Mungkin kebanyakan orang bilang menjadi orang kaya adalah hal paling gampang dilakukan. Tapi tidak jika dikaitkan dengan Some, ditengah terkaan dia malah diberi harapan panjang untuk menikah. Hal itulah menjadi awal - awal Some mengenal cowok - cowok yang lahir dengan keluarga sama darinya. Hanya cowok itu yang menerima seornag wanita mempunyai penyakit, namanya Dinner. Dari Dinner, Some dapat menerima segala sesuatu yang menimpanya. Meski bukan hal mudah ketika harus operasi beberapa kali, tapi Dinner menemaninya seperti seorang pacar. Pacaran bahakn menjalani hubungan dengan Dinner, seperti dijodohkan ini, menjadi pertanyaan besar apakah Dinner akan sanggup ?
•untuk kisahnya sudah tamat dari tahun lalu. dan masih bisa dinikmati dengan dukungan like, dan komentar kecil kalau ada kesalahan. thanf for one.
•karya original dari Nita Juwita
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NitaLa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Between 13
**
Anak dari Pak Hanry
**
Mobil yang dikendarai dua kakak adik itu sudah sampai di salah satu bar, terdekat kota mereka. Ranu menyarankan untuk ke bar terlebih dulu, karena ada orang yang mau Ranu kenali pada Some. Katanya orang tersebut punya hobi sama dengan Some. Sejujurnya Some agak malu, tapi ia tetap menyetujui bertemu dengan orang tersebut. Entah mengapa semangat selalu membara dalam dirinya, ia merasa tidak ada perubahan signifikan dalam hidupnya. Sekalipun kronis itu mencecarnya untuk selalu ingat, bahwa Some sedang tidak baik - baik.
Ranu membuka sabet terlebih dahulu, tapi sebelum ia hendak turun. Cowok itu malah menatap ke arah kakaknya dengan pandangan berkerut. "Sebelum gue pergi, gue punya satu pertanyaan buat loe," katanya yang membuat Some yang sedang bersiap itu ikut menatapnya. Sejujurnya Some merasa keki.
"Apa?" tantang Some sama sekali tidak memikirkannya. Membuat Ranu cemberut saja.
"Kenapa loe akhir - akhir ini suka diem gitu?" tanya Ranu to the point. Some menatap Ranu dengan tatapan dalam, tapi kemudian ia mendesah nafas.
"Gue nggak kenapa - napa kok, emang salah diem disaat putus cinta?" heran Some sambil melihat ke arah lain, tepatnya pada bagian pinggir bar yang memperlihatkan meja - meja tamu di atas ruko tersebut.
"Putus sama Daniel maksudnya, udah putus lagi kak, padahal rasanya baru kemarin makan bareng," heran Ranu tak kuasa menahan kerutan di dahinya. Ranu dan pacarnya emang suka sekali mengajak dua sejoli -Daniel dan Some untuk dinner. Padahal ketika makan malam itu cukup pasangan baru gede itu yang mendominasi obrolan.
Rasanya semua terjadi begitu cepat, padahal baru saat itu Some tertawa dengan bebas dengan pacarnya. Dan seolah masa depan menyambutnya dengan hari - hari lain, bukan kronis dramatis ini. Some tak kuasa menahan senyum sarkas.
"Kamu mau ngomongin cowok yang udah kakak benci, karena sudah jadi mantan," ucap Some membuat atensi Ranu teralih dari wajah kesal menjadi bete.
"Nggak gitu juga kak, padahal lusa Ranu mau ajak kakak dan Daniel, dinner lagi," ucapnya dengan kesal dan lesu membuat Some tak kuasa menahan iba tapi juga ingin tertawa.
"Hmm, kakak bisa cari pasangan lain buat gantiin mas Daniel, atau mau sama Daniel aja?" tanya Some terdengar serius tapi sebenarnya ia hanya becanda. Tapi apapun asal membuat Ranu bahagia.
"Bisa aja kalau kakak punya pasangan lain, kalau bukan Daniel siapa lagi yang mau temenin kita," kata Ranu sambil mengangkat bahu.
"Enggak kalian aja berdua, udah gede pula masih takut jalan berdua. Kakak kan nggak saling cinta sama Daniel, akhirnya berakhir putus kan," ucap Some sambil cemberut. Ia lalu membuka sabet, dan turun dari mobil. Berbicara dengan Ranu emang lama, gimana kalau temannya itu menunggu sampai kepanasan.
"Kak, tungguin," ucap Ranu ketika melihat kakanya berjalan ke dalam bar. Membuat ia buru - buru turun dan mengejar cewek itu.
