Dunia Maya jungkir balik saat ia terbangun dan menyadari bahwa ia telah terikat pernikahan dengan adik tingkatnya yang paling populer di kampus. Perbedaan usia lima tahun membuat Maya merasa seperti sedang mengasuh seorang adik daripada melayani seorang suami.
Lucunya, sang suami justru bersikeras ingin membuktikan bahwa dirinya adalah pria dewasa yang bisa diandalkan. Mulai dari kecanggungan di dapur hingga usaha-usaha romantis yang berakhir gagal total, Maya mulai melihat sisi lain dari si "brondong" yang membuat jantungnya berdebar tidak karuan. Menikahi pria yang lebih muda ternyata bukan tentang mengajari, tapi tentang belajar mencintai kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 12- MHB
Sinar matahari pagi yang memantul di pilar-pilar besar kampus almamaternya memberikan rasa nostalgia yang seharusnya manis, namun bagi Maya, kunjungan ini terasa seperti misi penyusupan yang menegangkan. Ia harus mengurus beberapa berkas legalisir ijazah untuk keperluan audit perusahaan, dan kembali ke tempat ini—tempat di mana ia pernah merajai koridor sebagai "Senior paling ditakuti"—membuatnya merasa sedikit asing.
Maya berjalan dengan anggun, mengenakan celana kain berpotongan tinggi dan kemeja sutra yang memberikan kesan eksekutif muda yang sukses. Ia mencoba mengabaikan tatapan mahasiswa baru yang mungkin melihatnya sebagai sosok dari dunia lain. Di kepalanya, ia hanya ingin cepat selesai, stempel dilegalkan, lalu kembali ke kantornya yang nyaman.
Namun, saat ia melintasi area lapangan terbuka menuju gedung dekanat, langkahnya melambat. Kerumunan riuh di dekat lapangan basket menarik perhatiannya.
"Ayo, Arka! Sekali lagi!"
"Kak Arka, minta fotonya dong buat mading organisasi!"
Maya berhenti tepat di balik bayangan pohon besar. Di tengah lapangan, di bawah terik matahari yang mulai menyengat, ia melihat Arka. Namun, ini bukan Arka yang sering ia lihat tidur di sofa dengan rambut berantakan. Ini adalah Arka sang "Bintang Kampus."
Arka mengenakan jersei basket yang memperlihatkan otot lengannya yang kencang dan berkilat karena peluh. Ia baru saja melakukan slam dunk yang memukau, membuat sekumpulan mahasiswi di pinggir lapangan menjerit histeris. Wajahnya yang tampan terlihat sangat bersinar, penuh energi dan karisma yang tak terbantahkan.
Maya berdiri terpaku. Ada sensasi aneh yang mendadak merayap di dadanya—sesuatu yang tajam, panas, dan tidak nyaman. Ia melihat bagaimana seorang mahasiswi cantik dengan rok pendek berlari menghampiri Arka, memberikan botol air minum sambil tersenyum malu-malu. Dan Arka? Arka menerimanya dengan senyum ramah yang biasanya ia berikan pada Maya di meja makan.
Kenapa dia harus tersenyum seperti itu pada anak kecil itu? batin Maya ketus.
Ia merasakan tangannya mengepal di sisi tubuh. Logikanya berteriak bahwa ini konyol. Arka bebas berteman dengan siapa saja. Arka populer, itu fakta. Tapi, melihat pemandangan itu secara langsung membuat Maya merasa... tersisih?
Apakah ini cemburu?
Maya segera menggelengkan kepala, mencoba mengusir pikiran gila itu. Nggak mungkin. Aku cuma merasa... tidak suka melihat suamiku dikelilingi penggemar yang berisik. Ya, itu karena masalah estetika saja, bukan perasaan, ia mencoba membohongi nuraninya sendiri. Namun, rasa sesak di dadanya tetap tidak mau hilang. Ia merasa seperti baru saja mendapati barang miliknya sedang dikagumi banyak orang dan ia tidak suka berbagi.
Ia memutuskan untuk segera pergi sebelum emosinya semakin tidak terkendali. Namun, tepat saat ia berbalik untuk melanjutkan langkahnya, suara riuh itu tiba-tiba mereda.
Arka, yang entah bagaimana bisa merasakan kehadiran seseorang di tengah kerumunan itu, menoleh ke arah pepohonan. Matanya yang tajam langsung menangkap sosok Maya yang tampak kontras dengan lingkungan kampus.
Mata mereka bertemu.
Maya membeku. Ia ingin lari, tapi kakinya seolah tertanam di aspal. Ia melihat Arka menyeka keringat di dahinya dengan ujung jersei, memperlihatkan sedikit bagian perutnya yang atletis, yang membuat para mahasiswi di sana kembali berbisik heboh.
Lalu, di depan puluhan pasang mata yang memujanya, Arka melakukan sesuatu yang sangat berani. Ia tidak memanggil Maya, ia tidak menghampirinya. Ia hanya berdiri tegak, menatap Maya dalam-dalam, lalu menarik sudut bibirnya membentuk senyum miring yang penuh rahasia.
Dan... kedip.
Arka mengedipkan sebelah matanya ke arah Maya dengan sangat nakal dan penuh percaya diri.
DEG.
Dunia seolah berhenti berputar bagi Maya. Jantungnya berdegup kencang hingga ia merasa bisa mendengarnya di telinga. Sengatan listrik itu kembali lagi, jauh lebih kuat dari sebelumnya. Wajah Maya memerah seketika, panasnya menjalar hingga ke leher.
