Keana Elvaretta percaya bahwa pisau bedah di tangannya bisa mengungkap kebenaran yang disembunyikan mayat, namun ia gagal mengungkap isi hati suaminya sendiri, Ghazali Mahendra. Menikah karena sebuah wasiat dan paksaan keadaan, Keana harus menerima kenyataan pahit bahwa ranjang pengantinnya hanyalah medan perang emosional yang dingin.Bagi Ghazali, seorang Jaksa Penuntut Umum yang ambisius dan memuja kesempurnaan, Keana hanyalah wanita "berbau formalin" yang merusak citra idealnya.
Di siang hari, mereka adalah rekan profesional yang bersinergi memecahkan kasus hukum dan forensik, namun di malam hari, mereka hanyalah dua orang asing yang berbagi luka di bawah satu selimut. Saat rahasia besar mulai terkuak dari sebuah meja otopsi, Keana menyadari bahwa dirinya selama ini hanyalah 'alamat yang salah' untuk cinta yang dikirimkan Ghazali. Mampukah Keana bertahan saat luka yang ia bedah setiap hari ternyata adalah hatinya sendiri?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Perbandingan yang Menyakitkan
Suara logam ritsleting koper yang ditarik secara kasar membelah keheningan kamar utama yang membeku ini. Suaranya terdengar seperti gergaji osilasi yang sedang membelah tulang dada manusia di atas meja otopsiku—menyakitkan, brutal, dan final.
Aku memasukkan beberapa kemeja katunku ke dalam koper tanpa repot-repot melipatnya dengan rapi. Tanganku gemetar, napasku tersengal pendek-pendek seolah oksigen di ruangan seluas delapan puluh meter persegi ini telah disedot habis. Di sudut ruangan, Ghazali berdiri mematung membelakangiku. Ia menatap ke luar jendela yang masih diguyur hujan badai, kedua tangannya tenggelam dalam saku celana kainnya. Posturnya begitu tegak dan kaku, persis seperti patung lilin tanpa nyawa.
Tidak ada satu pun dari kami yang bersuara selama sepuluh menit terakhir sejak ibunya dan Maia meninggalkan ruangan ini bersama surat cerai yang telah ia tanda tangani.
"Apakah kau puas sekarang, Ghazali?" tanyaku akhirnya. Suaraku terdengar serak, parau oleh air mata yang sudah mengering di pipiku.
Ghazali tidak berbalik. Ia hanya menundukkan kepalanya sedikit. "Sopir sudah menunggu di lobi bawah. Dia akan mengantarmu ke apartemen milik Kakek di kawasan Sudirman. Itu adalah tempat paling aman untukmu malam ini."
Aku tertawa getir. Suara tawaku memantul di dinding marmer, terdengar sangat menyedihkan. "Aman? Kau bicara soal keamanan setelah kau membiarkan ibumu dan mantan kekasihmu menyekap asistenku dan menghancurkan martabatku di depan matamu sendiri?"
Kali ini, Ghazali memutar tubuhnya. Wajahnya adalah kanvas kosong yang memuakkan. Topeng pualam sang Jaksa Penuntut Umum telah kembali terpasang dengan sempurna di wajahnya. "Di ruang sidang, saksi yang keterangannya sudah tidak relevan atau membahayakan konstruksi kasus harus segera dikeluarkan dari ruangan, Keana. Anggap saja kau adalah saksi itu. Dan rumah ini adalah ruang sidangku."
"Aku bukan saksi, Ghazali! Aku istrimu!" teriakku, melempar sebuah buku tebal ke arahnya. Buku itu meleset dan menghantam dinding dengan suara keras. "Atau setidaknya... aku pernah berpikir begitu."
Aku berjalan mendekatinya, langkahku terseok namun mataku menatap nyalang ke arah sepasang netra gelapnya. Aku berhenti tepat di depannya, menantang jarak keramat satu meter yang selama ini ia agungkan.
"Kau adalah seorang penegak hukum," bisikku tajam tepat di depan wajahnya. "Kau diajarkan untuk mencari actus reus atau perbuatan jahat dalam setiap kasus pidana. Tapi kau sengaja menutup mata saat pelakunya adalah wanita yang tidur di ranjang ini sebelumku. Kau membuang berlian demi memungut pecahan kaca beracun, Ghazali. Perbandingan yang sangat menyakitkan, bukan?"
