti selimut hitam berbahan beludru tebal yang dilemparkan ke atas dunia.

​Tidak ada cahaya bulan. Tidak ada pendar bintang. Bahkan lampu-lampu jalan di desa tampak meredup secara tidak wajar, berkedip-kedip melawan distorsi energi negatif yang menguar dari bawah tanah dan dari kedalaman hutan.

​Dara duduk di tepi ranjangnya, menatap keluar jendela kamarnya yang tertutup rapat. Malam ini sangat hening. Tidak ada suara jangkrik atau katak. Namun, jika ia menajamkan pendengarannya, ia bisa mendengar lolongan serigala yang panjang dan menyayat hati dari arah timur. Itu adalah suara Bumi dan kawanannya, memulai patroli garis depan untuk menghalau pasukan mayat hidup Willem yang mulai merayap di bawah selubung malam buta.

​Di lantai bawah, Kakek Danu sedang menyiapkan obor dan perbekalan.

​Dara menatap pantulan dirinya di kaca jendela yang gelap. Ia telah mengganti seragamnya dengan celana panjang tebal, kemeja flanel, dan jaket tahan angin. Gelang akar pasak serigala pemberian Bumi melingkar manis di atas perban tangannya.

​Ia memejamkan mata, mempraktikkan teknik pernapasan yang ia baca dari jurnal kuno ibunya.

​Tarik napas. Bayangkan dasar samudra yang gelap, dingin, dan sunyi. Embuskan napas. Biarkan riak air mereda. Jadilah es. Jadilah ruang hampa. Jangan ada ketakutan. Jangan ada hasrat.

​Ia mengulanginya berkali-kali hingga detak jantungnya yang tadinya berpacu cepat perlahan-lahan melambat dan stabil. Rasa dingin mulai menyebar dari titik di mana segel kelopak bunga itu tertanam, menjalar ke seluruh pembuluh darahnya. Ramuan Ruruhi di perutnya telah memudar sepenuhnya, membebaskan energi Pawang di dalam tubuhnya untuk kembali bernapas.

​"Dara?"

​Suara Kakek Danu dari ambang pintu membuyarkan konsentrasinya. Pria tua itu berdiri membawa sebuah lentera kuningan kuno yang apinya berwarna sedikit kebiruan. Wajah kakeknya dipenuhi oleh gurat-gurat kekhawatiran yang mendalam.

​"Sudah waktunya, Kek?" tanya Dara, bangkit berdiri.

​Kakek Danu mengangguk berat. "Sutan Agung telah mengirimkan dua penjaga ke batas halaman belakang kita untuk mengawalmu. Kakek hanya diizinkan mengantarmu sampai ke bibir air terjun. Sisa perjalanannya... kau harus masuk ke dalam gua itu sendirian."

​Pria tua itu berjalan mendekat, meletakkan tangannya yang keriput di atas bahu Dara. "Ibumu tidak pernah mencapai titik ini, Dara. Dia memilih untuk tidak mengambil risiko itu. Jika kau merasa api itu terlalu besar saat kau masuk ke dalam sana... jangan ragu untuk berbalik dan berlari."

​"Kalau aku berlari, kita semua akan mati, Kakek," jawab Dara dengan seulas senyum tipis yang sarat akan kepasrahan dan kedamaian yang aneh. "Aku sudah siap."

​Malam ini, bukan seorang siswi SMA yang melangkah keluar dari pintu belakang rumah kayu itu. Malam ini, di bawah ketiadaan cahaya bulan dan di tengah kepungan lolongan serigala yang menggetarkan bumi, Dara Kirana berjalan menembus kabut menuju mulut neraka.

​Takdir yang dihindari selama puluhan tahun kini tiba pada titik penentuannya. Sang Air Murni bersiap untuk berhadapan langsung dengan Sang Api Harimau.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!