Adelin Azzura tak pernah menyangka hidupnya akan berakhir dalam sebuah pernikahan dengan seorang ustaz bernama Afwan Zaid, setelah masa lalunya ternoda oleh kekerasan seksual dari seorang lelaki asing.
Hidup Adelin yang penuh luka dan drama begitu bertolak belakang dengan cara pandang Afwan yang selalu memegang teguh prinsip Islam, bahwa setiap takdir telah diatur oleh Allah.
Namun Adelin tak pernah benar-benar jujur tentang masa lalunya. Ia memendam trauma itu sendirian.
Sampai akhirnya Afwan mulai dilanda konflik batin ketika Adelin selalu menolak disentuh.
Akankah rumah tangga mereka bertahan?
Ataukah berakhir dengan kalimat cerai yang sering dikaitkan dengan godaan jin dasim?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasatii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 Kado Pahit di Ujung Senja
“Karena … lelaki juga boleh menangis bukan?” Ia tertawa. Namun, aku dapat melihat bahwa saat ini iya tengah menutupi sesuatu dariku. Ia … mungkin saja tak ingin aku mengetahui tentang sesuatu yang mungkin menjadi rahasianya.
“Sini, Sayang.” Ia menepuk bahunya. Memintaku untuk menyandarkan kepalaku di sana. Aku mengikuti maunya. Kini kepalaku telah sepenuhnya tersandar di bahunya. Satu sentuhan di puncak kepalaku menjadi penenangku hari ini. Ia … begitu pandai dalam memberi ketenangan padaku. Hingga ketika mata ini terpejam, sebuah kalimat terlontar dari lisannya.
“Sebenarnya … malam itu aku kecewa.” Satu kalimat itu membuatku kini berhenti menyandarkan kepalaku padanya. Kami saling memandang. Mataku mulai memanas. Bagaimana mungkin aku tega mengecewakannya? Ia selama ini bahkan tak pernah mengecewakanku. Aku terpaku dalam hening, tak berani menatap lama dirinya.
“Apa yang membuatmu menolakku malam itu? Apa … aku kurang tampan? Atau … ada yang kamu simpan?” tanyanya padaku. Sebuah pertanyaan yang membuatku bungkam.
Aku tak tahu harus menjawab apa. Pertanyaannya begitu menjebak. Jika aku berkata jujur soal masa laluku. Apa ia masih mau menerimaku? Atau justru … ia akan beralih pergi meninggalkanku. Saat lamunanku panjang, sebuah tangan melambai di wajahku.
“Halo! Kenapa melamun?” tanya Mas Afwan. Sepasang matanya sibuk menatapku sedari tadi.
“A—aku … aku juga nggak tahu apa yang terjadi padaku, Mas. Setahuku malam itu, perutku mual dan seolah memberi sinyal bahwa aku sedang nggak baik-baik aja.”
“Apa napasku bau?” Ia mengembuskan napas ke arah telapak tangannya dengan cara menangkupkannya di depan mulut. Lalu menghirupnya sendiri dengan kening berkerut serius. “Perasaan malam itu aku udah gosok gigi pakai pasta gigi siwak, deh. Kalau sekarang memang bau rendang, sih.”
Aku tertawa kecil mendengar kalimatnya. Sesekali mencubit pelan lengannya. Ia … selalu pandai membuatku tertawa. Ya Allah, apa benar aku tega mengecewakan lelaki semanis ini saat memperlakukan istrinya? Bagaimana caranya agar aku bisa mematuhinya, ya Allah?
“Sepertinya sudah mau azan asar. Kita, cari masjid, yuk. Setelah itu … kita pulang.”
“Sebentar.” Aku menahan tangannya. Kemudian menghidupkan kamera ponselku dan mengabadikan momen selfie kami berdua.
“Kita dari tadi belum foto bareng, kan?” ucapku sambil tersenyum.
“Hidupkan lagi kameranya. Sini aku foto kamu di kebun teh ini,” ucap Mas Afwan lantas mengambil ponselku dari tangannya.
Aku mulai berpose sesuai dengan penampilanku saat ini. Tidak berlebihan sebagaimana aku dulu melakukannya. Mas Afwan tersenyum manis menatapku. Ia benar-benar mendalami profesi kilatnya hari ini. Yaitu, menjadi fotografer bagi istrinya.
“Sekarang, kita foto bareng.” Suara jepretan foto itu terdengar nyaring. Tiba-tiba … saat kami mengabadikan selfie bersama, ia mencium pipiku lalu memotretnya.
“Sudah. Ini, hapemu,” ucapnya sambil menyodorkan ponselku kemudian tertawa. Tawa yang begitu manis yang lambat laun, kini hangat di hatiku.
Ku tuai senyuman tulusku padanya. Kemudian berjalan cepat menujunya. Ia merangkul bahuku dan berpura-pura hendak mencekikku. Lalu sebuah kecupan mendarat di puncak kepalaku. Ya Allah, suamiku ini begitu memuliakanku. Semoga Engkau menjaganya selalu.
Kami melakukan perjalanan menuju pulang setelah semula sempat mampir di masjid. Hamzah terbangun dari tidur lelapnya sehingga aku kini harus menemaninya duduk di belakang. Sebuah camilan kesukaannya kini ia makan dengan lahapnya. Namun, saat ia menggunakan tangan kiri, tiba-tiba ia beristigfar.
