Di balik dinding suci sebuah pondok pesantren, tersembunyi seorang buronan. Reyshaka El Zhafran atau Shaka—tak pernah membayangkan hidupnya akan berakhir di tempat yang paling ia hindari. Demi lolos dari kejaran polisi, pengedar narkoba itu nekat bersembunyi di pesantren milik Ustadz Haidar, seorang ulama yang dikenal bijak dan disegani.
Awalnya, Shaka hanya ingin selamat. Namun hari demi hari, ketenangan, nasihat, dan ketulusan Ustadz Haidar perlahan meruntuhkan tembok keras di hatinya. Untuk pertama kalinya, Shaka mulai mengenal arti penyesalan dan harapan untuk berubah. Semua menjadi semakin rumit saat ia bertemu Hanindya Daisha Ayu—putri sang ustadz yang berhati lembut dan shalihah. Tanpa disadari, perasaan itu tumbuh diam-diam, menyiksa shaka dalam keheningan.
Tapi bagaimana mungkin seorang mantan pengedar narkoba seperti dirinya pantas mencintai perempuan sebersih Hanindya?
Terlebih, Hanindya telah dijodohkan dengan Ustadz Ilyas—lelaki yang jauh lebih layak dibanding dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Waktu berjalan tanpa terasa. Hari demi hari berlalu dengan ritme yang perlahan mulai akrab bagi Shaka. Dari yang awalnya terasa asing, kaku, bahkan menyesakkan, kini berubah menjadi sesuatu yang justru ia tunggu setiap harinya. Sudah dua bulan. Dua bulan sejak pertama kali ia menginjakkan kaki di pesantren itu dengan hati penuh ketakutan dan keraguan. Dua bulan sejak ia masih menjadi lelaki dengan tatapan dingin, rambut panjang berantakan, dan masa lalu yang seperti bayangan kelam yang terus membuntutinya ke mana pun ia pergi.
Dan sekarang semuanya perlahan berubah.
Perubahan yang tidak instan, tidak sempurna, tapi nyata. Shaka bangun sebelum subuh hampir setiap hari. Awalnya ia melakukannya karena terpaksa, karena suara ketukan pintu dari santri lain atau panggilan Ustadz Ilyas. Tapi lama-lama, tubuhnya sendiri seperti sudah terbiasa. Bahkan beberapa kali ia terbangun lebih dulu sebelum orang lain membangunkannya. Ia mulai terbiasa berjalan ke musholla dalam dinginnya udara pagi, berdiri di saf depan bersama santri lain, lalu shalat subuh berjamaah.
Awalnya gerakannya kaku, bacaan shalatnya sering terbalik dan ada doa-doa pendek yang bahkan tidak ia hafal. Namun Ustadz Ilyas tidak pernah sekalipun terlihat kesal.
“Pelan-pelan saja,” kata ustadz Ilyas hari itu.
Kalimat itu melekat di kepala Shaka sampai sekarang. Setelah subuh, ia duduk bersama santri lain untuk membaca mushaf Al-Qur’an. Tangannya masih sering gemetar ketika membaca huruf-huruf Arab yang dulu terasa asing baginya.
“Alif… lam… mim…” ucap Shaka dengan suaranya yang pelan dan terbata-bata.
Beberapa santri yang mendengarkan suara mengaji yang dilantunkan Shaka sempat ada yang menahan tawa dan ada yang heran ketika mereka melihat Shaka yang sudah besar tapi tidak lancar membaca Al Qur'an. Tapi seiring waktu, hal itu berubah. Karena mereka melihat sesuatu di dalam diri Shaka.
Kesungguhan.
Shaka tidak pernah malu untuk mengulang, tidak pernah marah saat dikoreksi, tidak pernah berhenti untuk mencoba. Dan perlahan huruf-huruf arab itu mulai terasa lebih ringan di lidahnya. Ustadz Haidar sendiri beberapa kali ikut membimbingnya secara langsung.
“Baca yang jelas,” ucap beliau suatu siang sambil duduk di serambi. “Jangan terburu-buru. Huruf itu harus keluar dari tempatnya.”
Shaka mengangguk, ia mencoba lagi dan kali ini bacaannya lebih baik. Senyum kecil dari Ustadz Haidar membuat dada Shaka terasa hangat. Selain belajar Al-Qur’an, Shaka juga mulai memahami banyak hal tentang agama yang dulu sama sekali tidak ia pedulikan. Tentang caranya wudhu yang benar, adab berbicara, menjaga pandangan dari lawan jenis, tentang sabar, tentang menahan amarah dan semua itu tidak mudah. Beberapa kali Shaka hampir terpancing emosi ketika ada santri yang bercanda berlebihan. Beberapa kali ia merasa jengkel saat diminta mengulang hafalan. Namun setiap kali itu terjadi, ia selalu teringat satu hal. Ucapan Hanindya.
“Kak Shaka harus lebih sering tersenyum ketika bertemu dengan orang lain.”
Kalimat sederhana tapi entah kenapa itu terus terngiang di telinga Shaka dan anehnya, setiap kali ia mencoba menahan emosi, Shaka benar-benar berusaha tersenyum. Meski senyumnya kaku, aneh dan kadang membuat santri lain malah bingung.
“Eh… kak Shaka kenapa senyum-senyum sendiri?” celetuk salah satu santri suatu hari dan membuat Shaka hanya menggaruk tengkuknya pelan.
“Enggak apa-apa.”
Namun di balik itu semua, perlahan-lahan ia benar-benar berubah menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya.
