Pertemuan kembali di koridor universitas seharusnya menjadi momen nostalgia yang manis, namun bagi Wahyu dan Riani, itu adalah awal dari sebuah interaksi yang panjang dan penuh tembok penghalang.
Namun, hubungan mereka tidak berjalan semudah bayangan. Ada penyangkalan yang kuat, kecanggungan yang berlarut-larut, hingga cara berkomunikasi yang sering kali menemui jalan buntu.
Nantikan Perjalanan Kedua nya.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon USR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28
POV: WAHYU
Dua minggu setelah email Pak Hendra, hari sidang itu tiba.
Wahyu berangkat pukul tujuh pagi—lebih awal dari biasanya. Kemacetan Jakarta tidak bisa diprediksi, dan dia tidak akan membiarkan sesuatu yang bisa dia kontrol menjadi alasan untuk terlambat.
Selama perjalanan, pikirannya tidak seliar yang dia bayangkan.
Biasanya menjelang sidang, ada gelombang kecemasan yang mulai dari dada dan menyebar ke seluruh tubuh—perasaan tidak berdaya menghadapi sesuatu yang terlalu besar, terlalu lama, terlalu berat. Tapi pagi ini, kecemasan itu ada tapi tidak sebesar biasanya.
Mungkin karena email Pak Hendra.
Mungkin karena kesaksian auditor dua minggu lalu.
Mungkin karena, untuk pertama kalinya dalam delapan tahun, ada tanda-tanda nyata bahwa ini akan berakhir.
Atau mungkin karena sebelum berangkat tadi, ada pesan WhatsApp dari Riani yang masuk tepat ketika Wahyu selesai sarapan.
Riani: "Wahyu, hari ini sidang penting. Aku harap semuanya berjalan dengan baik. Apapun yang terjadi, kamu sudah berjuang sangat keras. Dan aku akan menunggu kabar darimu."
Singkat. Tidak berlebihan. Tapi tepat.
Wahyu membaca pesan itu di parkiran pengadilan, setelah turun dari motor. Lalu menyimpan ponsel dan berjalan masuk.
Ruang tunggu di lobi sudah lebih ramai dari biasanya.
Ayah dan ibunya sudah di sana—kali ini ibu membawa bekal nasi bungkus, mungkin khawatir Wahyu tidak sempat makan. Pak Hendra hadir dengan dua orang asisten yang membawa koper dokumen besar.
Dan ada satu orang baru yang Wahyu tidak kenal—seorang pria paruh baya berpenampilan rapi yang berdiri agak terpisah dari kelompok mereka, berbicara pelan dengan salah satu asisten Pak Hendra.
Wahyu mendekat ke pengacara itu. "Pak Hendra, siapa itu?"
Pak Hendra menurunkan suaranya. "Itu Direktur Hendra Kusuma, Wahyu. Dia hadir lebih awal dari jadwal. Dan dia hadir tanpa didampingi pengacara pihak perusahaan."
Wahyu menatap pria itu dari kejauhan.
Tanpa pengacara perusahaan.
Itu artinya Hendra Kusuma datang atas inisiatifnya sendiri. Bukan sebagai saksi yang dipanggil dan dibriefing oleh pihak lawan. Tapi sebagai seseorang yang memutuskan sendiri untuk berbicara jujur.
Wahyu tidak bisa membaca emosi apa yang tepat untuk dirasakan—campuran antara waspada, hati-hati, dan sesuatu yang ingin menjadi harapan tapi belum berani sepenuhnya.
Ayahnya mendekat dari samping. "Kamu lihat dia?"
"Lihat."
Ayahnya diam beberapa detik. "Delapan tahun lebih, Yu. Aku tidak pernah dengar nama itu tanpa merasa..." Suaranya berhenti.
Wahyu menatap profil ayahnya. Wajah yang tua sebelum waktunya. Rambut yang lebih putih. Punggung yang sedikit lebih bungkuk dari terakhir kali.
"Bapak tidak perlu lihat dia sekarang," ujar Wahyu pelan. "Fokus ke ruang sidang nanti."
Ayahnya mengangguk. "Kamu benar."
Sidang dimulai tepat pukul sembilan.
Prosedur pembukaan berjalan seperti biasa—hakim masuk, semua berdiri, dakwaan dibacakan ulang secara ringkas. Tapi ada nuansa yang berbeda hari ini: pihak pengacara perusahaan terlihat kurang percaya diri. Mereka berbisik di antara mereka sendiri lebih sering dari biasanya.
Mungkin mereka juga baru tahu bahwa Hendra Kusuma hadir tanpa pemberitahuan kepada mereka.
Hakim membuka sesi kesaksian.
Hendra Kusuma dipanggil ke mimbar saksi.