“Astagfilullah. Hamjah lupa. Ini tangan kili kan, Umi?”
“Iya, Sayang. Makannya tangan kanan, ya. Sesuai anjuran Rasulullah,” jawabku seraya menanamkan sunah padanya.
Ia mengangguk paham. Kemudian berkata sesuatu yang jarang terdengar dari lisan anak kecil seusiannya.
“Jazaakillahu khail, Umi.” Aku tersenyum mendengar kalimat itu. Lantas membelai lembut rambutnya. Lalu membalas ucapannya.
“Wa jazaakallahu khair, Hamzah sayang.” Kupeluk erat dirinya. Kuanggap ia adalah darah dagingku sendiri. Hamzah. Ia adalah permata yang Allah titipkan di tengah keluarga kami. Harusnya, aku bersyukur akan hal itu. Karena dengan kehadirannya, aku menjadi lebih dewasa dalam bersikap.
Beberapa menit kemudian, langit senja mulai menyambut malam. Semburat cahaya oranye itu kini bercampur biru yang gelap. Malam, adalah waktu di mana aku banyak memohon perlindungan kepada Allah. Aku begitu takut dengan sikap diriku yang aneh belakangan ini.
Kulihat, Mas Afwan baru saja selesai dari mandi. Ia tersenyum hangat padaku yang saat itu tengah mengajak Hamzah bermain bersama. Kemudian, Mas Afwan berkata ….
“Kamu … nggak mandi, Sayang?” tanyanya seraya menggosok rambutnya yang basah dengan handuk kecil di tangannya.
Kualihkan pandanganku darinya. Entah mengapa jantungku berdebar begitu cepat kala melihatnya bertelanjang dada. Ia lantas tertawa lalu berdiri tepat di hadapanku.
“Kenapa? Kamu ini lucu, deh. Kita ini sudah menikah. Kenapa malu?”
“Ya malulah Abaty. Kan, Abaty laki-laki. Umi tu pelempuan. Bukan mahlom.” Buncah sudah tawa kami berdua. Mas Afwan lantas mencubit pelan pipi anaknya. Gemas dengan tingkah lakunya itu.
“Hamzah kan udah liat Umi dan Abaty nikah kemarin itu. Masa lupa, sih?” kata Mas Afwan berusaha mengingatkannya.
“Oh, iya. Hamjah lupa. Maaf ya, Abaty. Afwan jiddan,” ucapnya meminta maaf sambil menempelkan kedua telapak tangannya sebagai bentuk permohonan maaf.
“Ya, lain kali jangan bilang Umi dan Abaty bukan mahram lagi, ya.”
“Ya, Abaty. Na’am.”
“Aku salat ke masjid dulu, ya, Sayang. Kamu, nggak masak malam ini?” tanya Mas Afwan seraya meraih jubahnya yang tergantung dengan anger di belakang pintu.
“Ya, in sha Allah nanti aku masak sesuatu. Untuk makan malam kita.”
“Kalau kamu lelah, nggak apa-apa kok nggak masak. Biar aku nanti mampir beli nasi goreng lagi atau miso. Kamu mau apa?”
Aku lantas tersenyum riang mendengar tawarannya. Kemudian aku menjawab dengan cepat.
“Miso.”
“Thoyyib, in sha Allah. Aku berangkat dulu, ya. Jangan lupa mandi. Assalamualaikum.”
“Iya, Sayang. Waalaikumsalam.”
Tiba-tiba Mas Afwan menghentikan langkahnya. Ia lantas menoleh kembali kepadaku.
“Apa tadi?”
“Apa?” tanyaku heran mengulangi pertanyaannya.
“Yang tadi, apa? Sayang?” Ia tersenyum bahagia.
Aku mengangguk malu sambil menuai senyuman.
“Ulang sekali lagi, dong. Aku mau dengar.”
“Iya, Sayang.”
“Lebih merdu lagi!”
‘”Ya Allah, itu udah qomat.”
“Oh, ya. Assalamualaikum.” Ia berjalan cepat keluar rumah. Lantas melambaikan tangan ke arahku dan Hamzah.
Malam hampir larut. Mas Afwan seperti biasa akan mengisi kajian dulu sehabis magrib dan melanjutkan salat isya berjamaah di masjid. Saat aku tengah menidurkan Hamzah, tiba-tiba sebuah telepon masuk. Kulihat layar ponselku menampilkan nama “Ibuku Tersayang.” Aku tersenyum bahagia, lantas mengangkat panggilannya.
“Asalamualaikum, Ibu? Apa kabar?”
“Ibu baik, Nak. Tapi ….”
“Tapi ada apa, Bu?” Kuulangi pertanyaanku. Mencoba mencari tahu kebenaran di balik getar suara Ibu.
“Ridho, Nak. Adikmu.”
“Kenapa, Bu? Ridho kenapa?”
“Dia … dia masuk penjara.”
jangan mau!
.
Masih banyak cobaan yang belum kamu cobain,
kamu masih belum merasakan betapa bahagianya saat menang GA, kamu belum merasakan betapa bahagianya CO nol rupiah di tanggal kembar. It's amazing Adelin.🤣
Oke, semoga kamu baca komentarku ini, sebelum lantai dasar gedung itu menerima suara gedebugh mu🔥🔥🔥🔥🔥
Akhirnya penasaran dengan kata Bugh di ujung paragraf, apa itu suara tubuh Adelin yang memilih terjun ke bawah sana? atau apa?