Niatnya cari pelarian, malah dapet "tuan muda" kematian.
Alicia kabur ke Italia dan mencari pria paling tampan untuk menghina selera perjodohan ayahnya. Misinya berhasil ia menemukan Dante, pria dengan visual sempurna yang mau diajaknya bermalam bersama.
Tapi keesokan paginya, Alicia baru sadar kalau dia bukan baru saja menaklukkan pria biasa, melainkan seorang predator paling ditakuti di Eropa. Ternyata, merayu bos mafia saat mabuk adalah ide terburuk yang pernah Alicia lakukan seumur hidupnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 10
Dalam momen ketegangan yang memuncak. Bambang sangat percaya diri karena ia merasa memegang kendali. Alicia, yang selama ini selalu dianggap beban manja, memutuskan untuk melakukan sesuatu yang tidak terduga.
Ia tidak meronta. Sebaliknya, ia menjatuhkan seluruh berat tubuhnya ke lantai, membuat Bambang kehilangan keseimbangan sesaat. Di saat yang sama, Marcello muncul dari jendela samping dan menembak lengan Bambang yang memegang pistol.
DOR!
Bambang berteriak kesakitan, pistolnya terlepas. Dante bergerak secepat kilat, menerjang Bambang dan menjatuhkannya ke dek luar.
Kedua pria itu bergulat di bawah guyuran hujan yang tiba-tiba turun dengan deras. Dante memukul Bambang dengan brutal, meluapkan seluruh amarahnya atas serangan di penthouse dan pengejaran di laut. Bambang membalas dengan teknik bela diri yang mematikan, mencoba meraih pisau di kakinya.
Alicia berlari keluar, berdiri di tengah hujan, menyaksikan pertarungan hidup dan mati itu.
"Cukup, Dante! Kau akan membunuhnya!" teriak Alicia saat melihat Dante mencekik Bambang di pinggir pagar kapal.
Dante menoleh, wajahnya penuh amarah yang liar. "Dia mencoba mengambilmu dariku, Alicia! Dia mencoba menghancurkan apa yang menjadi milikku!"
"Jika kau membunuhnya sekarang, Ayah tidak akan pernah berhenti mengirim orang lain! Biarkan dia hidup sebagai saksi bahwa kau tidak bisa dikalahkan!" Alicia mencoba berlogika di tengah kepanikannya.
Dante menatap Bambang yang sudah hampir tidak sadar, lalu menatap Alicia. Perlahan, ia melonggarkan cengkeramannya. Ia memukul wajah Bambang satu kali lagi hingga pingsan, lalu menendang tubuh pria itu ke arah anak buah Marcello yang masih tersisa.
"Ikat dia. Kirimkan dia kembali ke Surya Atmadja dalam kotak kayu, tapi pastikan dia masih bernapas. Berikan pesan pada orang tua itu, Jika dia menyentuh Alicia lagi, aku sendiri yang akan meruntuhkan seluruh gedung pencakar langitnya di Jakarta," perintah Dante.
Hujan mulai mereda. Kapal pesiar itu kini sunyi, hanya menyisakan aroma mesiu dan darah. Tim teknis Dante berhasil memulihkan daya listrik kapal. Lampu-lampu kembali menyala, menerangi dek yang berantakan.
Dante terduduk di lantai dek, bersandar pada kursi kayu yang hancur. Ia tampak sangat lelah. Alicia mendekat, berlutut di depannya, dan merobek sisa gaunnya untuk membalut luka baru di lengan Dante.
"Kau benar-benar tidak bisa diatur," gumam Dante, menatap Alicia dengan tatapan yang kini lebih lembut.
"Dan kau benar-benar monster yang sombong," balas Alicia, tangannya gemetar saat menyentuh kulit Dante. "Terima kasih... karena tidak membiarkan dia membawaku."
Dante menarik Alicia ke dalam pangkuannya, mengabaikan rasa sakit di sekujur tubuhnya. "Aku sudah bilang, Alicia. Kau adalah tanggung jawabku. Dan aku tidak pernah gagal menjaga apa yang sudah aku tandai."
Dante mengangkat wajah Alicia, menatap matanya yang sembab. "Hasil tes medis tadi... kau lega karena tidak hamil?"
Alicia terdiam sejenak. "Aku takut, Dante. Aku tidak tahu bagaimana menjadi ibu, apalagi ibu di dunia seperti ini."
Dante mengusap pipi Alicia dengan ibu jarinya yang kasar. "Kau tidak perlu tahu cara menjadi ibu. Kau hanya perlu menjadi milikku. Dan soal hasil tes itu..." Dante menyeringai tipis, sebuah seringai yang membuat Alicia merinding sekaligus berdesir. "...itu hanya berarti kita punya alasan untuk menghabiskan sisa perjalanan ini di dalam kabin."
