"Sabar itu ada batasnya, Laras. Dan batasmu adalah kematianmu sendiri," bisik Dimas tepat di telingaku, saat tangannya dengan lembut mengusap kepalaku yang tertutup hijab.
Di depan semua orang, Dimas adalah suami saleh dan pengacara terpandang yang setia menjaga istrinya yang lumpuh. Namun, di balik pintu kamar, ia adalah iblis yang meracuniku setiap hari. Ia menghancurkan tubuhku demi membalas dendam masa lalu dan menguasai harta warisan orang tuaku untuk wanita lain.
Aku terjebak dalam tubuh yang tak bisa bergerak. Namun, di atas kursi roda ini, aku bersujud dalam hati. Aku berhenti meminum racun itu dan mulai berpura-pura lumpuh. Di saat Dimas merasa telah menang, ia tidak tahu bahwa aku mengawasi setiap langkah busuknya.
Aku memang istri yang kau buang, Dimas. Tapi ingatlah, doa orang yang terzalimi tidak akan pernah terhalang oleh langit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panggung Terakhir Sang Sutradara
Malam semakin larut, menyisakan kesunyian yang mencekam di dalam rumah besar ini. Aku menatap jam dinding yang berdetak dengan ritme yang seolah menghitung mundur setiap detik kehancuranku—atau justru kehancuran Dimas. Pukul sebelas malam. Dimas belum juga pulang, dan itu adalah kesempatan emas bagiku untuk melakukan pergerakan.
Dengan napas yang diatur sedemikian rupa agar tidak menimbulkan suara, aku mencoba menurunkan kakiku dari tempat tidur. Sensasi kesemutan yang hebat langsung menyerang, seolah ribuan jarum halus menusuk saraf-sarafku. Aku meringis, mencengkeram sprei ranjang dengan kencang hingga kukuku memutih untuk menahan teriakan sakit.
"Ayo, Laras... kamu bisa. Kamu harus bisa," bisikku menyemangati diri sendiri.
Aku memaksakan diri berdiri. Lututku bergetar hebat, hampir saja aku tersungkur jika tanganku tidak segera meraih tiang ranjang kayu jati ini. Rasanya sangat berat, seolah aku sedang memikul beban berton-ton di punggungku. Namun, bayangan Dimas yang tertawa bersama Maya di atas penderitaanku semalam memberikan suntikan adrenalin yang luar biasa.
Perlahan, langkah demi langkah, aku menyeret tubuhku menuju lemari pakaian besar di sudut kamar. Di balik deretan baju gamis dan gaun pernikahanku yang kini terasa seperti kain kafan, terdapat sebuah brankas kecil yang tertanam di dinding—sebuah rahasia yang hanya diketahui olehku dan almarhum Ayah sebelum beliau wafat.
Tanganku yang gemetar memasukkan kombinasi angka. Klik.
Pintu brankas terbuka, menampakkan beberapa perhiasan warisan Ibu, sejumlah uang tunai darurat, dan yang paling penting: sebuah buku tabungan atas nama pribadiku yang belum sempat aku laporkan aksesnya pada Dimas. Di bawah tumpukan uang itu, ada sebuah benda kecil berwarna hitam. Sebuah alat perekam suara berbentuk pulpen dan kamera kancing tersembunyi.
"Ayah... terima kasih karena selalu mengajariku untuk waspada," gumamku sambil mengusap benda kecil itu.
Tiba-tiba, suara pintu gerbang dibuka di bawah sana membuat jantungku hampir meloncat keluar. Dia pulang.
Dengan gerakan panik yang sebisa mungkin tetap senyap, aku menyeret tubuhku kembali ke tempat tidur. Aku menyembunyikan alat perekam itu di balik bantal dan segera menarik selimut hingga ke leher. Aku memejamkan mata tepat saat suara langkah sepatu Dimas menggema di koridor lantai dua.
Pintu kamar terbuka. Dimas masuk, namun kali ini langkahnya tidak seimbang. Bau alkohol yang sangat kuat langsung memenuhi ruangan. Dia mabuk berat.
