NovelToon NovelToon
Something Between Us

Something Between Us

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Perjodohan / Idola sekolah
Popularitas:23
Nilai: 5
Nama Author: NitaLa

Mungkin kebanyakan orang bilang menjadi orang kaya adalah hal paling gampang dilakukan. Tapi tidak jika dikaitkan dengan Some, ditengah terkaan dia malah diberi harapan panjang untuk menikah. Hal itulah menjadi awal - awal Some mengenal cowok - cowok yang lahir dengan keluarga sama darinya. Hanya cowok itu yang menerima seornag wanita mempunyai penyakit, namanya Dinner. Dari Dinner, Some dapat menerima segala sesuatu yang menimpanya. Meski bukan hal mudah ketika harus operasi beberapa kali, tapi Dinner menemaninya seperti seorang pacar. Pacaran bahakn menjalani hubungan dengan Dinner, seperti dijodohkan ini, menjadi pertanyaan besar apakah Dinner akan sanggup ?

•untuk kisahnya sudah tamat dari tahun lalu. dan masih bisa dinikmati dengan dukungan like, dan komentar kecil kalau ada kesalahan. thanf for one.

•karya original dari Nita Juwita

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NitaLa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Between 14

**

Pak Hanry Adalah Dokter

**

Selesai kelas pembelajaran terakhir kali ini, Some memutuskan untuk menjauhi teman - temannya. Ia melangkahkan kaki lebih dulu, meninggalkan kelas. Dan pastinya Cassie dan Dina sama - sama melihat ke arah Some dengan pandangan bertanya. Biasanya Some akan ada waktu untuk berpergian bareng teman - temannya menuju area parkir. Dan seperti yang Dina tahu kalau OSIS saat ini sedang ada jeda beberapa jam, sampai di pukul empat mereka melaksanakan kembali kegiatan. Dan untuk Dina pribadi ia akan menunggu sampai pukul empat itu, sayangnya Some malah nyelonong keluar kelas gitu aja.

"Loe ada OSIS nggak Cas?" tanya Dina melihat Some yang sedang berdiri di depan kelas sambil sibuk menelpon seseorang. Dan dari gelagatnya Dina tahu kalau Some emang sedang resah karena menunggu jemputan.

"Gue nggak ada OSIS atau rapat sama sekali Din," jawab Cassie sambil merapikan buku - bukunya dan memasukannya ke dalam tas. Meskipun ia cewek lelet, tapi ia nggak akan ketinggalan informasi mengenai kepulangan sekolah.

"Ya masa gue nunggu rapat OSIS di sekolah sendirian," ucap kesal Dina sambil menghembuskan nafas.

"Ya kali nggak ada salah satu OSIS kesayangan loe yang juga bernasib sama," kata Cassie sambil mengangkat bahu. Dia emang nggak ikut OSIS selain karena dia nggak suka panas - panasan, dampak dari otoriter sekolah membuatnya kesal.

"Ada banyak tapi nggak ada yang dari kelas kita, mereka malah pulang gitu aja, termasuk sahabat loe," kata Dina masih melihat Some yang beneran lagi kebingungan seolah emang nggak mau ketahuan Dina yang pasti akan mengajaknya tinggal di sekolah.

"Udah biarin aja, Some sering banget masuk absen OSIS, jadi gapapa kan lain kali, pulang sebentar," ucap Cassie sambil merangkul tas bahunya. Karena ia juga akan menjadi salah satu dari siswa kelas ini yang akan meninggalkan Dina.

"Ya Allah Cas temenin gue sampai jam empat," ucap Dina merajuk.

"Gue nggak pernah mau ada urusan sama organisasi OSIS ya, jadi gue pergi dulu, bye," ucap Dina sambil tersenyum evil meski hanya sedikit. Ia lalu meninggalkan kelasnya, termasuk Dina yang sudah siap pulang itu. Dan berbarengan dengan itu jejak Some juga sudah tidak ada di tempatnya. Dipastikan Dina akan menunggu OSIS sekitar dua jam lagi. Dan pastinya Some dengan baju casual, dia akan datang pas sudah makan dan mandi.