Otot rahang Ghazali mengetat hebat hingga urat di lehernya menonjol. Ia menunduk, matanya menelusuri wajahku dengan intensitas yang hampir membuatku goyah. Aroma wiski dan tembakaunya yang khas berbaur dengan napasnya yang memburu.
"Kaca beracun itu tahu bagaimana cara bermain di duniaku, Keana," balasnya dengan suara rendah yang mengintimidasi. "Sementara kau... kau terlalu suci. Kau terlalu peduli pada kebenaran empiris dari mayat-mayatmu. Kau tidak akan pernah selamat di dunia yang diatur oleh kebohongan. Sekarang, ambil kopermu dan pergi. Bau formalinmu membuat udara di kamarku sesak."
Kata-kata itu adalah pukulan knock-out terakhir. Ia kembali menggunakan senjatanya yang paling mematikan: menghina identitas profesionalku.
Aku mengangguk pelan, menggigit bibir bawahku kuat-kuat untuk menahan isakan. "Baiklah, Bapak Jaksa Penuntut Umum. Berdoalah agar kita tidak perlu bertemu lagi. Karena jika kita bertemu, itu berarti salah satu dari kita sedang berada di atas meja otopsi."
Aku membalikkan badan, menarik gagang koperku, dan melangkah keluar dari kamar pengantin itu tanpa menoleh lagi.
Langkah kakiku bergema di atas tangga melingkar. Koperku berdebum pelan menabrak setiap anak tangga. Saat aku tiba di ruang keluarga di lantai dasar, pemandangan yang tersaji di sana membuat perutku bergejolak hebat karena mual.
Di atas sofa kulit berwarna burgundy, Maia Anindita duduk dengan menyilangkan kaki jenjangnya. Ia memegang segelas wine merah di tangannya, menyesapnya dengan keanggunan iblis. Di seberangnya, Nyonya Ratna sedang membaca majalah seolah tidak pernah terjadi insiden percobaan pembunuhan beberapa saat yang lalu.
"Ah, lihat siapa yang akhirnya menyerah dan angkat kaki," sapa Maia dengan senyum beracunnya. Matanya memindai penampilanku dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Selamat jalan, Dokter. Koper itu terlihat terlalu besar untuk seseorang yang sebenarnya tidak punya apa-apa."
Aku menghentikan langkahku. Tanganku mencengkeram gagang koper dengan sangat kuat hingga buku-buku jariku memutih.
"Aku tidak menyerah, Maia. Aku hanya mundur dari area yang telah terkontaminasi oleh limbah beracun," balasku dengan suara sedingin es.
Nyonya Ratna menutup majalahnya dengan kasar. "Jaga bicaramu di rumahku, Keana! Seharusnya kau bersyukur kami masih membiarkanmu keluar dari sini dengan kedua kaki yang utuh."
"Ini bukan rumah, Nyonya Ratna," aku menatap wanita paruh baya itu dengan tatapan menguliti. "Secara medis dan hukum, tempat ini adalah sebuah TKP—Tempat Kejadian Perkara. Dan kalian berdua adalah tersangka utamanya. Kalian mungkin berhasil membakar selembar kertas pengakuan malam ini, tapi kalian tidak bisa membakar kebenaran."
Maia tertawa pelan, tawa meremehkan yang mengudara di ruangan luas itu. "Kebenaran? Kau naif sekali, Keana. Di negara ini, keadilan tidak diukur dari bukti-bukti konyolmu di kamar mayat. Keadilan diukur dari seberapa banyak kolega yang kau miliki di Mahkamah Agung dan seberapa tebal saldo rekeningmu di bank Swiss."
Ia bangkit berdiri, berjalan mendekatiku dengan gemulai. Aroma mawar hibrida miliknya langsung menginvasi indra penciumanku, aroma yang sangat dipuja oleh Ghazali.
"Kita ini sangat berbeda, Keana. Kau tahu itu, bukan?" bisik Maia di dekat telingaku. "Kau membedah orang mati untuk mencari fakta yang tidak ada harganya. Sedangkan aku? Aku membedah hukum untuk memenangkan orang yang masih hidup. Dan Ghazali... dia membutuhkan wanita sepertiku, bukan wanita sepertimu yang setiap malam membawa pulang aroma kematian ke ranjangnya."
Perbandingan itu menyayat hatiku, namun aku tidak membiarkan luka itu terlihat di mataku. Aku menegakkan postur tubuhku, menatap balik ke dalam mata liciknya.