Dante berdiri, menggendong Alicia dengan gaya bridal style masuk ke dalam kabin utama. Ia menendang pintu hingga tertutup dan menguncinya.
Di dalam kabin yang hangat dan tenang, jauh dari gangguan dunia luar, Dante membaringkan Alicia di atas tempat tidur. Ia menatap gadis manja yang kini terlihat sangat tangguh di matanya.
"Malam ini, Alicia... tidak ada pelarian lagi," bisik Dante.
Alicia tidak menjawab dengan kata-kata. Ia menarik leher Dante, menciumnya dengan gairah yang jauh lebih sadar daripada malam di Milan. Kali ini, ia tahu persis siapa pria ini, dan ia tahu persis apa risikonya.
Namun, di sela-sela panasnya malam itu, Di saku celana Bambang yang tadi tertinggal di dek, sebuah alat pelacak GPS cadangan masih menyala, mengirimkan sinyal koordinat mereka bukan ke Jakarta... melainkan ke sebuah faksi mafia saingan Vallo yang sedang menunggu di perbatasan perairan internasional.
Pesta ini belum benar-benar berakhir.
Kabin utama kapal pesiar itu terasa seperti dunia yang berbeda, sebuah oase hangat di tengah laut yang dingin dan kejam. Aroma dari parfum Dante bercampur dengan aroma garam laut yang masih tertinggal di kulit mereka. intensitas tatapan Dante yang seolah sedang memetakan setiap jengkal jiwanya.
Dante menumpukan berat tubuhnya dengan satu lengan di sisi kepala Alicia, menatap gadis itu dengan posesifitas yang murni. "Kau tahu, Alicia... semalam aku melakukannya karena aku menginginkanmu. Tapi malam ini, aku melakukannya karena aku tidak bisa membiarkan siapa pun, bahkan takdir sekalipun, mengambilmu dariku."
Alicia menarik napas gemetar. "Kau bicara seolah-olah aku ini wilayah kekuasaan yang baru saja kau taklukkan, Dante."
"Memang benar," bisik Dante, bibirnya menyapu rahang Alicia. "Dan kau adalah satu-satunya wilayah yang membuatku harus menumpahkan darah lebih banyak dari biasanya."
Alicia tidak memprotes saat tangan Dante yang kuat namun protektif kembali menautkan jemari mereka. Kali ini, tidak ada alkohol yang mengaburkan logikanya. Ia sadar sepenuhnya saat ia menyambut ciuman Dante yang menuntut, ciuman yang terasa seperti segel kepemilikan yang permanen. Namun, di balik gairah yang membara, Alicia merasakan semacam gravitasi baru yang menariknya sebuah perasaan aneh yang ia takuti lebih dari sekadar peluru, ia mulai bergantung pada pria ini.
Namun, di duniaku, ketenangan hanyalah jeda singkat sebelum terjadi badai yang lebih besar.
Di luar kabin, di tengah kegelapan dek yang mulai dibersihkan, Marcello sedang memeriksa sisa-sisa peralatan tempur anak buah Bambang. Ia mengumpulkan senjata, alat komunikasi, dan perlengkapan tactical. Saat ia mengangkat jaket hitam milik Bambang, sebuah benda kecil jatuh dan menggelinding di atas lantai kayu.
Benda itu berbentuk cakram kecil dengan lampu merah yang berkedip sangat cepat, terlalu cepat untuk sebuah alat pelacak standar.
"Sial," umpat Marcello. Ia segera mengambil alat itu dan memeriksanya dengan perangkat pemindai di pergelangan tangannya. "Ini bukan sinyal ke Jakarta. Frekuensi ini... ini milik klan Moretti."
Wajah Marcello berubah pucat. Klan Moretti adalah musuh bebuyutan keluarga Vallo di Italia Selatan. Mereka sudah lama mengincar rute perdagangan Dante, dan tampaknya Bambang memainkan permainan dua kaki. Jika Surya Atmadja membayar Bambang untuk menjemput Alicia, maka Moretti membayar Bambang untuk memberikan lokasi Dante Vallo di posisi paling lemah saat ini, di tengah laut, bahkan dengan kapal dan pasukan yang terluka.
Oh yah,. Jangan lupa tetap stay tune yaa, besok author bakal update 3 BAB sekaligus 🔥✨
Buat yang udah setia nemenin cerita ini sampai sini, makasih banyak yaa~
Dan jangan lupa tinggalkan jejak di setiap bab 🫶
Entah itu like, vote, ataupun komentar.
Segala bentuk dukungan dari kalian semua, sangat berarti banget untuk author khusus-nya.
Itu semua bikin author makin semangat untuk update bab selanjutnya. ✨🫰🏻
alicia terjepit situasi absurd🤣🤣🤣🤣