Di dalam bar terlihat sepi, karena saat ini masih sore. Karena bar identik dengan dugem dan alkohol, tapi bar yang di sebut Ranu dan Some adalah bar makanan barat dan tempat nongkrong anak muda. Bernuansa orde lama, dengan gelas - gelas dari kayu.
"Dimana ya," ucap Ranu ketika melihat keseluruhan bar, pada meja - meja yang diduduki anak muda. Dan ia melambaikan tangan, ketika mendapati seorang cowok dengan kaos biru tua berpadu dengan jeans belel, sepatu kets, dan rambut cepak rapih.
"Tuh kak, udah ada di meja belakang," ucap Ranu sambil mengambil tangan kakaknya, dan menariknya perlahan ke meja temannya itu.
"Hi!" ucap Ranu. Ia memperlihatkan kakaknya yang terlihat rapih dengan stelan rumahan, kaos denim, rok setengah celana jeans, rambut yang disisir rapih, tanpa bandana, hanya jepit kesukaannya.
"Hi gue Ghani, anak dari pak Hanry," kata cowok itu seketika membuat mata Some membulat, meskipun punya mata sipit. Menjadi daya tarik ketika orang mengenalnya termasuk Ghani.
"Aku Something, beda beberapa tahun aja kok dari Ranu," jawab Some kaku sambil menerima uluran tangan lembut milik pria yang tak kalah ganteng dari Daniel.
"Oh saya sering dengar nama kamu dari papa," ucap Ghani memerhatikan murid papanya itu, yang membuat Some tersenyum kikuk.
Ranu menyenggol bahu kakaknya agar nggak genit sama adik kelas sendiri. "Gimana kalau kita ngobrol sekarang, lama nunggu kan Ghan," ucap Ranu memecah keheningan. Langsung saja Ranu dan Some mengambil kursi duduk yang tersisa. Yang memang hanya ada tiga.
"Iya, loe jadi dinner kan, sampai batalin rencana kita nongkrong di Bandung," ucap Ghani sambil meneguk kopi es pesanannya.
"Nggak tahu tuh, lihat deh kakak gue kayak males banget lihat adiknya pacaran. Kan lagi jomblo," ucap Ranu sambil terkekeh dan sekali lagi menyenggol bahu kakaknya.
"Gue kan bilang mau kenalin kakak gue sama loe, dia cewek yang suka seleb gitu. Bahkan jadi seleb juga, kayak loe," ucap Ranu panjang lebar dan sepertinya Ghani juga tertarik dengan perkataan Ranu.
"Gue udah punya ratusan ribu followers, masih sering live juga, dan nggak lupa spill sehari - hari," ucap Ghani sepertinya emang tertarik dunia maya.
"Gue juga masih sering, dan udah dapat ratusan ribu followers juga. Lain kali kita saling follow ya," ucap Some terdengar tertarik.
"Yang mau di like ribuan nih," ucap Ghani terdengar becanda membuat Some tak kuasa menahan senyum manisnya. Yang menurut Ghani terlalu manis dibanding gula manapun. Pantas saja papa begitu sayang dan peduli pada Some, salah satu yang kebetulan dekat dengan papanya. Ghani juga tahu kalau papa adalah dokter spesial untuk kesehatan Some.
"Hehe tahu aja loe, dia itu alay tahu lah anak muda," timpal Ranu yang membuat mereka tertawa berbarengan.
"Katanya ada permasalahan di gank SMP," ucap Ranu mengingatkan tapi melihat enggan Ghani membahas itu membuat Ranu tahu kalau sebaiknya kakaknya tidak mendengar.
"Cuma tentang nongkrong di Bandung aja," jawab Ghani seadanya.
"Oh kemarin papa lo main ke rumah gue, ngobrolin sesuatu sama papa. Dan dia ngajak gue ngobrol sebentar, dan mungkin dia bakalan ketemu sama pemuda itu," ucap Ghani sendiri bercerita saja.
"Loe ngomongin apa nggak jelas," heran Ranu.
"Iya jujur aja tentang anak perempuannya, yang di foto kalem banget, ternyata baik banget," jawab Ghani sambil mengangkat bahunya tanda hanya memberitahukan saja. Takutnya Some sama sekali nggak paham, kalau statusnya mungkin nggak sama lagi.
"Oh itu dia emang udah rencanakan, itu aturan - aturan yang biasa di lakukan oleh anak - anak kayak kita," jawab Ranu tak kalah mengobrol biasa. Sedangkan Some sendiri cukup mendengarkan dengan samar.
Apa maksud Ghani dan Ranu, apa ada kaitannya dengan anak perempuan papa. Semoga saja papa nggak ngelakuin hal aneh - aneh. Atau aturan orang kaya itu lagi, nggak merebut kebebasannya lagi.
**