"Laras... oh, istriku yang malang," gumamnya dengan suara serak yang menjijikkan.
Aku merasakan beban berat di sisi tempat tidur saat dia duduk di sana. Tangannya yang kasar mulai mengelus pipiku. Aku harus mengerahkan seluruh kekuatan mentalku agar tidak bergidik ngeri atau menepis tangannya dengan jijik.
"Kamu tahu, Laras? Besok... besok hidupku akan berubah total. Aku tidak perlu lagi berpura-pura menjadi pengacara miskin yang harus mengabdi pada nama besar keluargamu. Notaris itu sudah setuju. Semua tanda tanganmu semalam... akan membuatku menjadi penguasa baru di sini."
Ia tertawa kecil, tawa yang penuh dengan kemenangan yang gelap. "Maya benar... kamu memang terlalu mudah dibodohi. Hanya dengan sedikit kata manis dan beberapa butir vitamin, kamu menyerahkan seluruh peninggalan orang tuamu padaku."
Aku tetap bergeming, membiarkan dia terus meracau dalam mabuknya. Inilah saat yang paling tepat. Aku mengaktifkan alat perekam di balik bantal dengan gerakan jari yang sangat hati-hati.
"Kenapa... kenapa kamu melakukannya, Mas?" tanyaku dengan suara yang sangat lirih, seolah bicara dalam igauan tidur.
Dimas tersentak sedikit, namun karena pengaruh alkohol yang kuat, dia tidak sadar bahwa aku sedang memancingnya. "Kenapa? Karena aku bosan, Laras! Aku bosan menjadi bayang-bayang istrimu yang dianggap hebat itu. Aku bosan melihatmu dipuja sebagai penulis besar sementara aku hanya dianggap sebagai suamimu yang beruntung bisa tinggal di rumah mewah ini. Maya... dia mengerti aku. Dia menghargaiku."
"Lalu... rumah ini?" pancingku lagi, suaraku terdengar seperti isakan kecil yang memilukan.
"Rumah ini? Rumah ini akan menjadi mahar untuk Maya. Besok pagi, notaris akan datang membawa surat final. Begitu aku memegang akta jual belinya, aku akan membawamu ke sebuah panti rehabilitasi di luar kota. Kamu akan aman di sana, Laras... sendirian, lumpuh, dan tidak akan bisa menggangguku lagi."
Setiap kata yang keluar dari mulutnya terasa seperti paku yang memaku peti matiku. Namun, di dalam hati, aku justru merasa lega. Karena sekarang, aku punya pengakuan langsung darinya yang terekam dengan jelas.
"Tidurlah, Laras. Nikmati malam terakhirmu di rumah mewah ini," ucapnya sebelum ia bangkit dan berjalan terhuyung-huyung menuju kamar tamu. Dia terlalu mabuk untuk menyadari bahwa aku tidak lagi berada di bawah pengaruh obatnya.
Begitu suara pintu kamar tamu tertutup, aku membuka mata. Tatapanku tajam dan dingin. Aku segera mengambil alat perekam itu dan menyambungkannya ke ponsel yang kusembunyikan di balik sprei. Aku mengirimkan file rekaman itu ke email Rian dan Pak Surya, pengacara kepercayaan almarhum Ayah.
[Larasati]: "Pak Surya, tolong dengarkan ini. Besok pagi notaris gadungan itu akan datang. Saya butuh Bapak membawa polisi ke rumah saya pukul sembilan pagi. Jangan terlambat, atau harta peninggalan Ayah akan hilang selamanya."
Beberapa saat kemudian, balasan masuk.
[Pak Surya]: "Laras? Ya Allah, saya baru saja selesai meninjau rekaman dashcam semalam. Ini benar-benar kejahatan! Saya sudah menghubungi pihak kepolisian. Kami akan ada di sana sebelum notaris itu sampai. Bertahanlah sebentar lagi, Nak."
