NovelToon NovelToon
Dia Yang Ku Pilih

Dia Yang Ku Pilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:847
Nilai: 5
Nama Author: Yolanda Fitri

Novel ini menceritakan seorang gadis bernama BIANCA yang masih kebingungan antara BARRA cinta lamanya yang berakhir karena kesalapahaman yang di buat oleh AZA teman kecil dari BARRA , atau LEO orang baru yang membuat DIA bangkit kembali menjalani hari hari dengan ceria. namun bukan kisah cinta mereka saja yang rumit , Bianca juga menjalani hidup yang tidak mudah di mana dia seorang anak yatim piatu .

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yolanda Fitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#Mungkinkah

Tak lama kemudian, Dinda keluar dari kamar mandi dengan wajah pucat dan kusut. Bianca segera menghampirinya dengan perasaan cemas.

"Din, Lo engak pa-pa? Kenapa sih? Coba ceritakan ke gue," tanya Bianca dengan nada khawatir.

Namun Dinda hanya menjawab dengan nada datar, "Gue engak apa-apa," lalu langsung berjalan meninggalkan Bianca sendirian.

Mulai saat itu, Bianca merasa curiga bahwa ada sesuatu yang tidak beres pada diri sahabatnya itu. Menurut pikirannya, mustahil Dinda berubah seketika hanya karena kehilangan sebuah ponsel.

Leo dan Barra yang berdiri tidak jauh dari situ saling berpandangan. Seolah-olah mereka saling bertanya satu sama lain, ada apa sebenarnya dengan Dinda yang berubah drastis seperti itu.

Jam pelajaran kedua pun dimulai. Sepanjang pelajaran, Dinda tetap dalam keadaan gelisah dan ketakutan. Di dalam hatinya, ia terus bergumam, "Siapa sebenarnya yang mengancam gue? Apakah orang itu ada di dalam ruangan ini? Dari mana dia mendapatkan nomor telepon gue?"

Terlalu banyak pertanyaan yang memenuhi kepala Dinda. Namun ia tidak dapat menceritakan semuanya kepada siapa pun, bahkan kepada sahabatnya sendiri yaitu Bianca. Akibatnya, Bianca juga tidak dapat berkonsentrasi mengikuti pelajaran karena pikirannya terus tertuju pada keadaan Dinda.

Setelah jam pelajaran selesai, seluruh siswa mulai meninggalkan lingkungan kampus. Bianca mengajak Dinda untuk sementara waktu menginap di rumahnya saja. Namun Dinda menolak permintaan itu dengan alasan, "Gue lebih baik pulang aja. Hari ini bokap dan nyokap gue pulang dari luar negeri, nanti mereka pasti nyariin gue." Padahal itu hanyalah alasan yang dibuat-buat agar Bianca tidak semakin curiga padanya.

Saat melihat Bianca berdiri sendirian, Barra segera menghampirinya. "Hai Bi, kenapa kamu sendirian? Mana Dinda?" tanya Barra ramah.

"Dinda sudah pulang lebih dulu," jawab Bianca.

Mendengar hal itu, wajah Barra tampak berseri-seri karena ia mendapatkan kesempatan untuk berduaan dengan gadis yang disukainya itu. Namun sayang sekali, Leo segera datang menghampiri mereka dan menanyakan hal yang sama. Rasa senang Barra seketika hilang, ia merasa kesal karena kehadiran Leo yang mengganggu rencananya.

Belum selesai perasaannya terganggu, Aza juga datang bergabung bersama mereka dan mengajak, "Bi, bagaimana kalau kita berjalan-jalan sebentar? Sudah lama sekali kita tidak berkumpul. Bagaimana kalau kita berempat saja?"

Awalnya Bianca menolak ajakan itu, namun karena Aza terus membujuk dan mengingat bahwa Aza juga temannya, akhirnya Bianca menyetujuinya.

Aza mengusulkan agar mereka menggunakan mobil miliknya saja karena muat untuk empat orang, sedangkan mobil milik Barra dan Leo hanya muat untuk dua orang. Bianca menyetujuinya karena tidak mau memilih di antara keduanya, takut menyakiti hati salah satu dari mereka.

Kemudian Aza menyerahkan kunci mobilnya kepada Barra dan memintanya untuk menjadi sopir. Rasa kesal Barra semakin bertambah karena kesempatan berduaan dengan Bianca semakin menjauh.

Sebelum masuk mobil, Aza dengan sengaja memegang tangan Bianca dan mengajaknya duduk di sampingnya di kursi belakang, sedangkan Leo dan Barra duduk di bagian depan. Sepanjang perjalanan, Leo hanya diam saja dan menuruti apa saja yang terjadi.

"Kita akan pergi ke mana, Za?" tanya Bianca memulai percakapan.

Aza tersenyum penuh makna dan menjawab bahwa mereka akan makan di sebuah restoran. Tak lama kemudian, Aza menunjuk ke sebuah bangunan dan meminta Barra untuk berhenti di tempat itu.

