NovelToon NovelToon
Secret Marriage

Secret Marriage

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Ifra Sulistya

Bagi dunia luar, Reihan Arta Wiguna adalah sosok "Ice King" di lantai bursa—dingin, tak tersentuh, dan selalu kalkulatif. Namun, di balik kemewahan hidupnya, ia terikat oleh janji konyol kakeknya puluhan tahun silam. Ia dipaksa menikahi Laluna Wijaya, seorang gadis yang ia anggap hanya sebagai "beban" tambahan dalam hidupnya yang sudah sibuk.
Laluna sendiri tidak punya pilihan. Menikah dengan Reihan adalah satu-satunya cara untuk melindungi apa yang tersisa dari nama baik keluarganya. Mereka sepakat pada satu aturan main: Pernikahan ini harus menjadi rahasia. Tidak ada cinta, tidak ada kemesraan di depan publik, dan tidak ada campur tangan dalam urusan pribadi masing-masing.
Namun, tinggal di bawah satu atap perlahan meruntuhkan tembok yang dibangun Reihan. Laluna bukan sekadar gadis penurut yang ia bayangkan; ia adalah api yang hangat di tengah musim dingin Reihan. Saat satu per satu rahasia keluarga dan pengkhianatan bisnis mulai terkuak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifra Sulistya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23: KEBENARAN DI BALIK KACA RETAK

Lorong rumah sakit itu terasa lebih panjang dari biasanya. Langkah kaki Reihan dan Laluna bergema secara serempak, menciptakan irama kegelisahan yang memantul di dinding-dinding steril.

Kemenangan atas Malik yang baru saja mereka raih di ruang rapat terasa hambar seketika.

Di dunia Arta Wiguna, satu kepala naga yang terpenggal biasanya hanya memberi ruang bagi kepala naga lain untuk tumbuh.

Saat mereka masuk ke kamar VVIP, Kakek Surya tidak lagi berbaring lemah. Ia duduk bersandar, meskipun selang oksigen masih terpasang di hidungnya. Di tangannya, ia memegang sebuah kunci kuno berbahan kuningan dan sebuah foto hitam putih yang sudah sangat usang.

"Duduklah," perintah Kakek Surya. Suaranya tidak lagi serak seperti kemarin, ada sisa-sisa otoritas yang kembali muncul.

Reihan menarik kursi untuk Laluna, lalu berdiri di sampingnya.

"Kakek, kau seharusnya istirahat. Dokter bilang serangan itu hampir—"

"Dokter tidak tahu apa yang membuat jantungku terus berdetak, Reihan," potong Surya.

Matanya beralih ke Laluna, menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan, campuran antara kasih sayang dan penyesalan yang mendalam.

"Laluna, kau sudah menggunakan saham itu dengan bijak hari ini. Aku melihat beritanya. Kau memiliki api Wijaya di dalam dirimu."

Laluna menunduk, merasakan amplop emas di dalam tasnya seolah membara.

"Saya hanya melakukan apa yang harus dilakukan untuk melindungi keluarga saya, Kakek."

"Keluarga..." Surya mengulang kata itu dengan getir. Ia menyodorkan foto hitam putih itu ke tengah meja.

Laluna dan Reihan condong ke depan. Foto itu memperlihatkan dua pria muda yang berdiri di depan sebuah gudang tua.

Satu pria adalah Surya Arta Wiguna di masa mudanya, dan pria di sampingnya, yang merangkul bahu Surya dengan akrab, adalah kakek Laluna, Wijaya.

Mereka tampak seperti saudara, bukan majikan dan bawahan.

"Bagian ketiga dari wasiatku bukan tentang saham atau uang," ucap Surya.

"Ini tentang hak milik yang sebenarnya. Reihan, kau selalu mengira aku menjodohkanmu dengan Laluna sebagai penebusan dosa atas kecelakaan ayahmu. Tapi yang tidak kau ketahui adalah... kecelakaan itu bukan hanya tragedi bagi keluargaku. Itu adalah kegagalan sebuah janji."

Surya menarik napas dalam.

"Dua puluh lima tahun lalu, sebelum Arta Wiguna menjadi raksasa, Wijaya adalah pemilik asli dari teknologi logistik yang kita gunakan sekarang. Dia menyerahkan segalanya padaku dengan satu syarat, bahwa suatu saat nanti, kedua keluarga kita akan menjadi satu kesatuan yang utuh secara hukum dan darah. Kecelakaan itu... kecelakaan itu terjadi tepat saat ayahmu, Reihan, hendak menyerahkan dokumen pengembalian hak milik itu kembali kepada Wijaya."

Reihan tertegun.

"Maksud Kakek, ayah ingin memberikan perusahaan ini kembali kepada keluarga Wijaya?"

"Bukan seluruh perusahaan, tapi fondasi utamanya,"

Surya memejamkan mata.

"Ayahmu tahu bahwa aku telah mencurangi Wijaya di masa lalu. Dia ingin menebus kesalahanku. Dan ketika dia tewas dalam truk yang dikemudikan anak buah Wijaya, aku menggunakan duka itu untuk menutupi rasa maluku. Aku membiarkan Wijaya disalahkan agar aku tidak perlu mengembalikan apa yang seharusnya miliknya."

