Restu merasa hidup dalam keputus asaan ketika Istri dan anaknya suka menyalahkan dirinya hingga dirinya emosi membentak istri dan anaknya tersebut namun kini dirinya jadi orang yang di anggap paling bersalah hingga dia merasa hidup dalam ke hampaan tanpa harus bisa berbuat apa pun selain hanya diam karena apa pun yang dilakukannya akan jadi tambah Salah hingga akhirnya dia ingin mengakhiri hidupnya di suatu jurang yang dalam namun tiba-tiba takdir berkata lain, dia mengurungkan niatnya dengan mencari cara untuk memberi pelajaran kepada istei dan anaknya dengan bantuan sistim yang tiba-tiba datang memberikan pilihan bantuan hingga akhirnya dia mengatur cara agar semuanya menyadari kesalahannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DANA SUPRIYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 Dari Karyawan Jadi Bos
Laki-laki yang umurnya baru menuju empat puluh tahun itu mengusap matanya ketika melihat Restu yang sahabat tukar pikiran di kantor menjadi orang yang berada diantara bos besar
Sementara itu suasana di ruang utama perusahaan seketika berubah menjadi gempar. Para karyawan yang tadinya sibuk bekerja, kini semua berhenti dan berkerumun mendengar pengumuman yang disiarkan melalui pengeras suara dan layar besar di lobi.
"HARI INI AKAN DILAKUKAN PENANDATANGANAN RESMI SERAH TERIMA 30% SAHAM PERUSAHAAN ANGKASA DARI PEMILIK LAMA KEPADA PEMILIK BARU. SELURUH MANAJER DAN KOMISARIS DIHARAPKAN HADIR."
Mata semua orang terbelalak. Mereka menatap Restu yang berdiri tenang di samping Direktur Utama.
"Jangan-jangan... jangan-jangan pemilik barunya itu Pak Restu?!"
Bisik salah satu karyawan sambil bertepuk tangan kagum
"Gila! Dari karyawan biasa jadi bos besar dalam semalam?!"
"Pantesan dia berani melawan kemarin, ternyata dia punya 'koneksi' luar biasa!"
"Adu habis aku, semalam aku tidak membantunya malah mencibirnya, wadu gawat......."
Para karyawan yang semalam mencibir Restu jadi ketakutan sedangkan yang tidak mau ambil pusing tetap pada posisi tenang dan senyum-senyum
"Makanya jangan pernah ikut campur urusan perusahaan, ya bagusan kita kerja dapat honor selesai"
"Iya ya, gawatlah ini"
Saat ini setiap orang dengan rasa yang ada pada diri mereka masing-masing sedangkan di barisan para Manajer, Mas Ardi berdiri kaku. Wajahnya pucat pasi, keringat dingin mengucur deras di pelipisnya. Ia baru sadar sepenuhnya. Orang yang kemarin ia hina, orang yang kemarin ia potong gaji sebesar satu juta demi membela adiknya yang manja, ternyata adalah orang yang kini menjadi atasannya bahkan pemilik sebagian saham perusahaan ini!
'Ya Tuhan... apa yang sudah kulakukan...'
Batin Mas Ardi hancur. Ia merasa ingin menelan ludah saja tapi tersangkut di tenggorokan hingga dia melihat adiknya yang berada di sampingnya dengan penuh kekesalan yang luar biasa, ingin rasanya dia menampar adiknya itu
Sedangkan saat ini Mimi yang berdiri di samping kakaknya, mulutnya ternganga lebar, wajahnya berubah merah padam lalu pucat. Ia tidak bisa berkata apa-apa. Dunianya runtuh seketika.
"Dia sebenarnya bos baru perusahaan ini jadi semalam dia itu......"
Mimi bicara dalam hati sedangkan mulutnya masih ternganga lebar dan makin lebar yang membuat hidupnya di perusahaan ini bakalan selesai
Di dalam ruang rapat yang megah...
Setelah prosesi penandatanganan dokumen hukum yang sangat formal dan sakral, Direktur Utama berdiri dan memberikan pengumuman resmi.
"Bapak Ibu sekalian, dengan ini saya nyatakan bahwa Bapak Restu kini resmi menjadi salah satu pemegang saham terbesar dan pemilik baru perusahaan ini, atas kepercayaan yang diberikan oleh pendiri perusahaan."
Semua orang bertepuk tangan dengan gemuruh, kecuali Mimi, Pak Andri, dan Mas Ardi yang hanya bisa menunduk ketakutan.
Restu berdiri, menatap seluruh hadirin dengan tatapan dingin namun berwibawa. Ia tidak perlu berteriak, kehadirannya saja sudah membuat seluruh ruangan hening.
"Untuk kebijakan pertama saya,"
Suara Restu terdengar lantang dan tegas.
"Pertama, mengenai Mimi. Saya melihat sikapnya selama di sini tidak mencerminkan etika kerja yang baik, suka memeras sesama, dan merugikan nama baik perusahaan. Maka dari hari ini, Mimi dikeluarkan dan tidak diperbolehkan magang di sini lagi. Silakan pulang."
