Setelah kepergian Ayahnya, hidup Keysa begitu menyedihkan. Di mana perlakuan Ibu dan Adiknya yang semakin menjadi-jadi, bahkan mereka sampai menjual Keysa ke salah satu klub untuk dilelang.
Saat pelelangan, seorang pria menawar Keysa dengan harga dua miliar dan membuat Keysa menjadi milik pria itu. Keysa pikir hidupnya akan hancur setelah dibeli pria asing itu, namun justru sebaliknya. Keysa diperlakukan dengan penuh kasih sayang dan pria itu tidak membiarkan siapapun menyakiti Keysa, pria itu memanjakan Keysa hingga membuat banyak orang merasa iri dengan hidup Keysa.
Bagaimana kelanjutannya? Siapa pria yang membeli Keysa? Apa alasan pria itu membeli Keysa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan!
Keysa pun kembali ke kamar, ia menutup pintu dengan pelan dan langsung merebahkan diri di atas ranjang yang terlalu besar untuknya. Ia menatap langit-langit kamar yang dihiasi ukiran mewah, namun pikirannya terus tertuju pada surat yang baru saja ia baca.
"Dia punya orang yang sangat ia cintai, terus kenapa dia membeliku? Bahkan dia menikahiku Apa aku hanya pengganti karena dia tidak bisa menemukan gadis itu?" tanya Keysa pada dirinya sendiri.
Pikiran-pikiran itu menguras energinya, rasa nyeri di pinggangnya kembali berdenyut dan mungkin karena ia terlalu banyak bergerak tadi. Dalam balutan selimut, Keysa meringkuk dan mencoba menghalau perasaan minder yang tiba-tiba menyerang, kelelahan emosional dan fisik akhirnya membawa Keysa tenggelam ke dalam tidur yang dalam.
Pukul lima sore, mobil yang di tumpangi Lucas memasuki halaman mansion, Lucas keluar dari mobil bahkan sebelum Johan sempat membukakan pintu. Wajahnya tampak lelah, namun matanya memancarkan kegelisahan yang hanya muncul jika menyangkut satu orang yaitu istrinya.
Begitu masuk ke lobi, Lucas langsung melepaskan jasnya dan memberikannya pada seorang pelayan.
"Di mana Keysa?" tanya Lucas tanpa basa-basi.
Bi Lita yang sedang merapikan vas bunga di ruang tengah segera menghampiri, "Selamat sore, Tuan. Nyonya Keysa sedang beristirahat di kamar, beliau masuk ke kamar sejak siang tadi setelah dari perpustakaan," jawab Bi Lita dengan nada sopan.
Lucas mengernyitkan dahi, "Dari perpustakaan? Apa dia sudah makan siang?" tanya Lucas.
"Sudah, Tuan. Sebelum Nyonya pergi ke perpustakaan, Nyonya sudah makan siang," jawab Bi Lita dan diangguki Lucas
Setelah itu, Lucas menaiki tangga dengan langkah lebar. Ia tidak menggunakan lift, energinya yang meluap karena rasa khawatir membuatnya ingin bergerak lebih cepat.
Lucas membuka pintu kamar dengan sangat perlahan, tidak ingin mengejutkan Keysa dan begitu Lucas masuk, ruangan itu begitu remang-remang karena gorden belum ditutup sepenuhnya. Di atas ranjang, ia melihat gundukan kecil di balik selimut.
Lucas mendekat, duduk di pinggir ranjang dan memperhatikan wajah tidur Keysa. Ada jejak kemerahan di pipinya, bukan karena memar, tapi seperti bekas air mata yang mengering dan hal itu membuat hati Lucas mencelos.
"Apakah memarmu sakit lagi?" gumam Lucas sangat pelan.
Lucas mengulurkan tangan dan mengusap dahi Keysa dengan ibu jarinya, sentuhan itu membuat Keysa mengerjap dan perlahan membuka mata. Saat melihat sosok Lucas di depannya, Keysa sempat tertegun sejenak sebelum mencoba duduk dengan kikuk.
"Lucas... kamu sudah pulang?" suara Keysa parau.
"Habis nangis? Ada apa? Apa ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Lucas langsung ke inti masalah, dengan tatapannya yang tajam seolah bisa menembus isi kepala Keysa.
Keysa menunduk dan menghindari kontak mata, "Nggak... a-aku nggak nangis, i-ini cuma... lama tidur," jawab Keysa.
Lucas meraih dagu Keysa dan memaksanya mendongak, "Bi Lita bilang kamu menghabiskan waktu di perpustakaan, apa ada buku yang membuatmu sedih?" tanya Lucas.
Jantung Keysa berdegup kencang, ia ingin bertanya tentang surat itu, tentang siapa gadis yang sangat dicintai Lucas hingga ia bersumpah tidak akan menikah dengan orang lain. Namun, lidahnya terasa kelu dan Keysa sadar jika posisinya adalah wanita yang dibeli dan tentu saja ia punya hak untuk cemburu pada masa lalu pria yang sudah membelinya.