Melihat tempat itu, tatapan Leo seketika berubah. Tempat itu adalah tempat yang sering mereka kunjungi saat masih menjalin hubungan asmara. Di dalam hatinya, Leo bertanya-tanya, "Ternyata Aza masih mengingat tempat ini. Tapi untuk apa ia mengajak kami ke sini? Apakah ia masih menyimpan perasaan kepadaku?"

Setelah masuk ke dalam restoran dan memesan tempat duduk, Barra bertanya kepada Bianca tentang makanan kesukaannya. Bianca hanya menjawab, "Apa saja boleh."

Berbeda dengan Bianca, Aza dengan sigap memesan berbagai jenis makanan, dan semuanya adalah makanan kesukaan Leo. Leo hanya terdiam terpaku di tempatnya, ia sama sekali tidak menyangka bahwa Aza masih sangat mengingat-ingat hal sekecil itu.

"Ini aku pesankan semua makanan kesukaanmu, Leo. Makanlah sampai kenyang," ucap Aza sambil tersenyum manis menatap Leo.

"Terima kasih," jawab Leo singkat. Ia semakin bingung dan bertanya-tanya, apa sebenarnya maksud dari sikap manis Aza hari ini.

"Tunggu dulu... Kok Lo tahu banget makanan kesukaan dia , Za?" tanya Barra penasaran sambil menunjuk ke arah Leo.

Aza tersenyum lebar dan menjawab dengan nada santai, "Ya tentu saja gue tahu dong , dulu kita pernah berpacaran kok."

Mendengar pengakuan itu, Bianca yang sedang makan langsung tersentak kaget hingga ia tersedak. Barra dengan sigap segera menuangkan air minum dan menyodorkannya kepada Bianca.

"Kamu tidak apa-apa kan, Bi?" tanya Barra cemas.

Namun, Bianca tidak menjawab pertanyaan Barra. Matanya justru tertuju lurus menatap wajah Leo. Dalam hatinya, Bianca merasa sangat kaget dan kecewa. "Jadi selama ini Leo menyembunyikan hal ini darinya? Ternyata Leo adalah mantan pacar Aza.Dan... dan... Waktu kejadian kasus yang menimpa kami dulu, mungkinkah ini alasannya Leo tidak bisa membantunya karena hubungan mereka ini?" Pertanyaan itu terus berputar di kepala Bianca. Ia pun teringat ucapan Dinda tempo hari yang melarangnya untuk menemui Leo. Sekarang Bianca mulai penasaran, apakah Dinda sebenarnya sudah mengetahui hal ini sejak lama?

Di saat yang sama, pandangan Bianca dan Leo saling bertautan. Aza yang melihat kejadian itu tersenyum licik dalam hati. "Tepat sasaran! Gue berhasil membuatnya kaget. Ini adalah langkah awalku untuk menjauhkan kalian berdua. Gue yakin Bianca pasti merasa terkejut dan sakit hati, sama seperti Dinda dulu . Bedanya, Bianca terlalu pandai menyembunyikan perasaannya agar orang lain tidak tahu," batin Aza penuh kemenangan.

Sementara itu, Leo hanya terdiam seribu bahasa. Ia benar-benar tidak menyangka kalau Aza akan mengatakannya secara terang-terangan begitu saja di depan Bianca. Leo merasa bingung dan bimbang, bagaimana caranya ia harus menjelaskan semuanya kepada Bianca agar gadis itu tidak salah paham. Di satu sisi, ia juga merasa tidak tega jika harus menyakiti perasaan Aza .

Barra yang melihat tatapan intens di antara Leo dan Bianca merasa cemburu, meskipun ia sadar betul dengan posisi dan statusnya saat ini.

"Oalah... Jadi ternyata kita senasib ya rupanya," ucap Barra memecah keheningan dengan nada bercanda namun terdengar sedikit menyindir. "Kalau begitu, sekarang Lo mau mengejar kembali mantan Lo ya, Za? Sama seperti gue nih," sambung Barra seraya dengan sengaja menggenggam tangan Bianca dengan erat di hadapan mereka semua.

Mendengar ucapan Barra itu, hati Aza seketika terkejut. Namun, ia berusaha menahannya dan tetap memasang wajah tenang agar Leo tidak curiga. Aza hanya membalas ucapan Barra dengan senyuman tipis yang penuh arti.

Tak lama kemudian, suara ponsel milik Bianca berdering keras memecah suasana. Bianca pun meminta izin untuk mengangkat telepon itu sejenak. Setelah pembicaraan di telepon selesai, Bianca kembali ke meja dan berpamitan kepada Barra, Leo, maupun Aza karena ia harus segera pergi.

Barra menawarkan diri untuk mengantarnya pulang, namun Bianca menolak halus karena ia sedang terburu-buru dan harus segera sampai ke tujuan. Leo hanya menatap kepergian Bianca dengan perasaan sedih yang mendalam. Ia merasa sangat bersalah dan menyesal karena tidak bisa menjelaskan semuanya kepada Bianca saat ini juga.

Siapakah yang menelepon Bianca? Dan ke manakah ia akan pergi dengan terburu-buru?

1
Yolanda Fitri
oke kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!