"Kau mungkin terlihat cantik dan wangi di luar, Maia. Tapi secara toksikologi forensik, kau adalah zat patogen yang merusak. Racun mematikan yang pelan-pelan akan menghancurkan organ siapa pun yang mendekatimu," kataku dengan artikulasi tajam. "Tulang kakek Ghazali tidak akan pernah bisa berbohong. Digitalis yang kau berikan padanya telah mengendap di sumsum tulangnya secara permanen. Nikmatilah kemenangan sementaramu ini, karena suatu saat nanti, hasil laboratoriumku yang akan memenjarakanmu."
Aku menggeser tubuhku, menabrak bahu Maia dengan sengaja, lalu melangkah keluar melewati pintu utama. Hujan badai menyambutku, membasahi wajah dan kemejaku seketika. Namun entah kenapa, dinginnya badai Jakarta malam ini terasa jauh lebih hangat daripada satu menit berada di dalam rumah keluarga Mahendra.
Pukul 02.00 dini hari.
Aroma rumah sakit selalu memiliki cara aneh untuk menenangkan sarafku. Bau campuran klorin, disinfektan fenolik, dan lantai epoksi yang basah membuatku merasa kembali memegang kendali.
Aku mendorong pelan pintu ruang rawat inap VIP di RS Bhayangkara. Di atas ranjang rumah sakit, Adrian berbaring dengan wajah pucat pasi. Selang oksigen bertengger di hidungnya, sementara monitor EKG di samping ranjangnya berbunyi dengan ritme yang lambat namun stabil.
Mendengar suara langkahku, Adrian perlahan membuka matanya. Ia mencoba tersenyum, namun meringis saat merasakan sakit di pergelangan tangannya yang diperban.
"Dokter Keana..." suaranya serak dan lemah.
Aku segera menghampirinya, menarik kursi di samping ranjang, dan duduk. Aku menggenggam tangannya yang bebas dari infus. "Jangan banyak bicara dulu, Adrian. Jantungmu baru saja mengalami trauma berat."
"Mereka... mereka mencoba menyuntikkan Potassium Chloride," bisik Adrian, matanya memancarkan horor sisa kejadian tadi. "Saya tahu rasanya, Dok. Cairan itu... rasanya seperti api cair yang membakar pembuluh vena saya sebelum kesadaran saya hilang."
Aku menelan ludah dengan susah payah. Cairan mematikan itu menyebabkan henti jantung mendadak, dan jika Maia memutar katupnya lebih cepat beberapa detik saja, aku sudah pasti akan melakukan otopsi forensik pada asistenku sendiri hari ini.
"Dok... maafkan saya," tiba-tiba setetes air mata mengalir di sudut mata Adrian. "Saya lengah. Saya diculik saat mengambil sampel toksikologi di lab bawah. Karena saya... Dokter pasti diancam oleh mereka, kan?"
"Ini bukan salahmu, Adrian. Sama sekali bukan," aku mengusap air matanya pelan, mencoba menahan air mataku sendiri. "Ini salahku. Salahku karena aku bersikeras menjadi pahlawan di rumah yang diisi oleh para pembunuh. Salahku karena aku menaruh harap pada alamat cinta yang salah."
Adrian menatapku dengan nanar. Ia melihat memar di wajahku dan pakaian basahku. "Di mana Tuan Jaksa itu? Kenapa Dokter datang sendirian di jam seperti ini? Apa yang terjadi di rumah itu, Keana?"
Aku membuang muka, menatap monitor EKG yang berkedip hijau. "Kami bercerai, Adrian. Ghazali telah menandatangani surat gugatan cerainya."
"Apa?!" Adrian mencoba bangkit, namun aku segera menahan bahunya. "Dia membuang Anda setelah Anda mempertaruhkan nyawa di ruang sidang dan di dermaga? Laki-laki macam apa dia?!"
"Laki-laki yang memilih untuk menyelamatkan reputasinya dan menyelamatkan nyawa kita berdua," jawabku dengan senyum miris. "Ibunya dan Maia mengancam akan membunuhmu melalui layar video call jika ia tidak menandatangani surat itu dan menyerahkan bukti pembunuhan Kakek."
Adrian terdiam, memproses informasi gila tersebut. "Lalu... apa yang akan kita lakukan sekarang, Dok? Buktinya sudah hancur. Mereka menang."