"Hanya membaca cerita klasik yang menyedihkan," bohong Keysa dengan senyum dipaksakan.
Lucas menatapnya lama dan mencoba mencari celah kebohongan, namun akhirnya ia menghela napas. Ia menarik Keysa ke dalam pelukannya, menenggelamkan wajahnya di rambut Keysa yang harum mawar.
"Jangan membaca hal yang menyedihkan, hidupmu sudah cukup berat, Keysa. Di rumah ini, aku hanya ingin kamu melihat hal-hal yang indah," bisik Lucas posesif.
Keysa membalas pelukan itu dengan ragu, di dalam pelukan pria yang sangat mencintai wanita lain itu, Keysa merasa sangat merasa bersalah.
Keysa tidak tahu bahwa pria yang memeluknya sekarang adalah pria yang sama yang menulis surat di perpustakaan itu tujuh tahun lalu, surat yang ditujukan untuknya, Keysa, si gadis yang sering membantu nenek-nenek menyeberang di persimpangan jalan arah pulangnya dulu.
Malam harinya, meja makan mansion dipenuhi dengan hidangan laut segar dan sup krim jamur yang mengepulkan aroma lezat. Namun, Keysa hanya mengaduk-aduk sup di mangkuknya tanpa minat, wajahnya yang biasanya pucat kini tampak semakin layu.
Lucas yang duduk di ujung meja pun meletakkan sendoknya, matanya yang tajam memicing dan memperhatikan istrinya yang tampak melamun.
"Keysa, supnya akan dingin. Makanlah," perintah Lucas lembut, namun tegas.
Keysa tersentak lalu tersenyum kaku, "Aku... aku tidak terlalu lapar, Lucas. Perutku rasanya agak kembung," jawab Keysa.
Lucas tidak lantas percaya, ia bangkit lalu berjalan mendekat dan menempelkan punggung tangannya di dahi Keysa. "Tidak demam, apa memar di pinggangmu yang membuatmu mual? Bi Lita, panggil dokter pribadi sekarang," tanya Lucas lalu memerintah Bi Lita untuk memanggil Dokter.
"Jangan!" Keysa menahan tangan Lucas.
"Tidak perlu, a-aku hanya butuh istirahat. Aku permisi ke kamar dulu, ya?" pamit Keysa.
Tanpa menunggu jawaban dari Lucas, Keysa berdiri dan berjalan terburu-buru menuju tangga. Lucas menatap punggung istrinya dengan rahang yang mengeras, ada sesuatu yang salah dan Lucas benci ketika ia tidak bisa menebak apa yang ada di pikiran Keysa.
Baru saja Lucas hendak menyusul Keysa ke lantai atas, langkahnya terhenti saat pintu depan terbuka dengan tergesa-gesa, di mana Johan masuk dengan wajah yang lebih serius dari biasanya.
"Tuan, maaf mengganggu waktu anda," ucap Johan dengan suara rendah namun mendesak.
Lucas berbalik dan auranya kembali mendingin seketika. "Ada apa?" tanya Lucas.
"Baru saja kami mendapat kabar dari tim legal, Wijaya Group secara sepihak menarik diri dari perjanjian akuisisi lahan di kawasan industri Utara. Padahal, kita sudah menyepakati seluruh poin di pertemuan terakhir," lapor Johan.
Mata Lucas berkilat marah mendengar apa yang dikatakan Bastian, perjanjian itu bernilai triliunan dan merupakan kunci ekspansi A2 Group tahun ini.
"Menarik diri? Apa alasannya?" tanya Lucas.
"Secara resmi, mereka beralasan ada perubahan struktur internal. Namun, kami menemukan bahwa mereka baru saja melakukan pertemuan rahasia dengan kompetitor kita yaitu Sein Group. Sepertinya Wijaya Group sengaja menarik ulur waktu untuk menaikkan harga jual atau mencari celah untuk membatalkan kontrak sepihak," jawab Johan.
Lucas mengepalkan tangannya, "Mereka pikir mereka bisa bermain-main dengan perjanjian yang sudah ada namaku di dalamnya?" geram Lucas.
"Tuan Wijaya sepertinya merasa di atas angin karena dia memegang izin lingkungan untuk kawasan tersebut, dia tahu kita sangat membutuhkan lahan itu sekarang," ucap Johan.
Lucas terdiam sejenak dan menatap ke arah tangga tempat Keysa menghilang lalu kembali pada Johan, konflik batin terlihat di wajahnya. Lucas ingin menghampiri istrinya, namun ia tidak bisa melakukannya, dalam situasi saat ini perusahaan harus ia dahulukan.
.
.
.
Bersambung.....
jadi pengen 🤣🤣🤣🤣
Masak ya nunggu sampe Berjam jam gak konfirmasi ke asisten Lucas...