BRAK!
Mimi lemas, hampir jatuh. Ia diusir oleh satpam dengan wajah menangis dan penuh penyesalan.
"Kedua, Pak Andri. Karena ketidakmampuan Bapak dalam memimpin dan sering memihak serta menekan bawahan yang benar, maka jabatan Bapak sebagai Kepala Bagian diturunkan. Bapak akan kembali bekerja sebagai staf biasa di bagian administrasi. Silakan kerjakan tugas lapangan seperti dulu."
Wajah Pak Andri hancur lebur. Dari bos jadi pegawai rendahan.
"Ketiga..." Restu menatap ke arah pintu.
Tiba-tiba temannya, Dimas, masuk dengan wajah bingung. Ia baru masuk kerja hari ini setelah cuti melahirkan istrinya, dan kaget melihat suasana rapat besar.
"Dimas, kemari,"
Panggil Restu lembut membuat semua mata tertuju pada Dimas yang sering jadi kawan akrabnya Restu di kantor
"Eh? I-iya Pak Restu? Eh maksud saya Bos?"
"Karena kamu adalah teman yang baik dan baru saja dikaruniai anak, saya angkat kamu menjadi Kepala Divisi Pemasaran. Gaji dan fasilitas sesuai standar direksi. Ini hadiah untuk kelahiran anakmu, supaya masa depannya cerah."
Dimas terbelalak tak percaya, lalu menangis haru.
"Makasih Bos! Makasih banyak! Aku janji akan kerja keras!"
Semua orang menatap iri namun juga kagum. Restu benar-benar membalas kebaikan dengan kebaikan, dan kejahatan dengan keadilan.
Setelah acara selesai, Direktur Utama mengantar Restu ke lantai paling atas.
"Mari Pak Restu, ini ruangan Anda."
Pintu besar terbuka. Terlihat sebuah ruangan kerja yang sangat luas, mewah, dan elegan. Interior kelas atas, karpet tebal, dan jendela kaca besar yang bisa melihat pemandangan kota dari ketinggian. Kursi kerjanya sangat besar dan nyaman, kursi kebesaran CEO.
Restu berjalan masuk, menyentuh meja kerja itu. Rasanya seperti mimpi. Kemarin dia duduk di kursi kayu keras di sudut ruangan, hari ini dia duduk di singgasana tertinggi perusahaan raksasa ini.
Ia duduk di kursi CEO itu, memejamkan mata sejenak menikmati momen kemenangannya.
Namun, tiba-tiba suara dingin dan familiar kembali terdengar di kepalanya.
[SELAMAT PENGGUNA. TINGKAT KEKUASAAN MENINGKAT. STATUS: PEMILIK PERUSAHAAN.]
[NAMUN PERJALANAN BELUM SELESAI. KEKAYAAN 1 MILYAR DAN SAHAM INI HANYA AWAL.]
[MISI BARU AKAN DIMULAI SEKARANG.]
[TUJUAN: JADIKAN PERUSAHAAN ANGKASA MENJADI PERUSAHAAN NOMOR 1 DI SELURUH NUSANTARA DAN MENYALIP PERUSAHAAN RAKSASA LAINNYA.]
[HADIAH MISI INI: KEKAYAAN MENJADI 10 MILYAR DAN STATUS ANDA AKAN DIANGGAP SEBAGAI ORANG TERKAYA DI NEGARA INI
SISTIM AKAN MEMBIMBING KEMAMPUAN BISNIS TINGKAT TINGGI UNTUK BISA MENGUASAI PASAR DENGAN MODAL PERUSAHAAN BESAR YANG AKAN SIAP DI GUNAKAN.]
Restu membuka matanya. Tatapannya kembali tajam dan berapi-api.
"Siap Sistem... Aku siap untuk misi selanjutnya! Dunia, tunggu aksiku!"
Restu merasa yakin apalagi sistim memberinya kemampuan dan bimbingan yang tiba-tiba saja cahaya masuk kedalam lautan ingatannya hingga dia merasa menguasai kemampuan menejemen yang handal dan penilaian bisnis yang akurat
"Aku pasti bisa"
Restu langsung memanggil direktur utama untuk memberikan arahan akan tugas yang dia kerjakan
"Kalau seperti ini pak, kita butuh modal besar pak"
"Sekarang coba cek modal perusahaan kita hari ini pasti ada penambahan"
"Maksudnya pak?"
"Coba check saja"
Pak Tomas sebagai direktur utama terkejut ketika dia memeriksa keuangan yang bisa dia periksa dari handphonenya
"Masuk 500 triliunan dari pak Restu"
Pak Tomas tidak menyangka sambil melihat Restu
"Kalau modal seperti ini kita siap jadi perusahaan nomor satu di Nusantara ini pak bahkan bisa ekspansi ke luar negeri"
"Bagus, jalankan sesuai perintah tapi ingat!, gunakan uang sesuai izin saya dengan baik"
"Siap pak"
tinggalkan jejak sobat ya
makasi