"Sebuah kejahatan tidak pernah benar-benar sempurna, Adrian," ucapku, mengembalikan nada profesionalku. Mataku memancarkan kilat determinasi. "Mereka membakar kertas pengakuan itu, tapi mereka lupa bahwa mereka berhadapan dengan seorang ahli forensik. Dalam ilmu kriminalistik, tidak ada barang bukti yang benar-benar musnah ipso facto (berdasarkan fakta). Besok pagi, aku akan meminta tim labfor untuk menyisir abu di karpet kamarku sebelum pelayan membersihkannya."
"Tapi Dok... Anda sudah diusir."
"Itulah sebabnya, aku punya rencana lain," aku menatap Adrian lurus-lurus. "Mulai besok, aku akan bertarung di dua pengadilan sekaligus. Pengadilan pidana, dan Pengadilan Agama."
Tiga hari kemudian.
Duniaku telah menyempit menjadi ruangan berukuran 10x10 meter yang diisi oleh meja logam stainless steel, lampu operasi yang menyilaukan, dan bau formalin yang sangat pekat. Sejak malam pengusiranku, aku nyaris tidak pernah meninggalkan Departemen Forensik. Aku tidur di ruang istirahat dokter, mandi di fasilitas staf, dan mengubur rasa sakit hatiku dalam tumpukan kasus kematian tidak wajar yang datang silih berganti.
Saat ini, aku sedang berdiri di depan meja otopsi nomor tiga, memeriksa sebuah jenazah korban kecelakaan lalu lintas.
"Berdasarkan distribusi livor mortis (lebam mayat) yang tidak menetap, dan kondisi algor mortis (penurunan suhu tubuh), perkiraan waktu kematian korban adalah kurang dari empat jam yang lalu," aku mendiktekan temuanku pada voice recorder yang menjepit di kerah jas labku. Kepalaku sedikit pusing karena terlalu lama menghirup uap formalin sejak pagi, namun aku mengabaikannya. Bau ini jauh lebih mudah kutoleransi daripada membayangkan parfum mawar Maia.
Pintu ganda ruang otopsi tiba-tiba terbuka. Sensor otomatisnya mendesis keras.
Aku tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa yang datang. Instingku sudah mengenali derap langkah pantofel yang tegas dan terukur itu.
"Dokter Elvaretta."
Suara bariton yang berat, formal, dan dingin itu menghantam gendang telingaku. Aku menghentikan gerakanku yang sedang menjahit kembali insisi Y di dada jenazah. Aku menarik napas panjang, menetralkan emosiku, lalu berbalik perlahan.
Ghazali Mahendra berdiri di sana. Ia mengenakan setelan jas abu-abu gelap, dasi sutra hitam, dan membawa sebuah map dokumen kulit di tangannya. Wajahnya tampak sedikit lebih tirus, ada bayangan gelap di bawah kantung matanya, namun posturnya tetap angkuh tak tersentuh.
Ia tidak mendekat. Ia tetap berdiri di ambang pintu, menjaga jarak profesional yang mengiris hati.
"Bapak Jaksa," balasku sama formalnya. "Apa yang membawa Anda turun ke ruang bawah tanah yang kotor ini? Bukankah staf Kejaksaan biasanya mengirim kurir untuk mengambil berkas?"
Ghazali mengabaikan sindiranku. Ia meletakkan map kulit itu di atas meja instrumen dekat pintu. "Aku butuh laporan Visum et Repertum akhir dari jenazah Bramasta Putra. Pemeriksaan toksikologinya sudah selesai hari ini, dan berkas itu sangat krusial untuk persidangan lanjutan."
"Laporan itu bersifat rahasia dan merupakan dokumen penyidikan resmi. Prosedurnya mengharuskan dokumen itu diserahkan langsung kepada penyidik polisi, dalam hal ini Komisaris Herman, bukan kepada Jaksa Penuntut Umum yang... memiliki konflik kepentingan," jawabku tegas.
Ghazali menyipitkan matanya. Ia melangkah satu langkah ke depan. "Jangan mempersulit pekerjaanku, Keana. Sidangnya besok pagi."
"Aku tidak mempersulit pekerjaanmu. Aku sedang menegakkan integritas pekerjaanku," aku melepaskan sarung tangan lateksku dan mencuci tanganku di wastafel. "Apakah kau datang ke sini hanya untuk mengintimidasiku lagi, atau kau diam-diam merindukan bau formalin ini?"
Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibirku, penuh dengan amarah dan luka yang masih basah.
Ghazali terdiam. Jakunnya naik turun saat ia menelan ludah. Ia menatapku dari ujung kepala hingga ujung kaki—menatap jas labku yang sedikit kusut, rambutku yang dicepol asal-asalan, dan wajahku yang kelelahan.
"Panggilan sidang perdana kita sudah keluar," ucap Ghazali, mengubah topik pembicaraan secara drastis. Suaranya merendah, menembus deru mesin pendingin ruangan. "Sidang mediasi pertama di Pengadilan Agama Jakarta Selatan akan diadakan minggu depan."
Jantungku serasa anjlok ke dasar perut. Aku mencengkeram tepi wastafel erat-erat untuk menahan tubuhku agar tidak limbung. Semuanya terasa begitu nyata sekarang. Pria ini benar-benar serius membuangku.
"Secepat itu?" tanyaku dengan tawa sumbang. "Tentu saja. Seorang Mahendra pasti memiliki fasilitas jalur cepat untuk segala urusan birokrasi. Termasuk urusan menceraikan istrinya."
Ghazali berjalan mendekat. Ia mengabaikan batas satu meter yang pernah ia buat, berhenti tepat di sampingku. Ia mencondongkan tubuhnya ke arahku, seolah ingin berbisik, namun matanya menatap tajam pantulan wajah kami berdua di cermin wastafel. Perbandingan yang sangat menyakitkan: ia tampak seperti bangsawan hukum yang sempurna, sementara aku terlihat seperti pekerja kasar yang kehilangan arah.
"Dengarkan aku baik-baik, Keana," desis Ghazali tepat di samping telingaku. Uap napasnya yang hangat membuat bulu kudukku berdiri. "Datanglah ke Pengadilan Agama minggu depan. Sewa pengacara litigasi yang paling agresif, paling kejam, dan paling haus darah yang bisa kau temukan di ibu kota."
Aku menoleh padanya, kaget. "Apa maksudmu?"
Ghazali menatap tepat ke manik mataku. Matanya berkilat dengan intensitas yang mengerikan, sebuah bara api yang disembunyikan di balik balok es.
"Jangan setujui mediasinya. Tolak mentah-mentah," bisiknya dengan rahang yang mengeras. "Serang aku di ruang sidang terbuka itu. Buka semua aib keluargaku di hadapan hakim. Jadikan perceraian ini sebagai skandal paling kotor, paling berisik, dan paling viral di tahun ini. Hancurkan aku di pengadilan, Keana."
Aku terpaku. Napasku tertahan di tenggorokan.
Ghazali mundur selangkah. Ia kembali merapikan jasnya, memasang wajah pualamnya yang tanpa ekspresi, lalu berjalan menuju pintu keluar tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi.
Saat pintu ganda itu menutup di belakangnya, aku baru menyadari sesuatu. Aku segera berlari ke arah meja instrumen tempat Ghazali meletakkan map kulitnya tadi. Aku membuka map tersebut. Di balik salinan berkas tuntutan yang rapi, tertempel sebuah catatan kecil dari sticky note kuning.
Catatan itu ditulis terburu-buru dengan tinta hitam Montblanc:
“Tanda tanganku di surat gugatan cerai itu menggunakan tinta yang bisa luntur di bawah sinar UV. Surat itu cacat hukum. Aku butuh kau membuat keributan di Pengadilan Agama untuk menarik perhatian media massa, agar ibuku tidak bisa membungkam kita tanpa dicurigai oleh publik. Lawan aku, agar kita bisa menang.”
Aku meremas kertas kecil itu di tanganku. Air mataku jatuh, namun kali ini bukan air mata keputusasaan, melainkan air mata kelegaan yang luar biasa.
Pria itu... suamiku yang gila, arogan, dan menyebalkan itu... ternyata tidak pernah benar-benar membuangku. Ia sedang bermain catur dengan ibunya sendiri, dan ia baru saja menjadikan perceraian kami sebagai papan catur yang paling mematikan.
Di ruang otopsi yang dingin ini, senyum tipisku akhirnya mengembang. Jika Ghazali Mahendra menginginkan perang berdarah di meja hijau, maka Sang Dokter Forensik ini akan memberikannya perang autopsi yang tidak akan pernah ia lupakan.
baca part ini aku merinding
nunggu update selanjutnya kak😍