Sementara itu jauh di luar sana, di dunia yang sama sekali berbeda dari damainya pesantren, sesuatu sedang bergerak. Sesuatu yang tidak pernah benar-benar pergi dari hidup Shaka. Sebuah mobil hitam berhenti di pinggir jalan kumuh dan membuat beberapa lelaki bertubuh besar turun dari dalamnya. Wajah mereka terlihat keras dan tatapan mereka penuh dengan tekanan. Salah satu dari mereka menghisap rokok dalam-dalam sebelum membuangnya ke tanah.
“Masih belum ada kabar?” tanya lelaki itu dengan nada dingin.
“Belum,” jawab yang lain. “Kita udah datengin semua tempat biasa dia nongkrong.”
“Temen-temennya?”
“Udah ditanya semua.”
“Hasilnya?”
“Gak ada yang tahu.”
Lelaki itu mengumpat pelan, sudah hampir dua bulan. Dua bulan sejak Shaka menghilang tanpa jejak. Dan itu membuat seseorang sangat marah. Di tempat lain, Bram duduk di kursinya. Ruangan itu masih sama seperti sebelumnya. Dipenuhi asap rokok, botol minuman keras, dan suasana yang selalu terasa berat. Namun kali ini wajah Bram terlihat jauh lebih gelap. Tangannya mengepal di atas meja.
“Dua bulan…” gumam Bram pelan dan membuat semua anak buahnya tidak ada satupun yang berani bicara. Semua anak buahnya hanya diam. “Dua bulan kalian gak bisa nemuin satu orang?” suara Bram terdengar naik sedikit.
Salah satu anak buah Bram menelan ludahnya dengan berat.
“Kita udah cari ke mana-mana bos—”
“Ke mana-mana?” potong Bram dengan tatapannya yang tajam. “Kalau ke mana-mana, harusnya kalian nemu!”
Suasana langsung tegang. Tak ada yang berani menyahut. Bram berdiri tiba-tiba dan membuat kursinya bergeser dengan kasar.
“Gue gak peduli gimana caranya,” suaranya rendah tapi penuh ancaman. “Temuin dia.”
Ia menatap satu per satu anak buahnya. “Kalau dalam waktu dekat gue masih belum dapet kabar…” rahangnya mengeras. “Jangan salahin gue kalau gue mulai anggap kalian gak guna.”
Semua langsung menunduk. Tak ada yang berani melawan. Perburuan itu masih berlangsung dan tanpa Shaka sadari, jarak antara masa lalunya dan kehidupannya sekarang, perlahan semakin menipis.
Sementara itu siang hari di pesantren terasa hangat. Matahari bersinar cukup terik, tapi angin sepoi-sepoi masih berembus pelan di antara pepohonan. Beberapa santri sedang duduk di serambi kelas, membaca kitab masing-masing. Shaka termasuk di antara mereka. Ia duduk bersila dengan kitab di pangkuannya, keningnya sedikit berkerut karena fokus membaca.
“Shaka.” panggil Ustadz Haidar yang membuatnya langsung menoleh.
“Iya ustadz?”
“Bisa tolong ke rumah sebentar?”
Shaka langsung mengangguk.
“Bisa ustadz.”
“Ada kitab fiqih ustadz yang tertinggal di kamar,” lanjut beliau. “Tolong ambilkan ya.”
“Siap ustadz.”
Shaka langsung berdiri. Ia menutup kitabnya lalu berjalan keluar dari area kelas. Langkahnya terlihat santai karena Ia sudah beberapa kali ke rumah Ustadz Haidar, jadi tidak terlalu canggung. Namun entah kenapa hari ini terasa sedikit berbeda. Mungkin karena ia tahu siapa yang kemungkinan akan ia temui di sana. Rumah itu tampak tenang seperti biasa. Halaman kecil di depannya tampak bersih dan rapi dengan beberapa tanaman hias yang tertata di sudut-sudut.
Shaka mengetuk pintu rumah ustadz Haidar dengan pelan.
Tok… tok…
Tak lama kemudian pintu itu terbuka. Dan benar saja Hanindya berdiri di sana. Untuk sesaat Shaka sedikit terdiam. Hanindya mengenakan gamis sederhana berwarna biru muda siang itu. Wajahnya terlihat sangat cantik seperti biasa namun begitu melihat Shaka, ada sedikit perubahan di mata Hanindya. Seperti kagum.
“Assalamualaikum,” ucap Shaka pelan.
“Waalaikumsalam,” jawab Hanindya lembut.
Beberapa detik suasana terasa canggung lalu Hanindya berkata,
“Kak Shaka mau ketemu Abi?”
Kadang, niat baik kita disalahpahami, usaha kita diremehkan, atau bahkan dihalangi oleh mereka yang tidak peduli dan membenci.
Namun, satu hal yang perlu kita garis bawahi adalah bahwa kebaikan tidak akan pernah sia-sia.
Berbuat baik, terutama untuk kemaslahatan orang banyak, adalah bentuk perjuangan yang membutuhkan keteguhan hati.
Tidak semua orang akan langsung memahami atau menghargai apa yang kita lakukan, tetapi itu bukan alasan untuk berhenti.
Setiap langkah kecil yang kita ambil untuk membantu sesama, sekecil apa pun, memiliki dampak yang besar di mata mereka yang menerimanya.
Mungkin terkadang kita merasa lelah, merasa perjuangan kita tidak berarti, tetapi ingatlah bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah-langkah kecil yang konsisten.
Dunia ini membutuhkan lebih banyak orang yang tidak menyerah dalam menebarkan kebaikan.
Jadi, jangan pernah lelah berjuang. Teruslah menjadi cahaya di tengah gelap, tetaplah menjadi penggerak perubahan, dan yakini bahwa setiap kebaikan yang kita tanam akan berbuah pada waktunya...👍🤭