Dilain sisi Some baru saja sampai di depan mobilnya, dan pak Supratman ada di dalam mobil dengan posisi siap berangkat. Some membuka pintu belakang, ia langsung duduk di kursi. Dan pak Supratman segera stater mobil, ketika terdengar Some menutup pintu dengan rapat.

"Mau berangkat ke mana non?" tanya pak Supratman hati - hati pada Some yang sedang menahan kepanasan karena berjalan menuju area parkir tanpa payung. Sebenarnya Supratman akan menjemput nona nya dengan payung, tapi Some menelpon lagi dan berkata kalau ia tidak mau dijemput di depan kelas.

"Iya ke rumah sakit pak," jawab Some sambil menatap pak Supratman berusaha mencari seberapa penasaran sopir itu. Some tak mau malah sikap penasaran itu membawa keingintahuan keluarganya.

"Ada yang sakit non, perasaan nyonya nggak kenapa - napa. Mas Ranu juga berangkat sekolah," ucap pak Supratman sambil mengerutkan alisnya. Some tahu pak Supratman ditugaskan untuk menjaganya dan hal - hal harus di ketahui olehnya. Menjadi sebuah laporan untuk mama dan papa. Dan Some tahu untuk ke rumah sakit ini cukup hanya berjalan dengan drama yang harus ia buat.

"Nggak kenapa - napa, nggak ada keluarga aku yang sakit. Ini guru aku pak, dia minta di jenguk sama aku," kata Some berbohong awal dari drama yang ia buat untuk menutupi segala tentang rumah sakit, pak Hanry, dan penyakitnya.

"Kenapa sendiri aja non, kan kalau ada guru yang sakit jenguknya ramean," ucap pak Supratman lebih ke kepo. Cukup Some menghembuskan nafas sabar menanggapi sikap sopirnya ini.

Some menyandarkan kepalanya ke kursi mobil yang terasa empuk itu. "Dia guru OSIS dan aku ditugaskan gitu buat jenguk dia, aku lumayan dekat sama dia pak," jawab Some mau tak mau melanjutkan dramanya sampai dirasa keluarganya tahu keadaanya. Dan ia sama sekali nggak akan memberitahu dekat - dekat ini.

"Ya baguslah ternyata non baik banget ya," ucap pak Supratman dengan senyum mengembang. Pertanda bahwa ia cukup percaya bahkan tersanjung akan sikap baik Some yang jarang datang.

"Namanya guru dekat pak," jawab Some dengan senyum kecil yang memang hanya sebuah kebohongan. Dan jika pun ada guru sakit itu, Some yakin dia juga akan sering menjenguknya. Karena dia memang sebaik itu.

"Memangnya sakit apa sih sampai di rawat, kalau sakit kan biasanya di rumah aja?" tanya Supratman yang lagi nyetir. Ia baru aja menginjak pedal gas, dan membawa mobil ke jalan lenggang.

"Sakit lumayan parah pak, jadi kayaknya bakalan sering berkunjung, gapapa kan pak?" jawab Some masih berbohong. Tapi ia bersyukur akhirnya kalau nanti ia minta ke rumah sakit lagi, Supratman tidak akan banyak pikiran.

"Gapapa saya juga senang mendengarnya, kan bisa jalan - jalan terus telusuri Jakarta," ucap Pak Supratman dengan senyum mengembang yang membuat Some tak kuasa menahan kekehannya.

"Makasih pak," kata Some dengan hembusan nafas tenang. Ia lalu menutup matanya karena kantuk menyerangnya. Sedangkan mobil terus melaju menuju tujuannya.