Karena terlalu terkejut dan salah tingkah, Maya refleks membalikkan badan dengan terburu-buru. Namun, tumit sepatu hak tingginya tersangkut di celah ubin yang tidak rata.
"Ah!"
Maya limbung. Ia hampir saja terjatuh dengan tidak elegan di depan umum jika ia tidak segera meraih tiang lampu di dekatnya. Ia menstabilkan dirinya dengan napas terengah-engah, jantungnya masih memacu kencang. Ia tidak berani menoleh lagi. Ia segera mempercepat langkahnya menuju gedung dekanat dengan langkah seribu, mengabaikan tawa kecil yang sayup-sayup terdengar dari arah lapangan.
Di dalam ruangan dekanat yang ber-AC, Maya duduk dengan gelisah sambil menunggu berkasnya diproses. Pikirannya masih tertinggal di lapangan tadi. Kedipan mata Arka itu... itu bukan kedipan seorang adik tingkat. Itu adalah kedipan seorang pria yang tahu persis pengaruhnya terhadap wanita di depannya.
Sialan kamu, Arka, bisik Maya dalam hati. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan yang masih sedikit gemetar.
Ia menyadari satu hal yang selama ini ia sangkal: Arka bukan lagi bocah yang bisa ia kendalikan. Arka punya dunianya sendiri di mana ia dipuja, dan fakta bahwa pria populer itu pulang ke rumah yang sama dengannya, tidur di bawah atap yang sama dengannya, dan menunggunya sarapan setiap pagi, mulai memberikan rasa puas yang egois di hati Maya.
Rasa cemburu yang tadi panas, kini berubah menjadi sesuatu yang lebih kompleks. Ada rasa bangga yang terselip di sana. Ternyata, "brondong" yang selama ini ia anggap beban adalah permata yang diinginkan banyak orang. Dan permata itu... secara hukum dan (mungkin perlahan secara hati) adalah miliknya.
Sore harinya, Maya pulang ke apartemen dengan perasaan yang masih campur aduk. Ia mencoba memasang wajah sedatar mungkin saat membuka pintu.
Apartemen harum bau masakan. Arka sudah mandi, mengenakan kaus santai, dan sedang duduk di sofa sambil membaca buku tebal, kali ini benar-benar buku kuliahnya.
"Gimana legalisirnya, Kak? Lancar?" tanya Arka tanpa menoleh, suaranya terdengar sangat santai, seolah tidak terjadi apa-apa di kampus tadi pagi.
Maya meletakkan tasnya di meja dengan suara yang sedikit keras. "Lancar. Meskipun kampusnya jadi berisik sekali sekarang. Terlalu banyak orang yang tidak tahu tempat kalau mau teriak-teriak."
Arka menutup bukunya dan menoleh ke arah Maya. Senyum nakal itu kembali lagi. "Oh ya? Teriak soal apa? Soal basket, atau soal mahasiswi yang kasih aku minum?"
Maya mendengus, berjalan menuju dapur untuk mengambil air. "Aku tidak memperhatikan hal tidak penting seperti itu."
"Tapi Kakak memperhatikan kedipan mataku, kan?"
Maya hampir tersedak air yang baru saja ia minum. Ia berbalik dan mendapati Arka sudah berdiri di belakangnya, bersandar pada konter dapur dengan jarak yang cukup dekat.
"Arka, jangan mulai. Itu memalukan. Kamu membuatku hampir jatuh di depan orang banyak," ketus Maya, meski ia tidak bisa menyembunyikan rona merah yang kembali muncul di pipinya.
Arka tertawa pelan, suara tawa yang kini terasa begitu hangat di telinga Maya. Ia melangkah maju, memperkecil jarak hingga Maya bisa mencium sisa aroma sabun mandinya.
"Aku cuma mau menyapa istriku," bisik Arka.
"Lagipula, melihat Kakak cemburu itu jauh lebih menarik daripada menang pertandingan basket mana pun."
"Siapa yang cemburu?!"
"Matamu, Maya. Matamu nggak bisa bohong," Arka menyentuh dagu Maya lembut, memaksanya untuk menatap matanya. "Tenang saja. Sebanyak apa pun orang yang kasih aku minum di lapangan, aku cuma mau minum air yang disiapkan istriku di meja makan ini."
Maya terdiam. Lidahnya kelu. Tembok pertahanannya yang biasanya kokoh kini terasa seperti pasir yang tersapu ombak. Ia menatap Arka dan menyadari bahwa pria ini telah tumbuh melampaui bayangannya.
"Sudahlah," gumam Maya, akhirnya menyerah dan membuang muka. "Makan malam sudah siap?"
"Sudah. Aku masak spesial buat Seniorku yang baru saja melakukan misi intelijen di kampus," goda Arka sambil menarik kursi untuk Maya.
Bersambung....
karena satu kebohongan,akan muncul seribu kebohongan lagi untuk menutupinya......
rumit hidupmu maya,tak tenang karena sebuah kebohongan....🤔
thanks neng otor... ku tunggu up ny lsgi
good...😊
memperjelas status pernikahan mereka...
lebih baik blak2kan daripada di sembunyikn,biar gk jadi fitnah...
setelah tau kebenarannya...
makanya jadi wanita jangan egois,merasa di atas,eh taunya kalah start....😡
lanjut thor....😊
jangan sok,terlalu egois dn merasa paling hebat....
ingat maya kesabaran sezeorang ada batasnya,jangan mandang susmimu sebelah mata,kalau gk nau menyesal kemudian....😡
suami yg tk di akui..😡