Wahyu duduk di bangku penonton, tidak bergerak. Matanya terpaku pada pria itu—yang kali ini berjalan ke mimbar dengan langkah yang berbeda dari sidang sebelumnya. Tidak sepercaya diri dulu. Tapi juga tidak terlihat takut.
Terlihat seperti seseorang yang sudah mengambil keputusan dan sudah berdamai dengan konsekuensinya.
Saksi disumpah.
Hakim bertanya: "Apakah Saudara bersedia memberikan kesaksian tambahan secara sukarela?"
Hendra Kusuma menjawab. "Ya, Yang Mulia. Saya hadir hari ini untuk meluruskan kesaksian sebelumnya yang tidak sepenuhnya akurat."
Bisik-bisik dari kursi pihak perusahaan langsung terdengar. Pengacara mereka mencatat sesuatu dengan cepat.
Hakim mengetuk palu. "Harap tenang. Silakan, Saudara."
Hendra Kusuma menarik napas.
Dan lalu dia bercerita.
Dengan detail. Dengan urutan waktu yang jelas. Dengan nama-nama, tanggal, dan angka-angka yang sebelumnya tidak pernah keluar dalam persidangan.
Bahwa keputusan menggunakan PT Jaya Abadi sebagai vendor subkontraktor adalah keputusan direktur—dirinya sendiri—yang didasari oleh hubungan bisnis personal antara dirinya dengan pemilik PT Jaya Abadi.
Bahwa Aditama Setiawan—ayah Wahyu—hanya menjalankan instruksi yang turun dari level direksi. Bahwa setiap kali ayah Wahyu mempertanyakan kelayakan vendor tersebut, dia didiamkan dan diperintahkan untuk meneruskan proses.
Bahwa ketika dana menghilang dan PT Jaya Abadi kabur, keputusan internal perusahaan adalah mencari kambing hitam. Dan ayah Wahyu, sebagai Manager Logistik yang secara teknis menandatangani dokumen pengadaan, dipilih sebagai orang yang akan menanggung.
Bahwa selama delapan tahun persidangan, dia—Hendra Kusuma—mengetahui kebenaran ini tapi memilih diam karena tekanan dari manajemen perusahaan dan ketakutan akan konsekuensi pribadi.
"Kenapa sekarang memilih bicara?" hakim bertanya setelah kesaksian selesai.
Hendra Kusuma terdiam sebentar.
"Karena saya tidak bisa terus tidur dengan nyenyak," jawabnya akhirnya. Suaranya serak. "Delapan tahun saya lihat foto keluarga Aditama di berita. Saya tahu dia tidak bersalah. Dan saya tetap diam." Dia berhenti. "Saya sudah pensiun sekarang. Perusahaan tidak punya kendali atas saya lagi. Dan saya... tidak ingin menanggung ini sampai mati."
Ruang sidang sunyi.
Di bangku penonton, ibu Wahyu menutupi mulutnya dengan tangan.
Di kursi terdakwa, ayah Wahyu duduk dengan kepala tertunduk—tapi bahunya, untuk pertama kalinya yang Wahyu ingat dalam delapan tahun ini, tidak terlihat seperti menanggung beban yang tak terlihat.
Wahyu tidak bergerak.
Matanya tidak basah—dia sudah kehabisan air mata untuk kasus ini bertahun-tahun lalu. Yang ada sekarang adalah sesuatu yang jauh lebih tenang dan jauh lebih dalam dari tangis.
Lega.
Bukan lega yang meledak-ledak.
Tapi lega yang mengalir pelan seperti air hangat, mengisi setiap sudut yang selama ini membeku.
Setelah sesi kesaksian, hakim mengumumkan bahwa berdasarkan kesaksian baru yang substansial ini, persidangan akan dilanjutkan dua minggu lagi untuk mendengarkan argumen final dari kedua pihak sebelum hakim menjatuhkan putusan.
Ini bukan putusan bebas hari ini.
Tapi semua di ruangan itu—termasuk pihak perusahaan yang terlihat sangat tidak nyaman—tahu ke arah mana angin bertiup.
Di luar ruang sidang, Pak Hendra merangkul bahu ayah Wahyu dengan senyum yang lebih lebar dari yang pernah Wahyu lihat di wajah pengacara itu.
"Kita hampir sampai, Pak Aditama. Hampir sampai."
Ayah Wahyu mengangguk. Matanya merah tapi tidak menangis—atau mungkin sudah habis tadi di dalam.
Ibu Wahyu langsung memeluk Wahyu begitu mereka di luar.
"Yu..." suaranya tercekat.
Wahyu membalas pelukan ibunya. Lebih erat dari biasanya.