**

Ketika sampai rumah sakit, Some buru - buru masuk ke dalamnya. Ia kebingungan mencari sebuah ruangan dokter spesialis yang di khususkan untuk bedah dan kanker. Karena pak Hanry mengajaknya bertemu di sana, ia melewati banyak ruangan rawat pasien. Dan langkahnya berhenti di sebuah taman kecil yang biasnya di gunakan untuk istirahat bagi penjenguk pasien. Ia menghembuskan nafas perlahan, karena  merasa kelelahan mencari ruang dokter untuk kanker tapi dirinya sibuk mencari di ruang rawat. Ia berjalan kecil sampai seorang suster dengan sukarela menyapanya.

"Mbak," ucap suster yang sedang berjalan dengan teman sesama susternya.

"Iya apa?" tanya Some dengan wajah sengaja ramah karena dia nggak mau suster itu malah mengira sebuah bantuannya tidak dibutuhkan sama sekali.

"Kebingungan ya, mau ke ruang mana?" tanya suster itu lagi dengan senyum yang manis sekali. Some jadi ngerti kenapa dunia ini diciptakan untuk orang baik dan orang jahat, karena senyum suster tak sombong itu membuat Some tersanjung.

"Mau ke ruang dokter Mr. Rafaela sus," jawab Some dengan kikuk masih malu juga menanyakan sosok dokter yang lumayan terkenal di rumah sakit ini. Karena pak Hanry juga tidak sembarangan memilihkan dokter untuknya.

"Oh dia doker spesialis kepercayaan kami, mari saya antar," ucap suster itu lagi dengan senyum sama. Lalu ia memegang bahu teman susternya untuk berpamitan, dan Some dengan suka rela menerima ajakan tersebut.

Langkah suster menggunakan platshoes itu menemani Some dari keheningan. Ia terus menunduk seolah menutupi dirinya agar tidak ditanyakan hal lain.

"Memangnya ada yang periksa mbak, kenapa ke dokter yang biasanya jadwal periksa pagi?" tanya suster itu, seperti yang Some duga ia pasti penasaran. Makannya tadi Some tak membuka suara.

"Ada perlu saja," jawab Some tidak perduli. Dan ia juga tahu kalau sebagai suster melakukan itu adalah sikap ramah saja.

"Kalau bisa periksa ke dokter lain saja ya, takutnya ganggu istirahatnya," ucap suster itu tepat ketika ia berhenti di sebuah pintu bercat putih yang begitu bersih. Some jadi ngerti mungkin sebagian orang berkonsultasi ke dokter spesialis ini mahal dan jarang dilakukan oleh pasien biasa. Apalagi di waktu temu yang tidak di jadwalkan, tapi Some hanya memenuhi keinginan pak Hanry selaku dokter di rumah sakit ini.

Ketika suster itu mau pergi Some memegang tangan suster ini. "Saya ada janji temu dengan dokter Rafaela dan dokter Hanry, tidak mengganggu kan? Sebelumnya makasih sus," kata Some dengan senyum tulus. Ia tahu mungkin terlambat berkata seperti itu, tapi ia jujur karena ia tidak mau suster itu salah paham.

"Saya mengerti dek," ucap suster itu sambil memegang bahu Some seolah menguatkan satu sama lain. Dan mungkin itu hanya berupa dukungan agar seseorang yang berurusan dengan dokter itu segera sembuh.

"Terima kasih sekali lagi," ucap Some sambil menunduk dan suster itu hanya permisi lalu kembali berjalan untuk kembali ke teman susternya tadi. Dengan tarikan nafas yang perlahan akhirnya Some membuka pintu putih itu.

Di dalam nampak dua orang dokter sedang berbicara serius. Seperti yang suster itu bilang ini memang ruangan pribadi dokter Rafaela, dengan sofa dan berbagai peralatan medis yang hanya diketahui oleh dokter itu sendiri.

"Selamat sore," ucap Some sambil menutup kembali pintu meski hanya berupa dorongan kecil.

"Kemarilah Some kamu mengenal saya sebagai dokter semasa kamu kecil kan?" ucap dokter Rafaela dengan begitu hangat. Yang membuat Some segera menuju ke arahnya.

**

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!