Laluna merasa dunianya seolah jungkir balik. Jadi, selama ini keluarga Wijaya bukan hanya korban fitnah, tapi mereka adalah pemilik sah dari sebagian besar kekayaan yang dinikmati Arta Wiguna.

"Kunci ini,"

Surya meletakkan kunci kuningan itu di atas foto.

"Ini adalah kunci ke brankas rahasia di gedung tua di kawasan pelabuhan. Di sana ada draf kontrak asli antara aku dan Wijaya yang selama ini aku sembunyikan bahkan dari ayahmu. Aku ingin kalian berdua pergi ke sana. Putuskan sendiri apa yang akan kalian lakukan dengan kebenaran ini."

Malam itu juga, tanpa membawa pengawal atau Dimas, Reihan memacu mobilnya menuju kawasan pelabuhan yang sepi. Angin laut yang asin menusuk kulit saat mereka turun di depan sebuah gedung tua bergaya kolonial yang terhimpit di antara kontainer-kontainer raksasa.

Reihan memegang senter, sementara Laluna memegang kunci kuningan itu. Di dalam, debu beterbangan seperti salju abu-abu. Mereka menaiki tangga kayu yang berderit hingga sampai ke sebuah ruangan di lantai paling atas.

Di sudut ruangan, sebuah brankas besi tua berdiri kokoh. Laluna memasukkan kunci itu.

Klik.

Pintu brankas terbuka, memperlihatkan tumpukan dokumen yang tertata rapi. Di puncak tumpukan itu ada sebuah surat bertuliskan

"Untuk Cucuku, Laluna."

Laluna membuka surat itu.

Tulisan tangan kakeknya, Wijaya.

"Luna, jika kau membaca ini, artinya Arta Wiguna telah mengembalikan apa yang mereka pinjam. Jangan gunakan ini untuk menghancurkan mereka. Gunakan ini untuk membangun jembatan. Karena dendam hanya akan membuat rotimu terasa pahit, tapi pengampunan akan membuatnya manis."

Di bawah surat itu, ada dokumen kepemilikan lahan tempat ruko "Khay Bakery" berdiri, dan lahan-lahan strategis lainnya di Jakarta.

Ternyata, selama ini Laluna tidak pernah butuh bantuan Reihan untuk memiliki ruko, lahan itu secara hukum adalah miliknya sejak ia lahir.

Reihan membaca dokumen-dokumen itu di sampingnya. Ia terdiam cukup lama, mematikan senternya, membiarkan cahaya bulan masuk melalui celah jendela tua.

"Semua ini milikmu, Luna," suara Reihan terdengar parau.

"Seluruh fondasi Arta Wiguna... kau bisa mengambilnya sekarang. Kau bisa membuatku berlutut dan menuntut setiap sen yang telah keluargaku ambil darimu selama puluhan tahun."

Laluna menatap Reihan. Pria di hadapannya ini bukan lagi CEO yang angkuh. Ia tampak rapuh di bawah beban dosa kakeknya.

Laluna mendekat, meraih tangan Reihan, dan meletakkan dokumen-dokumen itu kembali ke dalam brankas.

"Aku sudah memiliki apa yang kuinginkan, Reihan," ucap Laluna lembut.

"Apa?"

"Seorang suami yang bersedia mencuci piring di toko rotiku yang hangus. Seorang pria yang memilih melindungiku daripada melindungi sahamnya,"

Laluna tersenyum, air mata haru menggenang di matanya.

"Harta ini... kita akan menggunakannya untuk membangun kembali 'Khay'. Bukan sebagai milikku atau milikmu, tapi sebagai milik kita. Seperti yang diinginkan kakek kita dulu."

Reihan menarik Laluna ke dalam pelukannya. Di tengah gedung tua yang berdebu itu, kontrak pernikahan mereka yang dulu penuh dengan tipu daya dan tuntutan hukum, kini resmi terkubur.

Digantikan oleh ikatan yang jauh lebih kuat dari kertas mana pun.

Namun, saat mereka hendak meninggalkan gedung, Reihan melihat sesuatu yang janggal di monitor keamanan kecil yang masih menyala di dekat pintu masuk. Sebuah mobil hitam terparkir di depan gedung.

Seseorang telah membuntuti mereka.

"Luna, tetap di belakangku," desis Reihan.

Pintu gedung terbuka perlahan. Sosok yang muncul dari balik kegelapan bukanlah Tuan Malik atau Danu.

Itu adalah Pak Baskoro. Tapi kali ini, ia tidak sendiri. Di sampingnya berdiri seorang pria muda yang wajahnya sangat mirip dengan foto ayah Reihan.

"Kalian menemukan dokumennya lebih cepat dari yang saya duga," ucap Baskoro dengan nada bicara yang tidak lagi formal.

"Reihan, perkenalkan. Ini adalah Adrian. Putra rahasia ayahmu dari pernikahannya yang tidak sah sebelum dia bertemu ibumu. Dan dia... dia datang untuk menagih bagiannya yang tidak tercatat di kontrak manapun."

Dunia Arta Wiguna baru saja melahirkan badai baru, dan kali ini, musuhnya adalah darah daging Reihan sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!