"Ibu tadi dengar semua?"
"Dengar." Ibunya menarik napas bergetar. "Delapan tahun, Yu. Delapan tahun."
Wahyu tidak berkata apa-apa. Hanya mempererat pelukannya.
Dalam perjalanan pulang ke kost, di atas motor yang melewati jalanan Jakarta yang ramai, Wahyu tidak memutar musik.
Hanya mengendarai dalam keheningan—menikmati suara kota yang biasanya terasa bising tapi hari ini terasa seperti latar belakang yang tepat untuk pikiran yang tidak perlu dikeluarkan dalam bentuk kata.
Sampai di kost, dia parkir motor, naik ke kamar.
Duduk di kasur.
Dan meraih ponselnya.
Ada tiga pesan yang masuk selama dia dalam persidangan: satu dari ibunya yang ternyata dikirim sebelum mereka bertemu di pengadilan, satu dari Ardi tentang agenda BEM, dan satu dari Riani.
Riani: "Memikirkanmu hari ini, Wahyu."
Lima kata.
Wahyu membaca lima kata itu dan merasakan sesuatu yang sudah lama sekali tidak dia rasakan—sesuatu yang sederhana dan besar sekaligus, seperti menyadari bahwa selama berjalan di kegelapan sendirian, ternyata ada yang menyalakan lampu kecil di belakangmu tanpa kamu minta.
Dia mengetik.
Wahyu: "Sidang selesai. Hendra Kusuma bersaksi jujur. Dia mengakui semuanya."
Riani: "Wahyu..."
Wahyu: "Belum putusan bebas. Dua minggu lagi. Tapi setelah kesaksian hari ini, Pak Hendra bilang arahnya sudah sangat jelas."
Riani: "Aku sangat senang untuk kamu. Untuk ayahmu. Untuk keluargamu. Ini akhirnya, Wahyu. Setelah semua yang kalian lewati."
Wahyu membaca itu.
Lalu mengetik sesuatu yang sudah beberapa hari berputar di kepalanya tanpa menemukan cara untuk keluar.
Wahyu: "Riani, aku mau tanya sesuatu."
Tiga titik langsung muncul. Menghilang. Muncul lagi.
Riani: "Apa?"
Wahyu menatap layar.
Mengetik pelan.
Wahyu: "Kenapa kamu peduli sebanyak ini? Sejak awal. Padahal aku tidak pernah mudah."
Balasan Riani tidak datang segera.
Satu menit.
Dua menit.
Wahyu menunggu.
Tiga menit kemudian, Riani mengetik. Dan kali ini balasannya panjang—lebih panjang dari yang biasanya dia kirim lewat pesan.
Riani: "Karena pertama kali aku lihat kamu di kampus, ada sesuatu di matamu yang tidak bisa aku lupakan. Bukan kekosongan seperti yang orang lain mungkin lihat. Tapi seperti seseorang yang tahu betul rasanya sendirian tapi terus berjalan. Dan aku pernah membiarkan seseorang berjalan sendiri tanpa mencoba lebih keras. Aku tidak mau buat kesalahan itu lagi."
Wahyu membaca itu.
Riani: "Tapi kalau aku jujur lebih dalam... aku peduli karena aku mulai kenal kamu, Wahyu. Orang yang sesungguhnya—bukan tembok yang kamu pasang ke semua orang. Dan orang itu... sangat layak untuk dipedulikan."
Wahyu meletakkan ponsel.
Mengambilnya lagi.
Mengetik sesuatu.
Menghapus.
Mengetik lagi.
Menghapus lagi.
Lalu akhirnya, dengan keputusan yang terasa seperti melangkah ke tepi sesuatu yang tidak dia tahu kedalamannya, dia mengetik:
Wahyu: "Aku tidak tahu cara melakukan ini dengan baik. Mendekat ke orang lain. Membiarkan seseorang dekat. Tapi aku... tidak ingin kamu pergi."
Send.
Wahyu meletakkan ponsel menghadap bawah di kasur.
Menarik napas.
Melepaskannya.
Ponsel bergetar.
Dia balik ponsel. Membaca.
Riani: "Aku tidak kemana-mana, Wahyu."
Tiga kata.
Wahyu menatap tiga kata itu dalam waktu yang lama.
Lalu dia berbaring di kasur, menatap langit-langit yang sama yang sudah ratusan kali dia tatap dalam kegelapan dan kesendirian.
Tapi malam ini, langit-langit itu terasa berbeda.
Tidak lebih besar. Tidak lebih terang.
Hanya... tidak sesepi biasanya.
Dan untuk seseorang yang sudah sangat lama terbiasa dengan sepi, itu adalah hal yang luar biasa besar.
Bersambung.....