Aku menarik napas lega. Bantuan akan datang. Namun, aku tahu aku tidak bisa hanya diam menunggu. Aku harus memastikan Dimas tidak curiga sedikit pun sampai polisi tiba di depan pintu.
Pagi harinya, aku terbangun dengan perasaan was-was. Aku mendengar suara hiruk pikuk di lantai bawah. Suara Dimas yang tertawa dan suara asing pria lain—pasti notaris gadungan yang ia maksud semalam.
"Bi Ijah! Bawa sarapan untuk Laras ke atas! Pastikan dia minum obatnya dulu sebelum aku membawanya turun untuk bertemu tamu!" teriak Dimas dari lantai bawah.
Bi Ijah masuk ke kamar dengan wajah pucat dan tangan yang gemetar. Ia membawa nampan berisi bubur. Saat matanya bertemu denganku, aku memberinya isyarat untuk tetap tenang.
"Nyonya... di bawah sudah ada orang-orang jahat itu," bisik Bi Ijah. "Ijah takut sekali kalau Tuan Dimas melakukan sesuatu yang buruk."
"Jangan takut, Bi. Polisi akan datang. Tolong, bantu aku memakai baju yang paling bagus. Aku ingin menyambut 'kemenangan' Dimas dengan cara yang tak akan ia lupakan seumur hidupnya," ucapku sambil tersenyum tenang.
Bi Ijah membantuku mengganti baju tidur dengan gamis berwarna biru tua yang elegan. Ia juga memakaikan hijab dengan sangat rapi. Aku terlihat seperti Larasati yang dulu, namun dengan sepasang mata yang kini menyiratkan kekuatan badai.
"Laras! Sayang! Ayo turun!" teriak Dimas dari ambang pintu.
Ia masuk dan melihatku sudah rapi. Wajahnya sempat tertegun sejenak melihat kecantikanku. "Wah, kamu tampak cantik sekali hari ini. Sepertinya kamu tahu kalau hari ini adalah hari besar untuk kita?"
"Iya, Mas. Aku merasa sedikit lebih kuat hari ini," jawabku sambil tersenyum manis, sebuah akting yang sangat sempurna.
Dimas membantuku duduk di kursi roda. Ia mendorongku menuju lift kecil di samping tangga yang dulu dipasang Ayah untuk memudahkan Ibu. Saat pintu lift terbuka di lantai bawah, aku melihat seorang pria berpakaian safari dengan tas koper besar duduk di ruang tamu.
"Nah, Laras. Kenalkan, ini Pak Darmawan, notaris yang akan mengurus semua administrasi pemindahan aset kita," ucap Dimas dengan nada bangga yang meluap-luap.
Pria itu tersenyum licik. "Selamat pagi, Ibu Laras. Silakan, kita hanya butuh satu sidik jari dan tanda tangan terakhir untuk melengkapi dokumen semalam."
Aku menatap dokumen di atas meja. Surat Kuasa Penjualan Aset Mutlak.
"Tunggu sebentar, Mas," ucapku tenang sambil melirik ke arah pintu depan. "Sepertinya kita kedatangan tamu lain yang tidak ingin melewatkan perayaan ini."
Wajah Dimas berubah pucat saat ia mendengar suara sirine polisi yang tiba-tiba meraung kencang di depan pagar rumah. Suara derit ban mobil yang berhenti mendadak membuat suasana di ruang tamu seketika membeku.
"Laras? Apa-apaan ini?! Siapa yang memanggil polisi?!" bentak Dimas panik.
Aku bangkit dari kursi roda dengan perlahan, kaki yang tadinya dianggap lumpuh kini berpijak kuat di atas lantai rumah orang tuaku. Aku berdiri tegak, menatap Dimas langsung di matanya yang kini penuh dengan ketakutan luar biasa.
"Sandiwaranya sudah tamat, Mas Dimas," ucapku dingin. "Dan selamat datang di bab terakhir yang sudah kutuliskan khusus untuk menghancurkanmu."